oleh khayrurrijal
PENDAHULUAN
Sejak dahulu kala, pembicaraan mengenai manusia merupakan sebuah pembicaraan yang sangat menarik. Dari sekian banyak pembicaraan, perihal jiwa merupakan tema penting dan telah memunculkan banyak kontroversi di kalangan para pemikir. Hal ini dapat dikenali dari problem dualisme tubuh-jiwa yang sudah dirintis sejak masa Plato. Kemudian, problem tersebut semakin dikuatkan dengan argumentasi René Descartes mengenai kepastian cogito (aku yang berpikir) dan ketidakpastian res extensa (keluasan, termasuk tubuh). Tema imaterialitas dan imortalitas jiwa pun menjadi ciri utama dari pembahasan psikologi pra-modern (Kartanegara, 2008: 1).
Kini, pembicaraan mengenai jiwa telah menjadi pembicaraan yang spesifik dalam disiplin psikologi. Dalam sebuah seminar “Dewesternisasi Pengetahuan dan Islamisasi Pengetahuan Kontemporer” di FISIP Universitas Indonesia Desember 2008, disampaikan makalah “Kritik Terhadap Psikologi Modern” oleh Profesor Mulyadhi Kartanegara. Gagasan yang dapat langsung terbetik di dalam benak pembacanya adalah: ada apa dengan psikologi modern? Apa permasalahan di dalam psikologi modern?
Sudah akrab dikenali dan dirasakan bahwa manusia di masa kini telah dan sedang mengalami permasalahan psikologis yang akut. Indikasinya adalah tingginya tingkat depresi, hingga tingkat bunuh diri. Tentu saja problem yang awalnya berada pada tataran individual, telah menjadi problem sosial dan bahkan juga merusak alam semesta (Heriyanto, 2003: 71). Lihatlah bagaimana problem schizoprennia, split-personality, masocism, psikopat, oedipus complex, inferiority complex, depresi menjadi berita yang lazim di media massa dan nampak mudah menjangkiti manusia zaman ini.
Contoh di atas adalah fakta yang jelas menunjukkan kerusakan kehidupan manusia. Di dalam nurani, manusia lebih menginginkan kebaikan dan kesehatan dalam kehidupan. Meskipun kaum relativis berusaha menerima anggapan mereka sendiri, khususnya Barat, bahwa kehidupan ini adalah sebuah tragedi (Al-Attas, 2001: 99). Akhirnya, muncul kebingungan, kebuntuan, bahkan keputusasaan tentang bagaimana penyelesaian masalah tersebut, baik dari sisi teoritis maupun praktis (Calne, 2005: 384).
Tentu saja pembahasan ini bernilai signifikan. Sebab, permasalahan di atas bersentuhan dengan kehidupan kita sehari-hari. Itu juga berarti pemahaman yang tepat tentang persoalan ini akan membantu kita untuk meletakkannya secara adil. Tulisan ini akan fokus pada dua pertanyaan: apakah akar dari masalah tersebut?; apakah solusi terhadap permasalahan tersebut?
PEMBAHASAN
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa (Kamus Bahasa Indonesia, 2008: 1220) atau “the scientific study of the mind and how it influences behaviour” (Oxford Advanced Genie). Pada awalnya pembahasan mengenai jiwa dilakukan pada masa pra-modern, secara spesifik pada masa Yunani Kuno. Jiwa dibahas sebagai sesuatu yang bukan material dan sesuatu yang abadi. Pembahasan demikian pun dikontraskan dengan deskripsi tentang tubuh sebagai sesuatu yang material dan tidak abadi. Pandangan seperti ini dapat dikenali dari tokoh seperti Phytagoras dan Plato (lihat karya Bertrand Russel Sejarah Filsafat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang).
Pembahasan mengenai jiwa pun selalu muncul dalam setiap zaman. Kemudian, memasuki abad ke-20, psikologi telah memisahkan diri dari filsafat dan menjadi cabang ilmiah dari atau sains dengan menerapkan metode ilmiah empiris sebagai syarat bagi diterimanya psikologi sebagai sains modern (Kartanegara, 2008: 2).
Di masa inilah dalam psikologi mulai bermunculan pelbagai aliran. Ada beberapa aliran psikologi, yakni aliran biologis (neurobiologis), aliran behaviorisme, aliran psikoanalisis, aliran kognitif, dan aliran humanis.
Pendekatan utama dari aliran biologis adalah mendekati manusia dan spesies alin dengan mengaitkan perilaku manusia dengan peristiwa listik dan kimiawi yang terjadi dalam tubuh, terutama dalam otak dan sistem saraf. (Kartanegara, 2008: 3). Dalam hal ini, jiwa hanya dikonsepsikan sebagai fungsi neurologis otak.
Aliran kedua adalah behaviorisme. Aliran ini memandang bahwa perilaku harus menjadi satu-satunya masalah utama dalam psikologi. Bahkan, dikatakan oleh John B. Watson, pendiri behaviorisme, “hanya dengan mempelajari perilaku – yakni apa yang dilakukan oleh seseorang, maka psikologi yang objektif dapat dikembangkan. Sedangkan psikologi berbasis introspeksi bersifat subjektif, dan karena itu harus ditinggalkan.” Fokus pada perihal yang dapat diindera pun menjadi hal yang sangat penting dalam aliran ini. Seorang psikolog pun diharuskan untuk mampu sungguh-sungguh melepaskan pra-konsepsi diri yang bersifat spekulatif, bahkan mungkin mistis, dan melihat atau mengamati perilaku fisik manusia seperti apa adanya. Manusia, dalam aliran ini dipandang sebagai benda pada umumnya.
Istilah kunci yang melekat dengan behaviorisme adalah stimulus-respon, dengan argumentasi bahwa segala tingkah laku manusia ditafsirkan sebagai respon mekanistik terhada stimulus yang datang dari luar (Kartanegara, 2008: 4). Oleh karena itu, kaum behavioris pun merasa cukup mempelajari perilaku manusia melalu eksperimen terhadap hewan-hewan seperti anjing, kucing, kera, dan bahkan, tikus. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Ivan Pavlov, seorang behavioris, yang optimis dengan keberhasilan pendekatan ini (Heriyanto, 2001: 71).
Aliran ketiga adalah psikoanalisis, dengan Sigmund Freud (w. 1941) sebagai pendirinya. Gagasan yang terkenal dalam aliran ini adalah mengenai id, ego, dan superego. Menurut aliran ini, perilaku manusia itu didorong oleh hal-hal bawah-sadar (subconscious). Dorongan tersebut adalah libido atau dorongan seksual. Lebih lanjut menurutnya, dorongan ini pula yang dapat menjelaskan kepercayaan manusia kepada Tuhan dan agama (Kartanegara, 2008: 6).
Keempat, yakni aliran kognitif, merupakan aliran sains termuda (Smith, 2003: 233). Psikologi kognitif mengatakan, “memahami manusia semata-mata dalam pengertian stimulus dan respon mungkin telah memadai untuk meneliti bentuk perilaku yang sederhana. Tetapi behaviorime mengabaikan banyak bidang penting fungsi manusia.” Bagi mereka, hubungan stimulus-respon saja tidak bisa menjelaskan seluruh perilaku manusia, yang dipengaruhi oleh muatan kognitif manusia, berupa informasi maupun pengenalan yang dimiliknya (Kartanegara, 2008: 5).
Aliran humanis, yakni aliran kelima, Para pemikir dalam aliran ini adalah para pemikir yang ingin menunjukkan dengan lantang bahwa manusia adalah manusia dan tidak dapat direduksi pada makhluk biologis semata, apalagi kimia-fisika. Dalam hal ini pendapat bahwa perilaku itu dikendalikan oleh stimulus ekternal (behaviorisme), atau pengolahan-informasi dalam persepsi dan memori (psikologi kognitif, atau oleh impuls bawah sadar (psikoanalisis) cenderung ditolak oleh aliran ini (Kartanegara, 2008: 7).
Krisis Persepsi
Dalam perkembangan psikologi, kemudian bermunculan kritik-kritik yang penting untuk diperhatikan. Kritik dari psikolog sendiri sudah muncul dalam aliran humanis. Aliran ini telah memberikan ruang yang lebih luas bagi nilai kerohanian. Kemudian, juga terdapat kritik bahwa dengan pembatasan pembahasan kajian psikologi biologis pada otak, maka psikologi tidak lagi berbasis jiwa, melainkan berbasis otak. Pandangan materialistik semacam ini, dalam pandangan Profesor Mulyadhi, merupakan aliran mainstream dari psikologi. Bahkan, ketika Danah Zohar dan Ian Marshall berbicara tentang God spot atau peak experience, hal ini tidak menunjukkan bahwa psikologi modern telah beranjak dari brain-based psychology (Kartanegara, 2008: 3). Jika pun bergeser dari brain-based, maka hal itu hanya bergeser pada physics-based psychology, sebab mereka masih berbicara tentang landasan fisika dari kecerdasan (Mahzar, 2004: 64-65).
Aliran behaviorisme dan psikoanalisis pun memiliki masalah karena psikologi menjadi dipahami dalam arti biologi, dan biologi dengan terma-terma fisika. Gagasan deterministik dan mekanistik di dalam aliran ini pun justru menafikan adanya kebebasan manusia. dan jelas, hal ini merupakan sebuah dehumanisasi (Kartanegara, 2008: 5, 8). Fakta yang cukup aneh adalah bahwa freudianisme itu hanya menghasilkan pengetahuan mengenai lebih dari 400 patologi manusia, tetapi tidak satupun mengenai kesehatan (Smith, 2003: 109). Gambaran Freud ini justru merupakan model yang paling dekat yang dapat diraih peradaban Barat (Smith, 2003: 109)
Menurut Profesor Mulyadhi (2008: 5), psikologi kognitif sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan behaviorisme. Sebab, mereka mengatakan bahwa kita dapat memahami sepenuhnya apa yang dilakukan oleh sebuah organisme hanya dengan mempelajari proses mental. Jadi , tetap saja ranah penelitiannya adalah perilaku fisik. Bahkan Huston Smith (2003: 233) mengatakan bahwa psikologi kognitif mendorong orang kembali pada materialisme mental. Bahkan, tidak hanya kembali, tetapi kembali dengan penuhsemangat menggebu-gebu yang naris tak terkendali. Hal ini disertai dengan fakta bahwa pada saat Smith menulis bagian dari buku Why Religion Matters, sepasang alumni MIT menyumbang dana 65 juta dollar untuk riset otak.
Jika pandangan psikologi adalah berbasis pada materi, maka disiplin ini telah melepaskan objek paling inti selama ini dari psikologi, yaitu jiwa. Padahal dari sinilah psikologi mendapatkan namanya (psyche) (Kartanegara: 2008: 8).
Kondisi sedemikian sesungguhnya menunjukkan bahwa telah terjadi krisis persepsi di dalam disiplin psikologi. Kondisi demikian diperkuat dengan masuknya pengaruh filsafat mistik Timur dan masuknya istilah spiritual ke ranah psikologi. Hal ini dapat dilihat dari kajian Danah Zohar dan Ian Marshall (Ramli, 2002: 44; Mahzar, 2004: 67; Smith, 2003: 109)
Kondisi krisis ini juga dapat dilihat dari usaha untuk mengganti istilah id, ego, superego dengan EI, IQ, dan SI atau anima, persona, diri. (Mahzar, 2004: 63). Meskipun juga tetap diiringi kegamangan, berkenaan dengan keberadaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) (Mahzar, 2004: 67).
Akar Masalah
Lalu, apa akar semua masalah tersebut? Profesor Mulyadhi (2008: 2) menjawab bahwa akar masalahnya adalah sekularisasi terhadap jiwa. Sekularisasi terhadap jiwa mengakibatkan penafian keabadian jiwa dan kemudian penafian hari akhir. Sekularisasi didefinisikan sebagai “pelepasan manusia pertama kali dari kontrol agama kemudian dari kontrol metafisika dari rasio dan bahasanya” (Al-Attas, 2001: 24). Komponen integral dalam dimensi sekularisasi adalah “penafipesona (disenchantment) alam”, “desakralisasi politik”, dan “penafisucian (deconsecration) nilai” (Al-Attas, 2001: 25).
Melihat definisi di atas, komponen sekularisasi yang berhubungan dengan manusia, khususnya jiwa, adalah penafipesona alam. Sebab, jiwa sebagai sesuatu yang bernilai tinggi telah ditempatkan lebih rendah, direduksi menjadi sekadar efek dari materi (epifenomenal). Apa yang dinyatakan oleh Profesor Mulayadhi jelas-jelas menunjukkan hal tersebut. Jiwa yang sebelumnya dipandang lebih tinggi derajatnya dari tubuh, tidak bersifat materi, dan abadi, menjadi dipandang berbeda 180 derajat dari sebelumnya. Bahkan Calne (2005: 376) mengganti istilah “jiwa” dengan “akalbudi”, karena istilah “jiwa” sudah terlalu melekat dengan pandangan keabadian jiwa.
Turunan dari sekularisme adalah dualisme, khususnya dualisme jiwa-tubuh. Meski sudah dirintis sejak Plato, namun Descartes menjadi titik penting dalam menguatnya masalah tersebut. Ada faktor pengaruh liberalisme demokratik dan egalitarianisme modernistik, yang menolak hierarki, juga kemudian turut menguatkan dualisme tersebut. Sebab, dualisme berarti dua hal yang setara dan akibatnya tidak bisa didamaikan. Dalam perkara ini, Smith (2003: 234) menilai bahwa dalam tiga abad sejak Descartes memunculkan persoalan itu, tidak ada kemajuan secuilpun dalam upaya memecahkannya. Bahkan, sampai-sampai muncul sebuah pengakuan jujur ketidakmampuan manusia dari Stephen Pinker, kepala Program sains kognitif di MIT, dengan istilah mysterianism. Dia meneruskan bahwa kita membutuhkan dua konsep baru tentang tubuh dan jiwa dan ini berarti pula kita membutuhkan pandangan-alam (worldview) yang baru untuk pecahkan ini (Smith, 2003: 238).
Akhirnya derivasi dari kedua masalah di atas adalah munculnya paradigma Cartesian-Newtonian yang mekanis, reduktif, atomis, materialis, dan dualistik, yang menjalar ke berbagai ranah kehidupan (Heriyanto, 2003: 43, 71).
Tawaran Solusi
Setelah uraian permasalahan di atas, wajar jika kemudian muncul pertanyaan: apa solusinya? Sebagaimana sudah diuraikan di atas, akar masalahnya adalah sekularisasi. Maka, jawabannya adalah desekularisasi. Hal ini tentu berkenaan dengan pembalikan terhadap apa yang sudah terjadi. Kita pun dapat melihat pernyataan Smith, yang menunjukkan kebutuhan terhadap konsep baru, dan ini juga berarti pandangan-alam (worldview) yang baru.
Dalam penghadiran konsep baru ini, sesungguhnya ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan, yakni pembenaran, pengoreksian, dan penggunaan sumber pengetahuan yang melampaui pencapaian manusia. Dalam hal ini, pandangan-alam Islam merupakan salah satu alternatif yang penting untuk diperhatikan oleh banyak kalangan, termasuk yang sinis terhadap hal-hal yang bernuansa islami.
Pembenaran maksudnya berkenaan dengan hal-hal yang masih dapat diterima dari penemuan para psikolog. Kemudian, pengoreksian bermakna pembetulan hal-hal yang tidak sejalan dengan pandangan-alam yang melakukan pengoreksian. Terakhir, penggunaan wahyu sebagai sumber pengetahuan yang melampaui pencapaian manusia, karena hal ini diberikan oleh Tuhan.
Hal ini penting karena fakta bahwa manusia selalu mencari makna hidup, bahkan berusaha membuatnya sendiri seperti yang dilakukan oleh kaum eksistensialis. Penawaran pengetahuan mengenai makna hidup dan jatidiri manusia dari Al-Qur’ān tentu tidak ada salahnya dipertimbangkan oleh para ilmuwan, mengingat kebingungan, kebuntuan, dan keputusasaan yang sudah dan sedang dialami. Al-Qur’ān membawa pesan Tuhan, sebagai pencipta manusia, tentang jatidiri manusia.
Islam telah menawarkan sebuah konsep manusia, khususnya jiwa, yang tidak terbatas pada alam inderawi. Pandangan-alam Islam juga menawarkan konsep rūh, qalb, nafs, ‘aql untuk melihat manusia sebagai manusia. (Al-Attas, 2001: 122, 143). Psikologi alternatif yang ditawarkan juga merupakan psikologis yang tidak menyamakan manusia dengan benda. Sebab, manusia lebih tinggi dari hewan, apalagi benda. Kemudian, pandangan alternatif juga menghadirkan pandangan bahwa manusia yang memiliki percikan ilahiyah dan diciptakan dalam citra-Nya (Kartanegara, 2008: 8).
Melengkapi apa yang disampaikan di atas, pandangan akan hierarki juga merupakan hal penting untuk menyelesaikan problem dualisme yang nampaknya tidak terselesaikan (Mahzar, 2004: 70-71). Pandangan yang mendalam mengenai realitas manusia, khususnya jiwa akan menjadi sebuah prasyarat untuk melakukan penyembuhan. Sebab, psikologi pun terkait erat dengan penyembuhan penyakit psikologis. Sehingga, pengetahuan tentang diri yang mendalam akan sangat membantu penyembuhan ini secara holistik (Ramli, 2002: 45).
Hasil atau bukti dari sebuah pandangan memang kadangkala ditunggu oleh sebagian orang yang skeptis terhadap kebenaran teoritisnya. Dalam perihal psikologi, kebenaran sebuah pandangan-alam akan berkenaan dengan pengaruhnya terhadap manusia itu sendiri. Apakah dengan itu ia menjadi sungguh-sungguh bahagia dengan memasuki kondisi yakin (certainty) yang menjadi dasar dari kebahagiaan temporal di dalam kehidupan dunia (Al-Attas, 2001: 89).
PENUTUP
Psikologi modern memang memiliki dan menimbulkan masalah. Psikologi ini pun telah memasuki masa krisis dan perlahan mencoba membuka diri terhadap penjelasan-penjelasan lain yang sebelumnya tidak dinilai rasional. Akar masalah psikologi modern adalah sekularisasi yang menguatkan dualisme dalam pandangan terhadap realitas manusia. solusi yang ditawarkan adalah desekularisasi psikologi modern. Ada sebuah fakta yang menarik, bahwa istilah-istilah spiritualitas telah membanjir masuk ke dalam ranah psikologi modern. Sebab, sebelumnya psikologi modern tidak mengenal ranah melebih alam inderawi, dan untuk menunjuk kepada realitas selain alam inderawi, maka spiritualitas Timur dan psikologi sufistik menjadi tawaran yang sulit ditolak.
REFERENSI
Buku:
Al-Attas, S.M.N. 2001. Prolegomena to the Metaphysics of Islam an Exposition of the Fundamental Elements of The Worldview of Islam.. Kuala Lumpur: ISTAC.
Calne, Donald B. 2005. Batas Nalar, terj. Parakitri T. Simbolon. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Heriyanto, Husain. 2003. Paradigma Holistik. Jakarta: Teraju.
Mahzar, Armahedi. 2004. Revolusi Integralisme Islam. Bandung: Mizan.
Ramli, C. Bihar. 2002. Bertasawuf tanpa Tarekat. Aura Tasawuf Positif. Jakarta: Penerbit IIMan dan HIKMAH.
Russel, Bertrand. 1948. Sejarah Filsafat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko, dkk Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Smith, Huston. 2003. Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains? terj. Ary Budiyanto. Bandung: Mizan
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Makalah:
Mulyadhi Kartanegara. Kritik Terhadap Psikologi Modern. Seminar “Dewesternisasi Pengetahuan dan Islamisasi Pengetahuan Kontemporer”, FISIP Universitas Indonesia. Desember 2008.
Software
AS Homby. 2002. Oxford Advanced Genie. Oxford: Oxford University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar