oleh khayrurrijal
(dalam pembahasan Islam, Tuhanlah yang"menemukan" manusia, bukan manusia yang" menemukan" Tuhan, terlebih lagi di tingkatan tersebut. mengatakan bahwa manusia "menemukan" Tuhan, membawa nuansa arogansi tentang kemampuan manusia. padahal manusia, dimampukan oleh Alloh.)
("Ngeri" terhadap definisi itu, ada beberapa sebab. dari definisi itu sendiri dan juga dari subjek manusia itu sendiri. kesan kering, angkuh, arogan dari definisi tersebut, sesungguhnya disebabkan oleh ketidakmampuan para ahli agama kristen untuk menjelaskan mengenai Tuhan. sebab, pernyataan tersebut juga dapat dirasakan tidak kering, angkuh, dan arogan. jika saya mampu merasakannya, maka berarti kesan Karen itu disebabkan oleh dirinya sendiri.
perevisian itu lebih melibatkan pihak pemahaman manusia, bukan menjadi lebih tertumpu pada definisi tersebut. sebab, persoalan ini disebabkan pemahaman manusia yang dangkal. dan kedangkalan pengetahuan hanya menimbulkan problem.)
(pemahaman yang cenderung dogmatik itu dapat terjadi karena beberapa hal. namun, dalam kasus ini, kecenderungan itu disebabkan kondisi manusia dengan kemampuan akal yang berbeda. tidak semua manusia dapat memahami mengenai Tuhan sebagaimana dipahami oleh para ulama yang benar. akan tetapi, ketika mereka memahami bahwa Tuhan itu Esa, tidak beranak dan diperanakkan. lalu mereka berusaha istiqomah dengan itu. maka, itu pun cukup untuk mereka agar dapat masuk ke dalam rahmat Alloh. pembahasan mengenai takdir, hanya akan masuk ke dalam kutub-kutub sebagaimana dimaksudkan, jika tidak mempelajari sejarah. ulama telah menyelesaikannya. jika pun sekarang muncul lagi, maka itu adalah tanda bahwa manusia sekaranglah yang tidak puas dengan jawaban para ulama. apakah para ulama yang salah? tentu bukan ini jawabannya. sebabnya, ada orang-orang yang mengaku ulama seperti di masa lalu, lalu berusaha menunjukkan "kebolehannya" dengan membahas hal-hal yang tidak sepenuhnya dipahami. muslim bukan fatalis, dan bukan juga liberalis. pemahaman tentang ini akan didapat jika konsep-konsep dasar telah dipahami.)
(manusia memiliki otonomi dalam batasnya. kebersamaan pun hanya mungkin jika terdapat individu yang terpilah dari individu lainnya. jika tidak, maka tidak ada kebersamaan. "pertanyaan" itu hanya muncul pada peradaban yang tidak bisa adil terhadap manusia. muslim bukan individualis atau sosialis-komunis.)
(pusat realitas, jika dilihat konsep sadra, maka bukanlah manusia, melainkan Tuhan. tapi bukan berarti manusia tidak penting.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar