oleh khayrurrijal
“Power tends to corrupt. Absolute power corrupt absolutely”, begitulah ungkapan Lord Acton, yang sering dikutip dalam pembahasan mengenai kekuasaan. Dalam perjalanan sejarah, Barat melihat bahwa kekuasaan pribadi yang terpusat (baca: raja), kekuasaan negara-agama (baca: teokrasi), telah menghasilkan kondisi peradaban manusia yang rusak. Sikap curiga pun muncul setiap kali ada pihak-pihak tertentu yang hendak mendekati kekuasaan. Mereka seolah mencibir, “itu pasti soal kekuasaan.” Persoalan behind the stages umat manusia ini adalah persoalan kuasa. Bahkan, ungkapan Bacon dengan “knowledge is power” menjadi sangat berkesan di dalam benak Barat. Orien-talisme, yang digunakan untuk penjajahan, adalah salah satu bukti kesan tersebut.
Di dalam Merriam-Webster Dictionary, kekuasaan (power) diartikan sebagai: ability to act or produce an effect; capacity for being acted upon or undergoing an effect; legal or official authority, capacity, or right; possession of control, authority, or influence over others; one ha-ving such power; physical might; mental or moral efficacy; political control or influence.
Kemudian, di dalam Kamus Bahasa Indonesia, kuasa diartikan sebagai: 1 kemampuan atau kesanggupan (untuk berbuat sesuatu); kekuatan; 2 wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan (memerintah, mewakili, mengurus, dsb) sesuatu: ; 3 pengaruh (gengsi, kesaktian, dsb) yang ada pada seseorang karena jabatannya (martabatnya); 4 mampu; sanggup: berkuasa v mempunyal kuasa (dl berbagai-bagai arti, sepertit berkes-anggupan, berkemampuan, berwe-wenang, berkekuatan, dsb); menguasai v 1 berkuasa atas (sesuatu);memegang kekuasaan atas (sesuatu); 2 menge-nakan kuasanya (pengaruhnya dsb) atas; dapat rnengatasi keadaan; 3 mengurus; memerintahkan; 4 mena-han; mengendalikan; 5 mampu sekali dalam bidang ilmu; menguasakan memberikan kuasa (wewenang, hak, dsb).
Kekuasaan berhubungan secara maknawi (relational meaning) dengan beberapa kata seperti: leader, guide, conductor, ruler, dominate, master, capable, control, strength, energy, influence, authority, jurisdiction, control, command, sway, dominion. Force, energy, strength, might, kekuatan, kemenangan, daya, dll.
Semua ko-notasi di atas, sec-ara dasar merujuk kepada makna ‘mampu’. ‘Mampu’ juga berkaitan de-ngan ‘milik’, sebab seseorang yang mampu, memiliki kemampuan. De-ngan kepemilikan kemampuan inilah manusia dapat mewujudkan yang dikehendaki.
Jika kembali kepada persoalan kerusakan yang ditimbulkan oleh ke-kuasaan, hal manakah yang menjadi faktor utama terwujudnya kerusakan? Apakah itu kemampuan itu sendiri? Tapi, bukankah dengan kemampuan, manusia telah meraih kebaikan, kesem-purnaan, dan kebahagiaan? Bagaimana dengan kehendak?
Kehendak manusia ialah satu faktor penting yang diwujudkan oleh kemampuan. Hanya saja, yang perlu pula diperhatikan adalah kehendak tersebut bernilai baik atau buruk. Sayangnya, Barat liberal yang sudah cenderung kepada optimisme perda-maian dan kebaikan manusia, nampak tetap trauma dan takut terhadap kemungkinan kejahatan di dalam diri manusia.
Kekuasaan pada tataran paling sederhana, adalah kemampuan yang ada pada tubuh manusia. Kekuasaan pada tataran lebih lanjut ada pada tingkat keluarga, dan seterusnya. Namun, ada sebuah hal menarik yang sebaiknya diperhatikan yakni, kepemilikan sebuah kekuasaan (di luar diri) cenderung meminta ke-kuasaan lagi yang lebih besar.
Peradaban Barat dapat menjadi contoh kondisi tersebut. Mulai dari zaman Romawi, Abad Pertengahan, dan Modern. Terdapat banyak contoh mengenai haus kuasa yang tak kunjung terpuaskan. Mereka sangat ingin berkuasa agar mereka dapat merasa puas dan bahagia. Namun, mengapa hingga kini mereka tetap sulit merasa bahagia?
Mari kita per-hatikan sebuah analogi yang dibuat S.M. Naquib al-Attas. Penulis melihat bahwa terdapat sifat paralel antara pencarian pengetahuan manusia Barat dan pencarian kuasa manusia Barat.
Manusia Barat terus ingin mencari dan mencari. Mereka tidak ingin berhenti. Berhenti berarti membatu dan mati. Batin mereka tegang karena keraguan, pertentangan konsep-konsep, dan dualisme abadi. Perjalanan abadi pun dilakukan. Bukan untuk sampai pada tujuan. Akan tetapi, hanya melakukan perjalanan demi perjalanan itu sendiri. Jika kemudian mati menjemput, maka itu bukan tujuan. Mati datang, lalu semuanya berakhir dan tidak ada akhirat.
Manusia dengan ketegangan tersebut, ti-dak pernah menemukan apa yang dicarinya lewat pengetahuan ataupun ke-kuasaan. Bahagia dan puas tidak pernah ada. Semuanya hanya semen-tara, termasuk kebaha-giaan. Bahagia itu se-perti lapar dan haus. Sekarang kenyang, lalu lapar kemudian.
Kondisi ini, menurut al-Attas, seperti pejalan haus yang pada pertama kalinya secara tulus mencari air penge-tahuan, tetapi yang ke-mudian, mungkin mene-mukannya kurang mena-rik, mulai mengeraskan cangkirnya dengan garam keraguan sehingga rasa hausnya menjadi tidak terpuaskan meskipun dia minum secara berkelanjutan, dan dengan demikian meminum air tersebut tidak dapat menghilangkan hausnya, dia telah lupa tujuan asal dan sejatinya untuk apa air itu dicari.
Jiwa kebudayaan Barat yang menggambarkan dirinya sebagai Promethean adalah seperti Camusian Sisyphus yang secara putus asa berharap bahwa semuanya baik. Saya katakan secara putus asa berharap bahwa semuanya baik sebab al-Attas menduga faktanya ti-dak semuanya baik, karena ia percaya bahwa Barat tidak pernah dapat sung-guh-sungguh bahagia dalam kondisi ter-sebut.
Pengejaran manusia Barat, sepe-rti perjuangan men-dorong Batu dari daratan ke atas Gunung. Lalu ketika sampai puncaknya batu tersebut ditak-dirkan untuk bergu-ling ke bawah lagi. Kondisi ini menjadi jenis permainan serius, yang tak pernah berhenti, seolah-olah mengalihkan jiwa dari tragedi. Maka, tak heran bahwa dalam kebudayaan Barat tragedi dipuji sebagai nilai mulia dalam drama eksistensi manusia!
Haus kuasa tidak akan pernah terpuaskan. Sebab, kuasa menjadi seperti air laut yang membuat semakin haus. Haus yang terus semakin me-ningkat karena godaan kehendak diri untuk merebut kuasa yang lebih dan lebih. Akhirnya, semakin haus dan tubuh menjadi rusak.
Lalu saat kematian datang, manusia semacam ini, akan berusaha tersenyum miris, dan mungkin akan tetap mengatakan, “Panggil aku ‘penguasa’!”. Meskipun sadar atau ti-dak bahwa dia telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sebab, jiwa hewaninyalah yang sedang ber-kuasa. Manusia semacam ini, menurut al-Attas, hanya sama dengan manusia lain dalam bentuk saja. Dalam esensinya, dia hanyalah hewan yang menyedihkan.
Wallahu a’lam bi al-showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar