Oleh
Khayrurrijal
Mahasiswa
pascasarjana Centre for Advanced Studies on Science, Islam, and Civilization
(CASIS), Universiti Teknologi Malaysia (UTM)
Seorang murid bertanya kepada
gurunya, “Mengapa dirinya tidak dinaikkan ke tingkatan atau kelas yang lebih
tinggi, meski sudah belajar kepada engkau selama tiga puluh tahun?” Lalu, Sang
Guru membuat dua tanda di dinding sembari bertanya, “Apa yang kamu lihat di
dinding itu?” “Aku melihat dua titik hitam”, jawab Sang Murid. Usai itu, Sang
Guru menjelaskan bahwa perjalanan ruhaniah sang murid terhambat karena ia hanya
melihat dua titik hitam dan bukan dinding putih yang luas. Dengan demikian, Sang
Murid hanya memperhatikan hal-hal yang kurang penting sehingga membuatnya
kehilangan kebenaran.
Kisah di atas disampaikan Prof
al-Attas di dalam Risalah untuk Kaum Muslimin. Sebuah gambaran yang
dapat digunakan sebagai renungan tentang sikap kita terhadap orang-orang besar
pada masa lalu.
Sebagian penyebab rasa rendah diri
(inferior) yang dialami oleh sebuah bangsa atau penganut agama adalah sikapnya
terhadap sejarah dirinya. Artinya, sesuatu yang memiliki nilai penting dalam
memahami identitas dirinya. Jika terdapat keterputusan pengetahuan sejarah
dirinya dan juga jika terjadi pengaburan catatan sejarah dirinya, maka rasa
rendah diri hampir dapat dipastikan muncul. Lalu, kondisi demikian dapat
membuat ia menghubungkan dirinya kepada sejarah sebuah kebudayaan atau
peradaban yang bertentangan dengan pandangan hidupnya.
Orang-orang besar pada masa lalu
sering disebut sebagai pahlawan. Sederet nama, seperti Pangeran Diponegoro,
Soekarno, Hatta, dan Mohammad Natsir, mereka digelari status tersebut atas
dasar jasa yang telah mereka berikan. Mereka menjadi sebuah model atau teladan
bagi generasi penerusnya. Gelar pahlawan membuat mereka seharusnya menjadi
tanda agar mereka dihormati dan dicontohi. Mereka dapat menjadi sumber mencari
inspirasi untuk menjawab persoalan masa kini.
Tetapi, apa yang terjadi kini?
Masyarakat merasa telah kehilangan teladan kehidupannya. Para pemimpin
masyarakat yang seharusnya menjadi teladan telah banyak menjadi rusak.
Keburukan demi keburukan ditampakkan tanpa disertai lagi rasa malu dan
bersalah. Terlebih lagi, keburukan tersebut sangat tersebar luas hingga masuk
ke rumah-rumah warga. Lewat media massa, pesimisme pun menjadi mudah tersebar
dan mengakibatkan terhambatnya perjalanan ruhaniah sebuah bangsa, seperti dalam
cerita di awal tulisan ini.
Korupsi (corruption), yang
juga mengandung arti kerusakan, juga sudah terjadi hingga kepada masa lalu yang
lebih jauh. Terputusnya pemahaman yang baik tentang Indonesia terkait dengan
penggantian huruf Arab-Jawi (Arabic-Jawi Script) kepada huruf
Romawi (Roman script). Padahal, sejarah tentang kesatuan bangsa ini
sebelum kemerdekaan banyak ditulis dalam huruf Arab-Jawi. Para penjajah sangat
sadar bahwa peralihan morfologi ini akan sangat berperan dalam proses
de-islamisasi terhadap bangsa ini.
Sikap jahil atau tidak tahu tentang
masa lalu tersebut diperparah dengan fiksi atau rekaan orientalis yang
disebarluaskan lewat sistem pendidikan penjajah. Perendahan dan penghinaan
penjajah terhadap bangsa ini dilakukan dengan cara yang santun. Ilmu
pengetahuan dicampur-aduk dengan asumsi atau anggapan, lalu hasilnya disebut
sebagai ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, keinsyafan bahwa ilmu itu tidak
netral merupakan sesuatu yang penting. Tanpa hal tersebut, penerimaan
mentah-mentah apa yang datang dari pandangan hidup yang asing hanya akan lebih
banyak merusak dibanding membangun.
Dengan kerusakan karena kejahilan
dan pengaburan sejarah tersebut dapat membuat kita putus harapan seolah-olah
terjebak dalam jalan buntu. Semakin parah lagi, jika kondisi ini disertai
dengan jurang generasi (gap generation) antara generasi muda, orang tua,
dan lanjut usia. Sebuah kondisi yang disebabkan karena kehilangan teladan di
dalam masyarakat (S.M. Naquib al-Attas. Prolegomena to the Metaphysics of
Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 2001, hlm. 81-82). Pencarian jati diri
menjadi tema utama, tapi hanya berujung kepada kegagalan. Kebebasan yang
diinginkan telah didapatkan. Namun, kebebasan yang nista hanya akan berujung
kepada kekecewaan.
Kejahilan, kekaburan sejarah, dan
penghinaan terhadap orang-orang besar kita yang juga kita setujui, tentu akan
harga diri kita. Seringkali, sembari mencoba menghina dengan bangga, kita
mengutip sikap Peradaban Barat terhadap sejarahnya sendiri. Gema ungkapan ana
rijāl wa antum rijāl (saya manusia dan anda manusia) terucap lisan dan
tersirat dalam sikap. Sikap yang bahkan ditujukan kepada Rasulullah saw.,
sembari mengutip sebuah ayat dengan pemahaman yang keliru dan mengelirukan.
Akhirnya, setiap orang besar menjadi sangat mungkin untuk dilecehkan dan
dicela. Bahkan, menghormati mereka yang berhak dihormati pun hampir-hampir
mendapat celaan pula (‘Abbas Mahmūd al-Aqqād. Abqariyyatu al-Shiddiqī.
Jakarta: Bulan Bintang, 1978, hlm. 11)
Pembenaran diberikan dengan fakta
sejarah tentang pertentangan antar orang-orang besar tersebut. Pembenaran yang
disertai dengan perasaan bahwa dirinya sudah berada pada taraf yang sama dengan
orang-orang besar tersebut. Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, seorang pakar dalam
pemikiran Islam dan filsafat pendidikan, menyampaikan di dalam kuliahnya bahwa
jika kita memperhatikan kesalahan atau keburukan orang-orang besar yang kita
kaji, maka kita akan merugi. Pemikir Muslim asal Malaysia tersebut menambahkan
bahwa kita akan merugi karena tidak dapat mengambil pelajaran penting dari
orang-orang besar tersebut. Padahal, sikap yang adil terhadap mereka adalah
dengan menghargai sumbangan mereka dan meletakkan kesalahan mereka pada
tempatnya, sembari masih dapat tetap menghormati mereka.
‘Abbas Mahmūd al-Aqqād juga menilai penting
untuk mengubah penilaian kita terhadap tokoh-tokoh kita pada masa lalu. Ia
menyebut perubahan penilaian tersebut dengan istilah “rehabilitasi anggapan”
dalam bahasa hukum (al-Aqqād: 12). Menurut al-Aqqād, ukuran untuk menilai
tokoh-tokoh yang besar bukanlah dengan ukuran orang awam. al-Aqqād juga
menyerukan agar memperhatikan lebih dahulu apa yang mereka tinggalkan sesuatu
mereka pergi yang berupa ketinggian. Usai itu, barulah kita berhak mencela.
Meski demikian, siapa yang menempuh bahaya dalam urusan yang besar, maka ia
tidak dapat dicela karena bahaya itu (al-Aqqād: 10)
Sikap di atas banyak dipengaruhi
oleh Barat (al-Aqqād: 13). Jika hendak belajar kepada Barat, seharusnya kita
juga belajar bagaimana mereka menyikapi tokoh-tokoh besar mereka. Orang Barat
begitu kagum dengan pendahulu mereka. Bahkan, kesalahan-kesalahan para
pendahulu mereka, misalnya Ludwig Wittgenstein, dianggap sebagai berkah bagi
peradaban mereka.
Meskipun,
terdapat kritik pemikir Barat terhadap sikap Barat terhadap masa lalu mereka
sendiri., sebenarnya telah membuat Barat tidak maju dalam metafisika, filsafat
alam, filsafat pikiran, dan filsafat moral (Mortimer J. Adler. Ten
Philosophical Mistakes. New York: Macmillan Publishing Company, 1985, hlm.
192). Mortimer J. Adler, seorang pemikir besar asal Amerika, menyatakan bahwa
dirinya adalah seorang pengagum Aristoteles dan Thomas Aquinas karena mereka
telah memberikan pandangan-pandangan penting dan kebijaksanaan falsafi (Adler:
195).
Ketidakadilan
dan citra miring terhadap Aristoteles muncul di Barat dari para pengajar
filsafat yang mengalami kemunduran kualitas. Mereka mengajar di
universitas-universitas abad ke-16 dan ke-17 (Adler: 196). Bahkan, Adler
mengatakan bahwa kebodohan dan kesalahpahaman terhadap kebenaranlah yang telah
dibangun oleh Barat modern karena kesalahan tersebut (Adler: 198). Penghargaan
yang serupa kepada Thomas Aquinas juga dimiliki oleh Étienne Gilson dalam salah
satu karyanya God and Philosophy, New Haven & London University
Press, 1941.
Ketika pahlawan sudah dilawan oleh
kebodohan kita sendiri, maka ia bukan lagi pahlawan. Jika mereka yang disebut
pahlawan saja sudah begitu dikecilkan, maka bagaimana dengan mereka yang
mengecilkan. Prof Wan Mohd Nor dalam buku puisinya Mutiara Taman Adabi
menyatakan bahwa jika Abu Bakr al-Shiddīq dan para sahabat Nabi saja sudah
dikecilkan dan tidak dihormati, apatah lagi kita yang mengikuti jejak dan
teladan mereka.
Jika caci-maki sudah lebih menarik
daripada mengapresiasi jasa-jasa, maka perjalanan ruhaniah individu dan
masyarakat akan terhambat. Akibatnya, kebahagiaan yang diidam-idamkan hanya terpenuhi
pada tataran jasmani.
Jika perhatian terhadap “titik-titik
hitam” tokoh-tokoh besar kita dianggap sebagai tanda ketinggian
intelektualitas, lalu membuang seluruh “dinding putih yang luas” sumbangan
mereka, maka dunia baru yang diciptakan oleh generasi setelahnya hanya akan “dihitamkan”
dalam kebahagiaan yang palsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar