oleh khayrurrijal
Wacana pluralisme agama yang belum lama diluncurkan oleh kelompok liberal terlihat begitu meriah dan ilmiah. Wacana yang berusaha meletakkan semua agama dalam kesejajaran dan ke-relatif-an. “Agama-agama tersebut secara eksoteris terbatas, sedangkan secara esoteris sebenarnya menuju dan Tuhan yang sama”, begitulah kurang lebih ungkapan umum dari kalangan pluralis. Dari wacana yang dilemparkan tersebut, penulis merasa tertarik dengan tema universalitas.
Universalitas, sebagaimana dikenal, adalah sebuah ungkapan yang menunjuk kepada sifat tak lekang zaman dan ruang atau berlaku dimanapun dan kapanpun. Dalam hubungannya dengan wacana pluralisme agama, universalitas hanya dilekatkan kepada Tuhan yang sama, sedangkan agama merupakan sesuatu yang partikular. Hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa semua agama, hanya universal dalam hal ketuhanan(?) atau universal dalam menuju Tuhan. Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Zen, Tao, Konfusianisme, Shinto, Islam, Zoroaster, anismisme, dan lain-lain, wilayah eksoteris-nya akan selalu berubah mengikuti perubahan zaman dan tempat.
Pluralisme agama menekankan pada universalitas ketuhanan. Yang pada akhirnya akan membuat manusia cenderung tidak beragama, tetapi cukup ber-Tuhan. Sebab, jika agama-agama adalah sesuatu yang relatif dan terbatas, mengapa kita masih butuh untuk beragama? Bukankah tanpa beragama, manusia masih juga menuju kepada Tuhan yang sama?
Pada akhirnya validitas bentuk peribadatan, tidak mesti ditentukan dari agama-agama. Ibadah, dapat ditentukan oleh manusia sendiri. Ada yang hanya beribadah di wilayah etis, yaitu berbuat baik (meski kebaikan itu dikatakan pula sebagai relatif). Berbuat baik juga adalah jalan menuju Tuhan. Dan cara berbuat baik tidak hanya ada dalam agama dan tidak mesti mengambil dari agama. Itulah mengapa kemudian muncul istilah freelance monotheis yang dilekatkan oleh Karen Amstrong, kepada dirinya sendiri.
Menjadi jelas, bahwa kecenderungan untuk hanya ber-Tuhan (dan tidak beragama), tetap menjadi sesuatu yang sah. Sehingga, konsekuensi dari pluralisme agama meluas keluar dari wilayah agama. Sehingga pula, sebutan ‘pluralisme agama’ mungkin perlu diubah menjadi ‘pluralisme “ibadah”’, karena pluralisme agama tidak hanya berbicara tentang jalan agama-agama menuju Tuhan yang sama, tetapi juga berbicara tentang jalan-jalan menuju Tuhan yang sama. Mungkin akan ada dari kalangan pluralis yang akan berargumen bahwa sebutan ‘pluralisme agama’ sudah cukup, karena jalan-jalan menuju Tuhan yang sama itu juga merupakan agama.
Jika muncul apologi yang demikian, sebenarnya justru akan muncul lebih banyak permasalahan. Permasalahan tersebut berkaitan dengan batasan yang kabur tentang ‘agama’ dan kategori eksoteris-esoteris yang dibuat sebelumnya. Jika semua jalan menuju Tuhan itu disebut sebagai ‘agama’, lalu bagaimana membedakan agama dengan ranah yang bukan agama? apakah pembedaan tersebut hanya karena faktor kepercayaan bahwa ada Tuhan (teis) dan kepercayaan bahwa tidak ada Tuhan (ateis)? Lalu jika sang ateis melakukan kebaikan bukankah ia juga sedang menuju Tuhan? Atau seseorang menuju Tuhan bukan karena melakukan kebaikan saja, tetapi ia menuju Tuhan juga dilihat karena niatnya? Lalu bagaimana jika ia niat menuju Tuhan tanpa melakukan kebaikan? – karena apa yang baik itu menjadi sudah menjadi relatif dalam pandangan pluralis.
Pengaburan yang kedua adalah mengenai kategori eksoteris. Kategori eksoteris adalah kategori yang menunjuk kepada ibadah formal (mahdhoh) suatu agama. Namun, bagaimana membedakan yang eksoteris, pada ranah yang tidak memiliki ibadah formal? Apakah ibadah formal yang dimaksudkan adalah perbuatan baik? Namun, bagaimana dengan ke-relatif-an kebaikan? Bahkan bagaimana jika seseorang ber-eksoteris menuju Tuhan dengan berbuat baik (berperang dan membunuh, kasus pihak keamanan negara) sedangkan kita melihat yang dilakukannya itu sebagai sebuah kejahatan (karena kita yang hendak dibunuh)? Apakah kejahatan dalam pandangan demikian adalah sebuah bentuk eksoteris menuju Tuhan?
Dapat dilihat dari uraian di atas, bahwa perjalanan menuju Tuhan, menjadi terhalang karena niat (menuju Tuhan) tidak terwujud. Niat tersebut tidak terwujud karena ranah eksoteris menuju Tuhan, menjadi sedemikian relatif. Akhirnya ke-relatif-an ini membuat kebaikan maupun kejahatan dapat menjadi jalan menuju Tuhan(?).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar