SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 06 Februari 2010

Berkenalan dengan Cinta, Bagian 1

oleh khayrurrijal

ku bertemu dengan Cinta
tertarik hati tuk mengenalnya
karna nampaknya ia tiada terlihat lelah
tiada terlihat sehabis dari perjalanan

ku duduk dalam takzim
hendak bertanya:
"dari mana asalmu?"
tapi ia sudah menyapa dan menjawab:
"Assalaamu'alaikum. Namaku Cinta. Aku dari atas sana."

sudah kuduga ia bukan dari sini
tapi dari sana
tapi, bukankah yang di sini pun berasal dari sana

ku pinta padanya:
"ceritakan padaku tentang dirimu."

Cinta berkata:
"sudahkah kau mengenal Dunia? dia adalah kerabatku. seandainya kau belum mengenalnya. kamu tidak akan dapat mengenalku, meskipun ku ceritakan tentang diriku."




"lalu, sudahkah kau mengenal Alam? oh, dia adalah sahabat baikku. dia selalu menjadi penunjuk kepada siapapun yang memperhatikannya dengan baik. ia akan menunjukkan jalannya, termasuk menuju diriku. jika kamu belum mengenalnya, aku pun tidak dapat kau pahami."

"bagaimana dengan orangtuamu? leluhurmu? banyak dari mereka yang sudah mengenalku. meskipun, mereka tidak dapat mengenalkanku langsung kepadamu. mereka hanya dapat membimbing kamu untuk mengenalku. mereka adalah sejarahmu. kenali mereka. tidak ada pohon yang tumbuh baik, jika akarnya terpotong. seandainya kamu belum mengenal mereka, kamu tidak akan mengenaliku."

Aku pun berpikir keras...

mengapa untuk mengenali Cinta, aku harus mengenali itu semua?
"apa gunanya?", batinku.

tiba-tiba Cinta menjawab tanya itu:
"apakah kamu berpikir hal-hal tadi tiada berguna? coba kamu pikirkan lagi, dengan sabar dan perlahan."

"oh iya, kamu sudah kenal dengan keluarga Manusia. itulah mereka. kebetulan mereka sedang lewat di sekitar sini. mari ku kenalkan kepada mereka."

"yang pertama ini bernama Ruh Manusia. yang kedua bernama Akal Manusia. yang ketiga bernama Hati Manusia.
yang keempat bernama Nafsu Manusia. mereka semua tinggal di sebuah rumah. rumah mereka sering disebut Rumah Jasmani."

"mereka semua ini saudara kembar. menarik bukan. kamu harus lebih mengenal mereka. berkunjunglah ke rumah mereka. tapi, jangan hanya berkeliling di halaman rumah. masuklah ke dalamnya. eh, tetapi jangan lupa mengucapkan salam."

aku bertanya: "memang apa yang terjadi jika tidak mengucapkan salam?"

Cinta menjawab: "kamu mungkin akan menemui mereka sedang dalam kondisi yang tidak baik untuk dikunjungi. kacau, berantakan, banyak benda-benda yang tidak pada tempatnya. meskipun, mungkin saja kamu bertemu mereka sedang dalam kondisi baik. tapi, mengucapkan salam akan membuat mereka sadar bahwa ada tamu istimewa, yaitu Pria Salam, begitu mereka menyebutnya."

Aku heran, "Pria Salam?"

Cinta menjawab, "ya, Pria Salam. sebab, keluarga Manusia itu telah dipesankan oleh Tuannya, untuk menjamu Pria Salam dengan sangat baik. Pria Salam adalah tamu istimewa."

"Oh begitu!", seruku.

Cinta melanjutkan, "tapi jangan lupa untuk mengenali mereka satu per satu. pertama kali, kamu akan bertemu dengan Nafsu. Ia seringkali terlihat membawa bahan makanan sambil berkeliling rumah. ia tidak pernah tertidur. selalu berkeliling dan berkeliling."

"tapi, Nafsu itu jika sedang diganggu Pengusik dari luar rumah, maka potensinya untuk merusak menjadi terlihat. itulah mengapa Nafsu saat berkeliling sering terlihat mengenakan rantai kemuliaan yang dibuat oleh Tuannya. rantai inilah yang diawasi dan dikendalikan oleh Hati Manusia."

"sebelum aku bercerita tentang Hati, sebaiknya ku ceritakan terlebih dahulu tentang Akal Manusia. Akal itu tinggal di lantai dua rumah Jasmani. yang cukup menarik dari Akal, adalah fasilitas di lantainya itu. di lantainya terdapat fasilitas receiver dan transmitter. ia sangat terbantu oleh kesan-kesan yang masuk ke dalam rumah. Jendela rumah difungsikan menjadi perekam visual. lubang angin, cerobong, difungsikan untuk merekam suara dan bau. oh iya, dinding rumah pun difungsikan sebagai pendeteksi tekstur."

"setelah masuk ke dalam rumah, semua kabar itu akan diproses oleh alat yang dibuat Akal. sebuah alat yang menggabungkan seluruh kabar itu. setelah itu, kabar-kabar itu akan dimasukkan ke dalam alat olah imajinasi untuk distempel dan diklasifikasi. kabar-kabar itu pun kemudian diproses di sebuah alat digital yang canggih, yang dapat Memotraksi. istilah ini diciptakan Akal untuk menyebut MemotretAbstraksi. setelah berada di alat Memotraksi, dihasilkan sesuatu yang lebih universal dari sebuah kabar. dan Memotraksi ini pun bisa dilakukan lagi kepada hasil potretan pertama itu."

Aku kagum, sekaligus bingung, "Wah... A..ku...baru tahu..."

Cinta berhenti sejenak. sambil menerima sebuah panggilan yang entah darimana, ia mengangguk-angguk dan tersenyum. "Baiklah, mari kita lanjutkan", jelasnya.

"Nah, itu adalah Akal Manusia di lantainya. yang ketiga adalah Hati Manusia. Hati adalah seorang yang halus. Ia juga adalah penanggungjawab rumah Jasmani. semuanya harus tunduk kepadanya. jika tidak, rumah Jasmani pun binasa."

"Tugas Hati sebagai pemimpin sejati, tentu disertai dengan perlengkapan yang memadai. Nafsu dan Akal pun ditugaskan membantunya. Hati juga memakai sebuah mahkota yang terbuat dari emas. itu hanya sebuah tanda mengenali kemuliaannya. tapi, kamu harus lihat tentang dirinya. dirinya itulah yang mulia. hanya saja, tanda-tanda kemuliaannya menjadi penting bagi orang-orang yang baru bisa melihat pada tanda, bukan jiwa."

"Hati tinggal di lantai tiga. ia selalu mengawasi seluruh rumah. meskipun kadang Nafsu, yang sangat dekat dengan Pengusik, terkadang melakukan makar. yah begitulah."

Aku bertanya, "memangnya ada konflik di keluarga Manusia?"

Cinta menjawab, "ya, ada. konflik ini sering terjadi antara Nafsu dengan seluruh anggota keluarga. sebab, seperti sudah ku bilang, Nafsu adalah yang paling dekat dengan Pengusik."

"Aku penasaran dengan si Pengusik ini. siapa dia?" tanyaku.

"Pengusik ini bisa dalam bentuk bisikan dari luar rumah. atau terkadang masuk ke dalam rumah Jasmani, selalu tanpa mengucapkan salam. atau dari rumah lain di lingkungan ini, yang sudah terpengaruh atau menjadi anggota kelompok Pengusik."

"Oh begitu", ujarku sambil mengangguk.

"Baiklah, ku lanjutkan", jelas Cinta.

"Hati Manusia banyak sekali memperhatikan lintasan-lintasan yang ada di dalam rumah. lintasan ini bisa saja muncul dari Pengusik yang memasukkannya lewat Nafsu, atau dari rumah-rumah di langit, atau lewat mata air di dalam rumah. Hati pun siap untuk menerima apa saja yang diberikan oleh Tuannya. pemberian Tuannya itu dapat berubah Kitab, Angin sejuk, Aroma Wangi, Melodi indah, dan Kehalusan. Hati pula yang menerima tamu-tamu seperti diriku ini", ujar Cinta. "Hati juga kadang menerima tamu seperti Takut, dan lain-lain. tetapi, sesungguhnya semua tamu itu selalu membawa hadiah dari Tuannya. sebab, tamu-tamu itu memang diutus Tuannya. hanya saja, untuk menerima hadiah tersebut, Hati harus berbaik sangka kepada Tuannya. jika tidak, maka ia akan merasa merugi dan mencela dirinya sendiri."

"dan anggota keluarga terakhir adalah Ruh Manusia. Pengenalan orang terhadapnya sesungguhnya hanya sedikit. yang diketahui orang pun hanya sebatas apa yang disampaikan oleh Tuan Rumah Jasmani itu kepada Hati. tetapi ingat, ini bukan berarti bahwa Hati itu sudah tahu sebelumnya. Hati hanya diberitahu dan meriwayatkannya. Hati tidak membuat-buatnya."

"kembali kepada Ruh. Ruh itu tinggal di lantai tanpa lantai. ia pun tidak pernah terlihat ataupun terdengar. tetapi, seluruh anggota keluarga sangat sadar keberadaannya. Ia tidak berada di dalam rumah atau pun di luar rumah. bahkan, ia tidak akan pernah meninggal ketika rumah Jasmani runtuh. hal inilah yang kadang membuat Ruh, dikatakan sebagai mitos atau legenda. ia tidak pernah ada. ini kabar yang ku dengar dari negara mentari terbenam."

"tentang Ruh, mungkin hanya itu yang baru bisa kukatakan kepadamu", terang Cinta.

"lalu bagaimana tentang dirimu?", tanyaku.

"Kamu harus mengenal mereka terlebih dahulu. usai itu, nanti kita akan bertemu lagi, jika Dikehendaki. Aku harus pergi. Assalaamu'alaikum", Cinta mengucapkan itu sambil berdiri lalu melangkahkan kaki menuju ke arah tanpa arah.

sedangkan aku, terpesona dengan penjelasannya tentang jalan mengenalnya. tapi, tetap saja dirinyalah yang ingin ku ketahui. mungkin suatu saat nanti...suatu saat nanti...kita akan bertemu lagi.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname