oleh khayrurrijal
Empirisme logis adalah sebuah aliran pemikiran yang mulai memusatkan perhatian kepada permasalahan bahasa. Hal ini dapat dilihat dari kategori yang dibuatnya, yaitu analitik dan sintetik. Namun, nuansa empirisistik yang melabeli aliran ini tetap kental terasa. Dan nuansa tersebut dapat dirasakan dengan kategori sintetik dan metode verifikasi. Kategori sintetik adalah sebuah kategori yang memasukkan proposisi yang selalu dihubungkan dengan realitas objektif yang ditunjuk oleh kata-kata atau nama-nama dalam sebuah proposisi. Sesuatu menjadi benar jika ada kesesuaian antara nama dan realitas objektif, yang diuji melalui verifikasi inderawi. Dengan kata lain, nama yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan realitas objektif, menjadi sesuatu yang salah. Namun, tidak hanya berhenti di sini, empirisme logis sangat menekankan bahwa indera adalah alat verifikasi satu-satunya terhadap proposisi sintetik. Sehingga, proposisi yang tidak dapat diuji oleh indera adalah proposisi yang semu atau pseudo-proposisi.
Uraian tersebut terlihat begitu rigid dan telah menutup celah untuk falsifikasi terhadap dirinya sendiri. Namun, ketika ditelusuri lebih lanjut, saya melihat bangunan yang telah dibuat oleh empirisme logis menjadi sesuatu yang rapuh. Kerapuhan ini mulai terlihat ketika diberikan uraian tentang aliran emotivisme. Aliran emotivisme adalah aliran yang mengatakan bahwa moralitas normatif – seharusnya – sebenarnya hanyalah ungkapan perasaan seseorang yang tidak memiliki landasan yang kuat. Perasaan adalah tempat moralitas berpijak. Ungkapan pamungkas seperti “ya gua maunya gitu; sepertinya lebih enak begini” dalam sebuah dialog tentang moralitas adalah indikasi yang dapat diamati. Mungkin sebelumnya terdapat uraian tentang mengapa sesuatu seharusnya begini atau begitu dan ditambah deskripsi tentang akibat dari sebuah etiket. Akan tetapi –seperti sudah diungkapkan – dialog tersebut akan mencapai ungkapan pamungkasnya, dan akan menunjukkan dasar dari moralitas normatif.
Kalaupun terdapat dialog tentang moralitas maka itu hanya akan berupa vindikasi dan pemaparan konsekuensi. Vindikasi adalah sebuah upaya untuk menyentuh prinsip yang dipegang oleh lawan bicara, sehingga akan tercipta sebuah kesepahaman tentang sebuah persoalan moralitas. Sedangkan pemaparan konsekuensi adalah pemaparan tentang akibat-akibat yang mungkin timbul dari sebuah perbuatan moral. Sehingga diharapkan lawan bicara dapat menyetujui atau tidak menyetujui sebuah perbuatan moral.
Menurut saya, reduksi inilah titik kerapuhan dari bangunan argumentasi empirisme logis. Kerapuhan ini timbul karena teori aliran emotif dapat menjadi meluas dan akhirnya melingkupi kekuatan kategori yang dibuat oleh empirisme logis, yaitu analitik dan sintetik. Kerapuhan ini timbul karena kebenaran akhirnya berpulang kepada kehendak manusia. Banyak hal yang mungkin telah ditemui berkenaan dengan hal ini. Misalnya, banyak orang yang menolak suatu kebenaran – meski dalam terminologi empirisme logis – karena ia merasa tidak enak dengan kebenaran yang diajukan oleh seseorang.
Dan juga sebaliknya, banyak orang yang menerima suatu kesalahan – meski dalam terminologi empirisme logis – karena ia merasa cocok dengan apa yang diutarakan kepadanya. Orang menjadi tidak peduli dengan koherensi atau korespondensi suatu kebenaran. Nilai pentingnya menjadi terletak kepada manfaat dari kebenaran (kebenaran pragmatis) atau bahkan hanya kepada pemuasan kehendak –tidak penting itu bermanfaat atau tidak, yang penting kehendak terwujud. Banyak orang yang tidak lagi dapat disentuh prinsip yang mereka pegang – mungkin tidak ada prisnip yang dipegang – ataupun dipengaruhi dengan pemaparan pelbagai konsekuensi yang akan muncul dari suatu perbuatan. Dengan kondisi yang demikian maka, apakah empirisme logis memiliki kekuatan untuk membuat orang menerima kebenaran? Atau ia hilang kekuatan karena empirisme logis hanya sebuah deskripsi kebenaran sedangkan penerimaannya dikembalikan kepada manusianya?
Fenomena tindakan emotif seperti diuraikan di atas, sebenarnya juga sudah sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika seseorang memilih salah satu warna pakaian dari sekian banyak pakaian dengan berdasarkan pada perasaannya saja. Dan masih banyak contoh lainnya yang berkaitan dengan pilihan seseorang mulai dari hal yang memiliki beban ringan seperti memilih warna pakaian, makanan, minuman, gaya bicara, hingga yang pilihan yang memiliki beban yang berat seperti menikah dan, hidup atau mati.
Memang untuk pilihan yang memiliki beban ringan seperti memilih warna pakaian, alasan atau argumentasi dibalik pilihan itu menjadi tidak terlalu penting untuk ketahui. Akan tetapi, ketika pilihan itu telah masuk ke wilayah yang lebih luas dari sebatas diri pribadi dan memiliki beban yang berat, tentu akan menjadi suatu masalah. Akan sangat menjadi masalah jika seluruh orang menerima, menolak, melakukan segala hal hanya dengan ungkapan pamungkas emotif. Lalu bagaimana dengan seluruh kehidupan manusia? ketika manusia membunuh karena ya dia mau saja begitu.
Dari apa yang sudah diuraikan, memang dapat dimengerti bahwa orang tidak lagi peduli dengan kebenaran, karena kebenaran itu relatif. Ia berubah dengan berubahnya waktu. Kebenaran yang mungkin diterimanya kini, ia tahu akan berubah. Lalu untuk apa ia menerima kebenaran? Lebih baik ia menunda kebenaran koherensial atau korespondensif dan menerima kebenaran (atau kesalahan?) yang memiliki manfaat bagi kehidupannya kini (bukan nanti/masa depan) atau tidak lagi mempedulikan kebenaran, karena yang penting adalah kehendaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar