SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

Sains Keyakinan

oleh khayrurrijal

PENDAHULUAN
Manusia, sebagai makhluk yang diyakini sebagai makhluk yang berpikir, berjuang mempertahankan kehidupannya di muka bumi dengan berbagai cara. Kemampuan ini mulai dari mengumpulkan makanan, meramu, dan berburu hingga terus meningkat dan menjadi kebudayaan sebagaimana dikenal sekarang.
Kebudayaan adalah sebuah sebutan yang luas untuk menyebut berbagai hal yang telah dihasilkan manusia sepanjang sejarah. Di dalamnya –kebudayaan- terdapat sistem sosial, religi, teknologi, sistem pengetahuan, mata pencaharian, dan sistem kekerabatan. Seluruh hal tersebut, secara aktual dapat dilihat perkembangannya hingga saat ini. Perkembangan ini tentunya tidak lepas dari peran manusia yang mendambakan kemajuan dan peningkatan kualitas hidupnya. Perkembangan sektor-sektor kebudayaan tersebut ada yang kemudian mengalami sebuah perkembangan dan simbiosis yang menakjubkan dalam sejarah, yaitu sistem pengetahuan dan teknologi. Sistem pengetahuan tersebut mungkin lebih dikenal dengan nama sains.
Sains, sebuah istilah yang digunakan untuk menamai aktivitas praktis nalar dalam kehidupan manusia, telah terbukti banyak membantu dan mempermudah atau dengan kata lain, membantu secara efektif dan efisien aktivitas manusia dalam segala bidang. Keunggulan ini memang tidak muncul secara langsung dalam pentas sejarah (baca: Barat), karena menemui hambatan-hambatan yang serius. Hambatan dalam hal ini adalah agama. Agama seolah menginginkan sains menjadi sesuatu yang statis dan tidak meningkat. Hal ini dapat dilihat dari pelekatan kebenaran agama –teks kitab suci- kepada penemuan Ptolomeus, seorang astronom, yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat alam semesta -geosentrisme. Dapat dilihat, bahwa terdapat asumsi dari agama bahwa sains itu tidak berubah sama halnya dengan agama. Sehingga, ketika muncul penemuan yang baru dan itu mengkoreksi pandangan sebelumnya, seolah-olah kebenaran agama tercoreng. Hal inilah yang kemudian memicu timbulnya sentimen terhadap sains dan munculnya usaha-usaha untuk mengeliminir hal-hal atau orang-orang yang berlaku controversial berkaitan dengan sains. Hal ini terbukti dengan meninggalnya Copernicus ketika mengutarakan teorinya tentang heliosentrisme; Galileo yang kemudian dituntut untuk menarik kembali semua persetujuannya terhadap teori heliosentrisme; tuduhan penyihir terhadap orang-orang dengan aktivitas “gelap” untuk membangun sains. Semua hal itu tercatat dalam sejarah sebagai sebuah kisah kelam antara agama dan sains.
Peristiwa tersebut –represi agama terhadap sains- ternyata juga memunculkan sentimen dari kalangan pro-sains. Sains yang dibangun adalah sains yang kemudian berusaha setidaknya untuk mengganti interpretasi kebenaran yang diklaim agama (baca:gereja), atau bahkan secara ekstrim, menolak keberadaan agama. Pada awalnya sentimen ini hanya muncul pada kalangan ilmuwan. Namun, kemudian mengalami perluasan kepada orang-orang yang juga memiliki pengalaman “pahit” dengan agama. Sentimen ini memunculkan interpretasi-interpretasi atas fakta-fakta yang ditemukan para ilmuwan yang kemudian ditujukan untuk menyerang agama. Contohnya, teori evolusi Darwin. Darwin sebagai perumus teori ini tidak pernah bermaksud untuk menolak keberadaan Tuhan, akan tetapi pihak lainlah yang memanfaatkan teori ini untuk menguatkan argumentasi menolak agama atau Tuhan.
Penggugatan atau penolakan yang awalnya hanya tertuju pada agama tertentu ini, kemudian mengalami perluasan, menjadi kepada semua sistem kepercayaan manusia. Religi, sebagai sebuah bagian dari kebudayaan, kemudian harus berhadapan dengan sains, yang juga merupakan bagian dari kebudayaan. Jadi, di sini terlihat bahwa ada usaha dari salah satu bagian kebudayaan (baca: sains dan religi) untuk saling menolak, dan ini tampaknya absurd.
Dalam sejarah, kemudian sains yang didukung oleh positivisme, tampak “naik daun”. Hal ini secara langsung membuat orang-orang menjadi pro-sains. Agama, yang merupakan lawan sains, seolah terpojokkan dan dianggap tidak dapat mengikuti perkembangan zaman. Anggapan ini ternyata mendorong seluruh agama untuk menyatakan bahwa konsep-konsep yang mereka miliki, memiliki kesesuaian dengan penemuan-penemuan sains. Terlihat seperti sejarah sedang berulang kembali, bahwa kebenaran agama (baca:kitab suci) dilekatkan kepada penemuan-penemuan sains. (apakah memang harus demikian?) Namun, sains yang sedang menjadi objek pengagung-agungan masyarakat, seolah enggan dan terus berkelit bahwa sains dan agama itu tidak memiliki kesesuaian. Kalaupun memiliki kesesuaian, sainslah yang utama, karena agama adalah pseudo-sains atau sains yang semu. Dalam hal ini agama menjadi subordinasi sains.
Sains, ternyata tidak “naik daun” terlalu lama. Banyak pertimbangan yang menjadi sebab “kemerosotannya”. Perang dunia sebanyak dua kali, kerusakan lingkungan, menurunnya Emotional Quotient, “kering” nya kehidupan manusia, dan masih banyak dampak negatif lainnya dari sains, yang memang tidak terpetakan sebelumnya. Atau dengan kata lain, semua dampak negatif itu tidak diperkirakan sebelumnya oleh para ilmuwan. Sehingga sains yang mengangkat kemajuan kehidupan manusia menemukan banyak masalah dalam dirinya sendiri dan terhadap seluruh sector kehidupan manusia. Rasionalitas yang selalu diusung oleh sains juga ternyata tidak cukup untuk mendekati realitas, dan bahkan –dalam bahasa Taoisme dan Zen- perlu untuk dihentikan kegiatannya. Oleh karena yang diberikan rasionalitas hanyalah gambaran yang masih jauh atau bahkan mengaburkan kenyataan itu sendiri. Pada saat inilah, manusia cenderung meninggalkan perhatiannya dari sains, dan menuju apatisme terhadap kehidupan.
Seyyed Hossein Nasr, dalam sebuah bukunya yang berjudul The Encounter Man and Nature, menjelaskan bahwa penyebab semua gejala tersebut adalah tercerabutnya manusia dari pusat (sentral) kehidupannya, menuju ke pinggiran (perifer) kehidupannya. Tuhan sebagai pusat kehidupan, ditinggalkan oleh manusia modern dan beralih kepada wilayah perifer seperti materi, kekuasaan, pengetahuan, seks, dan lain-lain. Sehingga, menurutnya manusia harus kembali kepada sentral kehidupannya dan tidak berusaha untuk mengenyahkannya.
Hubungan sains dan agama memiliki banyak bentuk dalam kenyataan sejarah. Bentuk hubungan itu kemudian coba dirumuskan oleh Ian G. Barbour menjadi empat bentuk yaitu, konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Konflik diwakili oleh agamawan literalis dan ilmuwan materialis. Sedangkan independensi lebih merupakan sebagai keengganan untuk konflik, dan cenderung membatasi diri pada bahasan tertentu. Bentuk dialog adalah bentuk yang mencoba mengatasi jikalau terdapat peristiwa persinggungan antara sains dan agama, dengan melihat kesamaan-kesamaan yang dimiliki masing-masing, bukan dari segi perbedaannya. Sedangkan terakhir, yaitu integrasi, membuat sebuah formulasi penyatuan antara sains dan agama.
Empat bentuk tersebut memang bukan berupa tahapan, namun demikian menurut penulis, empat bentuk itu dapat saja dilihat sebagai tahapan. Awalnya antara sains dan agama mengalami konflik, lalu mereka mencoba menghindari konflik dengan bentuk independensi. Kemudian mereka berdialog karena menemukan bahwa mereka tidak dapat mengelak dari persinggungan, tetapi mereka tetap menghindari konflik dengan melihat kesamaan antara mereka. Setalah itu mereka melihat bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang seharusnya dapat dilengkapi dan disempurnakan dengan sebuah formula integrasi.
Integrasi, sebenarnya merupakan kecenderungan utama dari Ian G. Barbour. Ia mengatakan bahwa manusia tidak menghidupi kehidupannya secara terpisah. Lebenswelt –dalam istilah Husserl- manusia tidak terpisah-pisah sebagaimana dapat dilakukan di dunia abstraksi. Kehidupan sosial, religi, perdagangan, hukum, sains, teknologi, pendidikan, tidaklah terpisah. Karena itu semua merupakan jejaring yang bersangkut-paut. Manusia dengan dunianya adalah terkait erat, atau dalam istilah Heidegger, in-der-welt-sein (manusia-ada-di-dalam-dunia). Setiap sektor memiliki pengaruh terhadap sektor lain. Dukungan terhadap integrasi sains dan agama juga dilakukan oleh Seyyed Hossein Nasr. Hal ini dinyatakan Nasr, dalam bukunya berjudul The Need for Sacred Knowledge, yang menawarkan sebuah konsep integral antara sains dan agama, yaitu sains suci (sacred science). Dengan sains suci, Nasr mencoba untuk mengatakan bahwa agama dan sains dapat bersatu. Karena, sains suci, yang merupakan sains tertinggi, mempunyai kaitan erat dengan prinsip-prinsip Ilahiah dan manifestasinya. Ia adalah pengetahuan yang bersemayam dalam manusia, seperti juga pengetahuan yang dimengerti lewat wahyu. Sains suci bukanlah pengetahuan metafisika, akan tetapi merupakan suatu ilmu yang merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip metafisika kepada makrokosmos dan juga mikrokosmos. Kata kuncinya adalah totalitas dan kesatuan. Menurutnya, sains modern, walaupun berkorepondensi dengan realitas, namun tidak akan melampaui fenomena. Karena, jika hanya pada tingkat fenomena, manusia tidak akan menemukan apa-apa kecuali kekosongan. Dukungan lain dilakukan oleh banyak tokoh seperti Mulyadhi Kartanegara, Amsal Bahtiar, Armahedi Mahzar dengan Integralisme Islam, Ben Goertzel dengan hiper-realisme, Kent Palmer dengan Holonomi, dan Ken Wilber dengan Integralisme Universal, dan masih banyak tokoh lainnya.
Jadi, sungguh naïf jika kita berkata bahwa dunia-manusia –dalam istilah Pramoedya Ananta Toer- itu terpisah-pisah. Kebutuhan akan dunia-yang-utuh inilah yang kemudian, menurut penulis, mendambakan sebuah pandangan-dunia yang utuh atau integral, yang lebih dekat dengan kecenderungan manusia menjalani hidupnya.

PEMBAHASAN

Manusia, kembali mendapat guncangan seiring dengan berbagai analisa yang digunakan oleh bidang-bidang sains, seperti genetika behavioral, neurosains, sains komputer. Kemanusiaan manusia yang pada awalnya sedikit terguncang oleh teori evolusi, kini semakin dipertanyakan. Ketika penemuan-penemuan dalam bidang-bidang tersebut cukup mengejutkan berbagai pihak.
Dalam pembahasan ini akan digunakan rumusan Ian G. Barbour untuk menjelaskan berbagai interaksi sains dan agama dengan perdebatan seputar penemuan ilmiah.
1. Konflik
a. Materialisme Reduktif
Francis Crick, satu dari dua penemu DNA, dalam bukunya The Astonishing Hypothesis, menyatakan bahwa kebahagiaan, kesedihan, rasa identitas, kebebasan kehendak, pada hakikatnya tidak lebih dari perilaku sekumpulan sel saraf dan molekul yang berkaitan. Dan kita tak lain adalah sekumpulan saraf. Tokoh lain, Crick, menyatakan sebuah reduksi materialistis, yang bahkan mereduksi kesadaran menjadi sebuah produk korelasi sistem-sistem kognitif yang berbeda melalui osilasi listrik berfrekuensi 40 Hz.
Tokoh lain adalah Daniel Dennet, yang menyatakan bahwa Diri pada dasarnya adalah sebuah ilusi atau fiksi kebahasaan. Fiksi kebahasaan yang dimunculkan otak untuk memberi kepaduan secara retrospektif di antara berbagai narasi. Diri dinilai sebagai pusat yang menyatukan semua narasi yang manusia alami sepanjang hidupnya. Diri adalah sebuah fiksi yang kita ciptakan untuk memberi keteraturan di dalam hidup kita. Secara langsung ia mengatakan bahwa kesadaran adalah ilusi. Ia menolak konsep Descartes tentang pikiran yang abadi dan pengamat yang menyatukan berbagai persepsi. Sebuah pernyataan yang mencirikan dirinya sebagai seorang reduksionis adalah sebagai berikut : “kita terbuat dari robot atau yang serupa dengan itu, yaitu himpunan miliaran mesin makromolekuler.”
b. Sosiobiologi dan Moralitas Manusia
Moralitas dalam anggapan masyarakat awam, adalah sesuatu yang Ilahi atau berdasarkan konvensi, dan hanya terbatas pada itu. Edward O. Wilson menyatakan – lewat studi sosiobiologi – bahwa moralitas merupakan ungkapan emosi yang tersandikan di dalam gen. Moralitas dinilai merupakan produk dari sejarah evolusi. Hal ini dikuatkan oleh Holmes Rolston, seorang filosof, yang mengatakan bahwa moralitas merupakan sebuah kapasitas yang ada dari seleksi alam.
Moralitas tentu berkaitan dengan nilai. Dalam hal ini, menurut Michael Ruse yang merupakan filosof evolusioner, mengatakan bahwa moralitas adalah sekumpulan ilusi yang disusupkan kepada kita oleh gen-gen kita. Kemudian ia juga mengatakan bahwa semua nilai bersifat subjek. Nilai-nilai pada dasarnya adalah konstruksi manusia yang diproyeksikan ke dunia. Namun, ia menambahkan bahwa jika dipandang secara serius, kita mestinya mempercayai bahwa nilai-nilai itu bersifat objek. Nilai yang bersifat subjektif ini, menurutnya memerlukan ilusi akan objektivitas. Klaim lain juga muncul dari Robert Wright, seorang psikolog evolusioner bahwa tindakan-tindakan yang amoral ternyata memiliki basis genetis.
c. Determinasi Genetis dan Kebebasan Manusia
Genetika behavioral, kadang-kadang mengklaim bahwa nasib kita ditentukan oleh gen kita, atau bahwa orang tidak perlu bertanggung jawab atas perbuatan buruknya karena “genlah biang keladinya”. Dari sini juga kemudian merumuskan kebebasan menjadi sebuah penentuan diri pada tingkat perseorangan. Hal ini secara tersirat menyatakan bahwa kebebasan adalah ilusi pada tingkat kemasyarakatan.
Berkaitan dengan genetika, muncul sebuah usaha rekayasa yang membuat pusing kaum agamawan. Mereka mengklaim bahwa rekayasa genetika adalah “memainkan Tuhan” dan melampaui batas. Kita akan kehilangan ketakziman dalam hidup. Menurut mereka, rekayasa genetika merupakan bentuk lain dari kesombongan teknokratis sebagaimana dicitrakan dalam mitos Promtheus, kisah tentang menara Babel, dan novel modern tentang Dr. Frankenstein.
2. Independensi
Tidak ada konflik antara pernyataan ilmiah dan keagamaan tentang sifat dasar manusia jika keduanya berdiri sendiri dan tidak berkaitan satu sama lain. Dalam dualisme klasik tubuh/jiwa, jiwa dikatakan immaterial dan secara inheren tidak terjamah oleh penyidikan ilmiah. Versi terkini dari independensi menyatakan bahwa tubuh dan jiwa merupakan dua istilah dari dua wacana yang berbeda fungsi dan memberikan perspektif yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia. Akhirnya, konsep Alkitab tentang dosa dan pembebasan tampaknya tidak berkaitan langsung dengan sains meskipan tidak bertentangan dengan bukti-bukti ilmiah.
a. Dualisme Tubuh/Jiwa
Permasalahan dualisme ini, dalam Kristen belakangan ternyata tidak ditemukan di dalam Alkitab. Diri (nephesh) adalah kesatuan berpikir, berasa, berkehendak, dan bertindak. Hal ini disetujui Oscar Cullmann, yang mengatakan bahwa tafsiran Kristiani dan Yahudi tentang penciptaan menolak gagasan Yunani tentang dualisme tubuh/jiwa. Secara khusus, tubuh bukanlah sumber kejahatan atau sesuatu yang harus dienyahkan, dijauhi, atau ditolak dengan dalih khawatir disalahgunakan. Padahal, doktrin inkarnasi, menunjukkan bahwa Yesus merupakan perwujudan bahwa tubuh merupakan sesuatu yang penting. Keutuhan-diri manusialah yang juga merupakan sasaran penyelamatan Tuhan. Pandangan dualisme tubuh/jiwa pada dasarnya bertahan di alam Yunani melalui kaum Manichean dan kaum Gnostik, yang menyatakan bahwa tubuh adalah sumber kejahatan dan bahwa kematian membebaskan jiwa kita dari penjara tubuh. Penolakan tubuh memang terlihat dalam tulisan Agustinus, akan tetapi kemudian tubuh dihormati lagi berkat upaya Thomas Aquinas, yang mengatakan bahwa tubuh adalah bentuk dari jiwa.
Oleh karena itu dualisme ini – Cartesian – ditolak. Namun, dualisme otak/pikiran dibela oleh beberapa saintis terkemuka. Wilder Penfield menunjukkan bahwa pasien yang otaknya dirangsang dengan listrik menyadari bahwa bukan dirinya yang menggerakkan jari tangannya. Penfield mempostulatkan bahwa adanya suatu pusat yang berbeda sama sekali dengan jaringan saraf. Menurutnya, pikiran sadar adalah entitas independen yang secara aktif di dalam modul-modul area jaringan dari belahan otak yang dominan.
b. Tubuh dan Jiwa : Perspektif Komplementer
Beberapa penulis mengatakan bahwa tubuh dan jiwa bukanlah dua entitas yang berbeda, melainkan merupakan dua istilah dari dua wacana tentang manusia. Teolog Keith Ward, mengatakan bahwa perujukan kepada “jiwa” menyatakan keterbukaan masnuia kepada Tuhan dan juga menyatakan nilai dan keunikan setiap individu. Dari satu perspektif kita adalah organisme biologis, sedang dari perspektif lain, kita merupakan makhluk yang bertanggung jawab untuk mengetahui dan mencintai Tuhan.
Pendekatan dua-bahasa juga diadopsi oleh beberapa psikolog dengan kecenderungan teologis yang kuat. Malcolm Jeeves mengatakan bahwa pikiran dan otak merupakan dua cara pandang tentang peristiwa yang sama. Ia mengutip kalim Donal MacKay bahwa perspektif mental dari pelaku merupakan komplementer bagi perspektif ilmu saraf dari pengamat. Jeeves mengatakan bahwa sains dan agama juga menghadirkan perspektif-perspektif, atau cara-cara menangkap realitas, yang saling melengkapi. Atau dengan kata Fraser Watss, bahwa “kita harus melihat sains dan agama sebagai perspektif-perspektif tentang realitas yang berpotensi untuk saling melengkapi.”
3. Dialog
Tiga topik dialog yang akan ditinjau adalah neurosains dan diri-jasmani, antropologi dan diri sosial, dan pembandingan antara otak dan komputer.
a. Neurosains dan Diri-Jasmani
Kaitan antara tubuh dengan peristiwa mental memang dipersepsi secara beragam pada berbagai bidang riset ilmiah. Persepsi itu sendiri merupakan produk evolusioner dari aksi yang melibatkan jasad. Humberto Maturna dan Francisco Verela menunjukkan bahwa sistem perpetual organisme tidak memberikan representasi yang eksak tentang dunia. Organisme sebenarnya menksonstruksi informasi yang relevan dengan kebutuhan dan tindakannya sendiri.
Fakta lainnya adalah adanya kebergantungan keadaan mental terhadap proses biokimia, ditunjukkan dalam efek hormon, “obat pengubah-pkiran”, dan pengobatan terapeutis. Sains juga kemudian mengakui peran emosi dalam kognisi. Antonio Damasio berargumen bahwa nalar dan emosi tidak dapat dipisahkan. Dia menunjukkan bahwa Descartes dan saintis kognitif modern mengabaikan peran emosi dalam proses kognisi.
b. Antropologi dan Diri-Sosial
Diri sosial ini, ditegaskan oleh penelitian disiplin antropologi dan psikologi. Diri atau kita ditentukan oleh hubungan kita dengan orang lain. Sebagai teman, ayah, adik, kakak, anak, warga negara, dan lain-lain.
c. Komputer dan Otak
Komputer dan otak dinilai sama-sama sebagai penyimpan informasi. Oleh karena itu terdapat usaha untuk menciptakan Atificial Intelegence (AI) untuk kemudian mencoba memahami kognisi manusia. Namun, ternyata hal ini mendapatkan hambatan. Memang komputer atau robot memiliki kemampuan pengolahan informasi yang lebih cepat daripada manusia, namun ternyata robot memiliki kemampuan rendah atau sangat lama dalam melakukan sosialisasi dengan lingkungannya. Jadi, terdapat ketidakseimbangan. Dreyfuses berpendapat bahwa sistem komputer yang hampir identik dengan otak manusia adalah yang diisi dengan motif manusiawi, tujuan kultural, dan bentuk jasmani. Klaim peneliti AI hanya menyangkut koginisi manusia, dan emosi tidak terkait dengan kognisi.
Ada perbedaan penting antara komputer dan otak. Otak memiliki triliunan neuron, yang masing-masing terhubung dengan sekitar sepuluh ribu neuron tetangganya, banyaknya cara koneksi yang mungkin antar neuron jauh lebih besar dari jumlah atom di alam semesta. Sinyal di antara neuron tidak bersifat digital, tetapi tersandikan dalam sifat-sifat yang berubah seperti potensial listrik atau frekuensi pengaktifan neuron.
4. Integrasi
Jika kadang-kadang dialog merumuskan ulang ide keagamaan mereka tentang topik-topik tertentu dalam sinaran sains, pendukung integrasi mengambil sains secara lebih ekstensif dan sistematis serta bermaksud merekonstruksi teologi yang berjangkauan jauh. Tiga contoh disajikan di sini, yaitu organisme biologis dan diri yang bertanggung jawab, analisa filosofis tentang pikiran dan otak, dan pemahaman kedirian dalam filsafat proses.
a. Organisme Biologis dan Diri yang Bertanggung Jawab
Teolog Phipil Hefner mengatakan bahwa kita merupakan created co-creator dalam proses menciptakan yang terus menerus. Evolusi adalah cara Tuhan mencptakan makhluk yang berkebebasan, dan karenanya membuka kemungkinan penciptaan yang lebih luas. Sebagai co-creator, manusia memiliki kebebasan dan kapasitas untuk mencari arah yang benar-benar baru. Oleh karena itu, masalah rekayasa genetika menjadi sebuah bukti dari peran manusia sebagai co-creator.
b. Pikiran dan Otak
Owen Flanagan berpendapat bahwa tinjauan fenomenal atas orang-pertama dapat dikorelasikan dengan data dari psikologi kognitif dan neurosains. Ia sangat mempertimbangkan pengalaman-sadar kita. Flanagan berargumen bahwa diri adalah konstruksi. Anak baru lahir secara bertahap mengembangkan diri secara terintegrasi dengan bantuan orang tua dan orang lain. Melalui pematangan dan sosialisasi, identitas diri yang khas terbentuk, terutama dalam betnuk naratif. Diri berubah akibat dengan persentuhannya dengan lingkungannya dan orang lian. Model-diri tidak menggunakan konsep yang diterapkan pada neuron karena mencerminkan tujuan dan nilai kita, serta pola tindakan dan hubungan manusiawi kita.
David Chalmers mengatakan bahwa kesadaran tidak dapat direduksi. Dan dalam hal ini ia membela teori dua-aspek atau dapat disebut sejenis panpsikisme. Dia mengusulkan bahwa keadaan-keadaan informasi merupakan penyusun-utama realitas dan bahwa mereka selalu mewujud secara subjektif dan fisikal. Kita dapat mengatakan bahwa aspek-aspek internal dari keadaan ini merupakan aspek fenomenal, sedangkan aspek eksternalnya bersifat fisikal, atau sebagai sebuah slogan: pengalaman merupakan informasi dari dalam dan, sedangkan fisika merupakan informasi dari luar.
c. Filsafat Proses

Whitehead dan para pengikutnya beranggapan bahwa komponen dasar realitas bukanlah dua jenis substansi abadi atau satu jenis substansi, melainkan satu jenis peristiwa dengan dua aspek atau fase. Filsafat proses lebih lanjut mengatakan bahwa sangat mungkin terjadi interaksi antara pikiran dan sel-sel otak.

Sistem konseptual filsafat proses menunjukkan beberapa tema yang dikembangkan dalam bagian awal bab ini.
· Penubuhan. Setiap peristiwa dipandang dalam proses memikir sebagai sintesis antara kejadian jasmani pada masa lalu dan masa kini. Tidak ada peristiwa yang mempunyai aspek subjektif tanpa dibarengi aspek objektif. Pancaindera, meisalnya penglihatan, selalu mempunyai rujukan jasmani, alih-alih sekadar menyalurkan informasi tentang dunia.
· Emosi. Filsafat proses mengakui arti-penting pengalaman bukan-inderawi dan persepsi tentang perasaan di dalam tubuh kita sendiri. Kesadaran dan pemikiran kognitif terjadi dengan latar belakang perasaan.
· Hierarki Bertingkat. Di antara filsafat proses, Charles Hartshorne membangun gagasan tentang serangkaian tingkat yangmengantarai atom dengan diri. Dia mempertimbangkan perbedaan anara sel dan agregat, misalnya batu. Pandangan holistik mengarahkan perhatian ke sifat sistem-sistem yang tidak muncul dalam kondisi individual. Akan tetapi, filsafat proses mengakui bahwa berbagai tingkatan bisa diintegrasikan menurut prinsip pengaturan yang sangat berbeda sehingga karakteristik masing-masing bisa jadi sangat berbeda. Dalam organisme yang kompleks, kausasi downward dapat terjadi karena setiap entitas adalah apa yang pada dsarnya merupakan hubugan-hubungannya. Setiap entitas dipengaruhi oelh partisipasinya dalam keseluruhan yang lebih besar. Kemunculan timbul dari modifikasi atas penyusun-penyusun tingkat yang lebih rendah dalam konteks yang baru.
· Proses Sadar dan Tak Sadar. Menurut Whitehead, kesadaran pertama kali muncul pada binatang dengan sistem saraf pusat, yang muncul secars radikal. Bagi manusia, sebagaian besar aktivitas mental bersifat tak-sadar. Kesadaran hanya terjadi pada fase akhir dari pengalaman yang paling kompleks sebagai produk sampingan pengalaman tak-sadar. Ia melibatkan informasi dari masa lalu dan masa depan, penjelajahan berbagai kemungkinan, pembandingan alternatif-alternatif. Identitas diri ada dalam kontinuitas proses yang sebagai besar berada di bawah ambang kewasapadaan.
· Konstruksi Diri. Diri adalah konstruksi sementara, tetapi dia menegaskan bahwa ini merupakan proses menyatukan yang kompeks. Kesatuan diri adalah kesatuan fungsi, bukan kesatuan pemikiran Cartesian.

PENUTUP

Menurut penulis, uraian yang dilakukan oleh Barbour dalam bukunya, terkesan cukup memaksakan diri. Karena terlihat ada fakta-fakta yang kemudian dipaksa untuk masuk ke dalam kategori yang sudah dibuat. Yang penulis pahami malah, bahwa terdapat konflik penafsiran secara terus menerus, baik antara kaum agamawan dengan ilmuwan, agamawan dengan agamawan, ilmuwan dengan ilmuwan, terhadap penemuan-penemuan dalam sains. Penulis juga melihat bahwa integrasi merupakan sebuah kebutuhan yang menuntut agama maupun sains untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga dunia manusia, dapat utuh untuk dihayati
Catatan Kritis :
Empat bentuk hubungan agama dan sains yang dibuat oleh Ian G. Barbour, sebenarnya hanya mengungkapkan dua bentuk hubungan, yaitu hubungan konflik dan integrasi. Bentuk independensi, menurut penulis, sebenarnya hanya merupakan sebuah bentuk konflik yang tak nampak. Oleh karena, sains dan agama seolah-olah membatasi diri dan enggan untuk bersentuhan satu sama lain, karena memang akan membuat konflik terbuka. Sedangkan bentuk dialog, menurut penulis, sebenarnya adalah sebuah bentuk yang bahkan dalam penjelasan Barbour, sulit untuk dibedakan dengan bentuk integrasi. Bentuk dialog, seolah-olah keberadaannya cenderung dipaksakan. Penulis melihat hal ini dari bukunya Juru Bicara Tuhan, yang memiliki kejelasan bentuk hanyalah bentuk konflik dan integrasi.
Sains dan agama jika dilihat dari sudut pandang kebudayaan, maka keduanya merupakan sesuatu yang memiliki posisinya masing-masing. Atau dengan kata lain sains dan religi adalah bagian dari kebudayaan yang seharusnya tidak menjadi saling mengeliminir. Kesadaran akan hal ini cukup penting agar mengembalikan hubungan yang lebih konstruktif di antara keduanya.
Diferensiasi yang terjadi antara agama dan sains, bukan berarti membuat mereka terpisah dalam dunia. Memang gejala nampak-terpisah ini dapat dilihat pada perkembangan ilmu pengetahuan dengan filsafat dan bidang-bidang ilmu dalam ilmu pengetahuan. Namun, menurut penulis, hal ini nyatanya tidaklah demikian. Hal ini dengan mudah difalsifikasi lewat pengalaman. Pengalaman kehidupan sehari-hari hanya menyajikan bahwa kita bersentuhan dengan diri sendiri, bersentuhan dengan orang lain, dengan binatang, tumbuhan, makhluk lainnya dan Tuhan. Sentuhan ini bersinambung dan tidak terputus atau terpisah. Politik, sosial, hukum, agama, yangpada saat abstraksi seolah-oleh terpisah, ternyata lewat pengalaman tidak ditemukan keterpisahan tersebut, karena semua itu menyatu. Semua itu adalah nama-nama yang kita berikan kepada aktivitas sehari-hari kita, dan tidak seharusnya ketika terdeferensiasi dan terspesialisasi malah membuat nama-nama itu tidak kembali ke dunia yang nyata. Dalam hal ini, diri-diri dalam dunia-yang-utuh mendambakan pandangan-dunia yang utuh pula untuk menjalani kehidupannya.

DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Abidin, Zainal. 2002. Filsafat Manusia. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Barbour, Ian.G. 2002 . Juru Bicara Tuhan. Bandung : Mizan
Calne, Donald.B. 2005. Batas Nalar. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.
Capra, Fritjof. 2000. The Tao Of Physics. Yogyakarta : Jalasutra.
Hawwa, Sa’id. 2002. Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jakarta : Gema Insani Press
Mahzar, Armahedi. 2004. Revolusi Integralisme Islam. Bandung : Mizan
Nasr, Seyyed Hossein. 1993. The Need for a Sacred Knowledge. UK : Curzon Press
. . Antara Tuhan, Manusia, dan Alam, diterjemahkan dari buku Encounter Man and Nature oleh Ali Nur Zaman. Yogyakarta : IrciSoD
Shihab, M.Quraish. Logika Agama. Jakarta : Lentera Hati.
Yahya, Harun. 2003. Rahasia DNA. Bandung : Dzikra
Makalah :
Amsal Bahtiar. Integrasi Ilmu dalam Perspektif Islam. 2004.
Mulyadhi Kartanegara. Revitalisasi Ilmu-ilmu Rasional dan Integrasi Ilmu-Spiritualitas. 2004.
Budi Hartanto. Filsafat Seyyed Hossein Nasr : Allah, Keabadian, dan Alam Yang Suci.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname