SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Rabu, 03 Februari 2010

Kamuflase dan Ketidakadilan

oleh khayrurrijal

Ketidakadilan memang dapat saja dilakukan atas nama keadilan bagi orang banyak. Sebuah kamuflase atas keinginan hewaniah manusia. Hal ini ironis. mengingat diri manusia menjadi sejati bukan disebabkan faktor kehewanan itu.

Kamuflase ini lambat laun dianggap sebagai realitas. orang-orang tidak lagi mampu mengenali jati diri ketidakadilan. Bahkan, di titik ekstrem, keadilan pun dikeluarkan dari "keanggotaan" realitas. keadilan hanyalah angan manusia. hal itu hanya berita yang disampaikan dari masa lalu, yang diklaim berasal dari Tuhan. ditambah dengan sinisme dan sekularisasi terhadap Tuhan, maka keadilan pun mudah dienyahkan dari kesadaran manusia. Keadilan ditolak dan hanya ada ketidakadilan. keadilan sangat relatif, tapi ketidakadilan bernilai absolut. Hal ini seperti sebuah "perayaan" yang berlebihan terhadap intervensi manusia kepada segala sesuatu. bahkan, Tuhan pun menjadi tidak ada, atau minimal relatif. Sebab, yang ada hanyalah pemahaman tentang Tuhan, dan ini tidak berarti bahwa Tuhan itu ada. Dalam benak orang seperti ini ungkapan, "Bukankah manusialah yang menciptakan Tuhan?" atau "Teologi hanyalah sublimasi antropologi" menjadi lumrah.

Akan tetapi, ada hal yang aneh. Ketidakadilan diafirmasi. Ketidakadilan adalah penindasan, dan ini harus diselesaikan. Sebab, penyelesaiannya adalah sebuah keadilan?! Aneh bukan. Cara berpikir semacam ini justru membawa seseorang ke hadapan "pintu" yang semula dihindari, bukan seperti multi-"pintu" dalam pikiran poststrukturalis. Ah, mungkin keadilan yang hendak dicapai hanya keadilan fragmentaris. Cukup itu saja. Pencapaian mungkin bukan lagi utama. setelah sampai, maka horizon kehidupan masih terus bergerak. Tiada kata "sampai" yang sesungguhnya. Akan tetapi, bukankah ini justru melemahkan semangat pencapaian? Atau ini sesungguhnya adalah afirmasi terakhir terhadap kehidupan. Tragis!

Ketika kamuflase membuat ketidakjelasan menjadi atmosfer dominan, banyak orang menjadi "sesak napas". Gelombang massa begitu melarutkan, bahkan memiliki efek "morfin". Ya, mungkin ini memang dibutuhkan oleh mereka yang tragis. Dengan "morfin" mereka melepaskan segala cemas, takut, dan kematian. Meskipun, mereka pasti akan kembali sadar, bukan!

Memang orang yang tidak membaca kitab suci sekalipun merasa kebutuhan akan keabsolutan. Sebab, ayat-ayat dirinya tiada pernah berubah, namun hanya dinafikan. Ia "kafir" dan "dustai" dirinya sendiri. Kitab suci memang bukan kesukaan orang-orang macam ini. "Cukuplah dengan pikiran dan kesepakatan", begitu ujarnya. Tetapi, mereka pun sadar bahwa "mata" pikiran mereka itu terjangkiti "minus". Mereka "rabun" dekat dan jauh, lalu bersegera menilai realitas, dengan kondisi mereka yang “sakit”. Aneh! seharusnya mereka coba memakai "kacamata" yang diturunkan Tuhan. Mereka mungkin tidak suka. Akan tetapi, coba pakai terlebih dahulu! dan berhentilah menragedikan kehidupan ini.

Kamuflase memang sering dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa. Hak dan wewenang menjadi sangat "indah" untuk diperagakan dengan cara yang congkak. Godaan untuk testcase pun sangat menawan hati.

Kamuflase mengingatkan kepada topeng, persembunyian. Hal ini sangat terkait dengan perlindungan diri, membenarkan diri. Sebab, jika tertampil nafsu diri, maka merasa diri layaknya akan mati. Bunglon adalah salah satu hewan yang berkamuflase. menariknya, kamuflase sering dilakukan oleh orang berkuasa. Aneh, bukankah mereka tidak perlu bersembunyi. Takutkah mereka? Kepada siapa?
Seandainya para penguasa itu berkaca pada bunglon, mungkin mereka akan malu. Jika mereka berpikir dengan sembunyi mereka bisa bahagia, maka mereka keliru. Jika mereka berpikir bahwa tiada yang dapat memandang tembus menerobos kamuflase itu, maka mereka pun keliru. Nampaknya mereka berusaha memuaskan diri dengan realitas kosong karya sendiri, bahwa mereka tersembunyi dan kuat! Padahal mereka lemah dan selalu terlihat!

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname