Hari ini, merupakan hari yang dijadikan saat pengingatan terhadap AIDS yang disebabkan oleh HIV. Manusia masih sangat takut dengan virus ini. Namun, dengan ragu-ragu mendekat dan akhirnya hidup dan mati bersama virus ini.
Banyak sudah, institusi yang mengkampanyekan agar masyarakat memiliki informasi tentang HIV, cara penularan, pencegahan, dan perlakuan yang sepatutnya dilakukan terhadap ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Namun, sayangnya informasi ini tidak mampu berubah untuk mendorong tindakan manusia dalam rangka menyelamatkan kehidupannya. Lalu, apakah yang sudah dilakukan adalah usaha sia-sia? Tentu saja tidak. Yang penting adalah melakukan apa yang dapat dilakukan, meskipun menghadapi sedemikian besar hambatan.
Jika diingat, HIV/ AIDS adalah sebuah penyakit yang diderita karena hubungan seksual, penyalahgunaan narkoba, dan pembuatan tato atau tindik. Lalu, karena HIV/AIDS belum dapat diobati, maka yang dilakukan adalah pencegahan. Pencegahan yang dikampanyekan adalah melakukan hubungan seksual secara terlindungi (kondom) dan setia, jangan menyalahgunakan narkoba, dan lain-lain. Seruan ini pada dasarnya adalah baik, namun juga rasanya perlu diperhatikan jaringan lain dari penyakit ini.
Penyakit ini adalah buah dari seks bebas yang dilakukan di daerah mana saja (tidak diskriminatif) yang kemudian tersebar lagi melalui penyalahgunaan narkoba yang juga dilakukan di banyak wilayah di dunia. Kalau dilihat secara jelas, inilah salah satu masalah besarnya. Yaitu permasalahan gaya hidup yang sudah terinformasi dan terinternalisasi lewat media. Sehingga AIDS jelas ada korelasinya dengan seks bebas, dan jangan malah kita menutup mata kita tentang hal ini. Namun, rasanya masih kurang perhatian terhadap yang satu ini, khususnya seks bebas, yang karena tidak bisa dihentikan, kemudian hanya diingatkan untuk memakai kondom. Seks bebas seolah tidak dapat dihentikan.Seks terus menjadi perbincangan dan akhirnya semakin banal. Ke-banal-an ini akhirnya membuat mereka akhirnya merasa hampa dengan apa yang mereka lakukan. Mereka menjadi tidak puas dengan manusia, kemudian dengan binatang. Apakah ini? Seks bebas ini, jika dilihat secara historis, dilacak oleh Michel Foucault, berasal dari aktivitas pengakuan-dosa Kristen yang malah sampai sekarang menjadi sesuatu yang tidak diselesaikan.
Apakah para pelaku seks bebas ini sebaiknya ditahan saja? Bukan karena penyakit AIDS-nya (kalau berpenyakit), tetapi karena perilakunya, bisakah? Mungkin ada yang akan menjawab:”itukan tidak melanggar peraturan, itukan hak asasi manusia, itukan urusan gue!” dan lain sebagainya. Coba kita renungkan!
Kemudian, kampanye tentang pemakaian kondom, memang dapat pula dinilai sebagai sesuatu yang meminimalisir penyebaran penyakit. Tapi, juga perlu diingat bahwa kondom tidak menghilangkan penyakit dan seks bebas. Ada sisi lain dari kondom, positif maupun negatif, dan ini harus disadari, bukan hanya dilihat dari sisi positif ataupun negatif. Namun, ada yang aneh. Kondom yang jika dikampanyekan untuk mencegah HIV, mengapa kemudian ada kondom yang memiliki rasa, mengapa terasa atmosfir kapitalisme yang memanfaatkan ini? Bagaimana menurut anda?
Bagaimana pula dengan media yang dimiliki oleh Amerika Serikat? Mengapa mereka tidak gencar seperti ketika mengkampanyekan tentang anti-terorisme? Apakah Amerika sendiri sebenarnya tidak memiliki kekuatan apapun terhadap liberalisme radikal yang ada, kapitalisme, kehancuran masyarakatnya yang “menular”. Mengapa pula pendidikan bukan lagi tentang mendidik, tetapi menjadi memberikan informasi dan bukan pengetahuan? Lembaga pendidikan menjadi banal dan tidak ada ilmu untuk ilmu. Ilmu itu untuk maslahat, untuk takwa, untuk akhirnya sujud (Q.S. al ‘Alaq). Mari kita renungkan, apa yang terjadi dengan manusia? Yang makin sombong dengan apa yang dicapainya, dengan rasio dan pengalaman inderawinya; yang sempit mengerti hidup (hidup yang individualis); astagfirullah......Renungkanlah wahai manusia!
Masalah yang paling besar dari buah (AIDS) ini adalah kerusakan pandangan-dunia (worldview). Barat yang rusak ini, dengan mengambil sekulerisme, mereka telah menjadikan “pandangan-dunia” yang mereka bangun berkontradiksi satu sama lain. Pandangan tentang Tuhan, Manusia, Takdir, Kebahagiaan, Mati dan Hidup, dan lain-lain. Bangunan yang kontradiktif itu kemudian mereka bagikan dan berusaha mereka yakinkan kepada semua manusia bahwa ini yang terbaik. Sebuah bangunan yang memiliki banyak keraguan di dalamnya, sikap pesimis, apatis, dan berlebihan dalam menggeluti ke-banal-an (kedangkalan) hidup mereka. Hidup mereka hampa, dan itu berusaha mereka tularkan juga kepada semua manusia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar