SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Selasa, 21 Agustus 2012

Kemarau Kata

Kemarau Kata
oleh Khayrurrijal

Suatu ketika di kala kemarau kata
sungguh kering cakrawala dalam jiwa
tandus, dan hanya kekosongan yang berhembus

di terik beban menulis, aku mencoba menggali di lahan-lahan keras
atau mendaki ke gunung-gunung terjal
hanya untuk dapatkan huruf dan karangan kata
kadang aku berusaha berpegangan pada sayap burung dan meminta angin agar menghempaskanku ke langit jauh
mungkin di sana ada kata-kata yang bisa ku bawa pulang

meski biasanya,
usai usaha tiba pada kesesakannya
maka hujan kata pun diberikan dengan leluasa

Kabandungan, Sukabumi, 26 September 2010, 18.22

Burung Bulan

Burung Bulan
oleh Khayrurrijal

Kupinjam sayap kepada burung bulan
Damba hati ingin bertemu yang diceritakan
Hilang gravitasi
Mengepak dalam hampa udara

Burun bulan menuju bumi
Atas mimpi mitsali
Sayap berpindah pada raga insani
Lalu bahagia menyelimuti

Sayapku terasa asing
Tak kasat mata dan telinga
Rasa ringan dan bahagia menjadi tanda
Kepakan dari tempat yang terjaga

Tiap kepak tak berpindah arah
Berganti dimensi
Hingga gelap dan terang berganti-ganti
Satu terbakar, lalu dicipta kembali

Memasuki alam hampa
Indera didera fana
Pikiran hanya mampu berujuar 'tiada' berulang kata
Aku hilang ditelan pening luar biasa

Jiwa mulai mencermati cahaya
Udaraku terasa beda
Bumiku berganti rupa
Langitku bertuliskan tanda mulia

Di sini kulihat bumi lama
Jauh di sana
Kecil tak begitu berharga
Hanya alam sementara

Ku di bulan
Belajar di persembunyian
Untuk diutus kembali
Pinjamkan sayap ini
Bagi pencari rendah hati

Cimanggu, Sukabumi, 4 Maret 2011, 16.52 WIB

Bosan Menjadi-jadi

Bosan Menjadi-jadi
oleh Khayrurrijal

Terkisah di puncak bumi
Insan menjatuhkan diri
hargai diri dengan rendah
puja kesenangan bersesaatan

Mengucap keluh bergemuruh
Saling sahut dalam gusar dan kekesalan
Berat, sungguh...
Jika mereka dapat pembenaran

Melena dan meminta mati diri
Seru-seru yang tak jelas arah melesat
dalam benak mereka
Diri tak berkenan,
hawa nafsu menguasai

Ingin lari
Namun gagal karna kecut diri
Wajah mengguratkan amarah menggila
Lalu minta dihibur
hingga bosan menjadi-jadi

Niat ikhlas kan manfaat bagi diri seorang
Meski tiada kendali terhadap kejadian
Entahlah, sungguh...

Cimanggu, Sukabumi, 05 Januari 2011, 05.25 WIB

Belajar dan Malas Belajar

Belajar dan Malas Belajar
oleh Khayrurrijal

Insan yang hendak belajar,
ia kan belajar dimana saja, dari siapa saja, apa saja, kapan saja,
dengan tanya yang mulia

Insan yang hendak belajar,
ia kan diajari siapa saja, apa saja, kapan saja, dimana saja,
dengan dengar yang mulia

Insan yang hendak belajar,
ia kan belajar bahkan dari kebodohannya

Insan yang tidak hendak belajar,
ia takkan belajar dari apa saja, dimana saja, dari siapa saja, kapan saja,
dengan busung dada

beribu alasan lahir
kelemahan diri hingga Tuhan
Memohon belas kasih
Ia tidak perlu belajar
Belajar tidak penting

Di akhir hayatnya,
Ia pun mengujar tanya gugat,
Mengapa ia dikutuk belajar

Cimanggu, Sukabumi, 23 Februari 2011, 19.14

Menulis Tidak Penting

MENULIS TIDAK PENTING
oleh aki

Dalam sebuah kilasan pikiran, pernyataan "ah tidak penting.", masuk ke dalam benakkku.
Nah, ini adalah tulisan yang kumaksudkan dengan nilai tidak penting. tidak penting, sungguhkah penting? entahlah... tapi menulis sesuatu yang tidak penting berarti menulis sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu ditulis. sebab, kalau ditulis mungkin mengandaikan bahwa hal itu berart penting.
apa sesungguhnya itu penting? apakah tulisan ini penting? mungkin tulisan ini penting, bukan bagi pembaca lain, tapi bagi penulis sendiri. penting, karena ada sekumpulan gagasan yang hendak dituangkan. dengan kata lain, menulis adalah penyaluran. dan sesuatu yang disalurkan tentu merupakan hal penting. tanpa penyaluran berarti ada penghambatan. dan penghambatan akan mengakibatkan penuh dan sesak. penuh dan sesak dengan kondisi daya tampung yang terbatas, maka akan membuat meledak. dan itu artinya penyaluran yang mungkin saja tidak pada tempatnya.
bergerak, makan, minum, berkeluarga, dan berbagai hal di dunia ini sesungguhnya bernilai penting. bahkan "tidak penting" pun memiliki nilai penting. meskipun "tidak penting" itu tidak ada dalam kenyataan. ya, paling banter ada sesuatu yang "kurang penting" dalam hubungannya dengan hal lain. tidak ada sesuatu yang sungguh-sungguh tidak penting.

Rabu, 15 Agustus 2012

Menulis Tanpa Arti

kali ini aku ingin menulis tanpa arti. ah, tak tahulah. maksudku, aku ingin menulis tanpa kuarahkan ke mana arah tulisan ini. aku hanya ingin menulis dan menulis. meskipun mungkin aku dibuat pusing.
wah, baiklah. aku sendiri agak lebih pusing lagi dibuatnya. menulis tanpa arti... ah, PUSING. inilah tanda bahwa sesuatu tidak berarti, setidaknya tidak jelas artinya. pusing dan membingungkan, itulah tulisan yang rasanya tidak berarti bagi orang-orang, termasuk mereka yang tidak mau berpikir.
PUSING, ini mirip dengan kondisi yang kurasakan saat ini. kemampuanku meruang menjadi terganggu. ketika bergerak ke kiri, rasanya turut mau jatuh pula ke kiri. bergerak ke kanan pun sama saja. berdiri, duduk, terlentang, tetap saja kurasakan aku pusing!!
kalau aku sedang pusing, maka kemampuan untuk memusatkan perhatian pun jadi berkurang. ketika dipaksakan memusatkan perhatian, alhasil malah semakin pusing. aduh...
satu benda yang ingin kuperhatikan malah menghabiskan kalori dan energi yang sebenarnya lebih baik digunakan dalam masa pemulihan ini. aku, di lain pihak, justru menggunakannya untuk membuat diriku semakin pusing dan pusing.
kepusingan ini terjadi bukan hanya di ruang-ruang fisik, tapi juga di ruang akal. saat kemampuanku mengenali satu tempat dengan tempat lain, maka kepusingan ini menjadi lebih radikal (mengakar). walah, pusingg............
nah, apalagi kalau ada satu orang atau lebih yang mengacaukan seluruh benda-benda di tempat semula menjadi menempati tempat yang baru. tapi, mereka kemudian menyatakan bahwa tempatnya pun senantiasa berubah. maka, mata akalku pun bisa-bisa menjadi pening dan juling. aku...aku bisa-bisa menciptakan alam duniaku yang juling. waduh... efeknya, bisa-bisa juga aku berpendapat bahwa dunia ini memang selalu berubah. buktinya, aku tidak pernah bisa memegang gelasku dengan tepat, tidak pernah, karena mataku yang juling. benda-benda itu ada di hadapanku, tapi tidak pernah dapat dipegang. seluruh benda tersebut seperti menggandakan diri namun tak satupun yang nyata. aku seperti tertipu dengan jurus "bayangan" mereka.
tapi, di tengah kondisi juling ini, aku pun masih bisa berpikir bahwa bisa saja terdapat sekelompok orang yang terus menerus mengerjai aku dan membuatku semakin penat. padahal, alam dunia ini tidak sejuling yang mereka katakan. seluruh benda di alam semesta ini bukanlah seperti sebuah keluarga yang terus menerus melakukan pindahan rumah, bahkan mereka tidak pernah sempat untuk mengatur perabot mereka. mereka terus menerus berpindah. angkut mengangkut perabot dan barang-barang.
eh, ngomong-ngomong, menulis tanpa arti ini akhirnya menjadi penuh arti atau ya tetap saja membingungkan kan!?..
ketika seseorang menjulingkan matanya dalam memandang sesuatu, yang pasti terjadi adalah sesuatu tersebut telah berpindah dari tempat sejatinya. jadi, ya sudahlah tak usah juling-julingan. itu sungguh melelahkan. percuma saja, jikapun didukung dengan teori-teori yang semakin menjulingkan. aku sudah pusing. dan tidak mau lagi berpusing dengan kepusingan insan-insan juling seperti kalian.
aku ingin bisa kembali fokus. kemampuan meruangku kembali pulih. sehingga segala sesuatu terlihat jelas, bisa kuraih dan kupegang. lalu kugunakan untuk keperluanku sehari-hari.
begitu juga gagasan-gagasanku. aku ingin melihatnya dengan jelas, agar juga bisa kugunakan di dalam keseharian dan keabadianku. sudahlah, jangan membuatku bingung dengan kebingunganmu akan kepelbagaian benda-benda dan makna-makna, lalu membuatmu salah pandang, dasar kau mata juling.
ku harap kau bukan seorang mata juling. kalau pun iya, mudah-mudahan kau rendah hati mendengarkan cerita orang yang ada di sebelahmu, karena tidak mungkin kau mengerti apa yang kutulis. hehe...

Kabandungan, Sukabumi, 26 September 2010, 12.59

aki

Menulis Bingung

MENULIS BINGUNG
oleh aki

aku ingin menulis bingung. bingung. aku tak tahu apa asal katanya dalam bahasa Indonesia. tapi, dalam bahasa Inggris aku mengenal kata confuse, yang berarti bingung. con-fuse itu berarti terjadinya fusion atau bergabungnya tempat sesuatu yang sesungguhnya berbeda. tentu saja ketika ada dua hal yang berbeda namun berada di satu tempat dalam pemahaman kita, itu menunjukkan kebingungan.
bingung juga sangat dekat dengan ragu, bahkan menjadi sinonimnya. ragu menunjukkan ketidakjelasan posisi dari seseorang. seseorang yang ragu mengenai keberadaan Tuhan, tidak dapat dikatakan yakin mengenai keberadaan Tuhan dan juga yakin mengenai ketidakberadaan Tuhan. ia belum mengambil posisi yang jelas mengenai hal tersebut.
Bingung atau ragu muncul karena kekurangan ilmu atau bahkan ketidaktahuan. karena kekurangan atau ketidaktahuan ini, maka seseorang tidak dapat menempuh jalan untuk ke sebuah tempat yang jelas. Bukan hanya terdiam di persimpangan. Ia pun baru dapat menempuh perjalanan, ketika ia sudah mengetahui tujuannya dan mengenali tanda-tanda menujunya. ia mulai berjalan bukan karena ragu atau meragukan. namun, justru karena pengenalan terhadap tanda-tanda tersebut. seandainya saja ia terus meragu namun tidak jua menemukan pengenalan, maka ia akan seterusnya terjebak di persimpangan. Mungkin hingga mati kebosanan. Atau mungkin ia akan pura-pura mengenali, lalu memilih jalan secara seenaknya sembari meragukan terus menerus. ia tidak yakin dengan jalan yang dipilih. Menebak-nebak atau pertimbangan untuk memilih saja tanpa ilmu, itulah yang dilakukan mereka. mereka nampak lebih berusaha menikmati perjalanan, karena mereka sendiri tidak tahu apakah tersesat atau tidak. mereka berusaha dengan keras untuk menikmati apa yang dilihat dan dicerap oleh panca indera mereka. namun tidak melihat apa-apa kecuali bentuk-bentuk yang tidak bermakna apa-apa, bagi mereka. Putus asa dialami. Berjalan dengan mata buta. Si buta berpikir ia sedang maju. Namun, ia tidak tahu apakah itu benar atau tidak. ia maju? menuju apa? adakah sesuatu yang dituju? jika langkahnya malah menjauhkan dari yang dituju, bukankah itu berarti mundur?
menulis bingung adalah menulis tanpa pesan. menggabungkan seluruh tulisan hanya penuh dengan subjek tanpa predikat atau predikat tanpa subjek. menggabungkan subjek dengan predikat di tempat yang sama. Menulis tanpa tujuan. Menulis tidak untuk apa-apa. lalu untuk apa menulis? Mungkin menurutnya, menulis itu adalah sebuah kebetulan. Hal tersebut terjadi begitu saja. susunan huruf dan kata terjadi begitu saja. mereka semua tidak bermakna. sebab kata, bagi mereka, hanya huruf tanpa makna. makna itu tidak penting, dan dapat berubah seenak-zaman dan seenak-tempat.
Bingung itu sungguh menyiksa. menyiksa mata, jika itu berarti bergabungnya dua benda, misalnya buku dan gelas, dalam satu tempat yang sama. yah, itu juga berarti penyiksaan yang lebih dalam kepada jiwa insan. jiwa insan tidak dapat menerima sesuatu yang saling bertentangan sepenuhnya. Ia yang tertahan dalam pertentangan tersebut, sangat tersiksa. Gelisah. Menangis tak bisa, pun juga tertawa. Lapar tidak, kenyang pun tidak. Bahkan mungkin mereka tidak yakin dengan keinsanan mereka sendiri. Mereka berkeliling mencari dan mencari. bahkan mereka bingung sepanjang masa. Kebingungan yang kemudian dirumuskan menjadi pernyataan-pernyataan dasar mengenai alam semesta, mengenai kebenaran.
Sungguh aneh, bagaimana kita bisa mempercayai sesuatu yang dihasilkan dari keraguan, sebagai sebuah kebenaran? Bukankah dengan demikian ia sedang ragu lalu dengan keraguannya menghasilkan sesuatu. dan sesuatu itu masih dilandasi dengan keraguan. meskipun mungkin tidak terlalu terdengar bingung, namun dengungannya dapat terdengar oleh telinga orang-orang yang matang. jauh di dalam lubuk hati para pendukung kebingungan, entah sebagai cara hidup atau pun sebagai metode atau pun sebagai sikap kritis yang melampau, terejawantahlah kegersangan jiwa. jiwa yang gersang tentu tidak dapat dihidupi. Tidak ada yang dapat ditumbuhkan.
Menulis bingung, setelah kucoba, mungkin hanya semakin bingung khususnya bagi mereka yang sudah bingung. Semoga tidak bagi engkau.

Menjejak

Menjejak
oleh Khayrurrijal

Menjejak lalu terhapus. Menjejak lalu terhapus. Tanya kan lahir. “untuk apa jejak itu ada?; mengapa sesuatu itu perlu meninggalkan jejak?” jejak adalah tanda sesuatu pernah hadir. Tanda perjalanan. Ia kadang diikuti oleh pejalan selanjutnya. Diikuti karena mereka berjalan menuju tempat akhir. Hadir lalu berpindah. Jejak memang tidak sekuat penjejak. Meski jejak dapat tercetak di atas air lalu hilang, namun jejak dapat tercetak di atas bahan yang kuat. Jejak ini begitu harus dibuat sedemikian, karena ada jalan yang harus diikuti, dituju. Menuju tempat yang didamba.

Cimanggu, Sukabumi, 31 Oktober 2010, 13.26

Rindu

Rindu terkadang mengguna pengetahuan, bahkan hingga ke dasar keberadaannya. Gema keinginan bersua begitu kuat. Jagat bergetar. Doa mengucur ke langit tertinggi. Sebuah jawaban turun menyapanya. Hujan turun.

Rindu membuat gelisah. Tapi bukan ...karena ragu. Bukan karena salah paham dan keras kepala. Gelisahnya hadir karena sadar akan asal. Tiap jejak yang harum mengingatkannya menuju jalan pulang. Tiap tanda jalan yang sedap dipandang menguatkan perjalanannya. Tiap jalan yang semakin kokoh dipijak mengukuhkan kebahagiaannya. Tiap alunan melodi nan merdu mengingatkan keindahan kampung halaman yang dirindu.

Rindu membuat luka tak terasa. Lalu sembuh seketika. Rindu membuat dekat seakan jauh. Lalu jauh seakan membunuh.

Mungkin rapuh akan mengelilingi. Tapi janji tentang pertemuan akan mengalirkan daya halus dan tinggi. Derita yang dikenalnya tak banyak berarti. Ia hanya mengerti bahwa itu berarti. Sedang arti membuat dirinya semakin berarti. Ia berpikir, ia adalah pengumpul arti.

Ia tak peduli caci. Ia sedang merindu. Ia tak peduli puji. Ia sedang merindu. Caci dan puji ia ajak duduk bersama untuk merindu. Melewati waktu dalam renung sederhana tentang hidup.

Dalam rindu, tak tahu bagaimana ia bisa tahu. Ia hanya tahu. "Bagaimana" hanya dipusingkan oleh mereka yang rumit. Tak kenal mereka itu akan rindu. Lebih baik mereka hanya ditinggalkan jejak. Untuk mereka, jejak. Tak lebih.

Rindu terungkap dalam gumaman tidur malam dan siang. Terselip dalam teriak marah dan tangisan. Rindu mengajak bergerak untuk kembali. Kembali. Kembali. Kembali. Kembali. Kembali................

Aku adalah Bayangan

Aku adalah Bayangan
oleh Khayrurrijal

Aku adalah bayangan
tak ada di sini,
tak menemani
tak hidup, tak mati

Kabandungan, Sukabumi, 01 Oktober 2010, 10.21

Air meminumku

Air Meminumku
oleh Khayrurrijal

Air meminumku
Meregang dan cair
Cair dalam cari
Menyesuai bentuk

Membersihkan dan dibersihkan
Mengelilingi dan menghanyutkan
Kotor, lalu menuju laut:
suci

Terik menarikku memasuki awan
Kendaraan dengan titah penciptaan
Menghidupkan bumi dengan tetumbuhan

Cimanggu, Sukabumi, 27 Februari 2011, 14.35 WIB

Air langit

Air Langit
oleh Khayrurrijal

Mengharap belas kasih
Atas jiwa yang tandus
Air bumi tak lagi memuas dahaga

Wajah terangkat ke langit
Teringat hujan
Tapi ku tertunduk kembali
Ingatku,
hujanku berasal dari bumi

Batinku gemetar
Sontak lemas
ketika temukan air langit
Bukan dari hujanku

Dahi berkernyit merengut
Bertanyaku,
dari mana asal air langit
Tanya membuat dahaga tak karuan
Ah.. Haus

Air itu seketika berujar segar
"Aku dibawa dari lembaran ajaib
Yang hinggap di mata air insan
Aku dicipta, meski dari keabadian
sebagai hadiah bagi pencari
Yang sungguh-sungguh dan berketulusan

Cimanggu, Sukabumi, 23 Februari 2011, 12.11 WIB

Akulah Kunci

Akulah Kunci
oleh Khayrurrijal

di sebuah pulau kata,
ku terdampar
untuk keluar pulau,
ku harus kumpulkan kata kunci pembebasan

kucari kata ke bukit, gua, dan hutan
tapi tak kunjung bersua

kutemukan secarik kertas bertulis, "Aku lah kunci".

Kabandungan, Sukabumi, 26 September 2010, 21.46

Caci

Caci menetesi bumi. Lubang terbentuk. Begitu pula lubang hitam. Segalanya tersedot kehancuran di satu titik. Bahkan cahaya yang diidamkan, tak berdaya mengelak.

Kala hidup dirasa pahit. Menjerit. Meneriakkan kata pahit. Bersumpah serapah untuk menghilangkan rasa pahit. Itu pikirnya. Meskipun nyatanya semakin pahit. Parah. Pahit yang menggila membuat ruang dan waktu menggila. Dia gila. Itu pikirnya.

Sebuah caci telah ampuh membunuh. Menderetkan kata-kata yang menghunjam ke dalam benak. Membelahnya. Melukai lebih dalam. Kepuasan yang kemudian berganti kesakitan. Senyum yang berganti satir, tapi untuk diri sendiri.

Sesak, dicaci. Semakin sesak. Semakin caci. Meledak dalam caci. Meledak bersama caci. Menjadi caci. Menjadi caci gila. Gila caci. Melumatkan caci. Menyempurnakannya dalam satu hentakan. Dengan irama sadis, kegilaan terus berlanjut. Hilang kendali. Mabuk. Mabuk caci. Caci mabuk.

Caci berkuasa. Mengutuk seisi dunia menjadi tiada. Bahkan, ia meneriakkannya kepada Tuhan. Lalu tertawa sebisanya. Karena memang tak bisa. Itu adalah akhirnya. Bukan akhir yang baik. Siapa yang bisa berharap mencaci mengakhiri kisah dengan baik. Itulah sebabnya ia sedih dalam tawanya. Bukan, ia gila dalam tawanya. Histeris memekak telinga sendiri. Tak peduli ia dengan orang lain. Ia puas, itu intinya. Puas dan buas, lalu tewas di tangan sendiri. Tak peduli ia. Tak peduli.

Dunia pahit, gila, gila...

Itu pikirnya....

Jejak Cinta

Melintasi ruang demi ruang dalam kisah pencarian. Mengikuti jejak dan penanda yang dikenali sejak azali. Kuberjalan dengan perbekalan yang 'kan terwujud sempurna. Belum kutemui tempat itu. Tapi, hatiku berkata jujur bahwa jalan ini adalah nyata.

Langkah kaki berat karena cemas merantai dan membebaniku. Berharap dalam pengetahuan yang terbatas agar terjaga dan dijaga dalam perjalanan. Melihat sekeliling dalam batas cakrawala. Memohon doa agar disebalik garis itu kehidupan akan lebih bersinar. Sebab, di sanalah negri mentari yang legendaris.

Ingin kulipat jarak dan waktu. Masuk ke dalam dimensi tiada jasmani. Dengan tenaga rindu lalu dalam sekejap bertemu. Bersatu lalu kembali ke alam yang berlalu. Menapaki jejak yang terkenal di seluruh alam. Cinta.

Comments system

Disqus Shortname