SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Kamis, 01 April 2010

Ilmu laksana hujan

oleh Khayrurrijal

Ilmu laksana hujan yang diterima bumi
Diterima, meresap, lalu menumbuhkan diri
Pohon yang baik, itulah yang disampaikan oleh Ilahi
Yang akan bimbing kepada kebahagiaan sejati

Akar pohon yang bernilai yakin
Dahan yang bernilai memimpin
Ranting yang bernilai teduh
Dan buah yang bermanfaat bagi makhluk lain

Jika kau inginkan pohon itu
Minta dan tunggulah hujan
Sehingga benih ilmu yang sedia wujud dalam jiwa
   Tersibak dan menjelma, lalu membuatmu mulia

Ingatlah juga pohon ini harus dijaga
Dari semak ragu dan manfaat yang tiada
Dari tantangan pohon lain yang membunuh diri dan binasa
Dari hama dosa dan busung dada

Demi hujan yang telah menghidupkan bumi
   yang semulanya mati...

Senin, 22 Maret 2010

Raut wajah

oleh Khayrurrijal

Senyum hiasi wajah anak
Sedih pun sudah mendahului saat alam tersibak
Lugu dan polos menjadi corak

Tampil jujur perlahan tertahan
Atau kadang menjadi berlebihan
Karna perhatian sesama insan

Dewasa menjadi raut pura-pura
Enggan mewujudkan rasa
Karna takut binasa

Namun raut ikhlas sungguhlah mulia
Jika pun terukir pada wajah kelam, kanak pun dewasa

Sungguh gambaran raut surga

Ayam dan hari

oleh Khayrurrijal

Ayam adalah pertanda datangnya hari
Kokoknya seakan menyibak mentari yang hadir menepati janji
Kepak sayapnya pun seolah meminta gelap malam untuk bergeser dan berlari
Semua itu untuk menyambut terbangunnya insan dari alam mimpi

Karna Cinta

oleh Khayrurrijal

Karna cinta, insan selalu kaya
Tanaman di halamannya tiada pernah binasa
Meski setiap saat dipotong dan dihadiahkan kepada semesta
Sebab pemberian itu selalu kembali pada Sang Pecinta

Saat Jumpa

oleh Khayrurrijal

Kusiapkan diri untuk saat berjumpa
Bersih dan rapih menjadi tatacara
Segaris senyum dan rona rindu kan ku ajak serta
Mudah-mudahan Kau kan menerima

Harga bagi jiwa

oleh Khayrurrijal

Perlu waktu menilai harga
Bukan dalam mata uang dan angka
Bukan dalam yang tampat pada mata
Melainkan karna ia berharga bagi jiwa

Malaikat

oleh Khayrurrijal

Malam itu hujan turun
Ku teringat kata kata mulia yang kepada manusialah ia turun
Hujan turun untuk hidupkan bumi yang mati
Hujan pun dikembalikan lagi ke langit dan ke bumi dia pun turun

Teringat pula ku pada kisah malaikat
Ia menemani tiap tetes hujan hingga ke tanahlah ia lekat
Ditemani pula hingga bagi bumi menjadi alat
Akhirnya hilang sangat cepat

Tiap yang dicipta kan ditemani malaikat
Setiap jasad bahkan setetes keringat
Mereka adalah penjaga dan pengambil terhormat
Bahkan karna merekalah Insan Mulia berdiri
    saat diri yang kiamat tengah lewat

Saat diberitakan tentang mereka akan menjauah dari orang terlaknat
Hanyalah berarti mereka jauh dari malaikat rahmat
Ketahuilah tentang ini hakikat
Agar kau selalu ingat

Jiwa dan mata air

oleh Khayrurrijal

Jiwa laksana mata air
Pancarkan makna lalu mengalir
Memilih kata menuju ke hilir
Lalu di hati insanlah dia mampir
   dan binasa bagai tersambar petir

Path

by Khayrurrijal

there are lot of paths
and
there also The Path
the different is
lies in the coherence of the path
    with The Path

Hutang

oleh Khayrurrijal

Hutang atas penciptaan sungguh tercatat
pada hati insan ia tergurat
Rasakanlah ia lekat-lekat
Lalu ingat,
    sungguh sangat bermanfaat

Ia

oleh Khayrurrijal

Ia, tiada yang serupa dengan-Nya
Tiada waktu dan tiada ruang bersama-Nya
Mengenal-Nya adalah tujuan segala-galanya

Hikmah

oleh Khayrurrijal
Hikmah adalah ilmu dari Tuhan
Diambil dari sinar kenabian
Pancarannya membuat insan menemukan
Tempat segala sesuatu di dalam kehidupan
bahkan ada hikmah dari sebuah keburukan

Berlabuh

oleh Khayrurrijal

Berlabuh insan di dataran kehidupan
Membeli perbekalan
Mencari teman perjalanan
untuk kembali melanjutkan perjalanan

Perahu kadang tak berjalan
Karna tiada angin mengarahkan
Karna nakhoda dalam kebingungan
meskipun demikian, sungguh ciptaan Tuhan tiada sia-sia

Rindu nakhoda pada tujuan
Tentu saja dataran, bukan lautan
sebab, kehidupan perlu berwujud dengan pijakan
Kita akan sampai, dan pasti sampai ke Dataran
sambil berbahagia atau menderita tak keruan

Write-tools and Good stuff

oleh Khayrurrijal

go buy eraser
good stuff erase bad stuff

go buy write-tool
good stuff take start from little stuff...
go buy permanent-tool
good stuff will became bolder with giving bolder meaning

go buy all you need
absorb your knowledge into your blood
absorb your knowledge into your flesh
absorb your knowledge into your heart
then your knowledge will help to direct your will

Untuk Nila

oleh Khayrurrijal

lanjutkan jalan
ke barat

makin gelap
makin pekat...

tak terasa
berkeringat

berharap lelah
waktunya istirahat

tidur justru ku binasa layaknya
tersambar kilat

Rabu, 17 Maret 2010

Bersihkan Debu

oleh Khayrurrijal

Hujan turun bersihkan debu
Menyingkap bumi dalam kesejatian
Polos dan lugu terungkap penuh kejujuran
Menyeap air dan tumbuhkan kebaikan

Kupuji

oleh Khayrurrijal

Buka mata kupuji
bersuci kupuji
berdiri hingga bersimpuh kupuji
makan kupuji
minum kupuji
hingga tidur kembali kupuji
Ialah asal dan tempat kembalinya puji
sedangkan cela hanya kepada diri sendiri

Hancur

oleh Khayrurrijal

Hancur, sungguh
Lebur, luluh
Tenggelam usai berlabuh
Hanyut setelah gaduh

Hancur, luntur, lalu
   terkubur
Hujan pun mengucur
Mentari menyinari teratur
Bangkitkan hidup yang terkubur

Alam pun sambut kelahiran
Bimbing dan temani hingga ke kedewasaan
Hinga akar menghunjam
   dan cabang melangit ke singgasana Tuhan.

Putus Asa

oleh Khayrurrijal

Putus asa menghampiri insan
Gelap di tumpukan kegelapan
Buta rasa benar dan salah
   hanya terasa menjadi anggapan

Putus asa melanda jiwa
Keruhnya buruk sangka
Bahkan kepada al-Rahman yang Mulia
Hidup pun nampak sudah binasa

Sungguh nestapa....

Senja Jiwa

oleh Khayrurrijal

Kala senja jiwa tiba
Mentari diganti sang candra
Berbaiksangkalah di dalam gelap malam
Kau kan temui kebaikan menyinar dan menjelma

Jika dan mungkin

oleh khayrurrijal

Di saat segala mungkin dan jika
Di saat segala andai dan andai
Di saat menduga keburukan
Ku terus mohon perlindungan Tuhan

Insan bertanya

oleh Khayrurrijal

Ada Insan bertanya
   bagaimana untuk melihat
Ku kata
   bukalah mata
Ia pun bertanya lagi
   bagaimana membuka mata

Selasa, 02 Maret 2010

The Knight

by Khayrurrijal

A knight that pass the night with a fight
and company his sight with bright light
then he would become might, right, and light

Gift

by Khayrurrijal

We should rise up
But,
if you wanna gave up
Give it as a gift
and your mistake...
    forgive

Senin, 01 Maret 2010

Ucapan wakil pengkarya 'festschrift' Prof SMN al-Attas

Bismillahir Rahmanir Rahim

Ucapan Wakil Pengkarya

Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud
Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), UKM

ALHAMDULILLAHI RABBIL ʿALAMIN
 WASSALATU WASSALAMU ʿALA SAYYIDNA MUHAMMADIN,
WA ʿALA ALIHI WA SAHBIHI AJMAʿIN,


Assalam alaykum warahmatu Allah wa barakatuhu!

Mengadap Duli Yang Teramat Mulia Raja Muda Perak Darul Ridzuan, Raja Nazrin Shah Ibni Sultan Azlan Muhibbudin Shah

Sesungguhnya, kesudian Duli Yang Teramat Mulia Tuanku  berangkat hadir mencemar duli untuk bertitah dan melancarkan buku ‘Knowledge, Language, Thought and the Civilization of Islam: Essays in Honor of Syed Muhammad Naquib al-Attas

menyatakan iltizam dan istiqamah Tuanku kepada perihal ilmiah amnya,
dan penghormatan kepada seorang ahli fikir, dan pembaharu pendidikan yang amat disegani khasnya.

Patik semua sentiasa mengikuti titah-titah penting tuanku dalam pelbagai perkara.   Tuanku seorang cendekiawan diraja berpendidikan tinggi,
seumpama sebutir bintang berkilau gemerlapan,
dari tradisi kepimpinan bangsa yang beradab dan bertamadun tinggi,
yang amat patut dibanggakan dan dicontohi.

Ampun Tuanku
Sembah patik harap diampun

Patik menjujung kasih sekali lagi kepada Tuanku atas kesudian Tuanku berangkat bagi menyempurnakan majlis pada petang ini.

Izinkan Patik sebagai wakil pengkarya buku yang bakal Tuanku lancarkan ini,
berucap kepada tetamu yang hadir bersama untuk mendengar titah Tuanku.

Ampun Tuanku.

Yang Mulia Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas,

Yang Berbahagia Tan Sri Dato Sri Dr Abdullah Ayub, Pro Canselor UTM,
Yang Berhormat Dato Dr Ridzuan Hj Salleh, Pro Canselor UTM
Yang Berbahagia Prof. Dato Dr. Zaini Ujang, Naib Cancelor UTM

Dhif-dhif kehormat
Hadirin dan hadirat sekalian!

Allah SWT berfirman dalam kitab Suci al-Qur’an Surah al-Mujadalah, ayat 11 yang bermaksud: “Allah akan mengangkat tinggi beberapa darajat orang-orang yang beriman dari kamu, dan orang-orang yang berilmu: Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala yang kamu lakukan.”

Kita semua berhimpun di dalam Dewan ini bagi melancarkan
sebuah buku yang menyanjung sumbangan pelbagai dimensi seorang ilmuan pembaharu ulong, Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Beliau  terbukti berwibawa dalam pelbagai bidang seperti ilmu kalam, falsafah, metafizika, sejarah dan kesusateraan Islam khususnya yang berkaitan dengan Alam Melayu. Dalam bidang-bidang ini beliau telah menyumbang beberapa fikiran pokok yang asli, berdaya cipta dan berpengaruh.

Pembaharu dan ilmuan ulong dirakam abadi dalam sejarah manusia melalui buah-buah fikiran mereka yang berjaya membantu mencerahkan alam pemikiran dan memberi nilai tinggi kepada kehidupan dan tamadun manusia. Kebanyakan mereka dikenal dan diiktiraf sewajarnya lama selepas mereka meninggal pentas dunia.

Hanya sebahagian kecil dari mereka yang dikenal dan diiktiraf dengan adil semasa hayat masing-masing. Sesungguhnya pengenalan dan pengiktirafan sebenar akan sumbangan para pembaharu dan ilmuan ulong dalam sejarah sesuatu bangsa nyata mencerminkan ketinggian martabat ketamadunan bangsa tersebut.

Bangsa yang hampa dan rendah darjat ketamadunannya tidak akan mengenal dan tidak berupaya mengiktiraf para pembaharu dan ilmuan ulong dari kalangannya, yang sememangnya boleh dibilang dengan jari.

Sebahagian dari sumbangan Profesor al-Attas dalam pelbagai bidang keilmuan dan ketamadunan Islam dibicarakan dengan bertanggungjawab oleh sebarisan ilmuan dan pengkaji serius dari pelbagai negara. Mereka mewakili sebahagian ilmuan yang memahami sumbangan beliau yang asli dan berdaya cipta bukan sahaja di peringkat pemikiran, tetapi juga di peringkat institusi.

Ramai ilmuan dari seluruh dunia mahu menyumbang tulisan mereka kepada buku ini, tetapi permintaan mereka tidak dapat dipenuhi kerana kesuntokan masa dan keterbatasan ruang.
           
Kami percaya keseluruhan sifat dan hasil perjuangan keilmuan tokoh yang dira’ikan dalam buku ini boleh dinamakan sebagai Pergerakan Teguh atau Dynamic Stabilism.

Ini kerana sifat dan hasil perjuangannya meneguh semula pandangan hidup Islam yang disepakati para luluhur agung sekian lama, serta mengukuhkan keyakinan kepada struktur dan dasar akhlak dan perundangannya dalam menghadapi cabaran cabaran semasa. Ini dilakukan dengan penuh wibawa keilmuan, tegas dan berdaya cipta dengan memahami unsur-unsur kekal dan berubah dalam tradisi Islam dan dalam tradisi Moden.


Keadaan ini berbeda dengan perjuangan kaum konservatif yang umumnya bersifat teguh menetap, tetapi tidak bergerak mencipta pembaharuan menyebabkan kelemahan memalukan; juga berbeda dengan kaum modernis dan pasca modernis, yang sentiasa bergerak mengekori pembaharuan, tetapi merongkai akar-akar kebudayaan yang berdiri teguh sekian lama sehingga menimbulkan kekeliruan mendalam.

Kesemua makalah dalam buku ini mencerminkan keluasan minat dan sumbangan Profesor al-Attas. Kami kaitkan dalam beberapa bidang saling bertaut yang juga mengambarkan kegiatan ilmiah di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), satu lembaga pendidikan tinggi Islam unik yang beliau asaskan dan pimpin secara menyeluruh, dan terbilang bijaksana dari  tahun 1987  sehingga tahun 2002.

Para ilmuan serius dan berwibawa sedar dan insaf bahawa karya-karya Profesor al-Attas yang telah juga diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa orang2 Islam dan bahasa-bahasa Barat melambangkan satu titik penting dalam sejarah Alam Melayu.

Bahawa inilah kali pertama dalam sejarah Alam Melayu di mana karya-karya ilmuannya mempekayakan khazanah pemikiran dan ketamadunan Islam di peringkat global. Malah terdapat institusi berprestij yang mengiktiraf sumbangan beliau sebaris dengan pemikir dan pembaharu dunia seperti Plato, Kong Fu Tze, St. Augustine, Immanuel Kant, Edward Said, Nelson Mandela dan sebagainya.

Saya mahu mengambil kesempatan ini merakamkan ucapan terima kasih kepada penyunting bersama saya, Prof Madya Dr Muhammad Zainiy Uthman yang amat banyak membantu usaha ini. Kami berdua menyanjung sumbangan semua para penulis makalah dalam buku ini. Beberapa orang dari mereka ---Prof Dato Salleh Yaapar, Prof Murat Cizakca, Dr Ismail Marcinkowski, Dr Tatiana Denisova, dan Dr Hisham Helyer--- hadir bersama kita pada hari ini. Bagi pihak semua penulis, kami amat menghargai sokongan berharga Naib Canselor UTM, Prof Dato Dr Zainiy Ujang, yang juga seorang penulis prolifik. Jutaan terima kasih juga kepada seluruh kakitangan Penerbit UTM, terutama Prof Hishamuddin dan sdra Khalid Mazlan, dan semua yang menjayakan buku ini serta pelancarannya pada hari ini.

Kami juga sangat menghargai sokongan dan dorongan keluarga kami, dan para sahabat di Institut Alam dan Tamadun Melayu UKM, di Universiti Islam Antarabangsa dan di mana saja mereka kini berada.

Akhir sekali, dan yang paling utama, kami merakamkan setinggi-tinggi penghargaan kepada guru yang kami kagumi dan cintai Professor Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Kesungguhan perjuangan dan keberaniannya dalam bidang ilmu, agama dan akhlak di peringkat tinggi, dengan segala pahit dan lelahnya, adalah contoh teladan buat kami semua.  Rakaman terima kasih ini tidak lengkap jika tidak juga ditujukan kepada isterinya, penyokong terkuatnya dan paling setia Puan Latifah al-Attas. Kami doakan agar tuan-tuan berdua serta seluruh keluarga dan kami semua juga akan terus dipanjangkan umur, mendapat kejayaan dan kebahgiaan di dunia dan akhirat.

WabiLlahi al-tawfiq wa’l-hidayah
Wassalam alaykum warahmatuLlahi wabarakatuhu
Ampun Tuanku
Sembah Patik mohon diampun

(23 Feb 2010/ Dewan Besar UTM International Campus KL)

sumber: rausyanfikir.com

Ucapan Penghargaan oleh Prof. SMN al-Attas sempena pelancaran 'festschrift' "Knowledge, Language, Thought and Civilization of Islam: Essays in Honour of SMN al-Attas

Yang Teramat Mulia Raja Dr. Nazrin Shah menyampaikan ucapan pelancaran dan penghargaan festschrift Prof. Al-Attas.


Alhamdulillah, alladzii arsala rasuulahu bil huda wa dinil haq, liyudhhirahu Ăala diini kullih wa ssolatuwassala muĂala saidina Muhammadinillazi al-muzhir kalimat at-Tauhid. Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Yang teramat mulia, Raja Dr. Nazrin Shah ibni Sultan Azlan Muhibbuddin Shah, kepada yang ternama, yang mempunyai darajat keistimewaan beringkat jasa[1] masing-masing dan para hadirin yang dihormati sekalian.

Sesuai bagi saya di sini mengucapkan setinggi penghargaan kepada isteri saya Latifah teman hidup saya selama lebih setengah kurun yang selama ini telah memberi zuriat yang membanggakan dan dengan sabar lera diri dan kasih sayang sejati telah menyediakan suasana tenang dan damai, yang meredakan alunan gelora kehidupan yang kami tempuh bersama.

(tepukan gemuruh daripada para hadirin)

Daripada-nyalah saya terhutang budi dan berjaya dalam usaha menjalankan tugas serta tanggungjawab agama dan ilmu yang hasilnya kini sedang dinilai dunia. Bagi melaksanakan dengan sempurna tugas serta tanggungjawab agama dan ilmiah yang  saya maksudkan, saya perlukan khidmat seorang ilmuan yang telah berguru dengan ilmuan ternama yang saya kenali[2] dan yang layak menerima amanah saya.

Kini menjelaskan bagi ilmuan itu harus memiliki sifat-sifat serta perilaku akhlaq yang tertentu, iaitu ikhlas pada diri,percaya kepada kewibawaan dan kejujuran saya sebagai ilmuan sejati[3],taat setia kepada saya dengan kasih yang ikhlas, mengenali dan mengakui hak[4] saya dan meletakkan-nya pada tempat yang wajar. Sifat-sifat dan perilaku akhlaqiah yang terpuji ini, saya dapati pada diri Profesor Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud yang telah lama mendampingi diri dan pemikiran saya selama lebih 20 tahun sebagai sahabat dan telah menemani pengembaraan saya ke balai-balai keilmuan di merata dunia. Kepada-nyalah saya aturkan penghargaan teristimewa.

Kepada para ilmuan ternama dari serata dunia yang telah menyumbangkan risalah pengĂitirafan yang dirayakan ini saya sungguh berterima kasih. Kepada mereka dikalangan murid saya yang telah banyak berbakti[5] dan mereka yang telah menjalankan penelitian serta pengumpulan pelbagai risalah ilmiah yang terkandung dalam buku yang dilancarkan ini dan juga mereka dikalangan para pegawai[6] yang telah lama berkhidmat di bawah arahan saya kepada-nya semua saya ucapkan penghargaan ikhlas.

Penerbitan buku ini telah dilaksanakan dengan begitu baik oleh penerbit Universiti Teknologi Malaysia (UTM) atas anjuran Naib Canselor Profesor Dato’ Ir. Dr. Zaini bin Ujang, seorang ilmuan yang berhemah tinggi, kepadanya saya mengucapkan berbanyak terima kasih.

Dan sembah salam saya terhadap tuanku yang teramat mulia Raja Dr Nazrin Shah ibni Sultan Azlan Muhibbuddin Shah, raja yang Ăarif lagi budiman yang atas kesudiannya bukan sahaja melancarkan buku ini malah menilai kandungannya dengan tilikan bijaksana, saya menjunjung kasih.

Catatan akhir

Kami cuba dapatkan rakaman dan teks ucapan perasmian dan penghargaan daripada Yang Teramat Mulia, Raja Dr. Nazrin Shah ibni Sultan Azlan Muhibbuddin Shah yang sangat menarik lagi bijaksana dalam menilik mahaguru kita Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

Sebarang salah dan silap dalam saya menukilkan kembali ucapan penghargaan mahaguru kita, Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah kerana kekurangan dan kelemahan saya dalam menanggapi semula rakaman ringkas yang ada.


[1] Saya lama merenung ungkapan Prof. Al-Attas ini, yang agak “unik” buat para hadirin sehingga mereka tertawa kerana menilai ungkapan tersebut. Bagi saya yang menilik secara dhaif ini, ungkapan ini sebenarnya bukan mainan bahasa tanpa maāna kerana Prof. Al-Attas, seperti yang saya sering dengar daripada anak murid beliau yang berwibawa bukanlah ilmuan yang tidak beradab pada bahasa yang diguna pakai oleh beliau. Setiap suku kata malah tanda baca yang digunakan oleh beliau dalam bertutur, khususnya dalam penulisan Ăilmiah beliau mempunyai maāna tertentu sesuai dengan adab setiap huruf dan tanda baca tersebut dalam menyampaikan isi kandungan hujah beliau. Dalam hal ungkapan “unik” ini, pada hemat saya yang dhaif ini, Prof. Al-Attas menjelaskan salam hormat buat para aristokrat seperti Tan Sri, Puan Seri, Dato’, Datin, Profesor, Profesor Madya yang masing-masing pada hakikatnya dianugerahi darjah kehormat sebegitu rupa sesuai dengan sumbangan dan jasa dalam bidang masing-masing. Mungkin para hadirin yang tiada biasa mendengar ucapan beliau akan berasa sedikit kelakar kerana amat jarang sekali kita dapat mendengar dalam majlis rasmi laras Bahasa Melayu klasik tinggi yang menjadi sine qua non cara-gaya kognitif Prof. Al-Attas.

[2] Allahyarham Prof. Fazlur Rahman (University of Chicago)

[3] Pada hemat saya yang dhaif ini, cara-gaya Bahasa Melayu yang diguna pakai Prof. Al-Attas ini merupakan cara-gaya Bahasa Melayu klasik. Perkataan “sejati” yang diguna pakai oleh Prof. Al-Attas ini merujuk kepada kefahaman dan Ăamal beliau dalam memperakui tugas dan amanah beliau sebagai seorang ilmuan tulen (bukan kerana KPI etc.) yang tiada boleh disalah ertikan sebagai “angkuh” atau “berlagak” seperti yang sering dituduh oleh para penghasad-dengki yang telah sekian lama merosak punahkan gagasan beliau, khususnya ISTAC.

[4]Adab is the discipline of body, mind and soul; the discipline that assures the recognition and acknowledgement of one’s proper place in relation to one’s physical, intellectual and spiritual capacities and potentials; the recognition and acknowledgement of the reality that knowledge and being are ordered hierarchically according to their various levels (marĀtib) and degrees (darajĀt). Since adab refers to recognition and acknowledgement of the right and proper place, station, and condition in life, and to self-discipline in positive and willing participation in enacting one’s role in accordance with that recognition and acknowledgement, its actualization in one and in society as a whole reflects the condition of justice (Ăadl). Justice itself is a reflection of wisdom (Ąikmah), which we have already defined as that God-given knowledge which enables the recipient to discover the right and proper place for a thing or a being to be. The condition of being in the proper place is what we have called justice; and adab is the method of knowing by which we actualize the condition of being in the proper place. So adab, in the sense I am defining here, is also a reflection of wisdom; and with respect to society adab is the just order within it. Adab, concisely defined, is the spectacle (mashhad) of justice as it is reflected by wisdom.”       SM Naquib Al-Attas,  The Concept of Islamic Education, the keynote address delivered by Professor Naquib al-Attas at the “First World Conference on Muslim Education” held in Makkatul MuĂaĉĉamah in March 1977.  p11-12

[5] Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud (ATMA-UKM),  Prof. Madya Dr. Zainiy Uthman (IIUM), Prof. Alparslan Acikgenc (Fatih University), Dr. Mustafa Ceric (Grand Mufti of Bosnia-Hezergovina), Dr. Zaidi Ismail (IKIM), Dr. Sani Badron (IKIM), Dr. Wan Azhar (IKIM), Dr. Farid Shahran (mantan Timbalan Presiden ABIM, Pengerusi HAKIM, IIUM) Dr. Wan Suhaimi Wan Abdullah (UM), Dr. Azizan Sabjan (USM), Dr. Adi Setia (IIUM ) Ustaz Asham Ahmad (IKIM), Ustaz Nik Roskiman (IKIM), Dr. Aliza Elias (IIUM), Dr. Megawati Moris (IIUM), Dr. Bazli Shafie (UMT), Ustaz Roslan Jelani, Dr. Syed Ali Tawfiq Al-Attas, Prof. Dr. Kamar Oniah,  dan juga dari Indonesia seperti Dr. Syamsuddin Arif (IIUM, INSISTS), Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Gontor, INSISTS), Dr. Adian Husaini (INSISTS), Dr. Khalif Muammar (ATMA-UKM), Ustaz Adnin Armas (INSISTS), Dr. Ugi Suharto (INSISTS) dan banyak lagi yang mungkin saya belum kenal atau tiada teringat berkenaan mereka khususnya dari luar negara.

[6] Antara contoh kesan terbaik menjalarnya budaya ilmu telah digambarkan oleh Encik Sabri yang dahulu-nya merupakan pemandu Prof. Al-Attas sewaktu di ISTAC yang kini sering menghadiri hampir ke semua wacana HAKIM yang mana dipandu arah oleh anak-anak murid Prof. Al-Attas sendiri.

sumber: rausyanfikir.com

Minggu, 28 Februari 2010

Taubat

oleh Khayrurrijal

Ambil taubat
Cuci wajahmu dengannya
Air matamu kan lembutkan
   hatimu

Sabtu, 27 Februari 2010

Kenal Jiwa

oleh Khayrurrijal

Melesat lebih cepat dari cahaya
Melesat lebih cepat dari suara
Segala hilir mudik rasa

Ia dikenal sebagai jiwa

Rembulan

oleh Khayrurrijal

Rembulan selalu purnama
Sabit atau mati hanya nampak
   pada mata di bawah angkasa

Jika ingin-tahu kau rasa
Kunjungi ia,
   mudah-mudahan kau bahagia

Puas

oleh Khayrurrijal

Kata terbatas
Dititipkan makna yang luas

Harapnya makna segera lepas
Sampai tujuan lalu kembali
   dengan puas

Makna dan Jiwa

oleh Khayrurrijal

Makna dikandung kata
Pita bergetar lalu diantar suara
Masuk telinga dan dipahami jiwa

Adakala terlambat berkata
Tapi bukan berarti makna
   tiada daya
Karna jiwa sudah saling berbicara

Arti Sejati

oleh Khayrurrijal

Diri yang mendaki
Ingin kuasai jati diri
Tebing terjal dijalani
Ditemani oleh hati-hati

Semoga temukan arti sejati

Selamat Datang

oleh Khayrurrijal

Selamat datang...
Wahai jiwa yang terbang
Lalu hilang dari pandang

Selamat pulang...
Wahai jiwa petualang
Kepada haribaan Yang Maha Penyayang

Panutan

oleh Khayrurrijal

Gunung menjulang
Bintang terbentang
Menjadi panutan terpancang

Jumat, 26 Februari 2010

Teks Penuh Ucapan Penghargaan kepada Prof. al-Attas oleh Y.M. Raja Nazrin Shah


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wrt wbrkt dan salam sejahtera.

Alhamdulillah dengan kebesaran Allah yang maha esa, majlis pelancaran buku Knowledge, Language, Thought and the Civilization of Islam: Essays in honour of Syed Muhammad Naquib al-Attas, dapat dilangsungkan.

Beta bersyukur kerana bersempena majlis pelancaran ini dengan ketentuan Ilahi juga beta turut di angkat ke satu martabat kemuliaan apabila dipilih sebagai insan yang digandingkan dengan usaha mulia untuk memuliakan seorang sarjana Islam berwarga Malaysia.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas diiktiraf, disegani dan dihormati di serata dunia sebagai pohon ilmu yang asli teguh berakar di Taman Ilmu.

Syed Muhammad Naquib adalah insan istimewa memiliki watak intelek, jiwa intelek, daya intelek dan ruh intelek seorang muslim perintis dalam mempelopori idea mengislamkan pengetahuan (The Idea of Islamization of Knowledge).

Beliau telah menghasilkan 29 penerbitan dalam pelbagai aspek pemikiran dan tamadun Islam khususnya subjek-subjek menyentuh kosmologi, metafizik, falsafah, bahasa dan kesusasteraan Melayu.

Beliau telah menyampaikan lebih 400 syarahan umum di negara-negara Asia, Amerika Syarikat dan Eropah.

Setia

oleh Khayrurrijal

Setia itu menjaga
Setia itu membuat diri berharga
Setia itu mulia
Setia itu berpegang teguh pada kata jiwa

Dalam setia,
Menunggu menjadi indah
Mendampingi menjadi seni
Meski sendiri menjaga suci
Tapi, itu karena tingginya arti

Pohon Cinta

oleh Khayrurrijal

Saat cinta bersemi di dalam hati
Pohonnya sudah cukup matang
   menarik diri

Akarnya menguat
Cabangnya besar menggeliat
Buahnya pun
   mulai memberi manfaat

Selasa, 23 Februari 2010

Cinta dan Cipta

oleh Khayrurrijal

Benarlah jika makhluk dicipta
    oleh Cinta
Ia-lah daya pencipta
Penyatu...
Pengharmoni...
Pengindah...
Pembaik...
Pelembut...
Penghalus...
Bahkan keburukan yang diletakkan Cinta,
   akan menjadi pelajaran berharga

Sungguhlah berbeda dengan benci
Ia-lah pemisah...
Penghancur...
Pengeras...
dan berbahaya
   jika menjadi atmosfer dominan rasa jiwa
Sebab,
Kebaikan yang dibenci
Hanya menjadi fiksi dan basi

Mata rahasia

oleh Khayrurrijal

Awan bergerak menyentuh gemunung
Dua gerak serupa
Bukan gerak mata binasa
Tapi gerak mata rahasia

Biru memantul ke dalam mata
Hijau ikut ditata lewat indera
Pandangan melampaui batas usia

Kuingat jua indahnya jiwa
Indah lipat ganda
Tiada bentuk
Hanya cahaya menjejak bayangnya
   pada mutiara

Angin dan Kabar

oleh Khayrurrijal

Angin menggoyang helai teh
Lalu hadir mengelilingi tubuh
Kucoba mendengarnya
Mungkin ada kabar dari negri jiwa mutiara

Guilt

by Khayrurrijal

Feel of guilt is a sign
   that  your heart still alive

Be grateful...
Be grateful...

Mutiara

oleh Khayrurrijal

Rahmat Tuhanmu, melebih amarahNya
Usah kau putus asa
Sambung asamu dengan asalmu

Mutiara, asalmu adalah lautan...
Bersinarlah, karna sejatimu mulia
Meski kau pernah berbuat dosa

Saksiku

oleh Khayrurrijal

Saksiku pada awan memerah
Gelap hadir mengisi daftar
Terang hari tinggalkan ruang

Sabtu, 20 Februari 2010

Despiritualization of Prophethood and Its link to Identity Crisis



Transcript from Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas lecture on “The Religion of Islam”, ISTAC, 20th April 1998.

Now I want to talk lastly about what is called the “identity crisis” because this is something very important. I think the Muslim world is experiencing it, although maybe it does not see it yet and does not know its cause but this term “identity crisis” means one has lost one’s roots. One does not know any longer who one is. If we look at all societies we will find three generations: there is the very young, there is the middle age and then there is the old. You’ll find that everywhere. Now as far as Islam is concerned in the past, I mean to say, it is more so than now, although now also there still exists a lot of Muslims that follow the correct tradition but in the past there was no division between the adolescent, the middle age and the old. They all seemed to follow the same values, the values of the adolescent is the same as that of the middle age is the same as that of the old. Now why is that so? It is because of the Prophet, because he is an example to follow and as long as the Muslim follows him then there will be no gaps between these generations, there is no generation gap. But now, why are there generation gaps among the Muslims? This is because they no longer regard the Prophet as he ought to be regarded.

Now let us see what we mean by this generation gap. Again we take the West as an example, because they are the ones who talk about these things and who actually have these things all the time, even in the past; although maybe in some areas in the past there was no generation gap because they believed in certain permanent values and principles. When they attacked religion, secularization as a philosophical programme worked among them and this generation gap became more pronounced. Now every generation is looking for its identity. The young people know they are not following the values of their fathers (the middle age) because their fathers when they were young also were not following what their fathers had been saying. This is because when it comes to what is the truth, what is good, what is right, they tell the young: “Well, we don’t really know ourselves because we are seeking that too, and therefore you have to look it for yourselves, you must have freedom and that is why you have to believe in freedom to find out who you are, your identity. Now as regards the old, they have lost their identity, they cannot be an example.The reason is because this whole role of identity has to do with citizenship. If you say that your purpose is to be a good citizen, and we said government change, concepts change, therefore they don’t have an example to follow. They cannot have, and they cannot follow any of their leaders of the past as an example. You cannot make Socrates as an example; Aristotle, Plato also cannot be examples, for all times. Buddha also cannot be examples. Jesus of course cannot be examples, because he is half-God or God Himself and furthermore he does not marry so if you really want to follow his example as man then that is the end of Christianity. So none of them has a man like the Prophet in Islam as an example whom they can follow.

Now the Prophet is not just an example for little boys, girls, middle age, old men, men and women-he is an example for all. Which also means that we are looking at him not just physically as a man because he is also an example for women but also at the spiritual, the values and other things. Now there is no such human being in other civilizations because of that there must be this generation gap in these civilizations because they all want to find identity. If the identity is based on citizenship then the identity is based on usefulness to the state so the moment they are retired like the middle age group, they have lost their identity. As for the old they don’t like to talk so much about it because that reminds them of death. So in such a society, the old lose everything, they have lost their worthiness as a citizen, they are no longer working, and have become a kind of nuisance. They also remind the middle age of what they will be like later. The young also don’t want to be reminded of this.

This continual seeking of identity has now become worse because not only is there a generation gap, there is also a gap between a man and a woman because each one is also seeking their own identity. Women are seeking identity as women. So this is a chaotic state really. Now if the Muslims do not regard the Prophet in the correct way, they will be having this kind of problem too. Therefore the Prophet is the one who is actually keeping the structure of Muslim society as an ummah. Unfortunately the modernists have been despiritualizing the Prophet by making him an ordinary man like you and me. Of course he is a human being, nobody has worshipped the Prophet. That is why they keep on talking about the verse in the Qur’an carefully and look at all such verses that occur in the Qurāan: Innama ana basharun mithlukum and yet for example they don’t realize that if they study the Qurāan, other carefully and look at all such verses that occur in the Qurāan, other Prophets were also told to say the same thing. It is always directed to unbelievers, and the Prophet did that too, which means that you did not accept Islam, and the earlier Prophets did that too, which means that you can’t apply that verse to believers and yet they (the modernists) are applying that to us. So it is an incorrect application and the verse was revealed because the unbelievers were asking all kinds of irrational things from the Prophet. They asked why was God sending him as the Prophet, why not somebody else among them who was better than him, who was leader of the tribe? Or why not God Himself come? There is a verse in the Qurāan which Ibn Sina quoted: “Why does not He come in the canopy of clouds?”So because of that therefore what is meant there is that if an angel comes you will not understand the language of the angels, even angels when they come must appear in the form of man. Therefore a Prophet must be among human beings, therefore it is ana basharun. That is one point.

The second point is that this word bashar simply means a biological man, meaning flesh and blood like you. It is not the same as insan, it did not say ana insan mithlukum, it says ana basharun mithlukum but then the Prophet said: “I received the Revelation.” There is a very big difference here, that means what we are calling the perfect man is because he is man, there has been no report in Muslim history of people worshipping the Prophet although there have been reports of people worshipping ĂAli but not the Prophet because the kalimah shahadah already makes it impossible for the Prophet to be worshipped. So why is it that the modernists are throwing the verse at us? We are not unbelievers. It is they who don’t realize this. Why must you make the Prophet the same as everybody? They said it is because the Prophet himself said so. Yes, but the Prophet also said: “I received the Revelation.” That means he is not just like you and me, because in receiving the revelations he must have had some psychological or spiritual changes occurring in him as he is notbashar, he is also insan. And what’s wrong with that? Because the idea is that you don’t worship the Prophet, like the Christians with Jesus, but the Muslims have never done that in the first place. And therefore this reason is no good. One of the scholars whom I met in Ohio (in 1980) was saying: “Yes, before I used to think of him as a super man, now I think of him as just an ordinary man like you and me.” So you are just like the jahiliah to whom the Prophet was addressing all these things.

Husein Haykal, the author of The Life of Muhammad (the title of the English translation from the original Arabic-Hayat Muhammad), makes the Prophet as if he is just an ordinary man and he makes the experience of wahy very much the same as what Ibn Arabi was talking about fana and the sufis. How can you say that? The sufis themselves never said this, on the other hand they say their experience is nothing compared to the Prophet, and yet Haykal puts the Prophet down to the level of the sufis, the wahdatul wujud. Even the original Arabic title of the book, Hayat Muhammad, is something that nobody in the past has given to such a biography. They would say Sirat ul-Nabi, not Hayat, nobody in the past has written that. Sirat, because they know that it is a biography while hayat is a biological life. You can’t talk about the Prophet’s biological life as bashar, as it were, because there are things that are not really physical, for example how are you going to explain the angels? How are you going to explain the angel giving him the Revelation? This is not something happened to the hayat of Julius Caesar, Alexander the Great or Gamal Abdul Nasser, and yet he equated the Prophet in that way.

To my mind, this is how the Muslims gradually get the generation gap. When the ahl hadithbegan to quibble a little bit about the ahadith, gradually and finally people now say they had better go back to Qurāan, not the Hadith. So this role of the Prophet as the consolidator and unifier of the Muslim ummah is gradually destroyed. As result he is no longer the example, and therefore you begin to seek identity. Even our leaders very seldom praise the Prophet. They will of course say Allahu Taala in their speeches but very seldom I hear them saying Prophet Muhammad. I think this is one of the causes regarding the role of the Prophet in Muslim society so far as preventing the generation gap is concerned because if he is really taken as an example of what he says then whatever is taught to the young is also the same with the middle age, the same with the old age, the same with men, and the same with women. Then there will be generation gap. But it is not the case now. The young people argue and say: “Well, that’s what you think.” We have seen that following what is in the West as portrayed on television. They say, I have my own life, it’s my own life. Some women are even saying: “Yes, it’s my body and I just can’t allow it to anyone and therefore I have the right to have children or not.” Already they are making cases in Australia and other countries of the West.

sumber: rausyanfikir.com

Insan Kemuliaan

Oleh Khayrurrijal

Jika nafsu terlepas dari rantai kemuliaan
Merusak seluruh isi rumah insan
Gelap gulita gantikan terang
Badai menyapu kesadaran
lalu lemparkan diri ke lautan

Tenggelam harapan insan
Paus legendaris pun menelan
Terasa pengasingan dan penolakan

Ada secercah harap menyeruak
Memantulkan bayang pintu keluar
Udara pun memenuhi rongga dada

Hati bersambut lisan, berucap:
"Maaf..."
Wajah tertunduk bersaputkan mata air

Ku tunggu kalimat baik dari Tuhan
Dan janji untuk diantarkan ke tepian

Berenang dan tenggelam bergantian
Tapi tak boleh putus harapan
kejadian mesti dilengkapi dengan perbaikan

Ku mohon perkenanMu, Tuhan
Menjadi insan kemuliaan

Punya dan Hilang

oleh Khayrurrijal

aku punya
aku juga tidak punya

aku kehilangan
aku sendiri hilang

coba tempatkannya pada sejati makna
niscaya kau bahagia

Jiwa

oleh Khayrurrijal
jiwa tiada be-ruang
ia hanya tinggalkan jejak
Tapi penjejak tiada tercerap

ruang ada karena jiwa
ruang ada karena Tuhan Mencipta dunia

ruang itu tiada
ruang itu ada
tapi beda nyata

Jiwa memang dicipta
Meski abadi-Nya menemaninya

Jiwa sungguh luas
hingga semesta tak semesti batasnya

pahamilah wahai jiwa
sungguh jiwa ada di dalam rahasia-Nya

Hujan

oleh Khayrurrijal

hujan...
turun bawa kebaikan
bagi mereka yang berhusnudzan

hujan...
turun bawa kebaikan
bagi mereka yang meminta perlindungan

hujan...
hadir di kesadaran insan
hanya sebagai kendaraan
untuk melakukan renungan

Rabu, 17 Februari 2010

Terasing

oleh Khayrurrijal

Benda-benda merupakan realitas inderawi yang terpampang di hadapan raga. Entitas tersebut begitu membanjiri kesadaran, hingga terbentuklah kumpulan kesan-kesan. Dalam istilah John Locke, terdapat kesan inderawi primer dan sekunder.

Sejak lahir dan mungkin hingga remaja, manusia mencerap alam benda sedemikian banyak. Memang, ada sesuatu yang tidak bersifat inderawi yang juga dicerap, misalnya, afeksi orangtua. Akan tetapi, tetap pencerapan dominan adalah terhadap alam benda.

Sentuhan manusia pada alam benda, membuahkan nilai baru. Alam benda mulai disusupi fungsi-fungsi yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Ini tidak aneh, dan cukup wajar. Misalnya, bambu atau atau dahan sebuah pohon yang patah dapat digunakan oleh manusia menjadi alat berburu. Bambu menjadi alat berburu disebabkan modifikasi tangan manusia pada alam benda. Dan ini terjadi terus menerus, bahkan hingga hari ini.

Hanya saja, ada perubahan di masa yang bisa disebut dengan istilah Baudrillard sebagai Simulacra dan Simulacrum. Sentuhan fungsi kepada alam benda kemudian ditambah dengan sentuhan citra. Benda-benda ciptaan manusia itu tentunya berbeda kualitas satu sama lain. Ada produk yang berkualitas tinggi dan berkualitas rendah. Gradasi kualitas ini bersifat wajar. Lalu, kesan kualitas ini ditambah dengan para pengguna alam benda yang juga berkualitas. Coba bayangkan sebuah jam tangan yang berkualitas tinggi digunakan oleh seorang presiden atau tokoh terkemuka. Kualitas barang ditambah dengan kualitas pengguna inilah yang ditampilkan di dalam iklan-iklan. Bukankah ini memikat kebutuhan fungsi? Tentu saja. Akan tetapi, hal ini juga memikat kebutuhan lain dari manusia, yaitu harga diri (dignity).

Harga diri manusia tentu adalah persoalan penting dari kehidupan manusia. Humanisme, antroposentrisme, Deisme, Sosialisme, Kapitalisme, dan pelbagai pandangan lain sangat kental nuansa harga diri. Coba lihat bagaimana persoalan Human Rights (Hak Manusia), yang dibuat menjadi Universal Declaration of Human Rights, begitu mengglobal dan dapat digunakan untuk menggebuk sebuah entitas, termasuk negara, jika terjadi pelanggaran terhadap harga diri manusia.

Lalu bagaimana hubungan antara harga diri dengan alam benda?

Selasa, 16 Februari 2010

1

by khayrurrijal


1......?
why did you 

not try to be zero (0)?
so....0

....0.....
0.......

Tuhan

oleh khayrurrijal


menyebut-Nya dengan sebutan-Nya kepada diri-Nya sendiri
Alloh adalah nama teragung yang menyelimuti seluruh medan semantik nama2-Nya.

manusia tidak pernah dapat menemukan Tuhan. Ia yang menemukan manusia.

ketika kau sudah dimudahkan, jangan minta dipersulit
tidak ada jaminan dalam pencarian kau akan ditemui-Nya
nama itu benar karena Dialah yang paling tahu tentang diri-Nya.

kalau pun kata 'Tuhan' digunakan, maka itu dimaksudkan sebagai sebuah usaha mengikatnya masuk ke dalam medan semantik 'Allah' dan didefinisikan dengan 'Allah'...

yang berlari itu bukan diri-Nya. tapi, rahmat-Nya. sebab, ruang dan waktu adalah ciptaan-Nya

Doubt and misery

by khayrurrijal

Doubt is misery
western saw life as tragedy
and now they are making all creatures
     become worry
although tragedy only they westernized
     that could see

Doubt is misery
it is not a true glory to the truth and reality
it is only a tragedy that made people unhappy

Cinta, rasa, satu

oleh khayrurrijal

Ketika kita bersatu
kekuatan kita satu
kelemahan kita terlengkapi
rasaku rasamu
pikirku pikirmu
karna cinta
membuat kita lepas dari ruang dan waktu

Rasa ini deras mengalir
Dada pun rasa penuh
kata, nada, isyarat raga,
menjadi perantara
tapi, itu baru jejaknya
penjejaknya sendiri tiada terkatakan
bahkan, ia turut juga mencipta kata


Senin, 15 Februari 2010

Jujur

oleh khayrurrijal


kata-kata baik dan jujur...
jujur pada diri
tak perlu takut
tak perlu bimbang
kenali saja apa yang ada di hadapan

Sabtu, 13 Februari 2010

cinta oh cinta

oleh khayrurrijal


perlakukan Cinta dengan cinta

tiap lantai ada cinta
hanya ada beda nyata

habiskan waktu di tiap lantai cinta, secukupnya
hingga tiada waktu yang menyertai...

Masa lalu

oleh khayrurrijal

masa lalu bisa saja di caci
masa lalu bisa juga di puji
tapi, lebih baik mana, caci atau puji?



jika caci yang kau ingini
maka muntahkan semua sumpah serapahmu
lalu tinggalkan semua sampahmu itu


jika puji yang kau ingini
maka lihatlah dengan hati
pelajaran dari Ilahi

Mulia dan Tangga

oleh khayrurrijal


sama dan beda....
beda pada mulia
mulia pada takwa
sama dan beda hadir di Mata Sang Raja
sama dan beda hadirkan tangga

jikapun kau sudra, maka kau dapat mulia
naikilah tangga
jikapun kau brahmana, maka kau dapat terhina
jatuh dari tangga

untuk naik dan turun tangga
kau harus berusaha
kriteria yang sama membuat ke-lebihbaik-an itu menjadi ada

mata-mata sejati manusia kan memandang beda dan sama
sebab, emas dan besi, adalah sama dan juga beda...

Rabu, 10 Februari 2010

KANT DAN TRANCENDENTAL LOGIC

oleh khayrurrijal

Dari Critique of Pure Reason, dapat diambil beberapa pernyataan dari Kant, yaitu:
“In what follows, therefore, we shall understand by a priori knowledge not knowledge independent of this or that experience, but knowledge absolutely independent of all experience.”

Di sini Kant berusaha berbicara tentang pengetahuan yang mengatasi, secara absolut, seluruh pengalaman. A priori yang ia maksud adalah apa yang diambil secara tidak langsung dari pengalaman, dalam artian kita meminjamnya dari pengalaman. Namun, terdapat kekaburan dalam tulisannya ini, ketika ia menambahkan bahwa terdapat sebagian konsep yang diturunkan dari pengalaman (baca:alterasi). Lalu bagaimana dengan ke-independen-an pengetahuan a priori dari seluruh pengalaman? Dan lebih lanjut, apakah seluruh konsep atau kategori yang terdapat dalam diri manusia lepas dari pengalaman, padahal kita dikatakan meminjamnya dari pengalaman?

Kemudian Kant ingin pula mencari sebuah aturan yang pantas untuk menjadi ‘prinsip pertama’ yang tentunya tidak kontingen dan empiris, dengan pernyataannya:

“For how could experience get its certainty if all rules whereby it proceeds were always and therefore contingent? Such rules could hardly be regarded as first principles....”

Kekaburan lain, saya temukan, ketika Kant berbicara tentang dua kondisi yang memungkinkan pengetahuan tentang sebuah objek. ia menyebutkan dua kondisi, yaitu:

“There are only two conditions under which the knowledge of an object is possible, first intuition, through which is given, though only as appearance; and second, the concept (corresponding to this intuition) through which an object is thought.”

“Intuition and concepts constitute, therefore, the elements of all our knowledge, so that neither concepts without intuition insome way corresponding to them, nor intuitions without concepts, can yield knowledge. Both may be either pure or empirical. When they contain sensation (which presupposes the actual presence of the object) they are empirical. When there is no mingling of sensation with the representation, they are pure.”
Akan tetapi, intuisi yang sebelumnya dikatakan dapat berbentuk “murni” dan “empiris” kemudian disempitkan lagi, bahwa intuisi kita secara alami selalu sensible, dengan mengatakan:

“if the receptivity of our mind, its power of receiving representations in so far as it is any way affected, is to be called ‘sensibility’, then the mind’s power of producing representation from itself, the spontaneity of knowledge, should be called ‘understanding’.

“Our nature is so contituted that our intuitions can never be other than sensible.”

Hal ini membuat saya tidak melihat dengan jelas apa yang dimaksud dengan olehnya dengan intuisi dan “kemurnian” dan “ke-empiris-an”nya. “empiris” jika mengandung sensasi. Tetapi, intuisi secara alami selalu sensible. Jika dibuat pertanyaan: Bukankah intuisi yang sensible tersebut terkait dengan “ke-empiris-an”, sehingga tidak ada intuisi yang murni?

The meaning and concept of philosophy in Islam


Seyyed Hossein Nasr

In the light of the Qur'an and Hadith in both of which the term hikmah has been used,1 Muslim authorities belonging to different schools of thought have sought over the ages to define the meaning of hikmah as well as falsafah, a term which entered Arabic through the Greek translations of the second/eighth and third/ninth centuries. On the one hand what is called philosophy in English must be sought in the context of Islamic civilization not only in the various schools of Islamic philosophy but also in schools bearing other names, especially kalam, ma`rifah, usul al-fiqh as well as the awa'il sciences, not to speak of such subjects as grammar and history which developed particular branches of philosophy. On the other hand each school of thought sought to define what is meant by hikmah or falsafah according to its own perspective and this question has remained an important concern of various schools of Islamic thought especially as far as the schools of Islamic philosophy are concerned.
During Islamic history, the terms used for Islamic philosophy as well as the debates between the philosophers, the theologians and sometimes the Sufis as to the meaning of these terms varied to some extent from one period to another but not completely. Hikmah and falsafah continued to be used while such terms as al-hikmat al-ilahiyyah and alhikmat al-muta`aliyah gained new meaning and usage in later centuries of Islamic history, especially in the school of Mulla Sadra. The term over which there was the greatest debate was hikmah, which was claimed by the Sufis and mutakallimun as well as the philosophers, all appealing to such Hadith as "The acquisition of hikmah is incumbent upon you and the good resides in hikmah."2 Some Sufis such as Tirmidhi were called hakim and Ibn Arabi refers to the wisdom which has been unveiled through each manifestation of the logos as hikmah as seen in the very title of his masterpiece Fusus al-hikam,3 while many mutakallimun such as Fakhr al-Din al-Razi claimed that kalam and not falsafah was hikmah,4 Ibn Khaldun confirming this view in calling the later kalam (kalam al-muta'akhkhirin) philosophy or hikmah.5

The Qur'an and Hadith as source and inspiration of Islamic philosophy




Seyyed Hossein Nasr

Viewed from the point of view of the Western intellectual tradition, Islamic philosophy appears as simply Graeco-Alexandrian philosophy in Arabic dress, a philosophy whose sole role was to transmit certain important elements of the heritage of antiquity to the medieval West. If seen, however, from its own perspective and in the light of the whole of the Islamic philosophical tradition which has had a twelve-century-long continuous history and is still alive today, it becomes abundantly clear that Islamic philosophy, like everything else Islamic, is deeply rooted in the Qur'an and Hadith. Islamic philosophy is Islamic not only by virtue of the fact that it was cultivated in the Islamic world and by Muslims but because it derives its principles, inspiration and many of the questions with which it has been concerned from the sources of Islamic revelation despite the claims of its opponents to the contrary.'
All Islamic philosophers from al-Kindi to those of our own day such as 'Allamah Tabatabai have lived and breathed in a universe dominated by the reality of the Qur'an and the Sunnah of the Prophet of Islam. Nearly all of them have lived according to Islamic Law or the Shari ah and have prayed in the direction of Makkah every day of their adult life. The most famous among them, such as Ibn Sina (Avicenna) and Ibn Rushd (Averroes), were conscious in asserting their active attachment to Islam and reacted strongly to any attacks against their faith without their being simply fideists. Ibn Sina would go to a mosque and pray when confronted with a difficult Problem,' and Ibn Rushd was the chief qadi or judge of Cordova (Spanish Cordoba) which means that he was himself the embodiment of the authority of Islamic Law even if he were to be seen later by many in Europe as the arch-rationalist and the very symbol of the rebellion of reason against faith. The very presence of the Qur'an and the advent of its revelation was to transform radically the universe in which and about which Islamic philosophers were to philosophize, leading to a specific kind of philosophy which can be justly called "prophetic philosophy".3
The very reality of the Qur'an, and the revelation which made it accessible to a human community, had to be central to the concerns of anyone who sought to philosophize in the Islamic world and led to a type of philosophy in which a revealed book is accepted as the supreme source of knowledge not only of religious law but of the very nature of existence and beyond existence of the very source of existence. The prophetic consciousness which is the recipient of revelation (al-wahy) had to remain of the utmost significance for those who sought to know the nature of things. How were the ordinary human means of knowing related to such an extraordinary manner of knowing? How was human reason related to that intellect which is illuminated by the light of revelation? To understand the pertinence of such issues, it is enough to cast even a cursory glance at the works of the Islamic philosophers who almost unanimously accepted revelation as a source of ultimate knowledge.' Such questions as the hermeneutics of the Sacred Text and theories of the intellect which usually include the reality of prophetic consciousness remain, therefore, central to over a millennium of Islamic philosophical thought.


Peran Sayyid dan Sharif dalam Dakwah Islam


Print  
Image Prof. Mehmet Ipsirli talked to Naquib Al-Attas in Malaysia about the Asian journey of the Sayyids (descendants of the Prophet) starting from the early periods of Islam and the applicabillity of Sunnah (practices of the Prophet) in today's world. Himself a Sayyid, Al-Attas is recognized as one of the most
prominent contemporary representatives of the Islamic thought.




His Life


Sayyid Muhammad Naquib al-Attas was born in Bogor, Java into a family with a history of illustrious ancestors, saints, and scholars, of Hadhrami Arab and Turkish descent. He received a thorough education in Islamic sciences, Malay language, literature and culture. His formal primary education began at age 5 in Johor, Malaya (later known as Malaysia), but during the Japanese occupation of the peninsular, he went to school in Java, in Madrasah Al-`Urwatu’l-wuthqa, studying in Arabic. After World War II, in 1946 he returned to Johor to complete his secondary education. He was exposed to Malay literature, history, religion, and western classics in English, and in a cultured social atmosphere developed a keen aesthetic sensitivity. This nurtured in al-Attas an exquisite style and precise vocabulary that were unique to his Malay writings and language.
After al-Attas finished secondary school in 1951, he entered the Malay Regiment as cadet officer no. 6675. There he was selected to study at Eton Hall, Chester, England and later at the Royal Military Academy, Sandhurst, UK (1952-1955). This gave him insight into the spirit and style of British society. During this time he was drawn to the metaphysics of the Sufis, especially works of Jami, which he found in the library of the Academy. He traveled widely, drawn especially to Spain and North Africa where Islamic heritage had a profound influence on him. Al-Attas felt the need to study, and voluntarily resigned from the King's Commission to serve in the Royal Malay Regiment, in order to pursue studies at the University of Malaya in Singapore (1957-1959).
While an undergraduate at University of Malaya, he wrote Rangkaian Ruba`iyat, a literary work, and Some Aspects of Sufism as Understood and Practised among the Malays. He was awarded the Canada Council Fellowship for three years of study at the Institute of Islamic Studies at McGill University in Montreal. He received the M.A. degree with distinction in Islamic philosophy in 1962, with his thesis Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh. Al-Attas went on to the School of Oriental and African Studies, University of London where he worked with Professor A. J. Arberry of Cambridge and Dr. Martin Lings. His doctoral thesis (1962) was a two-volume work on the mysticism of Hamzan Fansuri.
In 1987, with al-Attas as founder and director, the International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) was established in Kuala Lumpur. This institution strives to bring an integrated Islamization into the consciousness of its students and faculty. Al-Attas envisioned the plan and design of every aspect of ISTAC, and has incorporated Islamic artistic and architectural principles throughout the campus and grounds.
He is also an able calligrapher, and his work was exhibited at the Tropen Museum in Amsterdam in 1954

Books and Monographs

  • (1970) The Correct Date of the Terengganu Inscription, Kuala Lumpur Museum Department.
  • (1975) Comments on the Re-Examination of Al-Raniri's Hujjat au'l Siddiq: A Refutation, Kuala Lumpur Museum Department.
  • (1978) Islam and Secularism
  • (1980) The Concept of Education in Islam
  • (1988) The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the `Aqa'id of al-Nasafi
  • (1989) Islam and the Philosophy of Science
  • (1990) The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul
  • (1990) On Quiddity and Essence
  • (1990) The Intuition of Existence
  • (1992) The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality
  • (1993) The Meaning and Experience of Happiness in Islam (tr. into German by Christoph Marcinkowski as Die Bedeutung und das Erleben von Glückseligkeit im Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1998)
  • (1994) The Degrees of Existence
  • (1995) Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam




Interview Part I: Asia Islamized via the Sayyids


-What are the places of Sayyids and Sharifs in the Islamic tradition?


Comments system

Disqus Shortname