oleh khayrurrijal
Dalam hal kesempurnaan agama, paham kesatuan transenden agama-agama menimbulkan permasalahan tentang dimana letak kesempurnaan agama-agama. Tentu tidak dapat dinafikan bahwa agama-agama itu berbeda satu sama lain. Namun, apakah perbedaan ini ada pada tingkatan transenden, sehingga masing-masing agama menyusun sebuah kesatuan dan kesempurnaan? Padahal, ini justru menunjukkan bahwa masing-masing agama itu tidak utuh pada dirinya sendiri pada tingkatan eksoterik dan keseharian, sehingga tidak dapat mencapai kesempurnaan dan kesatuan hanya dengan agamanya sendiri. Apakah dia kemudian harus memeluk seluruh agama? Padahal agama itu ada untuk dijalankan pada tataran eksoterik dan keseharian.
Kemudian pada sisi Rabb dan Ilah, paham kesatuan transenden agama-agama menjadi sebuah istilah yang membingungkan. Sebab, jika transendensi Tuhan yang dimaksud tidak terkait dengan sepuluh kategori ontologis maka, Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan sebagai Rabb. Namun, sesungguhnya seluruh keturunan Adam telah mengenali Tuhan sebagai Rabb. Hanya saja, jika mengakui Tuhan sebagai Rabb tanpa kemudian mengakui sebagai Ilah, maka ini adalah sebuah pengakuan yang tidak pantas, sebagaimana telah dilakukan oleh Iblis. Iblis telah mengenali Tuhan sebagai Rabb, tetapi tidak mengakuinya sebagai Ilah. Mengakui Tuhan sebagai Ilah adalah berserah diri dengan cara dan bentuk yang diterima oleh-Nya, bukan sebuah penyerahan diri yang semena-mena berdasarkan rekaan. Jika ini yang terjadi maka, ini adalah sebuah bentuk pembangkangan terhadap Tuhan. Jadi, jelas bahwa “kesatuan” tersebut sebenarnya lebih tepat adalah “kesatuan” Tuhan agama-agama.
Ketiga, paham kesatuan transenden agama-agama memunculkan masalah pada kondisi psikologis. Jika “transenden” yang dimaksud adalah kondisi psikologis yang dialami oleh segelintir orang, maka keseluruhan manusia yang merupakan sasaran agama, tidak akan pernah mencapai kondisi transenden, dimana terdapat kesatuan agama-agama tersebut.
Terakhir, paham kesatuan transenden agama-agama tidak membuat pembedaan antara pengalaman keagamaan dengan agama itu sendiri. Tidak adanya pembedaan ini membuat terjadinya kesalahan penarikan kesimpulan yang fatal bahwa ketika seseorang itu mengalami pengalaman keagamaan, maka itu berarti agama yang dianut oleh orang tersebut adalah agama yang setara dengan agama wahyu. Padahal, seseorang yang tidak beragama pun dapat mengalami sesuatu yang juga disebut Maslow sebagai dengan peak experience. Maka istilah pengalaman keagamaan itu sebenarnya menunjuk kepada sesuatu yang bukan sebenarnya, seperti sebutan kelaki-lakian. Ia hanya merupakan sesuatu yang menyerupai pengalaman orang yang beragama.
Memang paham tersebut muncul karena kesalahan penarikan kesimpulan dari sains dan pemahaman tentang kesatuan transenden eksistensi (trancendent unity of exixtence). Penarikan kesimpulan pertama berkenaan dengan penemuan sains tentang sistem kosmologis yang berbeda, tetapi memiliki validitasnya masing-masing. Lalu penarikan kesimpulan kedua berkenaan dengan pemahaman mereka bahwa kesatuan transendensi eksistensi sudah menyiratkan kesatuan transenden agama-agama. Padahal tidak ada hubungan yang serta merta di antara keduanya. Kesimpulan demikian ditambah dengan pemahaman bahwa semua agama besar adalah agama wahyu, membuat mereka berkesimpulan agama-agama itu bagaikan sistem kosmologis yang memiliki validitas masing-masing, meski kemudian bersatu pada tataran transenden.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar