oleh khayrurrijal
Dari Critique of Pure Reason, dapat diambil beberapa pernyataan dari Kant, yaitu:
“In what follows, therefore, we shall understand by a priori knowledge not knowledge independent of this or that experience, but knowledge absolutely independent of all experience.”
Di sini Kant berusaha berbicara tentang pengetahuan yang mengatasi, secara absolut, seluruh pengalaman. A priori yang ia maksud adalah apa yang diambil secara tidak langsung dari pengalaman, dalam artian kita meminjamnya dari pengalaman. Namun, terdapat kekaburan dalam tulisannya ini, ketika ia menambahkan bahwa terdapat sebagian konsep yang diturunkan dari pengalaman (baca:alterasi). Lalu bagaimana dengan ke-independen-an pengetahuan a priori dari seluruh pengalaman? Dan lebih lanjut, apakah seluruh konsep atau kategori yang terdapat dalam diri manusia lepas dari pengalaman, padahal kita dikatakan meminjamnya dari pengalaman?
Kemudian Kant ingin pula mencari sebuah aturan yang pantas untuk menjadi ‘prinsip pertama’ yang tentunya tidak kontingen dan empiris, dengan pernyataannya:
“For how could experience get its certainty if all rules whereby it proceeds were always and therefore contingent? Such rules could hardly be regarded as first principles....”
Kekaburan lain, saya temukan, ketika Kant berbicara tentang dua kondisi yang memungkinkan pengetahuan tentang sebuah objek. ia menyebutkan dua kondisi, yaitu:
“There are only two conditions under which the knowledge of an object is possible, first intuition, through which is given, though only as appearance; and second, the concept (corresponding to this intuition) through which an object is thought.”
“Intuition and concepts constitute, therefore, the elements of all our knowledge, so that neither concepts without intuition insome way corresponding to them, nor intuitions without concepts, can yield knowledge. Both may be either pure or empirical. When they contain sensation (which presupposes the actual presence of the object) they are empirical. When there is no mingling of sensation with the representation, they are pure.”
Akan tetapi, intuisi yang sebelumnya dikatakan dapat berbentuk “murni” dan “empiris” kemudian disempitkan lagi, bahwa intuisi kita secara alami selalu sensible, dengan mengatakan:
“if the receptivity of our mind, its power of receiving representations in so far as it is any way affected, is to be called ‘sensibility’, then the mind’s power of producing representation from itself, the spontaneity of knowledge, should be called ‘understanding’.
“Our nature is so contituted that our intuitions can never be other than sensible.”
Hal ini membuat saya tidak melihat dengan jelas apa yang dimaksud dengan olehnya dengan intuisi dan “kemurnian” dan “ke-empiris-an”nya. “empiris” jika mengandung sensasi. Tetapi, intuisi secara alami selalu sensible. Jika dibuat pertanyaan: Bukankah intuisi yang sensible tersebut terkait dengan “ke-empiris-an”, sehingga tidak ada intuisi yang murni?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar