SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

Kebudayaan Indonesia, Tak Jelas Di Mataku

Dalam sebuah diskusi kebudayaan, sering kita dengar istilah kebudayaan Indonesia. Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah. Adapula yang menyebut kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan multikultural. Namun, saya merasa agak terganggu dengan istilah kebudayaan Indonesia, dan tulisan ini adalah usaha mengungkapkan ketidakenakkan tersebut.
Ketika disebut kebudayaan, sudah dapat terbayang bahwa kebudayaan berarti seluruh sistem yang dihidupi oleh manusia. Oleh karena itu, kebudayaan adalah sesuatu yang utuh, berkesatuan, dan komprehensif, untuk menjamin hidup yang utuh, berkesatuan, dan pribadi yang utuh.
Utuh dalam artian semua sistem yang terdapat dalam sebuah kebudayaan memiliki koherensi. Lalu, berkesatuan dalam arti bahwa terdapat satu ‘pusat’ yang meliputi segala sesuatu. ‘pusat’ tersebut adalah sesuatu yang dipertuhankan. Sedangkan komprehensif dalam artian bahwa terdapat sistem yang menaungi atau memberi pedoman kepada anggota sebuah kebudayaan dalam menjalani kehidupannya. Maka, ketika kata ‘kebudayaan’ dilekatkan dengan Indonesia, terbayang pula bahwa terdapat sistem yang utuh yang dihidupi dan menjadi pedoman masyarakat Indonesia.
Dari titik ini, pemahaman bahwa kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang multi atau terdiri dari banyak kebudayaan, menjadi aneh. Oleh karena, nantinya tidak ada keutuhan, kesatuan, dan komprehensifitas kebudayaan Indonesia itu sendiri.
Mulai dari sinilah dapat dilihat permasalahan yang dilihat oleh penulis. Permasalahan tersebut berkenaan dengan tidak sesuainya bayangan tentang kebudayaan Indonesia dengan kondisi di kehidupan sehari-hari. Masyarakat Indonesia baru menghidupi bahasa Indonesia – sebagai bahasa persatuan – dan sistem sosial (baca: negara) yang sama. Sedangkan sistem-sistem yang lain belum terumuskan. Sehingga, masyarakat Indonesia pada akhirnya menghidupi kebudayaan daerah atau kebudayaan dari luar negeri. Namun, terlihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa lebih banyak masyarakat Indonesia yang menghidupi kebudayaan dari luar negeri, khususnya kebudayaan Barat dalam kehidupan sehari-hari ketimbang kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah dipandang sebagai sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman. Maka, terlihat definisi bahwa kebudayaan Indonesia sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah, tidak dapat dipertahankan.
Penggunaan kebudayaan barat dalam masyarakat Indonesia dapat dilihat dari penggunaan sistem sosial Indonesia yang berupa negara, dan bukan mengambil bentuk kerajaan atau bentuk yang lainnya, yang sudah lama berada di Indonesia. Contoh lainnya adalah sistem penanggalan. Sistem penanggalan yang digunakan adalah penanggalan masehi. Lalu bagaimana dengan sistem penanggalan Jawa, Melayu, dan lain-lain? Dikemanakankah mereka?
Kemudian, sistem bahasa pun kita mengikuti aksara latin dan secara tidak seimbang tidak mengajarkan pula aksara-aksara lain yang telah hidup di Indonesia. Maka, secara langsung itu merupakan sebuah pemutusan masyarakat Indonesia terhadap sejarahnya sendiri. oleh karena masyarakat Indonesia, secara umum, tidak memiliki kemampuan untuk membaca tulisan-tulisan sebelum aksara latin digunakan.
Sistem ekonomi pun demikian, masyarakat Indonesia mengambil sistem ekonomi Barat sebagai sistem ekonomi Indonesia. Mulai dari sosialisme, kapitalisme, komunisme, dan campur aduk semua itu. Sedangkan sistem ekonomi yang berjalan di kebudayaan daerah mungkin belum mendapatkan perhatian yang penuh.
Pengambilan kebudayaan Barat juga terjadi pada sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia adalah sistem pendidikan yang dimaksudkan sebagai alat perlawanan tehadap sistem pendidikan Islam yang sudah berakar di dalam masyarakat Indonesia. Hal ini dilakukan karena sistem pendidikan Islam dirasakan bertentangan dengan kehendak penjajah. Perlawanan tersebut masih dapat dilihat hingga kini, dengan pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan yang diambil dari Barat, pada akhirnya banyak menghasilkan lulusan-lulusan yang bingung untuk apa mereka belajar, kecuali untuk bekerja. Menuntut ilmu tidak lagi berkenaan dengan keyakinan dan perbaikan akhlak. Padahal, banyak orang-orang yang berpendidikan rendah atau bahkan tidak berpendidikan, mampu menghasilkan uang lebih banyak dari orang yang berpendidikan tinggi.
Melihat kondisi demikian, dalam hati saya bertanya: apakah ini yang disebut dengan kebudayaan Indonesia? Enggan rasanya untuk menjawab bahwa uraian di atas adalah kebudayaan Indonesia. Memang pada masa terdahulu sudah terdapat usaha untuk merumuskan apa itu kebudayaan Indonesia, yang kemudian mengantarkan kepada polemik kebudayaan. Namun, kini budayawan Indonesia seakan-akan tidak berniat untuk menyelesaikan polemik tersebut dan tidak berdaya menghadapi permasalahan kebudayaan yang semakin banyak. Tidakkah kita harus merumuskan kembali apa itu kebudayaan Indonesia? Perumusan kebudayaan Indonesia, menjadi penting karena berkaitan dengan integrasi masyarakat Indoenesia. Jika kebudayaan Indonesia sudah ada maka nasionalisme itu dapat ditingkatkan dan diarahkan secara jelas.
Dari sini pula terlihat jelas bahwa nasionalisme adalah transendensi cinta kepada kebudayaan daerah, beralih kepada cinta kepada kebudayaan nasional. Nasionalisme bukan sekedar cinta kepada negara, karena negara hanya bagian dari kebudayaan. Nasionalisme akan mendorong masyarakat untuk mengenali, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia. Tugas ini bukan hanya tugas para budayawan, tetapi juga tugas semua warga negara yang berari juga warga kebudayaan.
Sedangkan jika kebudayaan Indonesia itu belum juga ada, maka cinta kepada kebudayaan daerah (sering disebut chauvinisme?) akan merupakan ancaman bagi kesatuan, apalagi dengan berlakunya otonomi daerah. Hal lain dapat dilihat dengan menurunnya kualitas nasionalisme. Pengambilan sistem dari kebudayaan lain secara mentah-mentah akan hanya merusak kebudayaan Indonesia yang hendak dibangun. Karena sistem yang diambil terlebih dahulu akan “menuntut” untuk diambil pula “teman-temannya” agar compatible, sedangkan jika tidak maka akan terjadi incompatible dan kerusakan yang jauh lebih dahsyat dalam masyarakat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname