oleh khayrurrijal
Telah sampai padaku hikayat nasib sang kata di dunia-manusia sekarang ini. Sudah banyak serangan dari para ahli bahasa kontemporer tentang dirinya. Ia diceraikan dari pengarangnya. Pengarangnya telah dimatikan (the author was dead). Akan tetapi, daripada melihat pendapat para pembunuh itu, hatiku lebih merasa tertarik untuk mengetahui pendapat sang kata itu sendiri tentang kondisi ini. Sesungguhnya, bagaimana hikayat kelahiran, kehidupan, hingga kematian sang kata?
Sang kata dilahirkan oleh pengarangnya. Sang kata dihadirkan oleh pengarang sebagai simbol untuk menunjuk kepada alam semesta yang terhampar di hadapannya atau yang tersembunyi di dalam dirinya. Sungguh, alam semesta memang sangat berfaedah dalam membantu manusia melihat perbedaan tempat inderawi dengan benda-benda alam yang kadang sama dan kadang berbeda. Oleh karena itu, sang kata adalah penghubung kepada sang makna, yang dapat berupa citra dan benda alam semesta.
Dalam perjalanan kehidupannya, sang kata juga berteman dengan sesamanya. Mereka kemudian membentuk kalimat, paragraf, bab, dan kitab. Kadangkala saat mereka berkumpul, kalimat yang terbentuk dapat saja menjadi tidak koheren atau bahkan tidak logis. Kalimat demi kalimat yang terangkai oleh kata-kata akhirnya membuat desa kata, hingga menjadi peradaban kata. Peradaban ini pun begitu besar, terbentang dari kata yang dijaga secara lisan hingga kata yang dijaga secara tulisan.
Sang kata jelas memiliki batas kehidupan. Ia pun akan menemui kematian. Sang kata dapat saja berjalan melewati gelombang suara lalu masuk ke dalam gendang telinga; ia juga bisa saja tercetak atas pantulan cahaya lalu masuk ke dalam mata. Namun, saat ia telah memenuhi misi yang diembannya, saat itulah ia tiba pada kematiannya. Misi itu adalah tersampaikannya sang makna.
Sungguh sang kata memang bukan berada di alam materi dan bukan pula pikiran itu sendiri. Sang kata berada di dunia perantara, antara pikiran dan realitas. Ia dilahirkan pikiran, lalu masuk kembali ke jantung wujud, dan akhirnya mati. Namun demikian, ia dihidupkan kembali oleh pikiran, dalam bentuk yang sama seperti sebelumnya. Ia lalu masuk kembali ke jantung wujud, dan akhirnya kembali mati. Tak usahlah kita bersedih atas kematian sang kata. Sebab sang kata rela mati demi cintanya terhadap makna, yang dititipkan oleh pengarang. Maknalah alasan dia hidup. Itu adalah raison d’etre dirinya. Ia sama sekali tidak menyesal telah lahir, hidup, lalu mati, demi sang makna. Ia justru bersedih, saat pengarangnya dimatikan. Sebab, bagaimana asal mula kelahirannya dan yang akan melahirkannya kembali sebagaimana sebelumnya, telah dimatikan? Sang kata sungguh insyaf bahwa sang pengarang melahirkannya penuh dengan pertimbangan. Sang kata memang bukan realitas itu sendiri dan ia sadar bahwa hubungannya dengan realitas itu dibuatkan oleh sang pengarang. Akan tetapi, ia juga merasa bahwa untuk apa jika kata pepaya kemudian diubah menjadi mangga? Mengapa asal kelahiran pepaya kemudian dibunuh hanya dengan alasan bahwa hubungan pepaya dengan realitas pepaya itu dibuatkan oleh pengarangnya? Atau, contoh lain, mengapa pengarang kata sakit dibunuh? Bukankah akhirnya hanya memunculkan hilangnya penghubung paling tepat tentang peristiwa sakit? Ini pun hanya menimbulkan kesulitan yang lebih besar sebagai harga yang harus dibayar karena alasan konstruksionis. Sang kata sangat berorientasi pada makna yang benar dari pengarangnya. Membunuh pengarangnya hanya akan membuat hilangnya makna yang adil bagi sang kata.
Pengarang sang kata pasti memiliki pertimbangan yang luas tentang penciptaan suatu kata. Sebab, ada banyak benda dan realitas yang ada di hadapan atau yang tersembunyi darinya. Salah satu sang pengarang itu adalah manusia. Dialah yang menciptakan hampir seluruh kata-kata yang ada. Namun selain dirinya, terdapat Pengarang Terbesar, dengan ketepatan, koherensi, kohesi, jalinan akar kata, yang paling sempurna dalam Penciptaan kata. Meskipun manusia adalah salah satu pengarang kata, ia kalah sempurna dari Pengarang Terbesar ini. Pengetahuan-Nya yang maha luas dan Ia merupakan Realitas-Kebenaran (al-Haqq) itu sendiri, membuat penciptaan atau persetujuan-Nya atas suatu kata menjadi hakim yang seadil-adilnya bagi sang kata, dan bahkan bagi manusia. Pengarang Terbesar itu adalah Tuhan. Meskipun manusialah yang banyak menciptakan kata, namun persetujuan atau penolakan dari Tuhan lewat Otoritas- Kata-Kata yang diwahyukan-Nya menjadi hal yang sangat penting bagi sang kata. Tuhan tidak harus menciptakan kata-kata tertentu, meskipun dia bisa, tetapi yang lebih penting dari hal tersebut adalah persetujuan atau penolakannya terhadap suatu kata.
Akhirnya, sungguh meletakkan asal kelahiran kata, kehidupan, hingga kematiannya pada tempat yang tepat akan membuat sang kata bahagia. Terlebih lagi, Otoritas Pengarang Terbesar yang akan selalu menemaninya. Sang kata sadar bahwa ia lahir, hidup, lalu mati, demi sang makna. Keserupaan akan hal ini pun ada pada diri manusia. Ia lahir, hidup, lalu mati dengan mengandung makna yang dititipkan Sang Pengarang Terbesar, yang telah Menciptakan dirinya. Jangan pisahkan sang kata, termasuk manusia, dari Pengarangnya, sebab itu adalah kesalahan dan kesengsaraan besar yang nyata. Innalillāhi wa innailahi rāji’ūn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar