oleh khayrurrijal
Informasi dan ilmu merupakan “entitas” yang dapat dipastikan bersileweran di dalam kehidupan manusia, khususnya saat ini. “Terpaan” keduanya semakin deras dan terakselerasi setelah didorong dengan “turbin” teknologi. Ada beberapa jenis orang yang muncul dalam menghadapi kondisi ini. Pertama, orang yang tak berdaya. Kondisi tak berdaya ini ditunjukkan dengan dihampirinya ia oleh informasi dan ilmu, baik yang diperoleh secara aktif maupun pasif. Orang tersebut pada titik tertentu akan masuk dalam kondisi jenuh, bingung, bahkan muak. Sebab, pikirannya seperti kehabisan “kertas-kosong” atau “bytes”; tidak mampu menolak muatan yang mau masuk; dan tidak mampu untuk memilih “file” apa yang hendak dihapus. Overload, mungkin itu sebuah kata yang dapat menggambarkan secara sederhana tentang apa yang terjadi.
Namun, mungkin muncul pertanyaan mengapa orang tersebut tidak berdaya?; Mengapa ia tidak memiliki lagi “ruang-waktu-kosong” dalam pikirannya untuk menampung itu?; atau mengapa ia tidak mampu menolak dan menghapus apa yang ada dalam pikirannya? Pertanyaan ini secara langsung juga mengaitkan kita pada jenis orang yang kedua dalam menghadapi “banjir” informasi dan ilmu. Jenis orang itu disebut orang yang berdaya. Tanda-tanda yang dapat dilihat dari jenis ini adalah ia tidak jenuh, bingung, apalagi muak. Sebab, ia dapat menolak muatan yang mau masuk; tidak kehabisan “bytes”; dan dapat menghapus “file” yang diinginkannya.
Tetapi, apa yang membuat orang jenis pertama tidak mampu sedangkan yang kedua mampu? Faktor apa yang paling signifikan dari kedua jenis tersebut?
Untuk menjawab ini, mari kita membayangkan bahwa ilmu merupakan bahan konsumsi. Ilmu dibayangkan sebagai makanan. Jika ilmu itu makanan, maka tentu kita adalah konsumennya. Lalu, coba kita bayangkan proses makan-memakan. Pertama, makanan yang tersedia kita masukkan ke dalam mulut. Lalu diolah dan dihaluskan oleh gigi dan enzim mulut. Setelah itu masuk ke dalam kerongkongan, ke lambung terus ke usus. Kemudian, terjadi penyerapan zat-zat. Namun, mungkin tidak semua dimanfaatkan tubuh, ada juga bahan-bahan yang kemudian dibuang atau, dalam istilah biologi, ekskresi.
Kini, dengan analogi tersebut, mari kita memandang ilmu. Dalam proses tersebut, setidaknya terdapat dua entitas penting yaitu, ilmu dan subjek penerima ilmu. Selain itu terdapat proses penting yang terjadi kepada ilmu yang dikonsumsi. Dalam eksposisi di atas, sejak awal sudah terjadi proses penghalusan, pelumatan, pembakaran, baru kemudian penyerapan, dan terakhir pembuangan. Proses tersebut dapat diringkas menjadi pengolahan, penyerapan, dan pembuangan. Kembali lagi, ilmu yang diterima seseorang, idealnya mendapat pengolahan dari subjek dengan semua sarana yang dimilikinya. Kemudian, baru menyerap menjadi “dirinya”. Maksudnya, menjadikan ilmu tersebut menjadi bagian dirinya sendiri, seperti halnya makanan yang dimakan itu menjadi sel-sel tubuh atau daging. Akhirnya dari proses tersebut, selain ada hal yang diterima, juga mungkin ada yang dibuang.
Dari uraian tersebut, sebenarnya bagian yang paling signifikan sehingga subjek dapat menyerap dan membuang informasi dan ilmu adalah bagian pengolahan. Sebab, seseorang harus memiliki alat pengolahan sendiri yang a priori, yang tanpanya subjek akan mengalami banyak kerusakan. Lalu apa itu alat pengolahan ilmu? Alat tersebut biasa disebut pandangan-alam, pandangan hidup, pandangan-dunia, atau framework. Peran serta pandangan hidup itu seperti halnya gigi, enzim, dan banyak entitas dalam tubuh – termasuk kekebalan tubuh – dalam menghadapi entitas yang masuk ke dalam tubuh. Jika seseorang memiliki alat pengolahan yang bagus, maka apa yang masuk ke dalam tubuhnya juga akan menghasilkan bahan untuk diserap yang bagus pula, dan begitu juga sebaliknya apabila alat pengolahannya buruk.
Dalam kekinian, banyak orang yang mungkin tidak sadar bahwa ia memiliki pandangan hidup yang buruk, atau bahkan tidak memiliki pandangan hidup. Ketahuilah bahwa HIV itu membuat penyakit yang paling ringan sekalipun dapat menyebabkan kematian; makanan paling bergizi pun tidak dapat memberikan manfaat signfikan bagi seseorang dengan tubuh sakit. Hal inilah yang sebenarnya patut mendapatkan perhatian siapapun yang sedang “tergenangi” atau bahkan “tenggelam” dalam lautan informasi dan ilmu, namun tidak mampu untuk “berenang” dan mengambang, apalagi menuju “daratan”.
Ini memang sebuah analogi, tetapi jika anda kurang percaya, cobalah jadi jenis orang yang pertama! “selamat” mencoba...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar