SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 24 Agustus 2013

Merindu Tuhan

LATIHAN MENULIS 3
Cipondoh, Sabtu, 29 Oktober 2011

MERINDU TUHAN

Wajah itu sudah merenta. Entah sudah berapa umurnya. Hal yang jelas giginya sudah tanggal seluruhnya. Rambutnya rontok dan memutih. Badannya sudah bungkuk dan perlu sebuah tongkat untuk menemaninya berjalan. Itu pun tidak boleh terlalu lama.
Meski tua, sumpah serapah selalu terucap. Sungguh jelas. Walaupun, mungkin telinganya sudah termakan usia. Tetapi, caci maki menjadi kebiasaannya. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Tidak tahu apa yang terjadi pada Tua Renta itu. Ia seperti marah kepada Ia yang disebut Tuhan. Benci sekali dirinya kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Ia menilai orang-orang itu banyak sekali membuat kerusakan di muka bumi ini.
Tetapi di suatu hari, keluarganya mendengar suara isak tangis dari kamar orang tua itu. Suara yang lebih dekat kepada berbisik. Sebuah pernyataan sederhana: Kuingin berjumpa denganmu.
Pihak keluarga bertanya kepada orang tua itu pada keesokan hari. Anehnya, ia tidak ingat tentang pernyataan malam itu. Anak-anaknya menduga bahwa orang tua mereka sedang bermimpi. Namun, tetap saja hal itu membuat penasaran.
Salah seorang anak bertanya, “Apakah ada seseorang yang sangat ingin Ayah temui?” Jawabnya, “Tidak ada.” Ungkapan singkat itu adalah satu-satunya jawaban yang diberikan orang tuanya. Akhirnya, anak-anaknya itu berusaha menelusuri masa lalu orang tua mereka. Mereka sama sekali tidak menemukan siapa yang pernah dekat dengan ayah mereka. Sebab, ayah tidak percaya Tuhan. Dan hal itu diungkapkannya kepada banyak orang. Walhasil, hampir semua orang yang dikenal ayah, tidak ingin berhubungan lagi. Bertemu dengan istrinya juga bukan seseorang yang ingin dijumpainya. Sebab, istrinya masih hidup. Siapakah ia yang ingin dijumpa? Siapakah ia yang dirindu meski tanpa sadar diri?
Dalam sebuah mimpi, Tua Renta itu menemukan jawaban untuk anak-anaknya itu. Mimpi ini sungguh aneh. Tidak pernah terbayang sebelumnya. Bahkan, dalam alam bawah sadarnya. Tua Renta itu bermimpi tentang dirinya yang berhadap-hadapan dengan cahaya. Sungguh terang membutakan mata. Maka, ia akhirnya memilih memejamkan mata. Meskipun, cahaya tersebut tetap terbayang terang dari balik pelupuk matanya itu.
Cahaya itu berkata. Tetapi bukan dengan suara atau tulisan. Hal yang pasti adalah Tua Renta itu yakin bahwa ia sedang diajak berbicara oleh Cahaya itu. Dikatakan kepada Tua Renta bahwa yang ingin dijumpanya itu adalah Tuhan. Tuhan begitu dirindui oleh dirinya. Tentu saja ini menimbulkan banyak tanya dalam benak Tua Renta. Dikatakan lagi bahwa Tua Renta telah bertemu dengan Tuhan. Hanya saja, ia lalu hanyut dalam kelupaannya. Tua Renta berusaha mengingat perjalanan hidupnya. Selama ini ia tidak pernah bertemu dengan Tuhan. Ia berpikir bahwa Cahaya ini pasti mengada-ada. Tetapi, pertanyaan ini langsung dijawab bahwa Tua Renta bertemu dengan Tuhan jauh sebelum kehidupan dunia. Hal ini begitu lekat dalam diri insan. Ingatan pertemuan ini begitu dalam tersimpan dalam ingatan. Sang Cahaya mengatakan bahwa hal yang tiada pernah dapat terlupakan adalah perjumpaan dengan Tuhan. Bahkan, kerinduan ini hanya memunculkan kesan implisit dalam ingatan. Hasilnya adalah kegelisahan dan dorongan untuk selalu mencari dan mencari. Apa yang dicarinya? Kebenaran, kebaikan, dari mana asal insan dan kehidupan. Semuanya berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, itulah kebenarannya.
Cemas dan takut menghampiri Tua Renta. Tak pernah diduga sebelumnya bahwa mimpi akan terasa begitu nyata. Dadanya terasa sesak. Lalu terasa pula seolah ada pintu yang terbuka di dalam dirinya. Sesak itu pun menghilang. Lalu dadanya merasakan lapang dan tenang yang tiada terperikan. Ia serasa aman. Sebuah kata yang lalu menghubungkannya dengan kata iman. “Inikah kebenaran itu?” batin Tua Renta.

“Hatiku tak dapat dibohongi. Dan aku telah bertemu dengan jawaban yang nyata kebenarannya. Tuhan, aku merindu-Mu dengan rindu yang tak terganti. Rinduku menyebati dengan jati diriku. Aku adalah rindu. Berharap dan menunggu untuk kembali. Berharap dan menunggu untuk dipanggil. Bertemu dan bertemu. Itulah yang kuingat meski tanpa tahu bagaimana. Rinduku untuk-Mu dan untukku.” 

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname