SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Rabu, 28 Agustus 2013

MELAWAN PAHLAWAN?!


Oleh Khayrurrijal

Mahasiswa pascasarjana Centre for Advanced Studies on Science, Islam, and Civilization (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia (UTM)


            Seorang murid bertanya kepada gurunya, “Mengapa dirinya tidak dinaikkan ke tingkatan atau kelas yang lebih tinggi, meski sudah belajar kepada engkau selama tiga puluh tahun?” Lalu, Sang Guru membuat dua tanda di dinding sembari bertanya, “Apa yang kamu lihat di dinding itu?” “Aku melihat dua titik hitam”, jawab Sang Murid. Usai itu, Sang Guru menjelaskan bahwa perjalanan ruhaniah sang murid terhambat karena ia hanya melihat dua titik hitam dan bukan dinding putih yang luas. Dengan demikian, Sang Murid hanya memperhatikan hal-hal yang kurang penting sehingga membuatnya kehilangan kebenaran.
            Kisah di atas disampaikan Prof al-Attas di dalam Risalah untuk Kaum Muslimin. Sebuah gambaran yang dapat digunakan sebagai renungan tentang sikap kita terhadap orang-orang besar pada masa lalu.
            Sebagian penyebab rasa rendah diri (inferior) yang dialami oleh sebuah bangsa atau penganut agama adalah sikapnya terhadap sejarah dirinya. Artinya, sesuatu yang memiliki nilai penting dalam memahami identitas dirinya. Jika terdapat keterputusan pengetahuan sejarah dirinya dan juga jika terjadi pengaburan catatan sejarah dirinya, maka rasa rendah diri hampir dapat dipastikan muncul. Lalu, kondisi demikian dapat membuat ia menghubungkan dirinya kepada sejarah sebuah kebudayaan atau peradaban yang bertentangan dengan pandangan hidupnya.
            Orang-orang besar pada masa lalu sering disebut sebagai pahlawan. Sederet nama, seperti Pangeran Diponegoro, Soekarno, Hatta, dan Mohammad Natsir, mereka digelari status tersebut atas dasar jasa yang telah mereka berikan. Mereka menjadi sebuah model atau teladan bagi generasi penerusnya. Gelar pahlawan membuat mereka seharusnya menjadi tanda agar mereka dihormati dan dicontohi. Mereka dapat menjadi sumber mencari inspirasi untuk menjawab persoalan masa kini.
            Tetapi, apa yang terjadi kini? Masyarakat merasa telah kehilangan teladan kehidupannya. Para pemimpin masyarakat yang seharusnya menjadi teladan telah banyak menjadi rusak. Keburukan demi keburukan ditampakkan tanpa disertai lagi rasa malu dan bersalah. Terlebih lagi, keburukan tersebut sangat tersebar luas hingga masuk ke rumah-rumah warga. Lewat media massa, pesimisme pun menjadi mudah tersebar dan mengakibatkan terhambatnya perjalanan ruhaniah sebuah bangsa, seperti dalam cerita di awal tulisan ini.
            Korupsi (corruption), yang juga mengandung arti kerusakan, juga sudah terjadi hingga kepada masa lalu yang lebih jauh. Terputusnya pemahaman yang baik tentang Indonesia terkait dengan penggantian huruf Arab-Jawi (Arabic-Jawi Script) kepada huruf Romawi (Roman script). Padahal, sejarah tentang kesatuan bangsa ini sebelum kemerdekaan banyak ditulis dalam huruf Arab-Jawi. Para penjajah sangat sadar bahwa peralihan morfologi ini akan sangat berperan dalam proses de-islamisasi terhadap bangsa ini.
            Sikap jahil atau tidak tahu tentang masa lalu tersebut diperparah dengan fiksi atau rekaan orientalis yang disebarluaskan lewat sistem pendidikan penjajah. Perendahan dan penghinaan penjajah terhadap bangsa ini dilakukan dengan cara yang santun. Ilmu pengetahuan dicampur-aduk dengan asumsi atau anggapan, lalu hasilnya disebut sebagai ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, keinsyafan bahwa ilmu itu tidak netral merupakan sesuatu yang penting. Tanpa hal tersebut, penerimaan mentah-mentah apa yang datang dari pandangan hidup yang asing hanya akan lebih banyak merusak dibanding membangun.
            Dengan kerusakan karena kejahilan dan pengaburan sejarah tersebut dapat membuat kita putus harapan seolah-olah terjebak dalam jalan buntu. Semakin parah lagi, jika kondisi ini disertai dengan jurang generasi (gap generation) antara generasi muda, orang tua, dan lanjut usia. Sebuah kondisi yang disebabkan karena kehilangan teladan di dalam masyarakat (S.M. Naquib al-Attas. Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 2001, hlm. 81-82). Pencarian jati diri menjadi tema utama, tapi hanya berujung kepada kegagalan. Kebebasan yang diinginkan telah didapatkan. Namun, kebebasan yang nista hanya akan berujung kepada kekecewaan.
            Kejahilan, kekaburan sejarah, dan penghinaan terhadap orang-orang besar kita yang juga kita setujui, tentu akan harga diri kita. Seringkali, sembari mencoba menghina dengan bangga, kita mengutip sikap Peradaban Barat terhadap sejarahnya sendiri. Gema ungkapan ana rijāl wa antum rijāl (saya manusia dan anda manusia) terucap lisan dan tersirat dalam sikap. Sikap yang bahkan ditujukan kepada Rasulullah saw., sembari mengutip sebuah ayat dengan pemahaman yang keliru dan mengelirukan. Akhirnya, setiap orang besar menjadi sangat mungkin untuk dilecehkan dan dicela. Bahkan, menghormati mereka yang berhak dihormati pun hampir-hampir mendapat celaan pula (‘Abbas Mahmūd al-Aqqād. Abqariyyatu al-Shiddiqī. Jakarta: Bulan Bintang, 1978, hlm. 11)
            Pembenaran diberikan dengan fakta sejarah tentang pertentangan antar orang-orang besar tersebut. Pembenaran yang disertai dengan perasaan bahwa dirinya sudah berada pada taraf yang sama dengan orang-orang besar tersebut. Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, seorang pakar dalam pemikiran Islam dan filsafat pendidikan, menyampaikan di dalam kuliahnya bahwa jika kita memperhatikan kesalahan atau keburukan orang-orang besar yang kita kaji, maka kita akan merugi. Pemikir Muslim asal Malaysia tersebut menambahkan bahwa kita akan merugi karena tidak dapat mengambil pelajaran penting dari orang-orang besar tersebut. Padahal, sikap yang adil terhadap mereka adalah dengan menghargai sumbangan mereka dan meletakkan kesalahan mereka pada tempatnya, sembari masih dapat tetap menghormati mereka.
             ‘Abbas Mahmūd al-Aqqād juga menilai penting untuk mengubah penilaian kita terhadap tokoh-tokoh kita pada masa lalu. Ia menyebut perubahan penilaian tersebut dengan istilah “rehabilitasi anggapan” dalam bahasa hukum (al-Aqqād: 12). Menurut al-Aqqād, ukuran untuk menilai tokoh-tokoh yang besar bukanlah dengan ukuran orang awam. al-Aqqād juga menyerukan agar memperhatikan lebih dahulu apa yang mereka tinggalkan sesuatu mereka pergi yang berupa ketinggian. Usai itu, barulah kita berhak mencela. Meski demikian, siapa yang menempuh bahaya dalam urusan yang besar, maka ia tidak dapat dicela karena bahaya itu (al-Aqqād: 10)
            Sikap di atas banyak dipengaruhi oleh Barat (al-Aqqād: 13). Jika hendak belajar kepada Barat, seharusnya kita juga belajar bagaimana mereka menyikapi tokoh-tokoh besar mereka. Orang Barat begitu kagum dengan pendahulu mereka. Bahkan, kesalahan-kesalahan para pendahulu mereka, misalnya Ludwig Wittgenstein, dianggap sebagai berkah bagi peradaban mereka.
Meskipun, terdapat kritik pemikir Barat terhadap sikap Barat terhadap masa lalu mereka sendiri., sebenarnya telah membuat Barat tidak maju dalam metafisika, filsafat alam, filsafat pikiran, dan filsafat moral (Mortimer J. Adler. Ten Philosophical Mistakes. New York: Macmillan Publishing Company, 1985, hlm. 192). Mortimer J. Adler, seorang pemikir besar asal Amerika, menyatakan bahwa dirinya adalah seorang pengagum Aristoteles dan Thomas Aquinas karena mereka telah memberikan pandangan-pandangan penting dan kebijaksanaan falsafi (Adler: 195).
Ketidakadilan dan citra miring terhadap Aristoteles muncul di Barat dari para pengajar filsafat yang mengalami kemunduran kualitas. Mereka mengajar di universitas-universitas abad ke-16 dan ke-17 (Adler: 196). Bahkan, Adler mengatakan bahwa kebodohan dan kesalahpahaman terhadap kebenaranlah yang telah dibangun oleh Barat modern karena kesalahan tersebut (Adler: 198). Penghargaan yang serupa kepada Thomas Aquinas juga dimiliki oleh Étienne Gilson dalam salah satu karyanya God and Philosophy, New Haven & London University Press, 1941.
            Ketika pahlawan sudah dilawan oleh kebodohan kita sendiri, maka ia bukan lagi pahlawan. Jika mereka yang disebut pahlawan saja sudah begitu dikecilkan, maka bagaimana dengan mereka yang mengecilkan. Prof Wan Mohd Nor dalam buku puisinya Mutiara Taman Adabi menyatakan bahwa jika Abu Bakr al-Shiddīq dan para sahabat Nabi saja sudah dikecilkan dan tidak dihormati, apatah lagi kita yang mengikuti jejak dan teladan mereka.
            Jika caci-maki sudah lebih menarik daripada mengapresiasi jasa-jasa, maka perjalanan ruhaniah individu dan masyarakat akan terhambat. Akibatnya, kebahagiaan yang diidam-idamkan hanya terpenuhi pada tataran jasmani.
            Jika perhatian terhadap “titik-titik hitam” tokoh-tokoh besar kita dianggap sebagai tanda ketinggian intelektualitas, lalu membuang seluruh “dinding putih yang luas” sumbangan mereka, maka dunia baru yang diciptakan oleh generasi setelahnya hanya akan “dihitamkan” dalam kebahagiaan yang palsu.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname