SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

MENGENAL PERADABAN

oleh khayrurrijal

Istilah peradaban merupakan sebuah istilah yang sudah diketahui banyak orang. Peradaban menjadi sebuah bentuk terluas dari pencapaian manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Nilai penting sebagai sebuah bentuk terluaslah yang membuat pengenalan terhadap makna peradaban menjadi penting untuk dijelaskan. Selain itu, pengenalan ini juga penting mengingat terkadang terjadi kekaburan makna antara peradaban dan kebudayaan.
Peradaban, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah civilization, didefinisikan sebagai “a relatively high level of cultural and technological development; specifically: the stage of cultural development at which writing and the keeping of written records is attained” dan “a refinement of thought, manners, or taste” (Merriam-Webster’s 11th Collegiate Dictionary 2004 version 3.1). Civilization juga didefinisikan sebagai “a state of human society that is very developed and organized; a society, its culture and its way of life during a particular period of time or in a particular part of the world” A.S Homby, Oxford Advanced Genie, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English Six Edition 2000 Oxford University Press). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia peradaban didefinisikan sebagai “kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin” (Kamus Bahasa Indonesia: 9).
Sedikit berbeda dengan peradaban, kebudayaan (culture) didefinisikan sebagai “the act of developing the intellectual and moral faculties especially by education; enlightenment and excellence of taste acquired by intellectual and aesthetic training; acquaintance with and taste in fine arts, humanities, and broad aspects of science as distinguished from vocational and technical skills; the integrated pattern of human knowledge, belief, and behavior that depends upon the capacity for learning and transmitting knowledge to succeeding generations” (Merriam-Webster’s 11th Collegiate Dictionary 2004 version 3.1). Perbedaan di antara peradaban dengan kebudayaan terletak pada letak masing-masing dalam derajat pembangunan kehidupan manusia. Penekanan bahwa peradaban sebagai sesuatu yang tingkat tinggi (high level) dan bernilai halus (refinement) membuat kita, setidaknya, dapat melihat sedikit perbedaan tersebut.
Dari definisi sederhana tersebut pun terlihat pemilahan yang dibuat dengan kebudayaan dengan pernyataan bahwa peradaban masuk ke dalam kategori perkembangan kebudayaan dan teknologi tingkat tinggi.
Untuk mengenali lebih dekat tentang peradaban, maka berbicara tentang kata dasar peradaban, yakni adab akan sangat membantu pemahaman kita untuk meletakkan makna peradaban. Adab didefinisikan sebagai “budi pekerti yg halus; akhlak yg baik; budi bahasa; kesopanan; beradab v 1 mempunyai kesopanan (bu-di pekerti; sudah maju tingkat ke hidupannya, baik secara moral maupun material; mengadabi v memperlakukan dengan sopan; menghormati; memperadabkan v mengusahakan supaya beradab; meningkatkan taraf hidup; membudayakan” (Kamus Bahasa Indonesia: 9). Adab memang sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab. Dalam pengertiannya yang asli dan mendasar, adab adalah undangan pada sebuah perjamuan dari seseorang yang terhormat, yang ditujukan kepada orang-orang yang terhormat. Hal ini senada serupa dengan Al-Qur’ān itu sendiri yang dinarasikan dalam sebuah hadith Nabi Muhammad Saw bahwa Al-Qur’ān sendiri digambarkan sebagai undangan Tuhan pada perjamuan di bumi. Kita pun didorong untuk mengambilnya agar mendapatkan pengetahuan sejati darinya. Jadi, manusia yang berpandangan mendalam akan berbicara pengetahuan sebagai makanan dan kehidupan dari jiwa, sebab hal itu adalah yang membuat jiwa hidup (Al-Attas, 1999: 24). Uraian tersebut juga menyentuh kenyataan bahwa adab tindakan tubuh, pikiran, dan jiwa yang telah didisiplinkan berdasarkan pengenalan (baca: ilmu) akan tempat yang tepat dari segala sesuatu, khususnya dalam hubungan dengan kapasitas dan potensi fisik, intelektual dan spritual dirinya (Al-Attas, 1999: 22).
Dalam tesaurus (hlm. 4) pun adab dikenali bersentuhan dengan makna “adat, akhlak, budi bahasa, budi pekerti, etika, kebajikan, kehalusan, kepatuhan, kesantunan, kesopanan, kesusilaan, kultur, moral, sopan santun, tata krama, tata susila; cara, hukum, kebiasaan, lembaga, peraturan, resam, sifat; etik, etos, ideal, nilai, pandangan hidup; mengadabi v menghargai, menghormati, menjunjung tinggi; memperadabkan v memajukan, membina, membudayakan; pemberadaban n iluminasi, pembudayaan, pencerahan, pendidikan, penyadaran, sivilisasi; beradab 1 v beradat, berakhlak, berbahasa, berbudaya, berbudi, berkebudayaan, berkemajuan, bermoral, bersopan santun, bersusila, bertamadun, betertib; elegan, manis, santun, sopan, tahu adat, tahu etiket.” Dapat dengan jelas dilihat bahwa adab sesungguhnya memiliki makna yang luas, bahkan termasuk ke dalam makna pendidikan, yang sangat terkait dengan ilmu pengetahuan yang ditanamkan untuk mendorong perwujudan pengetahuan tersebut dalam tindakan (Al-Attas, 1999: 23). Dari uraian singkat tentang adab, maka makna peradaban dapat menjadi lebih jelas. Sebuah peradaban mendasarkan dirinya pada adab, dan adab mendasarkan dirinya para ilmu pengetahuan yang ditanamkan dalam pengadaban (baca: pendidikan).
Di dalam bahasa Indonesia, sesungguhnya terdapat kata lain yang digunakan untuk merujuk kepada peradaban, yakni tamadun. Hanya saja, berbeda dengan peradaban, tamadun itu berakar kata dari dīn (baca: agama, dalam pengertian Islam) (Al-Attas, 2001: Chapter 1). Hal ini pun semakin menguatkan makna peradaban. Penguatan ini terjadi disebabkan oleh pengabaran wahyu oleh Tuhan, atas kemurahan-Nya, kepada umat manusia.Sebab, hanya dīn lah yang merupakan dasar yang paling kuat akan adab.

Referensi
A.S Homby. 2000. Oxford Advanced Genie, Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English Six Edition. Oxford University Press.
Al-Attas, S.M. 1999. The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. ISTAC: Kuala Lumpur.
Al-Attas, S.M. 2001. Prolegomena to the Metaphysics of Islam,an Exposition of the Fundamental Elements of The Worldview of Islam. ISTAC: Kuala Lumpur.
Merriam-Webster’s 11th Collegiate Dictionary 2004 version 3.1.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta
Tim Penyusun Tesaurus Pusat Bahasa. 2008. Tesaurus Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname