Ibu, telah lewat tanggal ketika orang-orang memperingati dirimu. Mengingat perjuangan dalam pemeliharaan kandungan, melahirkan, menyusui, mendidik, dan akhirnya melepaskan menuju kemandirian. Semua itu seringkali membuat seorang anak mampu meneteskan air mata dalam keheningan muhasabah atau evaluasi diri. Sebuah evaluasi tentang apa yang sudah anakmu berikan atau baktikan kepada engkau.
Ibu, sadarkah engkau jika feminisme itu terlihat hanya menjadi sebuah jebakan bagimu agar engkau menjadi komoditas baru bagi para kapitalis. Engkau dijadikan sebagai model sebuah iklan, menjadi pemancing gairah laki-laki. Sungguh aku tidak menyukainya, terlebih karena yang terpancing itu bukan ayahku.
Ibu, mencari nafkah bukanlah kewajiban yang dibebankan Allah kepadamu. Engkau dibebankan kewajiban untuk merawat anakmu, melahirkan, mendidik, dan mempersiapkan untuk menjalani kehidupan yang keras. Kalaupun engkau mencoba bekerja, engkau hanya akan lebih lelah. Karena menangani dua buah wilayah, wilayah pekerjaan dan aku. Pada akhirnya, dua wilayah itu hanya akan terbengkalai dan tidak optimal digarap. Dan yang menderita bukan hanya engkau, tapi anakmu.
Ibu, tolonglah telusuri ke kedalaman batinmu. Apa sebenarnya kecenderungan dasar dirimu atau fitrahmu?, apakah benar ke-biologis-an dirimu tidak berpengaruh kepada peranmu di dunia?, apakah engkau sedemikian menginginkan untuk memperoleh apa yang laki-laki peroleh? Tidak cukupkah engkau, hanya dengan diriku? Aku adalah amanah bagimu, yang akan membawamu, baik ke taman akhirat atau api jahanam.
Ya Allah, ampunilah ibuku dan bimbing ia menuju fitrah dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar