SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Rabu, 28 Agustus 2013

BENCANA ALAM


Oleh Khayrurrijal

            Bencana alam tengah melanda Indonesia. Banyak komentar dilontarkan. Di dalam tulisan ini, penulis berusaha menilai berbagai komentar yang terdengar menyudutkan alam dan menjadikannya seperti musuh yang berbahaya.
                Apakah seperti itukah alam di hadapan insan? Atau mungkin sebaliknya? Maka meletakkan konsep alam secara tepat di dalam kesadaran insan menjadi sesuatu yang penting. Sebab akan menjadi awal kemunculan tindakan yang tepat terhadap tempat hidup kita sendiri.
Secara maknawi, alam didefinisikan sebagai segala daya atau kekuatan dan sebagainya yang menyebabkan terjadinya dan seakan-akan mengatur segala sesuatu yang ada di dunia ini (Kamus Bahasa Indonesia).
Definisi lain dapat dilihat dari bahasa Inggris yang memerikan nature (alam) sebagai a creative and controlling force in the universe (Merriam-Webster’s 11th Collegiate Dictionary); dan all the plants, animals and things that exist in the universe that are not made by people; the way that things happen in the physical world when it is not controlled by people. (Oxford Dictionary).  
Dari dua definisi sederhana di atas, dapat dirasakan bagaimana datar atau keringnya makna alam itu bagi insan. Sebuah definisi yang sesungguhnya dibuat datar karena telah terpengaruh oleh sekularisasi terhadap alam. Dan pengertian seperti inilah yang dominan digunakan dalam berbagai ranah keilmuan.
Dahulu, di dalam pengertian insan tentang alam, terkandung makna ruhaniah yang mendalam. Alam ini begitu mempesona. Bahkan pemeliharaaan terhadap alam pun menjadi bagian utuh dari ritual keagamaan. Namun, dengan pengalaman Barat dan pandangannya yang keliru, ternyata mendominasi dan menghilangkan pengertian ruhaniah tersebut dari kesadaran insan. Pemahaman keliru mereka mengenai keagungan insan – yang diambil dari perkenalannya dengan ulama muslim – akhirnya mereka menjadi ekstrem dalam bentuk antroposentrisme (man is the measure of all things).
Dengan hilangnya makna ruhaniah dari alam ini, membuat insan dapat bertindak kepada alam sesukanya. (Prolegomena to The Metaphysics of Islam, 2001. S.M.N al-Attas).  Hal ini dapat dilihat dari perkembangan industri dan kapitalisme di Barat. Teknologi yang bercampur dengan keserakahan insan. Akhirnya, kerusakan tak terelakkan. Inilah akibat dari ilmu yang diwesternisasi. Kerusakan tiga kerajaan alam: hewan, tumbuhan, dan barang galian, menjadi bukti yang tidak terbantahkan. (S.M. Naquib Al-Attas. (1981). Islam dan Sekularisme, terj. Bandung: Pustaka).
 Padahal seharusnya kita insyaf mengenai alasan sesungguhnya akan wujudnya alam semesta ini. Ibn Rusyd menjelaskan mengenai hal ini dengan sebutan dalil ‘inayah.
Dalil ‘inayah dibangun dari dua hal utama: pertama, seluruh al-mawjudat di alam semesta ini selaras bagi insan; kedua, keselarasan itu tidak terjadi secara kebetulan. Keselarasan tersebut meniscayakan adanya sebab yang sengaja mengarahkan untuk tujuan tertentu. Sebab, mustahil keselarasan akan terjadi bila hanya berasal dari suatu proses kebetulan. (Achmad Muchaddam Fahham. 2004. Tuhan dalam Filsafat Allamah Thabathaba’i. Jakarta                Selatan: Teraju).

Bencana Alam
                Menggunakan penjelasan Ibn Rusyd tentang dalil ‘inayah, maka bencana alam pun sesungguhnya adalah sesuatu yang telah diarahkan oleh Penciptanya. Keselarasan yang sebelumnya ada, kemudian berganti dengan kerusakan. Dan ini tidak terjadi secara kebetulan tanpa tujuan apa pun.
Bencana alam yang telah terjadi memang lebih banyak dijelaskan dari sisi sebab fisik saja. Insan sering kesulitan dalam menjelaskan hubungannya dengan dosa-dosa yang telah dilakukan. Namun mari kita pikirkan satu kasus, yakni Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).
 AIDS disebabkan oleh virus HIV. Dan virus ini diduga ditularkan oleh sejenis kera. Penyakit ini kemudian tersebar secara luas pada orang-orang yang keranjingan homoseksual. Tindakan laknat seperti kaum Nabi Lut as. itulah yang menjadi cara penularan paling dominan penyakit ini. Dan sampai saat ini obatnya sedang dicari. Para penyalahguna narkotika, khususnya lewat jarum suntik, pun menjadi penderita yang sangat banyak terjangkit AIDS.
Peristiwa di atas nampak seperti kebetulan. Tapi apakah sungguh demikian? Coba lihat yang paling banyak mendapat akibatnya. Lalu cara utama penyebaran penyakit tersebut. Semuanya merujuk kepada orang-orang yang telah merusak dirinya sendiri, dan berpikir bahwa itu tidak mengganggu secara sosial. Alasan atas dasar suka sama suka kemudian menjadi pembenaran tindakan. Namun mereka pun harus “suka” dengan akibat “kebetulan” yang menimpa mereka.

Menyikapi Bencana Alam
Penyakit AIDS dapat terlihat sebagai sesuatu yang memiliki irisan dengan tindakan insan dan juga “kebetulan” dari alam. Namun, cara memandang terhadap persoalan AIDS di atas dapat juga digunakan untuk melihat peristiwa insani (seperti korupsi uang rakyat) dan juga alami (seperti gempa bumi atau gunung meletus). 
                Bencana atau kerusakan masyarakat sesungguhnya memiliki efek kepada bencana alam ini. Coba lihat berita dari Alloh Swt mengenai orang-orang yang diberikan bencana, seperti kaum Nuh. Banjir besar yang diriwayatkan dari banyak sumber bukan sebuah peristiwa alam belaka. Memang bisa saja didapatkan penjelasan ilmiah dari sisi alam itu sendiri.  Namun, sebuah peristiwa juga ternyata memilik pesan dari Tuhan.
Alam ini merupakan sebuah kitab yang diciptakan. Sebuah kitab tentu berisi kata-kata. Dan kata-kata tentu mengandung pesan. Ketika bencana alam kini sedang terjadi, tentu itu berarti ada pesan yang ingin disampaikan Alloh Swt kepada makhluk-Nya. Pesan yang mungkin terkait dengan kerusakan, baik alam maupun masyarakat, yang telah dilakukan. Hal ini sungguh hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berilmu. Namun bukan dengan ilmu yang telah diwesternisasi.
Bencana ini mungkin dimaksudkan sebagai sarana pendidikan kepada insan. Seperti kisah bagaimana seekor gagak diperintahkan Alloh Swt untuk mengajarkan Qabil menguburkan saudara yang telah dibunuhnya.

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (al-Maaidah: 31)

Alloh mengabarkan bahwa ada sebab insani dari peristiwa itu. Dan Tuhan telah memberikan peringatannya kepada insan. Bukan hanya untuk mengubah alam fisik ini, namun juga untuk mengubah dirinya sendiri, yang merupakan bagian batin dari alam.
Menjaga alam adalah penting karena sudah menjadi hak alam. Hak ini bukan diberikan oleh insan. Artinya jika tidak terjadi perlakuan yang tepat terhadap alam maka akibatnya timbul kerusakan. Insan pun bagian dari alam. Maka memberikan hak (perlakuan yang tepat) terhadap diri pun menjadi kunci diberikan ridho dari Alloh Swt. Ridho yang dapat berwujud negeri yang berkah dan mendapat keberkahan dari langit maupun dari bumi.

Penutup
Memandang alam dengan makna ruhaniah sungguh penting. Sebab, alam semesta ini sesungguhnya adalah pelayan bagi insan. Namun hanya dengan syarat insan itu harus menjadi khalifah Alloh di muka bumi. Ketika insan telah merawat dan menjaga alam, maka alam pun akan dengan senang hati memberikan yang terbaik.

(semua itu) untuk kesenanganmu…(an-Naazi’at:  33)

Wallahu’alam bi al-showab

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname