SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Rabu, 28 Agustus 2013

PENGADABAN DAN PERADABAN


 Oleh Khayrurrijal

Mahasiswa pascasarjana Centre for Advanced Studies on Science, Islam, and Civilization (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

           
Perkelahian pelajar belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Peristiwa “lazim” tersebut membuat banyak pihak berkerut dahi dan bertanya dalam hati: Ada apa dengan para pelajar? Mengapa mereka mudah sekali berkelahi?
Perkelahian menandakan adanya pertentangan. Dalam kasus antar pelajar, maka terjadi pertentangan antar pelajar tersebut. Penyebab pertentangan yang mudah terlihat adalah soal gengsi atau harga diri, solidaritas pertemanan, dan perempuan. Tiga penyebab tersebut dapat memicu pertentangan atau konflik fisik di antara mereka. Sebuah pertentangan yang merusak sarana dan prasarana sekolah, trauma, dan bahkan merenggut banyak nyawa.
Jika kondisi demikian sudah terjadi, maka nampaknya tujuan pendidikan negeri belum sepenuhnya berhasil. Pendidikan bertujuan menciptakan manusia yang baik. Sebab, pendidikan bertujuan menghasilkan manusia yang terdidik. Tapi, apa yang sebenarnya dipahami sebagai pendidikan oleh bangsa ini? Bukan hanya melihat apa yang tertulis dalam peraturan-peraturan departemen pendidikan dan lembaga pendidikan. Tetapi, juga melihat praktek pendidikan bangsa ini.

Pendidikan dan Pengajaran

Dalam bahasa Melayu-Indonesia, pendidikan merupakan sesuatu yang berbeda dengan pengajaran. Pengajaran, yang memiliki kata dasar ajar, bermakna bermakna cara, proses, perbuatan mengajar dan memberikan petunjuk kepada orang supaya diketahui (diturut). Dari sini pula kata belajar menjadi bermakna tindakan berusaha mengetahui sesuatu dan memperoleh ilmu pengetahuan. Mengajar bermakna memberikan serta menjelaskan kepada orang tentang suatu ilmu pengetahuan, dan juga bermakna melatih. Mempelajari bermakna belajar sesuatu secara mendalam. Dengan inilah kita dapat mengenali makna pelajar sebagai orang yang belajar (di sekolah) (Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 23).
Di sisi lain, pendidikan memiliki kata dasar didik yang bermakna hal, perbuatan, cara mendidik, yakni memelihara dan memberi latihan tentang ajaran, kepemimpinan, akhlak, dan kecerdasan pikiran. (Kamus Bahasa Indonesia: 353).
Terlihat dengan jelas bahwa makna pendidikan sudah mencakup apa yang ada di dalam makna pengajaran. Bahkan, pendidikan merupakan kata yang hanya dapat ditujukan kepada manusia, bukan binatang (Wan Mohd Nor Wan Daud. The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas. Kuala Lumpur: ISTAC, 1998, hlm. 143).
Ada satu hal penting yang dapat disoroti dari makna leksikal pelajar. Pelajar dimaknai sebagai orang yang belajar di sekolah. Kesan pembatasan makna pelajar berakibat pula pada pembatasan makna pengajaran dan pendidikan. Pendidikan hanya diselenggarakan di dalam sekolah. Tetapi, di luar sekolah, ada banyak hal yang kontraproduktif dengan pendidikan. Bukankah pelajar adalah sifat yang melekat pada diri manusia yang memiliki hasrat untuk mengetahui?
Pembatasan ini menjadi bermasalah karena belajar dimaknai sebagai berusaha mengetahui sesuatu dan memperoleh ilmu pengetahuan. Jika belajar hanya dapat terjadi di sekolah, maka makna belajar tersebut menjadi terbatasi. Sebuah pembatasan yang berujung kepada beragam permasalahan.

Pembatasan Pendidikan

Terbaginya dunia menjadi pendidikan dan bukan pendidikan (dalam arti memiliki nilai pendidikan) membuat tujuan pendidikan akan sangat sulit tercapai. Korupsi diajarkan sebagai sesuatu yang buruk. Tapi, di luar sekolah, para koruptor yang tampil dalam berbagai media, justru tampak sebagai sesuatu yang baik.
            Para penjahat besar yang harusnya menerima hukuman lebih besar, justru hanya mendapat hukuman seperti penjahat kecil. Parahnya, retorika para penjahat tersebut membuat para pelajar membentuk konsep baik dan buruk sesuai dengan retorika tersebut. Kondisi budaya, bahasa, lingkungan alam, dan kondisi sosial berperan penting dalam mengajukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam benak para pelajar (Alparslan Acikgence. Islamic Science: Towards Definitions. Kuala Lumpur: ISTAC, 1996, hlm. 15). Akhirnya, pembenaran atas kesalahan menjadi kebenaran itu sendiri. Walhasil, pendidikan formal di sekolah, menjadi sangat formal hingga menjadi formalitas belaka.
            Lebih parah lagi ketika dunia pendidikan sudah menjadi ladang mencari keuntungan material dan politis. Korupsi kecil-kecilan dan besar-besaran pun atas dasar tradisi dan kebiasaan membuat guru tidak lagi menjai guru. Padahal peran guru sangat penting (Wan Mohd Nor Wan Daud: 234). Guru tidak lagi menjadi teladan. Ilmu para guru mengering di lembaran ijazah mereka. Sekolah menjadi tempat pembicaraan tentang kebaikan, sedangkan dunia nyata seolah tidak lagi menyediakan tempat bagi kebaikan dan keburukan. Kekuatanlah menjadi ukuran dunia nyata. Bahkan, dunia nyata bukannya lagi tempat bicara tentang baik dan buruk.
           
Kerusakan dan Kehilangan Adab

Kondisi demikian merupakan tanda kerusakan adab (S.M. Naquib al-Attas (ed.). Aims and Objectives of Islamic Education. Jeddah: King Abdul Aziz Unviersity, 1979, hlm. 2). Kerusakan yang juga menyiratkan kehilangan disiplin jasmani, pikiran, dan ruhani. Akhirnya, kerusakan tersebut menjalar ke segala bidang kehidupan.
            Pertentangan dan kerusakan yang bersifat batin tersebut akan jelas tampak pada kegelisahan pada diri para pelajar. Mereka dapat menjadi ragu tentang kebenaran, kebaikan, keburukan, kebahagiaan. Mereka menjadi seperti pemuda Barat yang haus akan kebebasan untuk mencari kebenaran, tapi tetap gagal, seperti cerita paradoks Sisyphus (S.M. Naquib al-Attas. Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 2001, hlm. 81).
            Kebebasan mencari yang tidak disertai sikap yang beradab kepada diri sendiri, kepada orang tua, guru, para pemimpin, akhirnya hanya menjadikan para pemuda itu menjadi sama saja dengan orang-orang yang mereka kritik. Adab yang direduksi pada sopan santun hanya akan membuat kata peradaban kehilangan makna kemajuan dan kecerdasan kebudayaan secara lahir dan batin (Kamus Bahasa Indonesia: 9).

Pendidikan (Pengadaban) dan Peradaban

Pendidikan, sebagai pengadaban, sangat terkait dengan peradaban. Bukti morfologis dan semantik sudah menunjukkan hal tersebut. Pendidikan bernilai sangat penting dalam pembangunan peradaban karena merupakan tempat pencetakkan generasi sebuah masyarakat.
Mereka yang sedang dididik harus dilindungi, bahkan dari keburukan bangsanya sendiri. Para pelajar menjadi harta berharga bagi bangsa. Mereka diperkenalkan dengan harta bangsa, yakni ilmu. Harta tersebut terekam dalam karya-karya penting para pendahulunya. Mereka dididik dengan karya terbaik agar mereka dapat berbuat lebih baik dari generasi terdahulunya.
            Penjagaan terhadap para pelajar, sudah seharusnya didukung oleh seluruh bidang kehidupan di dalam masyarakat. Media massa, partai politik, organisasi kepemudaan dan masyarakat, seharusnya menyajikan tampilan dan perilaku yang mendukung itu semua. Setiap harus dihilangkan, termasuk kebodohan tingkat lanjut sebagai bentuk keras kepalanya hawa nafsu manusia. Jadi, pemerintah bukan hanya bertanggungjawab menyiapkan dana pendidikan, tapi juga menjamin bahwa pendidikan berlangsung dengan baik dengan dukungan seluruh bidang pemerintahan.
            Jika ilmu sudah dianggap sebagai sebuah keutamaan tertinggi oleh pribadi dan masyarakat di setiap tingkatan, maka budaya ilmu yang tercipta akan mendukung pembangunan peradaban (Wan Mohd Nor Wan Daud. Budaya Ilmu, Satu Penjelasan. Singapura: Pustaka Nasional, 2007,  hlm. 29).

            Jika seorang pelajar mulai memahami tentang nilai penting adab, maka permulaan mengamalkan adab adalah langkah nyata dalam pembangunan kehidupan diri, masyarakat, bangsa, negara, dan agama yang bersifat peradaban.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname