oleh khayrurrijal
Diskursus tentang Tuhan dan agama-agama yang kini seringkali di angkat, menawarkan sebuah pandangan baru yang hendak meletakkan semua agama-agama yang ada dalam sebuah kesejajaran. Agama-agama tersebut menjadi sebuah “jalan” yang sama-sama sah untuk menuju Tuhan yang Satu. Oleh karena Tuhan hanya Satu, maka “jalan” manapun dapat digunakan untuk menuju Tuhan tersebut.
Jika diteliti pandangan yang demikian sebenarnya membuat dua jenis pembedaan antara isi dan bentuk. Isi adalah tujuan menuju Tuhan Yang Satu, sedangkan bentuk adalah “jalan” yang membawa tujuan tersebut. Dengan menggunakan kerangka-melihat yang sederhana ini kita dapat melihat bagaimana orang-orang yang berpandangan demikian melihat fenomena agama-agama yang ada dalam hubungannya dengan Tuhan. Semua bentuk yang ada menjadi sesuatu yang sah untuk menuju Tuhan. Semua bentuk, meski memiliki keterbatasan, tidak membuat keabsahan menuju Tuhan itu menjadi berkurang. Setiap bentuk sudah utuh dalam dirinya sendiri untuk menuju Tuhan.
Kemudian mari kita melihat pembedaan bentuk dan isi yang telah diungkapkan di atas. Bentuk dan isi, adalah dua hal yang saling-tergantung. Dikatakan demikian karena penulis menemukan bahwa terdapat bentuk-bentuk yang ternyata tidak dapat mewujudkan sebuah isi.
Contohnya, kebaikan adalah isi yang hendak diwujudkan dengan sebuah bentuk. Kebaikan dalam hal ini baru sesuatu yang abstrak dan belum berwujud. Kini mari kita wujudkan kebaikan tersebut dengan membantu orang miskin. Hasilnya adalah kebaikan tersebut berbentuk dan orang yang dibantu merasakan kebaikan tersebut. Kini mari kebaikan tersebut kita wujudkan kembali dengan membantu orang miskin, dan kemudian kita publikasikan siapa saja yang kita bantu, dimana rumahnya, berapa bantuan yang diberikan, siapa nama kita sebagai pemberi bantuan, kemudian mengarak-araknya keliling lingkungan rumah sekitar. Lalu hasilnya bagaimana? Apakah kebaikan dapat terwujud dengan bentuk seperti itu atau justru sebaliknya, yang dirasakan oleh penerima bantuan adalah sebuah bentuk pelecehan dan eksploitasi atas kemiskinan yang dideritanya? Singkatnya, bentuk ini ternyata mungkin dapat mewujudkan kebaikan dan mungkin juga tidak mewujudkan kebaikan.
Contoh lain, misalnya kita hendak menuangkan ide ‘manusia’ namun ternyata kata yang kita tuliskan atau ucapkan adalah tentang ‘tumbuhan’, tentu ide ‘manusia’ tidak dapat diwujudkan dengan bentuk kata ‘tumbuhan’, seterusnya. Sebenarnya banyak contoh lain yang dapat ditelusuri sendiri yang akan menguatkan bahwa isi dan bentuk memiliki hubungan yang sangat erat, karena isi tidak dapat terwujud tanpa bentuk, dan bentuk selalu sudah mengandung isi.
Jika elaborasi singkat di atas sudah dipahami, maka mari kita gunakan pemahaman di atas kepada persoalan hubungan Tuhan dan agama-agama. Memang nampaknya tidak ada yang bermasalah dengan argumentasi yang diusung oleh mereka. Kini mari kita lihat lebih dekat. Semua agama menuju Tuhan Yang Satu, nampaknya memiliki kebenaran. Namun, penulis menemukan adanya sebuah hal tersirat yang cukup mengganggu, yaitu tentang penentuan bentuk. Para pensejajar agama seolah-olah mengatakan bahwa bentuk-bentuk apapun menjadi sah untuk menjadi “jalan” menuju Tuhan Yang Satu, bahkan apabila tidak dengan agama (hanya bertuhan). Dengan mengatakan ini, tersirat bahwa bentuk-bentuk tersebut tidak menjadi masalah apakah itu dibuat manusia atau tidak. Tentunya, akan membingungkan jika ternyata untuk menuju Tuhan, kita dapat membuat bentuk sendiri, dan bentuk yang kita buat itu sama absah dengan bentuk-bentuk yang lain. Terlontar pertanyaan dalam batin penulis: Siapakah sebenarnya yang menentukan bentuk agama? manusia atau Tuhan itu sendiri? bagaimana manusia, yang membuat bentuk atau tidak membuat bentuk, mengetahui bahwa bentuk tersebut menuju Tuhan Yang Satu? Bagaimana manusia tersebut tahu bahwa bentuknya diterima oleh Tuhan?
Tentu akal sehat kita akan mengatakan bahwa karena Tuhan memerintahkan manusia untuk menuju-Nya, tentu Tuhanlah yang menentukan “jalan” mana yang seharusnya ditempuh. Dengan sebuah analogi trayek kendaraan, tentu tidak semua kendaraan memiliki tujuan trayek yang sama, yang telah ditentukan dinas perhubungan. Sehingga menjadi penting untuk mengetahui bentuk mana yang telah ditentukan Tuhan untuk menujunya, karena membuat bentuk secara semena-mena untuk menuju Tuhan tentu juga tidak dibenarkan oleh para pensejajar agama. Maka, semakin kuatlah argumentasi bahwa ada bentuk yang ditentukan oleh Tuhan, yang bukan diada-adakan oleh manusia.
Kini bagaimana kita mengetahui sebuah agama (bentuk) membawa tujuan kepada Tuhan Yang Satu dan kemudian diterima oleh Tuhan Yang Satu? Jawaban atas pertanyaan demikian dapat dijawab bahwa kita harus melihat Ucapan Tuhan sendiri tentang agama mana dan cara ibadah seperti apa yang sebenarnya diterima olehnya. untuk mengetahui hal tersebut tentu kita juga harus melihat pada agama-agama partikular yang ada tentang hal tersebut. Kalau ternyata di dalam semua agama partikular tersebut saling menguatkan dan memiliki koherensi dalam menuju Tuhan Yang Satu tentu pandangan para pensejajar agama nampak tidak bermasalah. Tapi bukankah cukup dengan agama Yahudi saja untuk menuju Tuhan Yang Satu, mengapa kemudian ada lagi agam Kristen, dan ada lagi Islam.
Pandangan para pensejajar agama, nampaknya memiliki sebuah kelemahan yang cukup krusial. Para pensejajar agama nampaknya hanya memperhatikan pengakuan tentang menuju Tuhan saja, tapi ternyata mengabaikan adanya penolakan dan kritik yang dilontarkan antara satu bentuk pada bentuk yang lain. Apakah tidak diperhatikan bagaimana penolakan Yahudi terhadap Kristen yang dianggap sebagai bid’ah? Apakah tidak diperhatikan penolakan Kristen terhadap Islam, yang juga dianggap sebagai bid’ah? Apakah juga tidak diperhatikan kritik yang diberikan Islam (Al-Qur-aan) kepada Kristen dan Yahudi? Dan pentingnya memperhatikan kritik dan penolakan tersebut adalah karena kritik dan penolakan tersebut berkaitan dengan tujuan kepada Tuhan Yang Satu. Tiga bentuk yang disebutkan tadi, sedang berbicara tentang isi yang dibawa oleh bentuk masing-masing, yang menyatakan bahwa bentuk yang lain tidak lagi membawa isi yang asli, yaitu menuju Tuhan Yang Satu. Apakah hal-hal tersebut tidak menjadi perhatian para pensejajar agama?
Penulis pikir tentu hal yang demikian krusial tentu seharusnya menjadi perhatian siapapun yang hendak berbicara tentang agama-agama dalam hubungannya dengan Tuhan. Dan tidak dengan semena-mena mengabaikan atau menghilangkan perbedaan krusial tersebut.
Wallahu’alam bishshawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar