SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

Kecerobohan Penerjemahan Bahasa, sebuah permasalahan!

oleh khayrurrijal


“aduh, kata ini kok nggak ada padanannya di bahasa gue?” itu merupakan salah satu ungkapan yang muncul dalam fenomena penerjemahan antar-bahasa. Seperti sudah diketahui, bahasa adalah unsur sebuah kebudayaan. Sebuah sarana komunikasi antar-anggota kebudayaan. Sebuah sarana dalam merekam dan menyampaikan gagasan. Dan dalam penerjemahan ada proses yang teliti melihat apakah memang sebuah kata asing memiliki konotasinya pada bahasa lain. Namun, permasalahan yang muncul adalah ketika penerjemahan menjadi sesuatu yang ceroboh atau gegabah. Fenomena ini salah satu penyebabnya adalah inferioritas sebuah bahasa terhadap bahasa lain. Pada akhirnya, banyak anggota sebuah kebudayaan menjadi lebih suka menggunakan bahasa yang sedang superior untuk berbicara. Kondisi ini lebih lanjut akan membuat adanya penyamaan-penyamaan yang ceroboh. Salah satu contohnya adalah penerjemahan “science“ menjadi “ilmu”. Penerjemahan ini pada dasarnya tidak tepat, karena “ilmu” lebih luas dari “science”. “ilmu” lebih dekat dengan “knowledge”, dibandingkan dengan “science”.
Namun, meskipun ada kedekatan antara sebuah kata dengan kata dalam bahasa asing, harus pula dipahami bahwa sebuah bahasa dalam sebuah kebudayaan, pada dasarnya memiliki “kosmologi” sendiri. Sebuah bahasa adalah terdiri atas kata-kata yang terjalin erat satu sama lain dan merupakan penanda terhadap pandangan-dunia sebuah kebudayaan. Bahasa dalam sebuah kebudayaan, membuat orang memiliki ketajaman penglihatan yang berbeda-beda. Oleh karena, ia mampu mengenali berbagai benda yang telah diberi nama dengan ketelitian yang mengagumkan. Misalnya dalam bahasa arab, terdapat berbagai macam nama untuk singa. Terdapat nama yang berbeda untuk singa mulai dari kecil hingga besar, dengan perubahan kata sebanyak 1000 buah. Seperti contoh yang sudah disebutkan, “knowledge” meskipun dekat dengan “ilmu” tidak berarti sama, dan penerjemahannya pun akan cukup beresiko bagi bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Pertama, “knowledge” dapat kemudian menjadi bermakna ketuhanan atau sebaliknya, “ilmu” menjadi tidak bermakna ketuhanan.
Reduksi yang terjadi di dalam penerjemahan ini sudah terjadi antara bahasa Inggris-Amerika dengan bahasa-bahasa lain – yang dekat dengan kita adalah bahasa Indonesia. Telah banyak terjadi reduksi dan pendangkalan kata. Karena bahasa mengandung pandangan-dunia sebuah kebudayaan, maka sudah sepatutnya terdapat kehati-hatian dan ketelitian dalam proses penerjemahan. Ketika sebuah kata dalam kebudayaan Barat masuk tanpa melalui proses yang teliti, itu akan merusak pandangan-dunia kebudayaan yang dimasukinya.
Sikap yang bijak adalah ketika terdapat sebuah kata yang memang berbeda dari segi pandangan-dunia – bukan hanya isi kata (konotasi) – diadapsikan kata itu sesuai dengan asal bahasanya. Seperti “liberal” menjadi “liberal”; “philosophy” menjadi “filsafat”, dll. Mengingat itu adalah sebuah cara untuk menjaga agar sebuah pandangan-dunia tidak dirancukan atau di”racun”kan dengan pandangan-dunia lain. Maka, sudah sepatutnya kita berhati-hati, jangan sampai karena ketidaktelitian dalam menyampaikan atau menerjemahkan sesuatu, malah menyebabkan kita menimpakan bencana kepada pandangan-dunia agama/kebudayaan kita sendiri. Wallahu’alam bishshowab.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname