Rindu terkadang mengguna pengetahuan, bahkan hingga ke dasar keberadaannya. Gema keinginan bersua begitu kuat. Jagat bergetar. Doa mengucur ke langit tertinggi. Sebuah jawaban turun menyapanya. Hujan turun.
Rindu membuat gelisah. Tapi bukan ...karena ragu. Bukan karena salah paham dan keras kepala. Gelisahnya hadir karena sadar akan asal. Tiap jejak yang harum mengingatkannya menuju jalan pulang. Tiap tanda jalan yang sedap dipandang menguatkan perjalanannya. Tiap jalan yang semakin kokoh dipijak mengukuhkan kebahagiaannya. Tiap alunan melodi nan merdu mengingatkan keindahan kampung halaman yang dirindu.
Rindu membuat luka tak terasa. Lalu sembuh seketika. Rindu membuat dekat seakan jauh. Lalu jauh seakan membunuh.
Mungkin rapuh akan mengelilingi. Tapi janji tentang pertemuan akan mengalirkan daya halus dan tinggi. Derita yang dikenalnya tak banyak berarti. Ia hanya mengerti bahwa itu berarti. Sedang arti membuat dirinya semakin berarti. Ia berpikir, ia adalah pengumpul arti.
Ia tak peduli caci. Ia sedang merindu. Ia tak peduli puji. Ia sedang merindu. Caci dan puji ia ajak duduk bersama untuk merindu. Melewati waktu dalam renung sederhana tentang hidup.
Dalam rindu, tak tahu bagaimana ia bisa tahu. Ia hanya tahu. "Bagaimana" hanya dipusingkan oleh mereka yang rumit. Tak kenal mereka itu akan rindu. Lebih baik mereka hanya ditinggalkan jejak. Untuk mereka, jejak. Tak lebih.
Rindu terungkap dalam gumaman tidur malam dan siang. Terselip dalam teriak marah dan tangisan. Rindu mengajak bergerak untuk kembali. Kembali. Kembali. Kembali. Kembali. Kembali................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar