Oleh Khayrurrijal
Kadang-kadang manusia merasakan dirinya terjepit oleh kata-katanya sendiri. Coba bayangkan seseorang yang mengatakan bahwa "Kebenaran itu tidak ada" terjepit dengan nilai kebenaran dari pernyataan itu. Tentu saja, pernyataan itu harus benar. jika tidak, maka hanya omong kosong.
Jepit-menjepit dengan kata akan menghubungkan kita dengan beberapa istilah misalnya, stigma, tanda, merek, dan brand. Kata-kata yang digunakan pun seringkali berkonotasi negatif, ejekan, peyorasi, dan perendahan. Dalam hal ini, seseorang yang disematkan stigma akan dinilai sebagai pesakitan. Ia dibicarakan dari jauh, dari mulut-ke-mulut, pandangan masyarakat pun miring. Inilah yang akan diderita oleh pribadi yang distigma oleh pihak lain.
Stigma yang kuat seringkali terhubung dengan kekuatan kekuasaan, media, dan atau sosial. Dengan kepemilikan itu semua, seseorang mampu membunuh karakter dengan sempurna, sembari menyematkan karakter buatan pihak penstigma. Tentu saja, stigma dibuat beserta tindakan sosial, politik, atau kultural. Sebab, hanya dengan inilah penstigmaan mencapai tujuannya.
Memang, stigma itu dibuat antar kelompok yang memiliki konflik. Sekarang ini, ada banyak produksi stigma seperti, ”neoliberal”, ”liberal”, ”sekuler”, ”fundamentalis”. Hal ini pun sering dinilai hanya mengeruhkan pertukaran pendapat, atau bahkan memustahilkannya.
Nampaknya, semuanya dapat terjerat oleh stigma, bahkan diri pembuatnya sendiri. Dan dengan demikian menjadi sebuah persoalan the devil circle.
Akan tetapi, melulu reduksi seperti itu memang terjadi karena ada hal-hal penting lain yang diabaikan. Apakah itu? Itu adalah tentang wewenang individu, Tuhan, dan kebenaran.
Cobalah memikirkan tentang seseorang yang memberikan nama atau julukan pada dirinya sendiri. Hal ini seperti kasus penamaan diri Fundamentalisme yang dilakukan oleh orang-orang Protestan di
Amerika. Pamflet mereka yang berjudul The Fundamentals itu dimaksudkan sebagai sesuatu yang bernilai positif. Tentu saja, kini Fundamentalisme telah berkonotasi menyeramkan dan menjadi stigma di seluruh dunia. Ini hanya satu contoh di antara banyak contoh lainnya misalnya, Sosialisme, Komunisme, Leninisme, Kapitalisme, dan Liberalisme. Ini adalah contoh riil tentang penamaan diri sendiri oleh diri sendiri.
Kemudian, hal lain yang diabaikan adalah Tuhan. Bagaimana tentang Kabar dari Tuhan yang menyebut satu kelompok manusia dengan sebutan mu'min dan yang lainnya dengan sebutan kafir. Jelas, penyebutan ini disertai dengan karakter masing-masing dan balasan yang akan diterima di akhirat. Jika dikontraskan lebih lanjut, kelompok itu bisa disebut kelompok Kebaikan dan Keburukan. Dan jelas pula, bahwa manusia tidak menginginkan keburukan bagi dirinya. Tuhan adalah Yang Maha Baik. Ia mengetahui yang terbaik bagi manusia. Dan kebaikan itu disampaikan lewat Kabar-Nya kepada Utusan-Nya.
Hal lain yang juga terhubung dengan Tuhan adalah kebenaran. Tuhan juga bernama al-Haqq, Yang Maha Benar-Nyata. Maka apa yang disampaikan-Nya itu adalah kebenaran. Pengelompokkan yang dibuat-Nya itu juga adalah sebuah kebenaran penting yang harus diperhatikan oleh manusia. Terlebih, jika manusia itu menginginkan kebaikan sejati.
Hanya saja, yang perlu diingat juga adalah sifat tidak rigidnya pengelompokkan itu. Tuhan sangat memudahkan manusia untuk memilih jalannya masing-masing. Pintu taubat pun disediakan dan diganjar
kebaikan dan kesucian bagi yang melakukannya. Hanya saja, orang-orang berotoritas atau orang-orang berilmu harus mengawasi orang-orang yang masih dengan sengaja menjelek-jelekkan orang-orang yang sudah bertaubat. Jika Tuhan Yang Maha Pengampun saja sudah memaafkan, lantas kesalahan seharusnya menjadi pelajaran, dan pelajaran bukan untuk dicemooh.
Stigma dari Tuhan adalah anugerah untuk mengingatkan manusia kepada jalan yang benar dan baik bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, bahkan bagi orang yang distigma kafir pun, terdapat keharusan bagi mu'min untuk memperlakukannya dengan baik. Meskipun stigma Tuhan melekat, tetapi tidak menghalangi mu'min untuk berbuat baik kepada mereka. Jadi, alih-alih menjepit dengan kata, stigma dari Tuhan justru menjadi pengingat menuju kesejatian. Sungguh, stigma dari Tuhan adalah sebaik-baik stigma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar