Oleh Khayrurrijal
Bencana alam tengah melanda
Indonesia. Banyak komentar dilontarkan. Di
dalam tulisan ini, penulis berusaha menilai berbagai komentar yang terdengar
menyudutkan alam dan menjadikannya seperti musuh yang berbahaya.
Apakah
seperti itukah alam di hadapan insan? Atau mungkin sebaliknya? Maka meletakkan
konsep alam secara tepat di dalam kesadaran insan menjadi sesuatu yang penting.
Sebab akan menjadi awal kemunculan tindakan yang tepat terhadap tempat hidup
kita sendiri.
Secara maknawi, alam didefinisikan sebagai segala daya
atau kekuatan dan sebagainya yang menyebabkan terjadinya dan seakan-akan
mengatur segala sesuatu yang ada di dunia ini (Kamus Bahasa Indonesia).
Definisi lain dapat dilihat dari bahasa Inggris yang
memerikan nature (alam) sebagai a creative
and controlling force in the universe (Merriam-Webster’s 11th Collegiate Dictionary); dan all the plants, animals and things that exist in the
universe that are not made by people; the way that things happen in the physical world when it
is not controlled by people. (Oxford Dictionary).
Dari dua definisi sederhana di atas,
dapat dirasakan bagaimana datar atau keringnya makna alam itu bagi insan. Sebuah
definisi yang sesungguhnya dibuat datar karena telah terpengaruh oleh sekularisasi
terhadap alam. Dan pengertian seperti inilah yang
dominan digunakan dalam berbagai ranah keilmuan.
Dahulu, di dalam pengertian insan
tentang alam, terkandung makna ruhaniah yang mendalam. Alam ini begitu
mempesona. Bahkan pemeliharaaan terhadap alam pun menjadi bagian utuh dari
ritual keagamaan. Namun, dengan pengalaman Barat dan pandangannya yang keliru,
ternyata mendominasi dan menghilangkan pengertian ruhaniah tersebut dari
kesadaran insan. Pemahaman keliru mereka mengenai keagungan insan – yang
diambil dari perkenalannya dengan ulama muslim – akhirnya mereka menjadi
ekstrem dalam bentuk antroposentrisme (man
is the measure of all things).
Dengan hilangnya makna ruhaniah dari
alam ini, membuat insan dapat bertindak kepada alam sesukanya. (Prolegomena
to The Metaphysics of Islam, 2001. S.M.N al-Attas). Hal ini dapat dilihat dari perkembangan
industri dan kapitalisme di Barat. Teknologi yang bercampur dengan keserakahan
insan. Akhirnya, kerusakan tak terelakkan. Inilah akibat dari ilmu yang diwesternisasi. Kerusakan
tiga kerajaan alam: hewan, tumbuhan, dan barang galian, menjadi bukti yang
tidak terbantahkan. (S.M. Naquib Al-Attas.
(1981). Islam dan Sekularisme, terj. Bandung: Pustaka).
Padahal
seharusnya kita insyaf mengenai alasan sesungguhnya akan wujudnya alam semesta
ini. Ibn Rusyd menjelaskan mengenai hal ini dengan sebutan dalil ‘inayah.
Dalil ‘inayah dibangun dari dua hal utama: pertama,
seluruh al-mawjudat di alam semesta ini selaras bagi insan; kedua,
keselarasan itu tidak terjadi secara kebetulan. Keselarasan tersebut meniscayakan adanya
sebab yang sengaja mengarahkan untuk tujuan tertentu. Sebab, mustahil
keselarasan akan terjadi bila hanya berasal dari suatu proses kebetulan. (Achmad Muchaddam Fahham. 2004. Tuhan dalam
Filsafat Allamah Thabathaba’i. Jakarta Selatan:
Teraju).
Bencana Alam
Menggunakan penjelasan Ibn Rusyd
tentang dalil ‘inayah, maka bencana
alam pun sesungguhnya adalah sesuatu yang telah diarahkan oleh Penciptanya. Keselarasan
yang sebelumnya ada, kemudian berganti dengan kerusakan. Dan ini tidak terjadi
secara kebetulan tanpa tujuan apa pun.
Bencana alam yang telah terjadi memang lebih banyak dijelaskan dari sisi
sebab fisik saja. Insan sering kesulitan dalam menjelaskan hubungannya dengan
dosa-dosa yang telah dilakukan. Namun mari kita pikirkan satu kasus, yakni Acquired Immuno Deficiency
Syndrome (AIDS).
AIDS disebabkan oleh virus HIV. Dan virus ini
diduga ditularkan oleh sejenis kera. Penyakit ini kemudian tersebar secara luas
pada orang-orang yang keranjingan homoseksual. Tindakan laknat seperti kaum
Nabi Lut as. itulah yang menjadi cara penularan paling dominan penyakit ini. Dan
sampai saat ini obatnya sedang dicari. Para penyalahguna narkotika, khususnya
lewat jarum suntik, pun menjadi penderita yang sangat banyak terjangkit AIDS.
Peristiwa di atas nampak seperti kebetulan. Tapi apakah sungguh demikian? Coba lihat yang paling banyak mendapat
akibatnya. Lalu cara utama penyebaran penyakit tersebut. Semuanya merujuk
kepada orang-orang yang telah merusak dirinya sendiri, dan berpikir bahwa itu
tidak mengganggu secara sosial. Alasan atas
dasar suka sama suka kemudian menjadi pembenaran tindakan. Namun mereka pun
harus “suka” dengan akibat “kebetulan” yang menimpa mereka.
Menyikapi Bencana Alam
Penyakit AIDS dapat terlihat sebagai sesuatu yang memiliki irisan dengan
tindakan insan dan juga “kebetulan” dari alam. Namun, cara memandang terhadap
persoalan AIDS di atas dapat juga digunakan untuk melihat peristiwa insani
(seperti korupsi uang rakyat) dan juga alami (seperti gempa bumi atau gunung
meletus).
Bencana atau kerusakan
masyarakat sesungguhnya memiliki efek kepada bencana alam ini. Coba lihat
berita dari Alloh Swt mengenai orang-orang yang diberikan bencana, seperti kaum Nuh. Banjir besar yang
diriwayatkan dari banyak sumber bukan sebuah peristiwa alam belaka. Memang bisa
saja didapatkan penjelasan ilmiah dari sisi alam itu sendiri. Namun, sebuah peristiwa juga ternyata memilik
pesan dari Tuhan.
Alam ini merupakan sebuah kitab yang diciptakan. Sebuah kitab tentu berisi kata-kata. Dan kata-kata tentu
mengandung pesan. Ketika bencana alam kini sedang terjadi, tentu itu berarti
ada pesan yang ingin disampaikan Alloh Swt kepada makhluk-Nya. Pesan yang
mungkin terkait dengan kerusakan, baik alam maupun masyarakat, yang telah
dilakukan. Hal ini sungguh hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berilmu.
Namun bukan dengan ilmu yang telah diwesternisasi.
Bencana ini mungkin dimaksudkan sebagai
sarana pendidikan kepada insan. Seperti kisah bagaimana seekor gagak
diperintahkan Alloh Swt untuk mengajarkan Qabil menguburkan saudara yang telah
dibunuhnya.
Kemudian Allah menyuruh seekor
burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil)
bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai
celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku
dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang
diantara orang-orang yang menyesal. (al-Maaidah: 31)
Alloh mengabarkan bahwa ada sebab insani dari peristiwa itu. Dan Tuhan
telah memberikan peringatannya kepada insan. Bukan hanya untuk mengubah alam fisik
ini, namun juga untuk mengubah dirinya sendiri, yang merupakan bagian batin
dari alam.
Menjaga alam adalah penting karena sudah menjadi hak alam. Hak ini bukan diberikan oleh insan. Artinya
jika tidak terjadi perlakuan yang tepat terhadap alam maka akibatnya timbul kerusakan.
Insan pun bagian dari alam. Maka memberikan hak (perlakuan yang tepat) terhadap
diri pun menjadi kunci diberikan ridho dari Alloh Swt. Ridho yang dapat
berwujud negeri yang berkah dan mendapat keberkahan dari langit maupun dari
bumi.
Penutup
Memandang alam dengan makna ruhaniah
sungguh penting. Sebab, alam semesta ini sesungguhnya adalah pelayan bagi
insan. Namun hanya dengan syarat insan itu harus menjadi khalifah Alloh di muka
bumi. Ketika insan telah merawat dan menjaga alam, maka alam pun akan dengan
senang hati memberikan yang terbaik.
(semua itu) untuk kesenanganmu…(an-Naazi’at: 33)
Wallahu’alam bi al-showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar