oleh khayrurrijal
Dalam pembahasan filsafat terdapat pengklasifikasian ranah pembahasan, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Tiga ranah tersebut menjadi sebuah alat untuk memilah letak suatu pembahasan filsafat, meskipun tidak rigid (ketat) karena dapat tumpang tindih. Namun, meski klasifikasi tersebut ada, terdapat perdebatan dalam pembahasan tentang ketiganya. Misalnya ada yang menegasikan (menolak) wujud, dan mengatakan bahwa apa yang ada sebenarnya adalah ilusi, khayalan belaka. Apa yang riil, menurut penolak wujud, tidaklah ada. Semuanya adalah tiruan-tiruan yang tidak memiliki referensi apa pun (Teori Simulacra Baudrillard). Kemudian, banyak usaha untuk tidak terjebak kepada pembahasan ini dengan mencoba mengabaikannya. Apakah realitas itu ada atau tidak ada, tidak lagi menjadi persoalan. Aliran yang menyatakan hal ini disebut sebagai kalangan anti-realis (yang mewujud dalam masalah ketuhanan, menjadi sekularisme). Jika kalangan realis mengatakan bahwa realitas itu ada dan masalahnya adalah manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui realitas tersebut, maka anti-realis akan mengatakan bahwa keterbatasan mengetahui manusia itu tidak ada, karena memang realitas itu tidak ada. Kemudian, perdebatan serupa juga terjadi di ranah epistemologis. Pengetahuan dinegasikan dan yang ada hanyalah opini (doxa). Modus lainnya adalah meletakkan pengetahuan sebagai sebuah kesepakatan (konsensus) atau kesepakatan atas ketidaksepakatan (disensus), sebagaimana dilakukan oleh pragmatisme. Pengetahuan diletakkan pula dalam bingkai relativisme-kontekstualisme (kontekslah yang menentukan “teks” pengetahuan, sehingga selalu relatif). Oleh karena, kalangan ini (antifondasionalis) melihat bahwa pengetahuan yang dibangun oleh kaum terdahulu, tidak memiliki landasan yang kuat. Fondasi tersebut sebenarnya goyah (arbitrer/ semena-mena), dan hanya bersandarkan kepada pengakuan atau kesepakatan suatu masyarakat. Latar dari pengetahuan dapat berupa “kebudayaan” atau pra-asumsi komunitas ilmiah, dan sebagainya. Hal nyata dari pandangan demikian adalah kini yang menjadi penting bukanlah seseorang memiliki pengetahuan (ilmu?,ed.) akan tetapi yang penting adalah seseorang yang memiliki informasi. Dan terakhir, perdebatan serupa terjadi juga di ranah aksiologi (nilai). Nilai, sebelumnya tidak terdapat dalam ranah sains. sains adalah ranah yang objektif dan bebas nilai. Kemudian, hal ini dinegasikan oleh generasi berikutnya, bahwa segala sesuatu itu bernilai dan nilainya adalah relatif. Universalitas nilai itu tidak ada. Penegasian ini menggunakan pandangan bahwa kebaikan itu tidak dapat dibandingkan antara satu latar belakang dengan latar belakang lainnya (incommensurability/ ketak-berbandingan). Juga banyak yang menegaskan tentang ke-relatif-an kebenaran. Dari uraian singkat di atas, penulis beralih kepada tesis yang hendak disampaikan penulis. Tiga ranah tersebut, yaitu wujud, pengetahuan, dan nilai, keberadaannya adalah sebuah keniscayaan, absolut dan ini juga berarti bersifat universal. Pertama, wujud adalah sesuatu yang sungguh-sungguh ada. Wujud bukan merupakan rekaan atau imajinasi atau khayalan belaka. Keberadaannya tidak dapat dienyahkan oleh keinginan manusia. Jika ada usaha penegasian terhadap wujud, maka penegasi wujud bisa melakukannya karena ada wujud. Mari kita periksa. Jika dikatakan bahwa wujud itu tidak ada, lalu apakah tidak ada itu wujud? Adakah sesuatu yang disebut tidak ada/tiada? Lalu bagaimana penegasi wujud dapat menegasi wujud, jika bukan kalau wujud itu ada? Dari wujud kemudian dikenal ketiadaan. Ketiadaan pada dasarnya tidak ada, sebagaimana dikatakan oleh kalangan Zen, Budhisme, Taoisme, atau aliran mistisisme yang lain. Ketiadaan muncul dari harapan yang tidak terpenuhi, seperti dideteksi oleh Sartre. Dan ketiadaan juga dapat muncul karena pengabaian manusia atau pembatasan perhatian atas sekelilingnya. Secara jelas, wujud diketahui oleh manusia sejak ia berwujud. Sejak ia berwujud itulah ia juga mengetahui. Pada tahap awal modus keberadaan manusia, mewujud sama dengan mengetahui (dengan ilmu hudhuri), lalu wujud dan pengetahuan itu sedari awal juga sudah bernilai, sebagai benar adanya. Kemudian, kita beralih kepada ranah pengetahuan. Pengetahuan juga merupakan keniscayaan. Ia adalah sesuatu yang inheren dalam diri manusia. pengetahuan tidak akan pernah dapat dienyahkan dari diri manusia. Mari kita coba enyahkan pengetahuan. Ketika kita menegasikan seluruh pengetahuan yang kita miliki, kita akan tiba pada saat kita mengatakan bahwa kita tidak tahu. Akan tetapi, bukankah kita mengetahui bahwa kita tidak tahu? Bukankah kita masih mengetahui dan kondisi ini tidak akan menghilang, meski dilakukan proses yang tidak berhingga ke belakang (infinite regress)? Ini disebabkan pengetahuan melekat secara inheren dengan wujud subjek. Subjek, atau ego transendental, yang bertindak intensionalitas (noesis) tidak akan pernah tidak mengetahui (tidak dapat dijadikan sebagai objek). Ia akan selalu mengetahui. Dan pengetahuan menjadi sifat yang universal dan tidak goyah seperti dikatakan oleh kalangan penegasi pengetahuan. Dan terakhir adalah ranah nilai. Nilai juga merupakan keniscayaan. Pengakuan bahwa wujud dan pengetahuan sebagai benar adanya, tercermin secara inheren dari ungkapan-ungkapan yang muncul kemudian. Menyebut diri sendiri sebagai ‘aku’, merupakan bentuk pengakuan atas wujud diri dan pengetahuan manusia [lebih lanjut baca Mehdi Ha’iri Yazdi. 2005. Menghadirkan Cahaya Tuhan : Epistemologi Iluminasionis dalam Filsafat Islam. Bandung : Mizan]. Oleh karena, si penyebut ‘aku’ pasti menunjuk kepada wujudnya dan pengetahuannya. Wujud, pengetahuan, dan nilai, kemudian menjadi pra-anggapan penyikapan terhadap realitas. Jika terdapat penolakan – seperti dilakukan oleh David Hume yang mengatakan bahwa ‘aku’ tak lain hanya sekumpulan persepsi. Yang sesungguhnya tidak ada ‘aku’ yang utuh – terhadap penunjukkan ‘aku’ kepada diri yang unik dan utuh atau menolak adanya ’aku’, maka akan menjadi absurd ketika seseorang menyebut dirinya sebagai ‘aku’, karena ia menunjuk kepada apa? Dan apa yang dikatakan Hume, menjadi lemah karena ‘aku’ sebagai kumpulan persepsi tidak akan dapat melampaui (transendental) kumpulan persepsi tersebut. Dan hal ini bertentangan dengan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Nyatanya, manusia dapat melampaui kumpulan persepsi dan melihat secara keseluruhan dan tidak pernah kehilangan identitasnya. Identitas ‘aku’ mengatasi persepsi, karena ‘aku’ bukan berada di dalam kumpulan persepsi, melainkan menjadi subjek yang berada diluar dan melihat kumpulan persepsi tersebut. ‘aku’ ini juga tidak akan dapat dijadikan objek, karena selalu lari dari objektivikasi. Coba saja anda objektivikasi tindak intensionalitas (noesis) melihat dari objek intensionalitasnya (noema). Noesis dari melihat akan berubah menjadi noema dan ada lagi noesis dari noema tersebut. Dan ketika noesis tersebut dijadikan objek kembali, muncul lagi noesis lain yang luput dari objektivikasi. Nilai pun bersifat universal. Misalnya, pernyataan bahwa kebenaran itu tidak ada pun menjadi kebenaran dan ini bersifat universal. Nilai juga berkaitan dengan untuk apa kita berwujud dan mengetahui? Atau setelah aku wujud dan tahu, lalu apa? maka wujud atau pengetahuan untuk wujud atau pengetahuan itu sendiri hanyalah sebuah isolasi yang dilakukan oleh sekularisme (baca lebih lanjut tulisan saya yang berjudul Kebudayaan Barat, Sebuah Tinjauan Kritis) yang hanya berujung kepada kehampaan dan ketidakbahagiaan manusia. Dari apa yang diuraikan, jelaslah sudah maksud penulis bahwa wujud, pengetahuan, dan nilai, keberadaannya adalah sebuah keniscayaan, absolut dan ini juga berarti bersifat universal..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar