Caci menetesi bumi. Lubang terbentuk. Begitu pula lubang hitam. Segalanya tersedot kehancuran di satu titik. Bahkan cahaya yang diidamkan, tak berdaya mengelak.
Kala hidup dirasa pahit. Menjerit. Meneriakkan kata pahit. Bersumpah serapah untuk menghilangkan rasa pahit. Itu pikirnya. Meskipun nyatanya semakin pahit. Parah. Pahit yang menggila membuat ruang dan waktu menggila. Dia gila. Itu pikirnya.
Sebuah caci telah ampuh membunuh. Menderetkan kata-kata yang menghunjam ke dalam benak. Membelahnya. Melukai lebih dalam. Kepuasan yang kemudian berganti kesakitan. Senyum yang berganti satir, tapi untuk diri sendiri.
Sesak, dicaci. Semakin sesak. Semakin caci. Meledak dalam caci. Meledak bersama caci. Menjadi caci. Menjadi caci gila. Gila caci. Melumatkan caci. Menyempurnakannya dalam satu hentakan. Dengan irama sadis, kegilaan terus berlanjut. Hilang kendali. Mabuk. Mabuk caci. Caci mabuk.
Caci berkuasa. Mengutuk seisi dunia menjadi tiada. Bahkan, ia meneriakkannya kepada Tuhan. Lalu tertawa sebisanya. Karena memang tak bisa. Itu adalah akhirnya. Bukan akhir yang baik. Siapa yang bisa berharap mencaci mengakhiri kisah dengan baik. Itulah sebabnya ia sedih dalam tawanya. Bukan, ia gila dalam tawanya. Histeris memekak telinga sendiri. Tak peduli ia dengan orang lain. Ia puas, itu intinya. Puas dan buas, lalu tewas di tangan sendiri. Tak peduli ia. Tak peduli.
Dunia pahit, gila, gila...
Itu pikirnya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar