“Siapa mencipak air, terkenalah ia wajahnya sendiri,” tentu pepatah ini tak lagi asing bagi kita. Itu adalah pengibaratan melalui pola yang kita tahu pada sifat air yang kita kenai dengan akibat yang didapat oleh seseorang karena perbuatannya sendiri. Pemetaan hubungan antara kedua pola yang kita pahami tersebut adalah untuk pemudahan suatu konsep abstrak dalam kehidupan kita. Itulah metafora, bagian dari gejala bahasa sebagai pengungkapan khusus yang bukan sekadar bahasa biasa. Metafora terbentuk semenjak pikiran kita berproses secara konseptual. Ia tidak hanya ujaran secara literal. Bukan pula hanya alat untuk menyampaikan pesan dalam komunikasi keseharian. Metafora menjadi suatu proses berbahasa yang unik yang tercipta oleh pikiran-pikiran kreatif.
Tidak jauh dari pembahasan mengenai berbahasa dan metafora, adalah soal kesusastraan. Karena bentuk-bentuk indah berbahasa biasa kita temukan dalam tulisan-tulisan sastra pada masa kini atau kitab pada masa lalu. Meski pada perkembangannya, pembahasan metafora tidak selesai pada fungsi figuratifnya saja, melainkan telah pula terstruktur dalam pikiran kita dalam pemahaman bahasa secara keseluruhan. Namun, demikian pula sastra pada pengertian dasarnya bukan sekadar tulisan indah, tetapi juga bermafaat, dan bermakna dalam.
Braginsky, seorang orientaslis pengamat sastra Melayu mengungkapkan sejak datangnya Islam, ”tasawuf kitab” dan ”sastra kitab” secara umum telah memberikan kontribusi yang signifikan di dalam transformasi sastra Melayu. Karya-karya yang telah tertransformasi tersebut, yang disebut tasawuf puitik, menyediakan serangkaian simbol-simbol meditatif. Simbol-simbol tersebut seolah-olah mendefinisikan konsep-konsep tasawuf tertentu yang tidak melibatkan kegiatan logika. Di lain pihak, pengaruh ”tasawuf puitik” terhdap sastra Melayu klasik pada umumnya juga sangat mendalam. Dari kalangan Sufi ini jugalah telah lahir bentuk puisi tertulis Melayu yang pokok, yaitu syair.
Latar belakang tersebut menjadi dasar yang kuat bagi pembentukan konsep metafora dalam teks bahasa Melayu. Za’ba mengartikan metafora Melayu sebagai peribahasa yang menyebutkan suatu maksud dengan diumpamakan atau dikiaskan kepada suatu perkara lain dan oleh karena itu menjadi dua lapis arti. Menurutnya metafora Melayu dibagi menjadi beberapa jenis, misalnya metafora yang dibentuk melalui perumpamaan atau perbandingan, atau jenis yang bersifat analogis yang disampaikan melalui pelbagai jenis simpulan bahasa, peribahasa, pepatah, bahasa kiasan dan sindiran, bidalan, tamsil ibarat, metonimi, dan personifikasi.
Pembagian jenis metafora Melayu tidak mempunyai batas yang jelas sebagai pemisahan yang satu dengan yang lainnya. Hal tersebut disebabkan proses mental yang mendasar dalam pembentukan metafora Melayu adalah proses analogi atau perbandingan dan perumpamaan. Perkara penting yang digarisbawahi adalah bahwa ungkapan metafora konseptual tersebut tidak saja lahir secara spontan, tetapi berdarkan pengalaman yang berkepanjangan dan melalui renungan akliah pemikir Melayu berinteraksi dengan alam sekelilingnya.
Dua hal penting yang diungkapkan Za’ba dalam memahami pembentukan metafora Melayu adalah tiap-tiap peribahasa yang telah terbentuk pada suatu bangsa diuji kebenarannya dengan dirasai atau dilihat sendiri beberapa lama, dengan proses mula-mula sebutan itu keluar dari mulut seseorang yang bijak dan pantas pikirannya. Perkataan tersebut ringkas dan memenuhi tujuan, mengandung suatu kebenaran yang telah dirasakan atau telah diperhatikannya. Kandungan kebenaran tersebut telah diperhatikannya dengan cermat dan juga berlaku pada diri orang-orang lain. Lalu apabila orang-orang menerimanya dengan baik dengan berkenan untuk mendengarkannya, maka akan dipakai secara berulang-ulang dan disampaikan dari satu ke yang lainnya secara berkesinambungan.
Hasaan Ahmad lebih lanjut mengelaborasi tiga proses dalam pembetukan pemikiran Melayu melalui metafora dari dua paparan Za’ba tersebut, yaitu:
1. Metafora dan hasil pemikiran Melayu terbentuk melalui proses pengalaman, akliah, dan renungan intuisi atau ”rasa hati”.
2. Metafora Melayu dibentuk oleh manusia Melayu yang bijak dan pantas pikirannya.
3. Metafora Melayu menghasilkan suatu sistem pandangan hidup bersama bangsa Melayu atau sistem rangkaian sosial pemikiran Melayu melalui evolusi sosial.
Jika ingin melihat kebijaksanaan masyarakat suatu bangsa, lihatlah bahasanya. Terutama melalui ungkapan-ungkapan metaforanya. Dalam hal ini metafora mempunyai kedudukan penting karena ia mencerminkan pola pikir sebuah bangsa yang terlandasi oleh pandangan alamnya sendiri. Ungkapan-ungkapan metaforis mengandung gagasan yang semenjak pembentukkannya terlandaskan oleh pandangan hidup sebuah peradaban. Tidak hanya itu, gagasan yang termaktub dalam sebuah metafora adalah refleksi filosofis dari sebuah kebudayaan. Jika Melayu sebagai sebuah bangsa mempunyai banyak ungkapan metaforis yang bernilai tinggi, maka hendaknya ada pelestarian juga pemahaman secara mendalam untuk menakar kebijaksanaan dalam kehidupannya. Hal itu pula lah kalau dapat direnungkan, lagi kan banyak muncul ungkapan metafora dengan gagasan-gagasan cerdas dan berlimu yang dapat bermanfaat bagi ummat.
Sumber:
Ahmad, Hassan. 2003. Metafora Melayu: Bagaimana Pemikir Melayu Mencipta Makna dan Membentuk Epistimologinya. Malaysia: Akademi Kajian Ketamadunan.
Braginsky, V.I..1998. Yang Indah, Berfaedah, dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad VII-IX. Jakarta: INIS.
Danesi, Marcel and Paul Perron. 1999. Analyzing Culture An Introduction and
Handbook. Bloomington and Indianapolis: Indiana University.
Knowles, Murray and Rosemund Moon. 2006. Introducing Metaphor. New York: Routledge Taylor and Francis Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar