oleh khayrurrijal
Hidup dan mati, adalah dua istilah yang sering terucap namun sering pula tak dipahami. Apa itu “hidup” dan “mati”? apa artinya jika aku katakan bahwa aku hidup? Mungkin artinya karena aku bernapas, melihat, mendengar, merasakan, berjalan, makan, minum. Tetapi, bagaimana dengan orang lain yang sama sepertiku, namun merasa sudah mati. Mereka makan, minum, bernapas, tapi terlihat seperti orang mati. Apakah menginderai tidak cukup dikatakan sebagai hidup? Lalu bagaimana supaya mencukupi?
Ada orang yang berkata bahwa aku hidup jika aku berpikir. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang dalam kondisi koma, bukankah mereka tetap hidup, walaupun tidak berpikir. Dan juga bagaimana ketika aku sedih, gembira, dan ber-emosi lainnya, apakah itu berarti aku tidak hidup?
Hidup bagi orang yang gembira, adalah sebuah anugerah yang tidak ingin diakhiri. Hidup ingin dinikmati dalam keabadian. Namun, apakah keabadian ada di dunia ini? Karena semuanya sedang menuju kematian.
Hidup bagi orang yang sedih, adalah pukulan, tamparan, isak tangis, yang rasanya ingin segera disudahi. Hidup ingin dihentikan, menuju kematian. Karena kematian rasanya akan menyudahi kesedihan. Namun, bukankah kesedihan dapat berakhir? Dan apakah kematian akan benar-benar menyudahi kesedihan? Atau itu semua hanya prasangka yang lemah.
Hidup bagi seorang eksistensialis adalah sebuah kutukan. Karena manusia, lewat fenomenologi, nampak terlempar dari dunia antah-berantah. Hidup di tengah dunia yang terhampar, tanpa tujuan, tanpa makna. Manusia harus berjuang dengan yang dimilikinya yaitu tubuh, akal dan rasa, namun.....untuk apa? Untuk apa hidup jika tak tahu apa tujuan hidup. Akhirnya ditentukanlah oleh manusia mengapa dan bagaimana ia hidup. Manusia dengan kutukan kebebasannya terus dalam nelangsa untuk terus menggunakan sarana kesadaran sebagai kekuatan peniada, agar Being sudi untuk mewartakan dirinya. Manusia yang terbatas, berusaha untuk menciptakan perangkat hidupnya. Tuhan, agama, kebahagiaan, makna, pengetahuan, kebaikan, keburukan, kebebasan, dirumuskan semua. Untuk kemudian dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani kehidupannya. Hidup adalah seperti Sisifus yang merasa absurd, namun tetap enggan untuk menjemput kematian. Hidup, dirasakan lebih nyaman dibandingkan untuk mati. Mati, nampaknya tidak perlu dijemput, karena manusia ada-menuju-kematian. Hidup adalah bergelut dengan kecemasan dan kemudian mengabaikannya. Hidup menjadi sedemikian mencekam, yang memeluk erat, dan terus mengahantui. Ada sebagian yang menyarankan agar melakukan loncatan spiritual, namun tetap juga tiba di belantara yang semakin kelam.
Hidup bagi seorang pendusta, adalah bagaimana memainkan peran dalam berbagai topeng. Hidupnya penuh keterpecahan, yang bahkan membuatnya lupa siapa dirinya. bahkan dirinya tak lagi mempercayai dirinya, karena kejujuran terasa seperti sesuatu yang telah mati.
Hidup bagi seorang kapitalis, adalah kesempatan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Meskipun dengan mengeksploitasi alam, termasuk manusia. Hidup digunakan semaksimal mungkin untuk memuaskan keinginan diri, yang ternyata terus menaikkan standarnya. Menaikkan standar hingga kemudian menjadi sangat banal. Hidup menjadi sedemikian dangkal dan kering. Uang terhambur namun tak mengisi apa pun di dalam jiwa. Kesenangan material tak lagi membahagiakan. Hidup menjadi tak berarti dan hanya diisi oleh sepi.
Hidup bagi sosialis dan komunis adalah hidup bagi orang lain. Hidup yang nampak menghilangkan diri dalam lautan orang. Menjadikan diri anonim. Menyatukan kesadaran diri dalam sebuah lamunan akan surga di dunia. Surga yang menjadikan segala sesuatu menjadi milik bersama. Tidak ada eskploitasi. Namun, ternyata dominasi tetap ada, dan cita-cita belum kunjung tiba, mungkin hingga akhir zaman.
Hidup bagi seorang sekuler, adalah keterpisahan bagian-bagian kehidupan. saya adalah pekerja di satu sisi dan pemeluk agama di sisi lain. Saya adalah rakyat di satu sisi, dan koruptor di sisi lain. Hidup menjadi sedemikian terpecah. Pecahan yang sulit untuk disatukan, karena tidak ada kesesuaian satu sama lain. Manusia menjadi mengidap schizoprenia dan split-personality, karena hidupnya untuk hidup itu sendiri, seperti seni untuk seni, bisnis untuk bisnis, sains untuk sains, alam untuk alam, petanda untuk menunjuk petanda.
Banyak pula yang bilang bahwa untuk mengenal hidup, maka kita harus mengenal mati. Apakah itu mati? Kematian adalah sesuatu yang sangat ditakuti oleh makhluk yang mencintai hidup. Namun, kematian juga dianggap jalan keluar dari penderitaan yang dialami di dunia. Kematian, bukan merupakan akhir sebuah perjalanan, tetapi merupakan sebuah awal dari tidur yang panjang dan kesadaran yang semakin tajam.
Mati, bagi insan pencinta dunia, akan sangat menyakitkan. Karena hartanya akan diambil orang lain dan tak dapat dinikmati usai ia mati. Bahkan yang ekstrim, hartanya dikubur pula bersamanya.
Mati, bagi seorang ateis adalah waktu pembuktian bahwa tidak ada hari setelah kematian. Kematian adalah kesudahan segala absurditas kehidupan. Mati......
Hidup dan mati bagi seorang yang mempercayai keterangan-keterangan yang nyata, pembeda, petunjuk, dari Yang Maha Hidup, adalah sebuah masa penyembahan kepada-Nya. Sebuah kesempatan untuk menjadi khalifah, hamba, dan rahmat bagi seluruh alam. Hidup adalah pertemuan dan mati adalah perpisahan. Hidup seseorang akan semakin meluas ketika ia mengalami banyak pertemuan. Ketika ruh dan jasad bertemu, ketika diri dengan orang lain bertemu, ketika diri mulai berkreasi, ketika diri mulai membangun alam, ketika diri terus bertemu dengan derasnya arus kehidupan. namun, pertemuan berteman dengan perpisahan. Perlahan-lahan, kita berpisah dengan kekayaan, budaya, politik, pengetahuan, indera, dunia, dan akhirnya ruh dari jasad.
Namun, perpisahan tadi hanyalah sementara, karena akan ada pertemuan lainnya. Di barzakh, mizan, dan taman akhirat, yang menghadirkan keabadian secara nyata. Menghadirkan taman yang asri atau api yang menyala. Sebuah keniscayaan atas janji al ‘Adziim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar