SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Rabu, 28 Agustus 2013

BERAGAMA DAN BERKEAGAMAAN? KOMENTAR TERHADAP PROF DR AMIN ABDULLAH



Oleh Khayrurrijal
Mahasiswa pascasarjana Centre for Advanced Studies on Science, Islam, and Civilization (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

Wawancara Prof Dr Amin Abdullah dimuat dalam “Studi Islam Harus Terbuka pada Ilmu Lain”, Islam digest, Republika, Ahad, 15 Januari 2012, Nomor 12/Tahun ke-20. Ada hal yang menarik untuk diperhatikan.
            Prof Amin Abdullah menyatakan bahwa “kritis yang dilakukan adalah terhadap pemahaman teks.... Saya tidak setuju jika mengkritisi teks. Yang bisa lebih diterima adalah mengkritisi pemahaman atau penafsiran terhadap teks.... Jadi, bedakan antara agama dan pemahaman keagamaan. Nah, dirasat sangat tegas dalam membedakan dua hal ini. Antara Islam dan pemikiran serta pemikiran keislaman. Islam punya wilayah yang sakral, tapi pemahaman dan interpretasi manusia, pasti melibatkan konstruksi budaya, sosial, dan lainnya. Dan, itu yang dikritisi akal tadi.... kita harus tahu di mana yang relevan dengan perkembangan zaman sehingga agama tidak kehilangan relevansi. Tapi, bisa jadi ada pemahaman keagamaan yang out of date dan pemahaman Islam yang relevan dengan perkembangan zaman.”
            Hasil wawancara tersebut dikutip secara kata-per-kata agar pandangan penulis di bawah ini bisa lebih dipahami oleh para pembaca.
            Prof Amin menggunakan pemilahan antara agama dengan pemahaman keagamaan. Bahkan, dikatakannya bahwa pemilahan ini begitu tegas dibedakan dalam dirasat. Namun, pemilahan ini ternyata mengandung kekeliruan yang dapat menjalar begitu jauh dalam genre baru studi keislaman yang dibawanya. Hal tersebut ternyata menghasilkan sebuah reduksi yang mengarah kepada absurditas (reductio ad absurdum).
            Pertama, jika pemahaman keagamaan tidak sama dengan agama, maka insan di dunia ini tidak ada yang beragama. Sebab, seseorang hanya akan melakukan tindakan atas dasar pemahaman keagamaan. Walhasil, ia hanya dapat sampai tataran berkeagamaan.
            Kedua, jika pemahaman keagamaan tidak sama dengan agama, maka keberadaan agama dapat diragukan, bahkan ditiadakan. Mengapa demikian? Karena, jika seseorang hanya dapat berkeagamaan, tidak beragama, maka agama menjadi sesuatu yang jauh dari insan. Agama merupakan sesuatu yang terkaburi oleh pemahaman insan. Agama tidak pernah ada sebagai dirinya sendiri. Namun, akan muncul pertanyaan: Dari mana insan mengetahui tentang agama sebagai dirinya? Padahal, pemahaman insan selalu berkeagamaan.
            Hal di atas dapat diperkuat dengan analisis terhadap pernyataan bahwa “yang lebih bisa diterima adalah mengkritisi pemahaman atau penafsiran terhadap teks.” Wahyu memiliki posisi penting dalam agama Islam. Pernyataan Prof Amin di atas jelas digunakan juga terhadap wahyu (al-Qur’an). Wahyu adalah Pesan Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantaraan malaikat Jibril AS.
Jika pemahaman tentang teks tidak sama dengan teks, maka tidak ada agama. Wahyu disampaikan Allah SWT lewat malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Itu berarti Nabi Muhammad SAW menerimanya di dalam batinnya, termasuk pikiran dan pemahamannya. Dengan demikian, ketika wahyu tersebut masuk ke dalam pikiran dan dipahami oleh Rasulullah SAW, maka langsung muncul pemahaman tentang wahyu. Pemahaman tentang wahyu in berbeda dengan wahyu itu sendiri.
Akhirnya, keberadaan wahyu pun menjadi diragukan, bahkan mungkin ditiadakan. Dengan menggunakan cara pemilahan Prof Amin, apa yang terjadi pada agama akan pula terjadi pada wahyu.Memang, ada yang mengatakan bahwa al-Qur’an yang terjaga itu ada di Lauh al-Mahfuz. Tetapi, pertanyaanya yang sama pun muncul: Dari mana insan mengetahui tentang wahyu sebagai wahyu? Padahal, insan hanya dapat sampai pada taraf pemahaman tentang wahyu.
            Ketiga, jika pemahaman keagamaan tidak sama dengan agama, maka pengetahuan pun menjadi bermasalah. Dengan cara pemilahan ini, pengetahuan menjadi tidak dapat disampaikan kepada orang lain. Sebab, yang mengetahui itu hanya diri kita sendiri. Ketika kita menyampaikannya kepada orang lain, maka apa yang mereka dengar atau baca tentang apa yang kita sampaikan hanyalah sebagai pemahaman mereka atas yang kita tulis atau bicarakan atau diri kita.
            Dengan demikian, pengetahuan itu menjadi tidak ada. Sebab, pengetahuan kita tentang pengetahuan kita sendiri merupakan pemahaman kita tentang pengetahuan kita. Akhirnya, pengetahuan pun dapat diragukan keberadaannya. Bahkan, pengetahuan kita pun menjadi tidak ada. Mengapa? Sebab, pengetahuan diri kita terus berubah karena waktu terus berjalan. Ketika waktu berjalan, maka diri kita yang kita “baca” sebelumnya berbeda dengan yang kemudian. Hal ini dapat lebih ditarik lebih jauh kepada diri sendiri. Ketika pada saat pertama, seseorang mengetahui tentang dirinya sendiri. Lalu, sesungguhnya saat dia menyampaikan tentang dirinya pada waktu yang berjalan, maka diri yang disampaikannya itu telah berubah dan tidak lagi sesuai. Sebab, dirinya pada saat pertama 1 telah berubah pada saat kedua. Pemahaman demikian pun akhirnya membuat keberadaan diri kita dapat diragukan, bahkan tidak ada. Yang ada hanyalah pemahaman tentang diri.
Keempat, jika pemahaman keagamaan tidak sama dengan agama, maka wujud itu tidak ada. Hal ini menjadi akibat logis dari cara pemilahan agama dan pemahaman keagamaan. Cara memilah yang dualistis seperti ini memang nampak persuasif. Tetapi, di dalam dirinya terkadang mengandung potensi untuk membunuh dirinya sendiri. Buktinya, dengan pemilahan tersebut kita dapat mengikuti penalaran yang akhirnya meragukan, bahkan menafikan agama, wahyu, pengetahuan, diri kita sendiri, dan wujud.
Sebenarnya argumentasi seperti ini sudah muncul sejak masa Yunani Kuno. Sesungguhnya ketiga bentuk ini adalah bentuk keraguan dasar yang muncul dalam sejarah kehidupan manusia. Bentuk-bentuk tersebut masih ada hingga hari ini, hanya saja menjadi lebih canggih dan sistematis.
Telah dicatat dalam sejarah, argumentasi pemilahan di atas seperti pernyataan Giorgias, seorang sofis di Athena. Ia menyatakan tiga hal. Pertama, tidak ada yang ada, berarti bahwa tidak ada realitas. Kedua, jika segala sesuatu itu ada, hal itu tidak dapat diketahui. Ketiga, bahkan jika realitas dapat diketahui, pengetahuan tersebut tidak dapat dibagi dan dikomunikasikan kepada yang lain (Mayer, F. A History of Ancient and Medieval Philosophy. United States of America: American Book Company,1951. Hlm. 84-85).
Bertrand Russel (Russel, Bertrand. Sejarah Filsafat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko, dkk Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. Hlm. 107) pun memberikan penjelasan yang simpatik tentang para sofis. Ia melihat bahwa para sofis adalah orang yang konsisten mengikuti sebuah argumen meskipun mengarah kepada skeptisisme.
Namun, mari kita runut analisis di atas. Jika ada yang mempersoalkan wujud, maka wujud itu ada. Sebab, tanpa wujudnya sesuatu yang mempersoalkan, maka tentu tidak ada yang mempersoalkannya.
            Jika pengetahuan tentang pemahaman itu ada. Maka, pengetahuan itu ada. Karena, seseorang yang memahami itu sadar bahwa ia mengetahui pemahamannya itu. Kemudian, karena pemahaman dan pengetahuan itu ada di dalam diri. Maka diri itu juga ada. Jika teks yang dipahami itu ada, maka teks itu ada. Sebab, teks itu yang menjadi dasar munculnya pemahaman tentang teks. Dan itu juga berarti wujudnya sesuatu selain diri sendiri. Oleh karena teks itu ada, maka “teks” wahyu itu pun ada. Dan karena “teks” wahyu itu ada, maka agama pun ada.
Dari uraian penulis, nampak wajar jika kata sofis terhubung erat dengan penipuan penalaran (Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996. 1028). Nampaknya juga sudah jelas, bahwa jika bentuk-bentuk tersebut hinggap di dalam diri seseorang, maka ia akan mengidap “penyakit” intelektual yang akan melumpuhkan “organ” pengetahuannya hingga akhirnya “mati”. Dan, jika hal bentuk-bentuk itu dilakukan dengan sengaja, maka seseorang sedang melakukan “bunuh diri” intelektual. Sesungguhnya hal tersebut merupakan kehidupan intelektual yang tragis.
            Jelas pula bahwa pemahaman keagamaan bisa saja sama dengan agama. Artinya, jika memiliki kesesuaian yang tepat. Tetapi, pun pemahaman keagamaan bisa saja tidak sama dengan agama. Artinya, jika tidak memiliki kesesuaian dengan agama.
            Contohnya, ketika Allah SWT berfirman:
Katakanlah, “(1) Dialah Allah, Yang Maha Esa. (2) Allah tempat meminta segala sesuatu. (3) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. (4) Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” (QS. 114:1-4).
Firman Allah SWT di atas dikutip dalam terjemahan Indonesia. Jika dikatakan ulang oleh para ahli tafsir di Indonesia bahwa Allah itu Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, maka apakah pernyataan yang mengandung pemahaman itu tidak sama atau tidak sesuai dengan agama? Jika dikatakan bahwa Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan itu berarti bahwa konsep tiga Tuhan atau banyak Tuhan ditolak Islam, apakah pernyataan ini tidak sesuai dengan agama? Hal ini jelas menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan bisa sesuai dengan agama. Sama hal seperti Prof Amin sendiri menyatakan “Islam itu bukan sekadar Islam, melainkan pula politik.” Bukankah “Islam itu bukan sekadar Islam” menunjukkan kesesuaian antara Islam dengan pemahaman keislaman. Jika tidak, maka kalimat tersebut menjadi salah dan perlu diubah menjadi: Islam itu bukan sekadar pemahaman keislaman.”
Ada beberapa andaian pula yang bisa ditarik dari cara pemilahan agama dan pemahaman keagamaan. Pertama, hal tersebut dapat menyiratkan bahwa ketika diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, wahyu memang akan kehilangan dirinya ketika masuk ke dalam pikiran insan.
Kedua, bisa pula menyiratkan bahwa ketika menciptakan insan, Tuhan tidak menyertakan peralatan batiniah untuk memahami wahyu tanpa membuat wahyu tersebut tetap dalam kondisi aslinya. Ini jadi menyiratkan pula bahwa pesan wahyu tidak akan pernah tersampaikan. Padahal, pesan wahyu itu sangat penting bagi kehidupan insan. Pesan tersebut merupakan petunjuk yang akan menghilangkan kekhawatirandan kesedihan mereka (QS. 2: 38). Tanpanya, maka kehidupan pun menjadi tragis.

Andaian-andaian tentang Tuhan dan wahyu seperti di atas, tentu aneh jika muncul dalam pikiran seorang muslim. Kecuali, jika pemahaman model seperti ini berasal dari paradigma yang tidak memasukkan Tuhan dalam penjelasannya, yang problematik dengan wahyu, yang menilai bahwa agama itu memang buatan insan.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname