SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Rabu, 17 Februari 2010

Terasing

oleh Khayrurrijal

Benda-benda merupakan realitas inderawi yang terpampang di hadapan raga. Entitas tersebut begitu membanjiri kesadaran, hingga terbentuklah kumpulan kesan-kesan. Dalam istilah John Locke, terdapat kesan inderawi primer dan sekunder.

Sejak lahir dan mungkin hingga remaja, manusia mencerap alam benda sedemikian banyak. Memang, ada sesuatu yang tidak bersifat inderawi yang juga dicerap, misalnya, afeksi orangtua. Akan tetapi, tetap pencerapan dominan adalah terhadap alam benda.

Sentuhan manusia pada alam benda, membuahkan nilai baru. Alam benda mulai disusupi fungsi-fungsi yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Ini tidak aneh, dan cukup wajar. Misalnya, bambu atau atau dahan sebuah pohon yang patah dapat digunakan oleh manusia menjadi alat berburu. Bambu menjadi alat berburu disebabkan modifikasi tangan manusia pada alam benda. Dan ini terjadi terus menerus, bahkan hingga hari ini.

Hanya saja, ada perubahan di masa yang bisa disebut dengan istilah Baudrillard sebagai Simulacra dan Simulacrum. Sentuhan fungsi kepada alam benda kemudian ditambah dengan sentuhan citra. Benda-benda ciptaan manusia itu tentunya berbeda kualitas satu sama lain. Ada produk yang berkualitas tinggi dan berkualitas rendah. Gradasi kualitas ini bersifat wajar. Lalu, kesan kualitas ini ditambah dengan para pengguna alam benda yang juga berkualitas. Coba bayangkan sebuah jam tangan yang berkualitas tinggi digunakan oleh seorang presiden atau tokoh terkemuka. Kualitas barang ditambah dengan kualitas pengguna inilah yang ditampilkan di dalam iklan-iklan. Bukankah ini memikat kebutuhan fungsi? Tentu saja. Akan tetapi, hal ini juga memikat kebutuhan lain dari manusia, yaitu harga diri (dignity).

Harga diri manusia tentu adalah persoalan penting dari kehidupan manusia. Humanisme, antroposentrisme, Deisme, Sosialisme, Kapitalisme, dan pelbagai pandangan lain sangat kental nuansa harga diri. Coba lihat bagaimana persoalan Human Rights (Hak Manusia), yang dibuat menjadi Universal Declaration of Human Rights, begitu mengglobal dan dapat digunakan untuk menggebuk sebuah entitas, termasuk negara, jika terjadi pelanggaran terhadap harga diri manusia.

Lalu bagaimana hubungan antara harga diri dengan alam benda?



Sebagaimana sudah disampaikan di atas, manusia telah "menyentuh" alam benda dengan kemanusiaan. Itulah salah satu sebab mengapa alam benda dan manusia memiliki hubungan erat. Pada sebuah tingkatan dapat dikatakan dengan istilah Horcrux dalam film Harry Potter 6, manusia menyelipkan jiwanya di dalam alam benda. Bukankah para penulis, perancang busana, dan lain-lain menyelipkan gagasannya ke dalam karya mereka. Karya telah menjadi simbol.

Lalu apakah ada masalah dengan hal ini?

Satu masalah penting, kembali, adalah harga diri manusia. Manusia ingin menghadirkan 'harga diri'nya dengan alam benda, misalnya pakaian. Mereka ingin terlihat cantik, sehingga kecantikan hadir di dalam benak. Ada banyak contoh yang dapat dicari oleh masing-masing dari kita. Tetapi, semuanya tetap berkisar di persoalan harga diri.

Ketika kita berbicara tentang ini, persoalan fungsi barang tidak menjadi persoalan utama. Harga diri lah yang dibidik oleh para produsen barang-barang dan jasa. Inilah target utama itu. Hal ini juga mampu menjelaskan mengapa masyarakat konsumerisme begitu ingin memiliki sebuah barang. Sebab, memiliki sebuah barang berari memiliki dirinya sendiri. Bukankah begitu?

Ini adalah sebuah problem. Bahkan Barat banyak sekali menghadirkan problem ini dalam bentuk film seperti The Confession of a Shopaholic. Film tersebut bercerita tentang bagaimana berbelanja menjadi sesuatu yang bercandu. Belanja tidak lagi untuk mendapatkan fungsi fisik suatu barang, tetapi fungsi mental. Maka, untuk menyelesaikan persoalan ini secara mendasar sebenarnya tidak terletak pada pengubahan orientasi manusia untuk melihat kembali kebutuhan mereka terhadap suatu barang. Sekali lagi bukan begitu. Persoalan hubungan alam benda dan manusia sesunguhnya terletak di dalam pengetahuan manusia. Cara penyelesaiannya adalah kita harus kembali kepada bagaimana manusia menilai harga diri mereka.


Definisi Harga Diri Manusia

Kebanyakan manusia zaman ini yang terpengaruh Barat, memahami harga diri lewat perumusan hak manusia (human rights). Mengenai kebebasan, kebahagiaan, keadilan, berpikir, mereka banyak terpengaruh dengan humanisme Barat. Pertanyaan yang dapat diajukan kepada konsep-konsep tersebut adalah: Apakah definisi Barat tentang harga diri manusia itu adalah sesuatu yang sejati?

Kesejatian yang dimaksudkan tentu berkisar pada kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan yang dapat diwujudkan di dalam kehidupan secara permanen. Sebab, tentu saja manusia ingin terus menerus bahagia. Hanya saja, Barat tidak mengakui itu. Para Profesor Barat sangat banyak yang mengafirmasi sisi temporer dari kebahagiaan, mungkin layaknya lapar dan dahaga. Bahagia juga didefinisikan dengan pencapaian pilihan sukarela manusia. Dan dalam ranah pilihan, sebagaimana diafirmasi oleh Psikologi Humanis, tidak ada benar dan salah. Ketika manusia sudah memilih sesuatu karena kehendaknya sendiri, maka ya dipersilakan saja. Pilihan itulah yang akan mengantarkannya kepada kebahagiaan, tentu hanya ada yang temporal.

Kesejatian yang telah dipisahkan, secara lembut atau kasar, ternyata menghasilkan problem besar. Kebenaran tentang jati diri manusia, tak ayal lagi, sangat terkait dengan ke-sejati-an kebahagiaan manusia.

Sebab, jati diri lah yang bisa mendapatkan jati bahagia, dan ini bisa digunakan untuk menyebut hal-hal lainnya. Untuk mendapatkan yang se-jati, maka kenali dulu yang se-jati. Akan tetapi, Barat memang telah mengakui kesulitan yang amat sangat tentang jati diri manusia. Putus asa nampak menyelimuti jiwa mereka. Ragu, gelisah, dan hanya melihat perubahan di segala bidang, maka mereka mengafirmasi bahwa perubahan adalah satu-satunya yang se-jati.

Jati diri manusia tidak dapat diketahui. Wajarlah jika penjelasan eksistensialisme perihal manusia menjadi begitu laris. Afirmasi Barat mengenai ketidakpastian, penderitaan, cemas, kutukan kebebasan, menjadi karakter (topeng) yang dipakai oleh manusia Barat.

Benarkah kehidupan manusia adalah sebagaimana didefinisikan Barat?


Terasing

Jati diri tidak ditemukan Barat. Manusia yang rasanya mengenal dirinya, ternyata tidak pernah dapat mengenal dirinya secara sejati. Ironis dan tragedis, mungkin menjadi ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut. Dengan kondisi ini, meskipun manusia fokus terhadap fungsi sebuah barang - yang dikatakan sebagai solusi terhadap konsumerisme - maka ia tetap saja terasing dari dirinya sendiri. Manusia seperti sedang berkaca tetapi tidak jua menemukan dirinya. Akhirnya, ia berusaha mati-matian hingga sekarat untuk menolak ingatan kegagalan penemuan dirinya.

Alienasi manusia, sejatinya bukan seperti dikatakan Marx, dari barang produksi; bukan pula an sich mewujudkan pilihan sukarela. Manusia sangat merasa keberadaan sesuatu yang sejati. Akan tetapi, apakah sama cara mengetahui sesuatu yang sejati dan mengetahui yang tidak sejati? Bukankah kegagalan epistemologis Barat telah menunjukkan ada cara yang berbeda untuk mengetahui yang sejati?

Kegagalan Barat bukan berarti bahwa tidak ada yang sejati. Trauma Barat terhadap bible pun tidak seharusnya menjadi ukuran penilaian epistemologis terhadap yang lain. Mengapa mesti begitu sinis terhadap Berita dari Bukan Manusia?

Berita adalah sesuatu yang jika hendak ditolak haruslah ditemukan Berita lain yang menegasinya, bukan kemudian hanya dikampanyekan untuk ragu disebabkan sinisme. Pernyataan Marx tentang agama sebagai candu pun hendaknya dievaluasi ke-lokal-annya. Itu bukan sesuatu yang serta-merta global. Itu menjadi global karena Barat masuk lewat globalisasi. Globalisasi tidak sama dengan kesejatian sesuatu yang memang global. Sebab, sesuatu yang tidak global awalnya, dapat menjadi global disebabkan oleh globalisasi.

Husserl gagal mengenali diri. Ia seperti berkata, "Diri selalu menjadi subjek, saat berusaha diobjektivikasi." Diri menjadi sesuatu yang tidak dapat dijadikan objek, bahkan oleh pikiran. Lantas, apakah modus mengetahui objek di luar diri, keukeuh, untuk tetap digunakan untuk mengetahui sang subjek?

Bukankah ada Berita-Berita non-manusiawi yang dibuang oleh manusia-manusia yang mengklaim dapat mengetahui segala sesuatu lewat indera dan rasio? Mengapa Berita (Wahyu Tuhan) itu tidak dijadikan salah satu pertimbangan, bahkan pertimbangan utama, setelah semua kegagalan yang ada? Berita itu tidak menempati tempat yang sama. Ada yang dibuat manusia, terdistorsi sebagaimana diakui mereka sendiri. Tetapi, ada juga yang tidak seperti itu. Hentikan menilai melulu apa Wahyu Tuhan dengan apa yang Barat temukan!

Yang sejati mengetahui Yang Sejati lewat Berita Sejati untuk mendapatkan Kesejatian.

Wallahu'alam

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname