SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

ALASAN YANG CUKUP UNTUK KITA PERCAYA PADA SUMBER INFORMASI

oleh khayrurrijal

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya yaitu: Mengapa kita percaya pada pancaindera dan akal? (sebuah renungan). Tulisan ini adalah sebuah ikhtiar jawaban terhadap pertanyaan tersebut.
Pada dasarnya ketika hadir di dunia, manusia sudah mengetahui sesuatu yaitu, perihal keberadaan. Ia mengetahui lewat mengada (ilmu hudhuri). Namun, pada perjalanan-pengetahuan selanjutnya, mulailah ia memilih apa yang akan menjadi pengetahuan baginya.
Dalam hubungannya dengan indera, manusia sudah merasakan bahwa ada sesuatu yang hadir, mengganggu dirinya, dan tidak dapat dienyahkan. Ada sesuatu yang membuat indera manusia terusik. Apakah stimulus tersebut harus saya percaya atau tidak? Jika tidak perlu saya percayai, maka rasanya akan absurd untuk mengatakan apapun tentang ke-indera-an atau bahkan akan muncul nihilisasi indera. Lalu, apakah indera itu berguna bagi manusia? Jawaban yang pasti keluar adalah indera tentu berguna. Indera berguna bagi manusia untuk mengenali rasa, bentuk, suara, warna, bau. Indera berguna untuk mengenali dunia, tempat manusia mnejalani hidup. Melalui indera, manusia mampu untuk merespon segala hal di sekelilingnya. Dan rasanya tidak ada alasan indera untuk berbohong pada manusia dan tidak ada keuntungan yang diperoleh indera.
Maka sudah jelas, indera patut untuk dipercaya, meskipun terus-menerus dilakukan penyempurnaan pengenalan. Misalnya, materi dikenal sebagai sesuatu yang berbeda dengan energi. Namun, kemudian disadari bahwa materi, jika ditelusuri hingga tingkat sub-atomik, maka akan ditemukan bahwa materi adalah energi, hanya saja dalam bentuk “diikat”. Selain tentang materi, ada juga tentang fenomena matahari, sedotan yang patah ketika dimasukkan separuhnya ke dalam air, dan banyak peristiwa lainnya, yang sebenarnya akan terus disempurnakan pengenalannya oleh indera dan akal.
Selanjutnya, berkaitan dengan akal. Akal adalah sebuah modus-batin yang berkaitan dengan perenungan, perhitungan, kesadaran, dan berbahasa. Mengapa kita percaya pada akal kita, sebenarnya juga dapat dijawab model yang mirip dengan jawaban terhadap indera. Kita merasa ada sesuatu yang hadir dalam batin kita, yang membuat kita memikirkan hal tersebut. Sesuatu hadir, berasal dari kedalaman batin, dan tidak dapat dienyahkan keberadaannya. Kemudian juga dirasakan bahwa apa yang muncul dalam benak ini, sangat membantu manusia dalam menjalani kehidupannya. Akal menjadi sebuah sarana untuk berpikir (yang mengubah menjadi bahasa), melakukan perhitungan, dan menemukan sesuatu yang intelligible (intuisi=persepsi akal secara denotatif terhadap sesuatu yang intelligible). kemudian tidak ada indikasi kebohongan yang dilakukan oleh modus batin manusia ini (kecuali dipengaruhi hawa nafsu). Kalaupun terdapat kekurangan, maka akan selalu ada penyempurnaan yang juga dilakukan akal, seiring dengan perjalanannya menuju horizon yang semakin meluas, dibantu dengan perjalanan indera mengenali dunia.
Indera dan akal adalah dua buah sarana yang patut untuk dipercayai dan terus diperjalankan menuju kebenaran mulai dari konsep hingga kegunaan. Indera dan akal berkolaborasi dan tidak terpisahkan satu sama lain, sebab indera tidak berpikir dan akal mampu berpikir dengan bantuan indera.
Kemudian, dalam diskursus tentang pengetahuan, terdapat entitas lain yang dapat menjadi sumber informasi, selain akal dan indera yaitu, orang lain. Orang lain, dalam diskursus filsafat adalah sesuatu yang problematis. Karena, individu hanya mengenali orang lain sebagai manusia seperti dirinya hanya dengan melihat kemiripan pengalaman yang nampak dari orang lain dengan dirinya. Misalnya ia menangis ketika sedih, tertawa ketika gembira, dan gejala-gejala lain yang nampaknya mirip dengan yang individu tersebut alami. Oleh karena itu, kemudian orang lain – agak terpaksa – diakui secara ontologis. Namun, apakah cukup hanya dengan alasan itu? Menurut penulis, ada sebuah alasan yang lebih kuat untuk mengakui keberadaan orang lain (Other Minds) yaitu, informasi yang melampaui akal dan indera kita. Keberadaan orang lain, tidak dapat dienyahkan sesuai dengan keinginan pikiran kita, kemampuan berbahasanya sama dengan kita, dan akhirnya, orang lain menyampaikan informasi yang akal dan indera kita tidak mampu untuk menjangkaunya. Alasan terakhirlah yang menurut penulis paling kuat yang kemudian akan menopang hal-hal lain yang berkaitan dengan orang lain. Ke-tak-terjangkauan ini disebabkan individu yang menerima informasi tersebut, tidak dapat mengetahui dengan akal atau inderanya tentang apa yang disampaikan oleh seseorang. Misalnya, Andi mengatakan bahwa ia tadi pergi ke Blok M. Bisakah ini dicek dengan indera atau akal kita? Saya kira tidak. Karena pada titik ekstrim, kita tidak akan pernah menemukan pengalaman yang sama dengan yang dialami oleh Andi dan akal kita tidak tahu persis. Lalu bagaimana kita dapat mengetahui, dalam kasus seperti ini (seperti dalam sejarah)? Jawabannya adalah kita harus percaya kepada Andi untuk dapat tahu bahwa ia tadi pergi ke blok M. Tentu kepercayaan ini diberikan melihat berbagai pertimbangan, terutama kejujuran dan keahlian. Kejujuran membuat kita memiliki dorongan yang kuat dan disempurnakan oleh penguasaan seseorang terhadap sebuah ranah atau hal tertentu. Bagaimana menurut anda tentang seorang biolog yang jujur yang berbicara tentang tubuh manusia, dibandingkan dengan bukan biolog yang pendusta yang berbicara juga tentang tubuh, mana yang akan lebih kita percayai? Jawabannya tentu, yang ahli dan jujur – meskipun yang pendusta dan bukan ahli memiliki tempatnya sendiri dan informasi yang disampaikannya tidak dibuang.
Selanjutnya – masih tentang orang lain – afirmasi atau penguatan secara positif dari banyak orang tentang suatu hal, merupakan suatu modus dalam konstruksi pengetahuan. Ketika banyak yang mengatakan bahwa Aristoteles itu ada dan itu dikuatkan oleh orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal dan tidak ada indikasi kebohongan, maka informasi bahwa Aristoteles itu ada menjadi sahih.
Maka, pengakuan tentang keberadaan orang lain, berarti juga termasuk pengakuan terhadap fakultas pengetahuan yang sama-sama dimiliki (akal, indera, dan kemampuan).
Itulah sebuah pengantar tentang alasan yang cukup bagi kita untuk mempercayai sesuatu, yang mudah-mudahan akan mengantarkan kita kepada pengetahuan. Pilih informasi untuk menjadi pengetahuan, jadikan pengetahuan sebagai landasan keyakinan, maka keyakinan akan mendorong kepada perwujudan atas pengetahuan..

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname