oleh khayrurrijal
Keraguan adalah sebuah kondisi jiwa yang seringkali ada dalam setiap manusia. sebuah kondisi yang seringkali dikatakan berada dalam posisi tidak berada dalam sebuah kecenderungan (dugaan) atau keberpihakan (keyakinan) pada salah satu posisi dari sekian banyak posisi. Namun, yang menarik adalah keraguan kemudian diangkat menjadi sebuah metode filsafat dan saintifik. Keraguan sebagai sebuah metode filsafat mulai populer sejak diangkat oleh Rene Descartes, yang dikenal sebagai dubium methodicum. Sedangkan sebagai metode sains, keraguan menjadi sangat populer sejak sains menjadi sains-positifistik. Keraguan dinilai merupakan sebuah titik tolak yang netral untuk menemukan kebenaran.
Di dalam tulisan ini penulis bermaksud untuk mengemukakan hal-hal yang berkenaan dengan keraguan yang seolah-olah menjadi sangat dekat dengan kebenaran. Namun penulis tidak akan menggunakan metode keraguan atau mengajak pembaca untuk ragu terlebih dahulu dalam melihat hal tersebut. Kini mari kita mulai.
Dalam berhadapan dengan suatu informasi, seorang penerima informasi memang dapat menjadi ragu apakah informasi yang diterimanya benar atau tidak dan kemudian melakukan penelusuran tentang kebenaran atau kesalahan informasi yang diterimanya. Namun, seorang penerima informasi juga dapat bersikap tidak ragu, tapi bersikap ingin tahu tentang informasi yang diterimanya dan kemudian melakukan penelusuran tentang informasi tersebut.
Dari uraian di atas tentang sikap yang muncul dalam berhadapan dengan informasi terdapat dua sikap yang berbeda namun menuju tindakan yang sama yaitu, melakukan penelusuran tentang kebenaran atau kesalahan informasi yang diterima. Dan ini juga berarti bahwa untuk mencapai tahap penelusuran ini, seseorang tidak perlu menjadi ragu terlebih dahulu. Kemudian, juga perlu diperhatikan bahwa dua sikap di atas – ragu atau ingin tahu – tidak serta merta langsung mengantarkan seseorang pada tindakan penelusuran, tetapi seseorang tersebut juga dapat jatuh pada kondisi yang lain. Misalnya, keraguan dapat membawa seseorang semakin ragu hingga akhirnya jatuh pada skeptisisme. Mengapa? Sebab keraguan merupakan suatu “bumbu” yang dapat terus diberikan pada segala sesuatu yang diterima oleh seseorang bahkan tentang keraguannya sendiri. hal ini secara jelas terjadi pada David Hume, seorang skeptisis, yang akhirnya ragu dengan keraguannya sendiri. Dari sini dapat dikatakan bahwa keraguan bukan hanya sebuah posisi yang tidak bersifat dugaan atau bersifat yakin pada salah satu posisi, tetapi yang lebih menjadikan keraguan sebagai keraguan adalah “bumbu” dari diri sendiri untuk membatalkan keyakinan apapun. Sebab meskipun seseorang menemukan suatu kebenaran, kebenaran tersebut tetap dapat di”bumbui” dengan keraguan dan akhirnya kebenaran tersebut menjadi batal dalam diri orang tersebut. Sehingga, keraguan sebagai sebuah posisi yang netral tentu menjadi bermasalah, dan masalah tersebut terletak pada asumsi yang menjadikan seseorang itu meragu. Karena, seseorang tentu meragu karena suatu alasan. Keraguan juga dapat mengantarkan seseorang pada sikap abai, karena kemalasan dalam diri seseorang. Sehingga, ia hanya meragu dan enggan melakukan penelusuran. Demikian pula pada sikap ingin tahu, sikap ingin tahu akan dapat juga mengantarkan seseorang pada kondisi abai karena kemalasan diri.
Jika dilihat dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa tindakan penelusuran adalah sebuah tindakan yang penting yang tidak berhubungan serta-merta dengan dua sikap awal di atas, yaitu keraguan dan ingin tahu. Tindakan penelusuran juga merupakan tindakan yang sangat didukung oleh kesungguhan diri, sehingga penelusuran tersebut berjalan dan menemukan kebenaran atau kesalahan tentang informasi yang diterima. Hal lain yang dapat dilihat adalah bahwa bukan ragu atau ingin tahu yang membuat seseorang mencapai kebenaran, tetapi tindakan penelusuran atau pengenalan atas kebenaran dan kesalahan dari suatu informasi yang membuat seseorang mencapai kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar