LATIHAN MENULIS 3
Cipondoh, Sabtu, 29 Oktober 2011
MERINDU TUHAN
Wajah itu
sudah merenta. Entah sudah berapa umurnya. Hal yang jelas giginya sudah tanggal
seluruhnya. Rambutnya rontok dan memutih. Badannya sudah bungkuk dan perlu
sebuah tongkat untuk menemaninya berjalan. Itu pun tidak boleh terlalu lama.
Meski tua,
sumpah serapah selalu terucap. Sungguh jelas. Walaupun, mungkin telinganya
sudah termakan usia. Tetapi, caci maki menjadi kebiasaannya. Sejak bangun tidur
hingga tidur kembali. Tidak tahu apa yang terjadi pada Tua Renta itu. Ia
seperti marah kepada Ia yang disebut Tuhan. Benci sekali dirinya kepada
orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Ia menilai orang-orang itu banyak sekali
membuat kerusakan di muka bumi ini.
Tetapi di
suatu hari, keluarganya mendengar suara isak tangis dari kamar orang tua itu.
Suara yang lebih dekat kepada berbisik. Sebuah pernyataan sederhana: Kuingin
berjumpa denganmu.
Pihak
keluarga bertanya kepada orang tua itu pada keesokan hari. Anehnya, ia tidak
ingat tentang pernyataan malam itu. Anak-anaknya menduga bahwa orang tua mereka
sedang bermimpi. Namun, tetap saja hal itu membuat penasaran.
Salah
seorang anak bertanya, “Apakah ada seseorang yang sangat ingin Ayah temui?”
Jawabnya, “Tidak ada.” Ungkapan singkat itu adalah satu-satunya jawaban yang
diberikan orang tuanya. Akhirnya, anak-anaknya itu berusaha menelusuri masa
lalu orang tua mereka. Mereka sama sekali tidak menemukan siapa yang pernah
dekat dengan ayah mereka. Sebab, ayah tidak percaya Tuhan. Dan hal itu diungkapkannya
kepada banyak orang. Walhasil, hampir semua orang yang dikenal ayah, tidak
ingin berhubungan lagi. Bertemu dengan istrinya juga bukan seseorang yang ingin
dijumpainya. Sebab, istrinya masih hidup. Siapakah ia yang ingin dijumpa?
Siapakah ia yang dirindu meski tanpa sadar diri?
Dalam
sebuah mimpi, Tua Renta itu menemukan jawaban untuk anak-anaknya itu. Mimpi ini
sungguh aneh. Tidak pernah terbayang sebelumnya. Bahkan, dalam alam bawah
sadarnya. Tua Renta itu bermimpi tentang dirinya yang berhadap-hadapan dengan
cahaya. Sungguh terang membutakan mata. Maka, ia akhirnya memilih memejamkan
mata. Meskipun, cahaya tersebut tetap terbayang terang dari balik pelupuk
matanya itu.
Cahaya itu
berkata. Tetapi bukan dengan suara atau tulisan. Hal yang pasti adalah Tua Renta
itu yakin bahwa ia sedang diajak berbicara oleh Cahaya itu. Dikatakan kepada
Tua Renta bahwa yang ingin dijumpanya itu adalah Tuhan. Tuhan begitu dirindui
oleh dirinya. Tentu saja ini menimbulkan banyak tanya dalam benak Tua Renta.
Dikatakan lagi bahwa Tua Renta telah bertemu dengan Tuhan. Hanya saja, ia lalu
hanyut dalam kelupaannya. Tua Renta berusaha mengingat perjalanan hidupnya.
Selama ini ia tidak pernah bertemu dengan Tuhan. Ia berpikir bahwa Cahaya ini
pasti mengada-ada. Tetapi, pertanyaan ini langsung dijawab bahwa Tua Renta
bertemu dengan Tuhan jauh sebelum kehidupan dunia. Hal ini begitu lekat dalam
diri insan. Ingatan pertemuan ini begitu dalam tersimpan dalam ingatan. Sang
Cahaya mengatakan bahwa hal yang tiada pernah dapat terlupakan adalah
perjumpaan dengan Tuhan. Bahkan, kerinduan ini hanya memunculkan kesan implisit
dalam ingatan. Hasilnya adalah kegelisahan dan dorongan untuk selalu mencari
dan mencari. Apa yang dicarinya? Kebenaran, kebaikan, dari mana asal insan dan
kehidupan. Semuanya berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, itulah
kebenarannya.
Cemas dan
takut menghampiri Tua Renta. Tak pernah diduga sebelumnya bahwa mimpi akan
terasa begitu nyata. Dadanya terasa sesak. Lalu terasa pula seolah ada pintu
yang terbuka di dalam dirinya. Sesak itu pun menghilang. Lalu dadanya merasakan
lapang dan tenang yang tiada terperikan. Ia serasa aman. Sebuah kata yang lalu
menghubungkannya dengan kata iman. “Inikah kebenaran itu?” batin Tua
Renta.
“Hatiku tak
dapat dibohongi. Dan aku telah bertemu dengan jawaban yang nyata kebenarannya.
Tuhan, aku merindu-Mu dengan rindu yang tak terganti. Rinduku menyebati dengan
jati diriku. Aku adalah rindu. Berharap dan menunggu untuk kembali. Berharap
dan menunggu untuk dipanggil. Bertemu dan bertemu. Itulah yang kuingat meski
tanpa tahu bagaimana. Rinduku untuk-Mu dan untukku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar