SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Jumat, 29 Januari 2010

Kata dan Otoritas

25 Januari 2010
09:28 WIB
oleh khayrurrijal

(untuk menjawab problem dasar politik, saling bicara itu hanya satu variabel. variabel penting lain yang sebaiknya diperhatikan adalah sesuatu yang melewati batas "sosial" dan "individu" dari manusia. itulah mengapa, problem itu baru bisa dijawab dengan baik. bukan hanya menjawab seorang "individu" atau "sosial" tertentu. sebuah jawaban yang bahkan memasuki batas-batas ke-alam-an.)

(ketika otoritas diserahkan secara arbitrer kepada siapa saja, ada masalah yang lebih banyak muncul. memang, bagi siapa saja yang diberikan peluang ini akan ada perasaan terakomodasi. ada perasaan bahwa saya setara dengan yang lain. ada perasaan persamaan yang begitu dalam di antara manusia. mungkin ini adalah bentuk wujud Hak Asasi Manusia. tetapi, melepaskannya kepada publik tanpa kriteria juga menimbulkan banjir pendapat. sedangkan, di sisi lain, manusia membutuhkan jawaban cepat terhadap persoalan hidupnya. banjir pendapat ini pun membuat sebuah pendapat menjadi kurang, atau bahkan tidak berharga. lalu, secara alamiah, pendapat yang lebih otoritatif, menjawab, memberikan panduanlah yang akan lebih dipilih. sebuah kecenderungan dasar yang memang akan terjadi. pada akhirnya pasca kerusakan otoritas, orang pun "memburu" pendapat, lalu "menerima" artinya.)

(kata adalah sebuah perangkap. ini adalah sebuah problem yang mengantarkan Barat pada Posmodernisme. hubungan satu-satu antara kata dan makna, nilai kebenaran absolut dan relatif, kemajemukan interpretasi, menjadi pembahasan penting. tidak ajeg, perubahan, krisis, konflik, keterbatasan, fragmentasi, konsensus, disensus, seperti kata kunci dalam memahami persoalan kata. tapi, apakah penilaian begitu sinis kepada kata adalah suatu yang tepat? perangkap yang dimaksudkan, apakah berasal dari kata itu sendirii atau dari kemanusiaan manusia? keterpilahan macam ini begitu penting untuk dilihat. apakah patut memaksakan diri membahasakan sesuatu yang tidak terbahasakan? bukankah banyak usaha tinggi dari cendekiawan sepanjang masa untuk menggambarkannya dengan metafora? dengan demikian, bukankah memang kata punya tempatnya, dan ada tempat yang hanya dapat dimetaforakan oleh kata?

jika kemudian berbicara di wilayah non-metaforis dari kata, dan ketepatanlah yang diinginkan, variabel manusia sebaiknya lebih diperhatikan. mengapa? fungsi sebuah kata adalah menunjuk makna. makna yang ditunjuk pun tepat sebagaimana dimaksud si penunjuk dan realitas yang ada. tapi, ukuran penting yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah realitas sesungguhnya itu sendiri. sebab, jika hanya bersandar pada sifat arbitrer manusia, penunjuk dan makna yang
dimaksudkan pun bisa merupakan sebuah kesalahpahaman. akhirnya, manusialah yang memerangkap dirinya dengan dirinya sendiri.)

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname