SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

KALENDER DAN IBADAH

oleh khayrurrijal

Kalender adalah sebuah perhitungan waktu dengan menggunakan fenomena alam sebagai ukurannya. Fenomena alam itu dapat berupa matahari, bulan, musim, dan lain sebagainya. Kalender pun menjadi sebuah perhitungan manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi alam yang ada.
Di dalam sejarah kehidupan manusia, telah terdapat banyak jenis kalender, seperti Kalender Mesir Kuno, Kalender Babilonia, Kalender Yahudi, Kalender Julius, Kalender Gregorius, Kalender Hijriyah, dan lain-lain. Memang kini kalender, atas pengaruh globalisasi dan sekularisasi, lebih dipahami sebagai sebuah perhitungan yang hanya berkaitan dengan perihal kehidupan manusia di dunia yang tidak memerlukan keketatan perhitungan. Maksudnya, jikalau terdapat kesalahan dalam perhitungan tersebut, maka hal itu tidak menjadi sebuah masalah yang besar. Hal yang perlu dilakukan hanyalah melakukan koreksi terhadap kesalahan tersebut.
Contoh dari hal tersebut ada pada fakta bahwa Setelah Kalender Julius berusia 1600 tahun ternyata pada hari paskah (Easter) matahari belum mencapai equinox, perlu 10 hari lagi; Tahun 1852 Paus Gregorius XIII membuang 10 hari, sehingga 4 Oktober loncat ke 15 Oktober tanpa mengubah urutan nama hari; banyak pula kaum Kristen yang tidak terlalu peduli tentang ketepatan peringatan Natal dengan kelahiran Yesus itu sendiri. Tanggal 25 Desember tersebut juga tidak terlalu dipersoalkan apakah sungguh-sungguh tepat atau tidak.
Sesungguhnya pandangan bahwa kalender hanya berhubungan dengan perhitungan untuk mengatur kehidupan manusia an sich, adalah sebuah pandangan yang sekular. Jika ditelusuri secara sekilas, kalender-kalender yang sudah ada sejak dahulu sesungguhnya sangat berhubungan dengan aktivitas peribadatan di dalam sebuah kebudayaan. Kita dapat mengingat bagaimana di Mesir, perhitungan kalender itu sangat penting dalam menentukan ritual ibadah mereka yang terhubung dengan matahari. Di Babilonia pun perhitungan yang sedemikian rumit tentang letak bintang pun dilakukan karena terdapat pandangan bahwa posisi bintang-bintang di angkasa itu sebenarnya sangat menentukan apa yang terjadi di bumi, bahkan pada perilaku manusia. Demikian juga jika kita mengamati kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia, maka kita akan menemukan bahwa kalender yang ada itu berhubungan dengan ritual-ritual budaya setempat. Hal ini jelas menunjukkan bahwa pandangan sekular terhadap kalender merupakan sesuatu yang relatif baru.
Pandangan sekular ini juga bermasalah atas beberapa alasan. Pertama, manusia cenderung menentukan sebuah momentum untuk melakukan sebuah aktivitas tertentu. Kedua, manusia menempatkan tindakan atau aktivitas manusia pada tingkatan yang berbeda. Ketiga, pandangan sekular mengabaikan kecenderungan dasar manusia untuk bertuhan dan menyembah Tuhan, padahal hal ini menempati tingkatan yang tinggi dalam aktivitas manusia. Keempat, pandangan sekular cenderung menempatkan peringatan-peringatan kenegaraan, seperti hari kemerdekaan, hingga pada taraf yang menyamai peringatan keagamaan.
Setelah melihat hal tersebut, ketepatan juga merupakan sesuatu yang juga penting untuk diperhatikan. Sebab, ketepatan, khususnya dalam kalender Hijriyah, menentukan kesahihan sebuah tindakan yang bersesuaian dengan waktu pelaksanaannya. Kita dapat melihat kondisi nyata tersebut dari aktivitas sholat lima waktu yang dilakukan sehari-hari. Bukankah letak persis matahari itu sangat menentukan waktu sholat yang akan kita lakukan? Bukankah kita akan melakukan sholat saat waktunya telah tiba? Bukan mendahului atau setelah waktunya. Bahkan, jika seseorang beribadah, misalnya puasa, sudah lewat dari waktunya, maka bisa saja seseorang tersebut melakukan tindakan yang bernilai haram. Kalender yang sangat menuntut ketepatan memang adalah kalender Hijiryah. Sebab, ketepatan waktu juga diiringi dengan nilai hukum yang jelas dan kuat, sehingga membuat muslim dihinggapi sikap hati-hati. Kalender Hijriyah juga didukung dengan sistem peredaran bulan yang tidak memerlukan koreksi. Bersamaan dengan itu, hal ini pula yang mendorong muslimin untuk menelusuri perihal ini hingga pada perhitungan yang jauh lebih canggih daripada kalender yang lain. Subhanallāh walhamdulillāh lāilāhaillallāh allāhuakbar.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname