Ada sebuah dunia yang dikatakan oleh para penghuninya sebagai sebuah dunia yang harus dinikmati saja dan tidak terkait dengan dunia yang lainnya. Dunia itu adalah seni. Art fo the sake of the art adalah sebuah slogan atau pernyataan yang seringkali dilontarkan oleh para penghuninya. Mereka mengatakan bahwa apa yang terjadi di dunia seni terlepas dari moralitas, agama, politik, atau yang lainnya. Dunia seni adalah dunia ekspresi manusia dapat diaktualisasikan secara maksimal. Dunia seni menjadi sesuatu yang tidak serius, sehingga manusia atau individu dapat bertindak semaunya sejauh itu dikategorikan, oleh the artworld [1], sebagai seni. Dunia seni begitu penuh dengan “ke-pura-pura-an” dan “ke-sandiwara-an”, sehingga tidak ada dalam dunia seni sesuatu yang “sungguh-sungguh”. Bahkan kemudian, hukum seperti enggan pula untuk memasuki dunia seni.
Apakah tidak masalah dalam uraian di atas? Rasanya ada. Namun, dapat dilihat dengan dua cara pandang.
Pertama, bagi individu yang menganggap bahwa seni untuk seni adalah sesuatu yang memang benar adanya. Oleh karena, jika seni dihubungkan dengan dunia lain, apalagi, moralitas dan agama, maka dunia seni tidak akan dapat dinikmati sepenuhnya dan menjadi dunia yang kaku yang tidak indah. Padahal keindahan seharusnya menjadi cirinya. Keindahan, menurut kelompok ini, adalah segala-galanya. Sehingga ke-telanjang-an dapat pula bernilai seni; adegan-adegan yang menggairahkan atau menaikkan birahi adalah sebuah bagian penting dari sebuah film. Keindahan juga merupakan sebuah anugerah Tuhan yang seharusnya dinikmati dan dibagi kepada manusia lain. Maka, wajarlah jika kemudian laki-laki dan perempuan mengusahakan seluruh kemampuan untuk menampilkan keindahan dirinya secara fisik (jasmani, pakaian, perhiasan, dll). Keterpisahan antara dunia seni dan dunia lain, menurut kelompok ini adalah sebuah kondisi yang wajar-wajar saja, sebagaimana pemisahan antara politik dengan moralitas dan agama. Maka, seni dan dunia lainnya janganlah dikait-kaitkan, karena jika dikaitkan maka akan terjadi saling menghancurkan satu sama lain.
Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok kedua akan mengatakan bahwa pemisahan yang terjadi seperti yang diuraikan sebenarnya adalah sebuah pemikiran yang naïf dan tidak realistis. Manusia, menurut Heidegger, adalah in-der-welt-sein (ada-di-dunia) yang tertanam secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Jadi, tidak pernah ada keterpisahan, kalaupun terdapat usaha yang demikian, maka itu adalah sebuah usaha yang akan mencerabut manusia dari kemanusiaannya, atau apakah ini yang diinginkan?
Selanjutnya, pernyataan bahwa seni jika dikaitkan dengan dunia lain akan mengakibatkan tidak dapat dinikmatinya seni sebagai sarana ekspresi manusia, akan nampak seperti kata untuk kata. Bagaimana jika sebuah kata menunjuk katanya sendiri, misalnya ‘kursi’ itu sebenarnya menunjuk kepada kata ‘kursi’. Apa yang dapat dilihat dari contoh ini. Maka kata ‘kursi’ menjadi tidak bermakna apa-apa. Contoh lain, ‘sayang’ sebenarnya menunjuk kepada kata ‘sayang’, maka akan terasa bahwa kata-kata menjadi tidak berguna. Seni, pada masa sebelumnya, sebenarnya juga menunjuk kepada dunia lain, misalnya dunia sosial, ekonomi, agama, politik, dan lain-lain. Sehingga fungsi seni sebagai penunjuk sudah seharusnya makin disadari dan dipertegas. Bukan kemudian dikaburkan seolah-olah tidak berfungsi menunjuk kepada apapun, kecuali kepada seni itu sendiri. S.M. Naquib Al-Attas, mengatakan bahwa pandangan melihat penunjuk bukan sebagai penunjuk, adalah sebuah kondisi yang ada pada masyarakat Barat. Ia memberikan sebuah analogi. Pada saat malam yang hujan, sebuah mobil tiba di sebuah persimpangan dan melihat sebuah penunjuk jalan yang biasa saja, sehingga dapat menuju tujuan perjalanannya. Akan tetapi akan berbeda, jika kemudian penunjuk jalan tersebut berbentuk sangat indah, dihiasi dengan ukiran yang rumit, dibuat dengan emas dan bertabur mutiara. Pada kondisi tersebut, sang pengendara akan dapat terlupa hingga akhirnya keluar dari mobil walaupun sedang hujan lebat. Sang pengendara lupa kepada penunjuk jalan sebagai penunjuk ke tempat tujuannya[2].
Sebuah pertanyaan muncul, apakah jika seni untuk seni, maka apakah seni dapat berkembang dengan sendirinya, atau justru mengambil ke dunia lain? Kemudian, seni yang pada masa kini telah digunakan untuk kritik, apakah suatu penyimpangan dari dunia seni? atau apakah dunia seni memiliki otoritas untuk mencampuri dunia lain, sedangkan dunia lain tidak memiliki otoritas untuk mencampuri dunia seni?
Kemudian, masalah keindahan. Keindahan yang merupakan anugerah Tuhan haruslah dinikmati semaksimal mungkin. Namun, mengapa konotasi keindahan ini menjadi begitu materialistis? Lalu bagaimana dengan keindahan berperilaku atau berakhlak? Apakah kebaikan, ketulusan, kasih sayang, pengorbanan, pertolongan, bukan sesuatu yang indah dan menawan jiwa?
Keindahan yang materialistis, apakah dinikmati semaksimal mungkin hingga mencapai tingkat “telanjang-bulat”? akan tetapi, mengapa kini para seniman, pelukis, sastrawan, kemudian beralih kepada yang masih “tertutup”, karena sudah bosan dengan yang “terbuka-lebar”? menjadi sebuah pemikiran, apakah nanti masih ada yang indah jika penikmatan keindahan dilakukan secara membabi buta seperti ini, masih adakah? Entahlah akan tetapi keindahan fisik yang diperjuangkan agar tetap awet, niscaya akan pudar dan mungkin akan tidak lagi indah, kecuali, keindahan berperilaku tertinggal di dalam diri. Meskipun, tidak pernah ada yang dapat menjamin bahwa kita akan sampai pada masa hilang keindahan fisik.
Dari dua kelompok tersebut, mari kita melakukan refleksi!
- jika seni itu ternyata pasti memiliki fungsi, maka apa fungsi yang mendasar dari seni?
- Apakah itu hanya untuk mengekspresikan diri manusia?
- Apakah itu untuk mengkritik?
- Apakah itu untuk mengingatkan tujuan hidup?
- Apakah itu…………..?
- Mengapa kita memilih salah satu fungsi itu?
- Adakah yang lebih mendasar dari berbagai fungsi itu?
- Apakah fungsi-fungsi itu sedemikian terpisah, sehingga mengekspresikan tanpa batas terpisah dari mengkritik tanpa adab dan terpisah dari mengingatkan tujuan hidup?
Kemudian, seni untuk seni, adalah sesuatu yang tidak realistis, yang kemudian menimbulkan dehumanisasi, menggiring kepada anomali yang lain, mengakibatkan dunia lain menjadi rusak, keindahan yang menurun nilainya atau semakin tidak bermakna, dan keindahan direduksi sebatas materi.
[1] The Artworld adalah sebuah institusi yang terdiri atas seniman-seniman yang memiliki otoritas untuk mengatakan sebuah karya atau ekspresi, sebagai sebuah karya seni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar