Oleh
Khayrurrijal
Mahasiswa
pascasarjana Centre for Advanced Studies on Science, Islam, and Civilization
(CASIS), Universiti Teknologi Malaysia (UTM)
Wawancara
Prof Dr Amin Abdullah dimuat dalam “Studi Islam Harus Terbuka pada Ilmu Lain”, Islam
digest, Republika, Ahad, 15 Januari 2012, Nomor 12/Tahun ke-20. Ada hal
yang menarik untuk diperhatikan.
Prof Amin Abdullah menyatakan bahwa
“kritis yang dilakukan adalah terhadap pemahaman teks.... Saya tidak setuju
jika mengkritisi teks. Yang bisa lebih diterima adalah mengkritisi pemahaman
atau penafsiran terhadap teks.... Jadi, bedakan antara agama dan pemahaman
keagamaan. Nah, dirasat sangat tegas dalam membedakan dua hal ini.
Antara Islam dan pemikiran serta pemikiran keislaman. Islam punya wilayah yang
sakral, tapi pemahaman dan interpretasi manusia, pasti melibatkan konstruksi
budaya, sosial, dan lainnya. Dan, itu yang dikritisi akal tadi.... kita harus
tahu di mana yang relevan dengan perkembangan zaman sehingga agama tidak
kehilangan relevansi. Tapi, bisa jadi ada pemahaman keagamaan yang out of date
dan pemahaman Islam yang relevan dengan perkembangan zaman.”
Hasil wawancara tersebut dikutip secara
kata-per-kata agar pandangan penulis di bawah ini bisa lebih dipahami oleh para
pembaca.
Prof Amin menggunakan pemilahan
antara agama dengan pemahaman keagamaan. Bahkan, dikatakannya bahwa pemilahan
ini begitu tegas dibedakan dalam dirasat. Namun, pemilahan ini
ternyata mengandung kekeliruan yang dapat menjalar begitu jauh dalam genre baru
studi keislaman yang dibawanya. Hal
tersebut ternyata menghasilkan sebuah reduksi yang mengarah
kepada absurditas (reductio ad absurdum).
Pertama, jika pemahaman keagamaan
tidak sama dengan agama, maka insan di dunia ini tidak ada yang beragama.
Sebab, seseorang hanya akan melakukan tindakan atas dasar pemahaman keagamaan.
Walhasil, ia hanya dapat sampai tataran berkeagamaan.
Kedua, jika pemahaman keagamaan
tidak sama dengan agama, maka keberadaan agama dapat diragukan, bahkan
ditiadakan. Mengapa demikian? Karena, jika seseorang hanya dapat berkeagamaan,
tidak beragama, maka agama menjadi sesuatu yang jauh dari insan. Agama
merupakan sesuatu yang terkaburi oleh pemahaman insan. Agama tidak pernah ada
sebagai dirinya sendiri. Namun, akan muncul pertanyaan: Dari mana insan
mengetahui tentang agama sebagai dirinya? Padahal, pemahaman insan selalu
berkeagamaan.
Hal di atas dapat diperkuat dengan
analisis terhadap pernyataan bahwa “yang lebih bisa diterima adalah mengkritisi
pemahaman atau penafsiran terhadap teks.” Wahyu memiliki posisi penting dalam
agama Islam. Pernyataan Prof Amin di atas jelas digunakan juga terhadap wahyu
(al-Qur’an). Wahyu adalah Pesan Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad
SAW lewat perantaraan malaikat Jibril AS.
Jika
pemahaman tentang teks tidak sama dengan teks, maka tidak ada agama. Wahyu
disampaikan Allah SWT lewat malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Itu
berarti Nabi Muhammad SAW menerimanya di dalam batinnya, termasuk pikiran dan
pemahamannya. Dengan demikian, ketika wahyu tersebut masuk ke dalam pikiran dan
dipahami oleh Rasulullah SAW, maka langsung muncul pemahaman tentang wahyu.
Pemahaman tentang wahyu in berbeda dengan wahyu itu sendiri.
Akhirnya,
keberadaan wahyu pun menjadi diragukan, bahkan mungkin ditiadakan. Dengan
menggunakan cara pemilahan Prof Amin, apa yang terjadi pada agama akan pula
terjadi pada wahyu.Memang, ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an yang terjaga itu
ada di Lauh al-Mahfuz. Tetapi, pertanyaanya yang sama pun muncul: Dari
mana insan mengetahui tentang wahyu sebagai wahyu? Padahal, insan hanya dapat
sampai pada taraf pemahaman tentang wahyu.
Ketiga, jika pemahaman keagamaan tidak
sama dengan agama, maka pengetahuan pun menjadi bermasalah. Dengan cara
pemilahan ini, pengetahuan menjadi tidak dapat disampaikan kepada orang lain.
Sebab, yang mengetahui itu hanya diri kita sendiri. Ketika kita menyampaikannya
kepada orang lain, maka apa yang mereka dengar atau baca tentang apa yang kita
sampaikan hanyalah sebagai pemahaman mereka atas yang kita tulis atau bicarakan
atau diri kita.
Dengan demikian, pengetahuan itu
menjadi tidak ada. Sebab, pengetahuan kita tentang pengetahuan kita sendiri
merupakan pemahaman kita tentang pengetahuan kita. Akhirnya, pengetahuan pun
dapat diragukan keberadaannya. Bahkan, pengetahuan kita pun menjadi tidak ada.
Mengapa? Sebab, pengetahuan diri kita terus berubah karena waktu terus
berjalan. Ketika waktu berjalan, maka diri kita yang kita “baca” sebelumnya
berbeda dengan yang kemudian. Hal ini dapat lebih
ditarik lebih jauh kepada diri sendiri. Ketika pada saat
pertama, seseorang mengetahui tentang
dirinya sendiri. Lalu, sesungguhnya saat dia menyampaikan tentang
dirinya pada waktu yang berjalan, maka diri
yang disampaikannya itu telah berubah dan tidak
lagi sesuai. Sebab, dirinya pada saat pertama 1 telah berubah pada saat kedua. Pemahaman demikian pun akhirnya membuat keberadaan diri kita dapat
diragukan, bahkan tidak ada. Yang ada hanyalah pemahaman tentang diri.
Keempat,
jika pemahaman keagamaan tidak sama dengan agama, maka wujud itu tidak ada. Hal
ini menjadi akibat logis dari cara pemilahan agama dan pemahaman keagamaan.
Cara memilah yang dualistis seperti ini memang nampak persuasif. Tetapi, di
dalam dirinya terkadang mengandung potensi untuk membunuh dirinya sendiri.
Buktinya, dengan pemilahan tersebut kita dapat mengikuti penalaran yang
akhirnya meragukan, bahkan menafikan agama, wahyu, pengetahuan, diri kita
sendiri, dan wujud.
Sebenarnya
argumentasi seperti ini sudah muncul sejak masa Yunani Kuno. Sesungguhnya ketiga bentuk ini adalah bentuk keraguan dasar yang
muncul dalam sejarah kehidupan manusia. Bentuk-bentuk tersebut masih ada hingga
hari ini, hanya saja menjadi lebih canggih dan sistematis.
Telah dicatat dalam sejarah, argumentasi
pemilahan di atas seperti pernyataan Giorgias,
seorang sofis di Athena. Ia menyatakan
tiga hal. Pertama, tidak ada yang ada, berarti
bahwa tidak ada realitas. Kedua, jika segala sesuatu itu ada, hal itu
tidak dapat diketahui. Ketiga, bahkan jika realitas
dapat diketahui, pengetahuan tersebut tidak dapat dibagi dan
dikomunikasikan kepada yang lain (Mayer, F. A History of Ancient and Medieval Philosophy. United States of America: American Book Company,1951.
Hlm. 84-85).
Bertrand Russel (Russel, Bertrand. Sejarah Filsafat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman
Kuno hingga Sekarang, terj. Sigit
Jatmiko, dkk Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Hlm. 107) pun memberikan penjelasan yang simpatik tentang para sofis. Ia
melihat bahwa para sofis adalah orang yang
konsisten mengikuti sebuah argumen meskipun mengarah kepada skeptisisme.
Namun,
mari kita runut analisis di atas. Jika ada yang mempersoalkan wujud, maka wujud
itu ada. Sebab, tanpa wujudnya sesuatu yang mempersoalkan, maka tentu
tidak ada yang mempersoalkannya.
Jika pengetahuan tentang pemahaman
itu ada. Maka, pengetahuan itu ada. Karena, seseorang yang memahami itu sadar
bahwa ia mengetahui pemahamannya itu. Kemudian, karena pemahaman dan
pengetahuan itu ada di dalam diri. Maka diri itu juga ada. Jika teks yang
dipahami itu ada, maka teks itu ada. Sebab, teks itu yang menjadi dasar
munculnya pemahaman tentang teks. Dan itu juga berarti wujudnya sesuatu
selain diri sendiri. Oleh karena teks itu ada, maka “teks” wahyu itu pun ada.
Dan karena “teks” wahyu itu ada, maka agama pun ada.
Dari
uraian penulis, nampak wajar jika kata sofis terhubung erat
dengan penipuan penalaran (Bagus, Lorens. Kamus
Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996. 1028). Nampaknya juga sudah jelas, bahwa jika bentuk-bentuk tersebut hinggap
di dalam diri seseorang, maka ia akan mengidap “penyakit” intelektual
yang akan melumpuhkan “organ” pengetahuannya hingga akhirnya “mati”.
Dan, jika hal bentuk-bentuk itu dilakukan dengan
sengaja, maka seseorang sedang melakukan “bunuh diri” intelektual. Sesungguhnya
hal tersebut merupakan kehidupan intelektual yang tragis.
Jelas pula bahwa pemahaman keagamaan
bisa saja sama dengan agama. Artinya, jika memiliki kesesuaian yang tepat.
Tetapi, pun pemahaman keagamaan bisa saja tidak sama dengan agama. Artinya, jika
tidak memiliki kesesuaian dengan agama.
Contohnya, ketika Allah SWT
berfirman:
Katakanlah,
“(1) Dialah Allah, Yang Maha Esa. (2) Allah tempat meminta segala sesuatu. (3) Dia
tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. (4) Dan tidak ada sesuatu pun yang
setara dengan Dia.” (QS. 114:1-4).
Firman
Allah SWT di atas dikutip dalam terjemahan Indonesia. Jika dikatakan ulang oleh
para ahli tafsir di Indonesia bahwa Allah itu Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya,
maka apakah pernyataan yang mengandung pemahaman itu tidak sama atau tidak
sesuai dengan agama? Jika dikatakan bahwa Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan itu berarti bahwa konsep tiga Tuhan atau banyak Tuhan ditolak
Islam, apakah pernyataan ini tidak sesuai dengan agama? Hal ini jelas
menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan bisa sesuai dengan agama. Sama hal
seperti Prof Amin sendiri menyatakan “Islam itu bukan sekadar Islam, melainkan
pula politik.” Bukankah “Islam itu bukan sekadar Islam” menunjukkan kesesuaian
antara Islam dengan pemahaman keislaman. Jika tidak, maka kalimat tersebut
menjadi salah dan perlu diubah menjadi: Islam itu bukan sekadar pemahaman
keislaman.”
Ada
beberapa andaian pula yang bisa ditarik dari cara pemilahan agama dan pemahaman
keagamaan. Pertama, hal tersebut dapat menyiratkan bahwa ketika diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW, wahyu memang akan kehilangan dirinya ketika masuk ke
dalam pikiran insan.
Kedua,
bisa pula menyiratkan bahwa ketika menciptakan insan, Tuhan tidak menyertakan
peralatan batiniah untuk memahami wahyu tanpa membuat wahyu tersebut tetap
dalam kondisi aslinya. Ini jadi menyiratkan pula bahwa pesan wahyu tidak akan
pernah tersampaikan. Padahal, pesan wahyu itu sangat penting bagi kehidupan
insan. Pesan tersebut merupakan petunjuk yang akan menghilangkan
kekhawatirandan kesedihan mereka (QS. 2: 38). Tanpanya, maka kehidupan pun
menjadi tragis.
Andaian-andaian
tentang Tuhan dan wahyu seperti di atas, tentu aneh jika muncul dalam pikiran
seorang muslim. Kecuali, jika pemahaman model seperti ini berasal dari
paradigma yang tidak memasukkan Tuhan dalam penjelasannya, yang problematik
dengan wahyu, yang menilai bahwa agama itu memang buatan insan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar