oleh khayrurrijal
Dalam dunia bahasa, cukup menarik untuk disimak tesis yang diusung oleh kalangan tertentu dengan slogan the death of the author. Tesis tersebut berbicara tentang otonomi pembaca dalam membaca sebuah teks. Sebenarnya tesis ini dikeluarkan dalam konteks kritik terhadap kecenderungan dominan untuk mengembalikan apa yang dimaksud dalam teks, dengan maksud pengarang. Teks adalah sesuatu yang ditulis oleh seorang pengarang. Dalam memahami isi teks, pembaca harus memahami teks sebagaimana pengarang memahami teks tersebut. Para pembaca pada masa “otonomi pengarang” ini selalu berusaha untuk merekonstruksi pikiran pengarang, selain juga memperhatikan tata bahasa (hal ini diutarakan oleh Schleimacher). Namun, kemudian Dilthey memberikan kritik bahwa apa yang diutarakan oleh Schleimacher terlihat anti-historis. Oleh karena itu, Dilthey kemudian menekankan pada pendekatan historis terhadap teks. Karena sebuah teks muncul, dengan konteksnya. Pandangan Dilthey kemudian dikembangkan, oleh Heidegger, menuju ranah eksistensialisme. Pada ranah inilah kemudian penekanan pada otonomi pembaca terjadi. Penekanan pada otonomi pembaca juga terjadi pada ranah strukturalisme. Yang secara spesifik melontarkan slogan The death of the author. Pengembangan teori penafsiran ini kemudian dilanjutkan oleh Gadamer dengan the fusion of horizons yang kemudian dikritik lagi oleh Habermas, yang melihat bahwa hal tersebut kurang memiliki kesadaran sosial yang kritis. Menurut Habermas, pemahaman didahului oleh kepentingan yang juga melibatkan kepentingan kekuasaan.
Slogan the death of the author, hingga kini masih digunakan oleh banyak ahli bahasa dan juga para pembaca yang mengikuti trend pos-strukturalisme. Kalangan yang mengeluarkan anti-tesa terhadap kecenderungan ini, melihat bahwa otonomi pengarang sedemikian besar dan memarginalkan peran pembaca dalam membaca. Perlawanan terhadap otonomi pengarang, dilakukan karena pembaca akan mengalami kesulitan dalam usahanya memahami maksud pengarang. Kesulitan itu terutama terjadi jika pengarang tersebut sudah mati. Kesulitan lain adalah mengenai merekonstruksi atau proses empati terhadap pengarang yang cukup menyulitkan pembaca. Daripada membuat sulit, pembaca akan lebih mudah untuk memaknai teks terhadap dirinya, terputus dari apa maksud pengarang.
Kemudian, berkaitan dengan dunia bahasa, istilah ‘etimologi’ adalah istilah yang cukup akrab. Etimologi berarti ilmu pengetahuan tentang akar kata. Pembahasan etimologi biasanya sering kali dilakukan pada saat awal pembahasan suatu hal. Hal ini ditujukan agar memahami pembicaraan yang tepat tentang suatu subjek. Perujukan akar kata sebuah istilah – dalam ilmu pengetahuan – sering dilakukan, khususnya kepada bahasa latin atau bahasa yunani atau bahasa sansekerta atau bahasa arab.
Jika dilihat, apa yang dibahas dalam uraian awal dengan uraian di atas akan terlihat hal yang cukup menarik. Yaitu, di awal penulis menggambarkan kondisi yang akhirnya memutuskan hubungan pembaca dan pengarang, dan mengatakan bahwa the death of the author, maka uraian tentang etimologi menunjukkan kondisi the re-birth of the author. Etimologi, dikatakan demikian, karena perujukan kepada akar kata adalah tindakan yang sebenarnya merujuk kepada pencetus/pengarang akar kata tersebut. Pengarang akar kata selalu “dihidupkan” di awal pembahasan tentang segala hal. Dan perujukan ini pun dilakukan oleh orang-orang yang masih berpegang kepada the death of the author. Menurut penulis, tindakan tersebut menunjukkan kontradiksi yang cukup serius. Oleh karena, seseorang tersebut menjadi dua pribadi yang berbeda sekaligus.
Namun, perujukan kepada akar kata yang dilakukan oleh para pengajar tidak sepenuhnya tepat. Sebab, seringkali perujukan dilakukan bukan kepada akar kata istilah tersebut. Misalnya, ‘ilmu’ dirujukkan kepada ‘science’ dan dirujukkan lagi kepada akar kata dalam bahasa Yunani. Padahal, ‘ilmu’ berasal dari bahasa arab, dan tepat jika dirujukkan kepada bahasa arab, bukan kepada bahasa Yunani. Kondisi yang salah kaprah ini, menurut penulis dilatarbelakangi oleh kondisi seolah-olah bahasa Inggrislah yang superior – yang kemudian berakar pada bahasa Latin atau Yunani. Padahal, hal ini akan cenderung mengaburkan akar kata yang sebenarnya. Dan akhirnya memberikan definisi yang tidak tepat (lebih lanjut dapat dibaca tulisan saya yang berjudul Mencari Definisi “Kebudayaan”). Definisi tersebut akhirnya akan cenderung merusak kosmologi bahasa suatu “kebudayaan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar