SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

TRAGEDI BARAT: KANDUNGAN PENTING IMPERIALISME BARU

oleh khayrurrijal

Praktek imperialisme merupakan praktek yang sesungguhnya belum sepenuhnya menghilang dari muka bumi. Masih banyak fakta yang menunjukkan bahwa praktek tersebut masih ada dan cenderung menguat. Hanya saja, praktek imperialisme pada masa kini lebih menyentuh pada sisi “dalam” sebuah negara, kebudayaan, atau peradaban. Salah satu praktek imperialisme yang sangat relevan dengan dunia intelektual disebut sebagai imperialisme akademis (academic imperialism) atau intelektual. Istilah ini dikeluarkan oleh Syed Hussein Alatas. Baginya, struktur imperialisme politik dan ekonomi menyebabkan berdirinya strukur yang parallel dalam cara berpikir golongan yang ditindas. Menurut alatas, terdapat enam cirri imperialisme politik dan ekonomi yang juga dapat digunakan untuk mencirikan imperialisme intelektual.


1. Eksploitasi. Seperti halnya eksploitasi ekonomi, dimana bahan mentah diserap dari daerah jajahan, diproses di Barat dan kemudian dijual kembali sebagai barang siap pakai dengan harga yang sangat tinggi kepada negara jajahan, eksploitasi intelektual juga terjadi. Banyak ilmuwan dari Barat datang ke negara berkembang guna mengumpulkan data. Sekembalnya mereka ke Barat, data ini diproses sehingga menghasilkan pemikiran yang kemudian dijual dan disuguhkan kembali kepada negara-negara berkembang. Terkadang ilmuwan-ilmuwan Barat tidak menuliskan sumber-sumbernya.
2. Pengajaran. Dahulu, pada saat ingin mempekerjakan bangsa yang dijajah, kaum penjajah memberikan mereka pendidikan. Bagitu juga dalam konteks akademis, mentalitas yang mengatakan jka ingin meraih pendidikan bagus, pergilah ke universitas di Amerika, juga masih sangat nyata. Contoh lain adalah dahulu bangsa Eropa beranggapan bahwa jika mereka memberikan kemerdekaan pada bangsa jajahan, maka mereka tidak akan mengerti cara menjalankan negara. Oleh karena itu mereka harus diajarkan caranya oleh bangsa Eropa melalui proses kolonialisasi.
3. Konformitas. Konformitas adalah normalitas atau hal-hal yang sudah semestinya. Dahulu untuk dapat diterima, kaum terjajah harus berpakaian, makan, dan berbicara seperti orang Eropa. Hari ini, dalam bidang teori dan metodologi, para sarjana muslim diminta untuk menggunakan metode analisa yang sesuai dengan keinginan mereka di Barat. Sehingga jika kita menggunakan metode yang berbeda, pemikiran kita akan sulit untuk diterima.
4. Peranan sekunder yang diberikan pada bangsa terjajah. Dahulu bangsa Eropa mendudukui posisi penting , baik dalam pemerintahan, perkebunan, maupun instansi-instansi lain. Golongan pribumi hanya diberikan pekerjaan pembantu, buruh kasar dan petani. Sekarang para ilmuwan muslim dan ilmuwan dari negara berkembang hanya melakukan penelitian yang teraplikasi, bukan pemikiran kreatif. Bagi para ilmuwan di Barat, ilmuwan dari engara berkembang tidak perlu ikut serta dalam pemikiran kreatif karena hal tersebut sangat mahal. Untuk itu, lebih baik mereka memfokuskan diri pada penelitian yang dapat diaplikasikan.
5. Rasionalisasi misi peradaban. Dahulu, kaum kolonial mencoba merasionalisasi penjajahan dengan mengutarakan maksud untuk memajukan dan memperkenallkan peradaban kepada mereka yang tidak beradab. Saat ini, di negara berkembang terdapat perdebatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan yang telah ditentukan. Dari sinilah bangsa eropa memonopoli dan mendominasi ilmu pengetahuan.
6. Kecakapan inferior. Dahulu bangsa Eropa datang ke daerah jajahan adalah mereka yang mempunyai kecapakan inferior dbanding mereka yang tinggal di Eropa. Hanya orang-orang yang tidak mendapatkan pekerjaan di Eropalah yang datang ke daerah jajahan untuk bekerja. Saat ini, begitu banyak ilmuwan asing yang bekerja di negara berkembang. Namun dapat kita lihat bahwa sebagian besar dari mereka adalah ilmuwan yang idak dapa mendapatkan pekerjaan di negara asal mereka. Namun bagi kita yang tinggal di negara berkembang, keberadaan mereka adalah suatu berkah.

Keraguan dan Peradaban Barat
Pengetahuan adalah sesuatu yang dikehendaki oleh manusia. Di dalam pengetahuan terdapat kepastian yang juga dapat menghadirkan ketenangan hidup. Jika dilihat lebih dalam, jenis pengetahuan yang menghadirkan ketenangan tersebut bukanlah semua jenis pengetahuan, melainkan pengetahuan tentang identitas diri, yang merupakan sebuah pertanyaan yang selalu muncul dari generasi ke generasi: Siapa saya? Dari mana? Akan ke mana? Pengetahuan jenis inilah yang kemudian menjadi faktor penentu dalam menghasilkan sebuah ketenangan.
Jika pengetahuan tentang identitas diri tersebut tidak didapatkan, maka sesungguhnya akan terjadi problem yang lebih banyak dan rumit. Wajar jika kemudian ketidaktahuan terhadap pengetahuan tentang identitas diri ini menjadi akar dari problem-problem lain. Akibatnya, akan merupakan sesuatu yang aneh, jika seorang saintis atau filsuf yang telah menelusuri alam semesta hingga di galaksi-galaksi lain atau pengendalian terhadap negara, namun tidak mengenal dirinya sendiri, dan juga berakibat pada ketidakmampuan untuk menguasai dirinya dengan baik. Kemudian juga membuat terjadi banyak kerusakan di muka bumi, khususnya dirinya sendiri (al-Attas, 2007: 11).
Dari semua jawaban yang diberikan kepada pertanyaan identitas diri tersebut, jawaban yang diberikan Barat adalah hal yang patut diperhatikan. Barat, didefinisikan oleh al-Attas, sebagai peradaban yang berdasarkan pada filsafat. ‘Peradaban Barat’ adalah peradaban yang telah berevolusi dari leburan historis kebudayaan, filsafat, nilai dan cita-cita Yunani Kuno dan Romawi; peleburan dengan Yudaisme dan Kristianitas, dan pengembangan lebih lanjut dan pembentukan oleh orang-orang Latin, Jerman, Celtic dan Nordik. Dari Yunani kuno diturunkan unsur filosofis dan epistemologis dan fondasi pendidikan, etika, dan estetika; dari Romawi unsur hukum dan keahlian berpolitik dan pemerintahan; dari Yudaisme dan Kristianitas unsur kepercayaan-kuat keagamaan; dan dari orang-orang Latin, Jerman, Celtic, dan Nordik semangat independensi dan jiwa kebangsaan dan nilai tradisional mereka, dan pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan alam dan fisik dan teknologi dimana mereka, bersama dengan orang-orang Slavia, telah mendorong hingga kekuatan puncak. Islam juga telah membuat kontribusi yang sangat penting pada peradaban Barat akan nuansa pengetahuan dan menanamkan jiwa rasional dan saintifik, tetapi pengetahuan dan jiwa rasional dan saintifik tersebut telah dituang kembali dan dicetak ulang untuk menyesuaikan wadah kebudayaan Barat yang membentuk karakter dan personalitas peradaban Barat. Namun, fusi dan peleburan yang sedemikian berevolusi menghasilkan karakter dualisme dalam pandangan-alam dan nilai peradaban dan kebudayaan Barat; sebuah dualisme yang tidak dapat dipecahkan menjadi kesatuan yang harmonis, karena hal itu dibentuk dari gagasan, nilai, kebudayaan, kepercayaan, filsafat, dogma, doktrin dan teologi yang bertentangan dan semuanya merefleksikan visi dualistik yang meliputi-semua (all-pervasive) realitas dan kebenaran yang terkunci dalam pertarungan yang putus asa.
Jika diuraikan secara sistematis, karakter peradaban Barat itu adalah sebagai berikut. Pertama, menggantungkan nasib hanya pada kekuatan akal manusia untuk membimbing manusia menjalani kehidupan. Kedua, ketaatan pada keabsahan visi dualistik tentang realitas dan kebenaran. Ketiga, afirmasi aspek-sementara realitas dari eksistensi yang memproyeksikan sebuah pandangan-alam sekular. Keempat, mendukung doktrin humanisme. Kelima, peniruan realitas universal yang diduga keras akan drama dan tragedi dalam kehidupan manusia dalam wilayah spiritual, atau transendental, yang membuat drama dan tragedi sebagai unsur nyata dan dominan dalam sifat-dasar dan eksistensi manusia. (al-Attas, 2001a: 88). Dalam bentuk narasi, dapat dikatakan bahwa manusia Barat menjadikan dirinya, dengan akalnya, sebagai pusat penilaian terhadap realitas, kebenaran, dan kehidupan yang dinilai bersifat dualistik, selalu berubah, dan tragedi.
Dari deskripsi di atas, dapat dipahami mengapa kemudian keraguan menjadi sesuatu yang lazim muncul dalam peradaban Barat. Manusia Barat itu dapat dikatakan memang melihat bahwa kemunculan dirinya itu sendiri sudah merupakan tragedi. Hal ini bagi mereka telah dikuatkan dengan penemuan tentang seluruh keterbatasan indera dan akal manusia. Ditambah lagi, mereka pun berhadapan dengan realitas yang selalu berubah (panta-rei) dan akhirnya sangat sulit untuk memberikan penilaian terhadapnya, bahkan untuk pengetahuan yang sangat penting bagi jiwa. Akhirnya, bagi mereka realitas ini juga merupakan sebuah tragedi yang menambah tragedi kemanusiaan yang sudah ada. Lalu, dalam hubungan manusia dengan realitas, pengetahuan dan kebenaran yang mereka peroleh pun merupakan pengetahuan yang menjadi dualistis, dan ini pun menjadi tragedi berikutnya yang dialami manusia Barat. Sebab, mereka sangat sadar bahwa pengetahuan yang mereka miliki saat ini, kemudian pasti akan berubah dalam arus waktu sedetik kemudian.
Kondisi peradaban Barat yang demikian memang pantas saja kemudian memunculkan keraguan yang mendalam bagi anggota peradaban tersebut. Keraguan ini jelas disebabkan adanya pertentangan di wilayah lahiriah dan khususnya batiniah (konsep). Karakter-karakter Barat tersebut memang menjadi konsep yang dipegang oleh anggota-anggotanya. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa sebelum menjadi konsep-konsep yang menimbulkan pertentangan, manusia Barat membuat menyusun konsep-konsep itu dari pengalaman-pengalaman tragis yang dialaminya. Hal ini, dalam pandangan al-Attas (2001a: 107), sesungguhnya disebabkan oleh penolakan mereka terhadap bimbingan Tuhan.
Sudah banyak kisah dalam peradaban Barat sendiri yang menunjukkan tragedi yang mereka alami. Seperti kisah Promotheus yang mengambil api pengetahuan dari para dewa lalu mendapatkan kutukan. Kemudian juga kisah Sisyphus mendorong batu ke atas bukit, yang secara putus asa berharap bahwa semuanya baik. Hal tersebut dikatakan secara putus asa berharap bahwa semuanya baik, sebab al-Attas menduga bahwa faktanya tidak semuanya baik. Hal itu juga karena al-Attas percaya bahwa Sisyhphus tidak pernah dapat sungguh-sungguh bahagia dalam kondisi tersebut. Pengejaran pengetahuan tersebut, seperti perjuangan mendorong Batu dari daratan ke atas Gunung lalu ketika sampai puncaknya batu tersebut ditakdirkan untuk berguling ke bawah lagi, akhirnya menjadi jenis permainan serius yang tak pernah berhenti dan seolah-olah mengalihkan jiwa dari tragedi. Maka, tak heran bahwa dalam kebudayaan Barat tragedi dipuji sebagai nilai mulia dalam drama eksistensi manusia!
Al-Attas pun memberikan analogi yang patut direnungkan. Menurutnya, manusia Barat itu adalah seperti pejalan haus yang pada pertama kalinya secara tulus mencari air pengetahuan, tetapi kemudian, karena mungkin menemukannya kurang menarik, lalu ia mulai mengeraskan cangkirnya dengan garam keraguan sehingga rasa hausnya menjadi tidak terpuaskan meskipun dia minum secara berkelanjutan.Dengan demikian air tersebut tidak dapat menghilangkan hausnya dan dia pun telah lupa tujuan asal dan sejatinya untuk apa air itu dicari.
Pengalaman dan pemahaman terhadap pengalaman Barat yang demikian adalah tantangan yang paling besar bagi seluruh kemanusiaan, bukan dengan kebodohan (baca: ketidaktahuan). Terlebih lagi, pengalaman dan pemahaman Barat ini telah disebarkan ke seluruh dunia dan menjadi sesuatu yang global, dan dipahami oleh Barat dan para penerimanya sebagai sesuatu yang universal dan patut menjadi panutan oleh seluruh manusia. Namun, sungguhkah demikian?

Keraguan dan sufasta’iyyah
Dalam pembahasan tentang keraguan dan kebenaran, para peragu melawan terhadap kemungkinan memperoleh kebenaran absolut, dan ada yang bahkan menolaknya. Berkenaan dengan hal tersebut, terdapat pelbagai posisi, mulai dari tingkat moderat hingga ekstrem (Bagus, 1996: 450). Contohnya, dalam perlawanan terhadap perolehan kebenaran, salah seorang peragu membuat beberapa argumentasi. Pertama, tidak ada yang ada, berarti bahwa tidak ada realitas. Kedua, jika segala sesuatu itu ada, hal itu tidak dapat diketahui. Ketiga, bahkan jika realitas dapat diketahui, pengetahuan tersebut tidak dapat dibagi dan dikomunikasikan kepada yang lain (Mayer, 1951: 84-85).
Dalam ranah pembahasan filsafat tentang keraguan, terdapat dua jenis keraguan, yakni keraguan sebagai sikap hidup — selanjutnya disebut keraguan non-metodis — dan keraguan sebagai sebuah metode — selanjutnya disebut keraguan metodis. Kedua jenis keraguan ini, dalam sejarah filsafat, sebenarnya saling berperang dan salah satunya dapat dilihat dari hubungan Socrates dan kaum Sofis (Mayer, 1951: 78, 261). Dari dua jenis keraguan tersebut dalam sejarah filsafat, keraguan non-metodis adalah yang paling banyak dipermasalahkan. Sebab, keraguan tersebut menggugat pokok atau dasar yang menjadi sarana manusia untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan. Banyak pihak yang mempermasalahkan bahwa keraguan non-metodis itu nampaknya belum bisa menyelesaikan problemnya sendiri (Chisholm, 1966: 2-4) dan justru terus menerus masuk ke dalam lingkaran setan (Pranarka, 1987: 59). Namun memang kini, keraguan non-metodis berhadapan dengan masalah yang terhubung dengan dirinya sendiri dalam bentuk yang tidak seperti “diinginkan” para pendirinya. Hal ini dapat dilihat dengan fakta bahwa kini banyak orang yang membuat keputusan sewenang-wenang. Kebenaran relatif tidak lagi mengantarkan pada penundaan keputusan — yang dahulu dimaksudkan para Sofis dan Skeptisis untuk mencapai ketenangan (tranquility) (Blackburn, 2005: xiv).
Sebagaimana diketahui, keraguan metodis dilekatkan pada diri René Descartes (Hardiman, 2004: 38). Metode keraguan digunakannya sebagai alat yang sahih untuk menguji pengetahuan yang telah ia miliki. Keraguan metodis yang digunakan oleh Descartes adalah alat untuk mencapai kebenaran. Descartes juga menyebut keraguannya sebagai “keraguan metodis universal”. Eksistensi segala sesuatu dapat diragukan, termasuk tubuhnya sendiri, kecuali kesadaran akan keraguan itu sendiri. Kepercayaan Descartes terhadap metode keraguan ini begitu kuat sehingga ia menyatakan, “Untuk menemukan kebenaran, niscaya dalam kehidupan kita untuk meragukan, sejauh mungkin, segala sesuatu” (Heriyanto, 2003: 32-33).
Kepercayaan akan sampainya kita pada kebenaran dengan jalan keraguan juga seringkali diafirmasi dengan menunjukkan contoh yang terjadi di dunia Islam, seperti yang dialami al-Ghazāli. al-Ghazāli dinilai memasuki keraguan sebelum akhirnya sampai pada kebenaran. al-Ghazāli memang pernah mengalami masa ketika ia ragu. Namun, sampainya al-Ghazāli pada kebenaran yang dicarinya, bukanlah disebabkan oleh keraguan, tetapi karena nur dari Tuhan (al-Ghazāli, 1960: 10-11).
Kemudian sebagaimana disampaikan di atas, keraguan non-metodis memang memiliki banyak hal yang dapat dipermasalahkan. Namun, jika dilihat secara seksama sebenarnya perjalanan keraguan non-metodis atau skeptisisme itu tetap berlangsung hingga kini. Bagus (1996: 1017-1019) mencatat perjalanan keraguan non-metodis ini sampai pada Royce. Kemudian al-Attas, yang menyebut mereka dengan istilah sufasta’iyyah (sofis), melihat keraguan non-metodis kini berada di dalam gerakan posmodern. Hal ini pun diafirmasi oleh Wan Nor Wan Daud (1998: 127-138) bahwa gerakan-gerakan yang muncul dalam sejarah Barat, senada dengan apa yang disampaikan Mayer (1951: 87-88), memang mengambil semangat dan pandangan-pandangan para sofis Yunani Kuno.
Keraguan para sofis pada masa Yunani itu, di masa posmodern, telah mendapatkan tempat terlebih saat mendapatkan dukungan argumentasi dari para filsuf bahasa. Penekanan yang kuat pada pembahasan tentang bahasa akhirnya menekankan juga tentang kearbitreran bahasa, yang berarti secara langsung menggoyahkan fondasi pengetahuan manusia. Ditambah pula dengan kajian sejarah — yang bahkan menjadi historisisme —, sebagai sebuah bagian dari program sekularisasi sebagai program filosofis. Akhirnya, banyak hal diletakkan dalam pengaruh sudut pandang sejarah yang masuk ke dalam relativisme historis. Hal ini terbukti dengan pernyataan yang dilandasi dengan pandangan bahwa segala sesuatu tidak dihasilkan dalam ruang vakum. Dengan demikian, terungkapnya hal-hal tersebut dapat dinilai sebagai sebuah pengulangan pernyataan para sofis, dalam bentuk yang lebih canggih, bahwa kehidupan manusia itu memang tragis.

Daftar Referensi
Alatas, Ismail F. (2006). Risalah Konsep Ilmu dalam Islam. Jakarta Selatan: Diwan.
Al-Attas, S. M. Naquib. (1981). Islam dan Sekularisme, terj. Bandung: Pustaka
. (2001)a. Prolegomena to the Metaphysics of Islam an Exposition of the Fundamental Elements of The Worldview of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
. (2001)b. Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: ISTAC.
. (2007). Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam. Universitas Sains Malaysia.
Al-Ghazali. (1960). Pembebas dari Kesesatan, terj. Abdullah bin Nuh. Jakarta: Tintamas.
Bagus, Lorens. (1996). Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Descartes, Rene. (1995). Risalah tentang Metode, terj. Ida Sundari Husein. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hardiman, F. Budi. (2004). Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Heriyanto, Husain. (2003). Paradigma Holistik. Jakarta : Teraju.
.(1995). History of Modern Philosophy 2, trans. B. E. Mayer. United States of America: Dover Publication, Inc.
Mayer, F. (1951). A History of Ancient and Medieval Philosophy. United States of America: American Book Company.
Pranarka, A.M.W. (1987). Epistemologi Dasar, Suatu Pengantar. Jakarta: CSIS
Wan Mohd Nor Wan Daud. (1998). Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Bandung: Mizan.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname