SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

FILSAFAT NUSANTARA, ADAKAH ?

oleh khayrurrijal

Sejarah manusia adalah sebuah perjalanan perkembangan bentuk budaya. Dapat dikatakan demikian, jika menggunakan pendekatan yang agak reduksionistik dengan istilah budaya. Budaya adalah sebuah istilah umum untuk menunjuk kepada sisi-sisi dunia manusia, yang kini dikenal dengan politik, ekonomi, sosial, hankam, dan lain-lain. Sejak awal kemunculan manusia yang berkebudayaan hingga saat ini, bentuk dan isi kebudayaan itu mengalami perubahan2. Yang dimaksudkan sebagai bentuk kebudayaan adalah ritual-ritual yang dilakukan sebuah masyarakat terkait dengan sisi-sisi kehidupan manusia, sedangkan isi budaya adalah sisi maknawi dari sebuah aktivitas ritual masyarakat. Jadi, dengan kata lain bentuk dan isi budaya dapat dikatakan sebagai sisi eksoteris dan esoteris dari sebuah budaya.
Namun, perlu kita cermati kembali perihal perubahan bentuk dan isi budaya ini. Dalam bentuk budaya, ternyata perubahan itu tidak terjadi di semua tempat di dunia. Ada tempat-tempat yang tetap menggunakan sebuah ritual yang dilakukan sejak nenek moyangnya. Demikian juga tentang isi budaya. Tidak kemudian berubah secara keseluruhan. Tetap ada nilai-nilai yang dinilai masih relevan untuk digunakan kemudian hari. Jika kita coba sederhanakan, maka ada budaya masyarakat yang berubah sisi eksoterik dan esoteriknya; berubah sisi eksoteriknya saja; atau berubah sisi esoteriknya saja.
Budaya masyarakat yang berubah sisi eksoterik dan esoteriknya, terjadi di pusat dunia yang mengalami perkembangan –kalau dapat disebut sebagai perkembangan- sains dan teknologi. Kemudian masyarakat yang berubah sisi eksoteriknya atau esoteriknya saja, terjadi di wilayah-wilayah yang berada di pinggiran-pinggiran peradaban modern. Munculnya istilah pusat dan pinggiran3, dikarenakan “ledakan” perubahan yang kemudian beruntun terjadi dalam sejarah memiliki pusatnya di dunia barat, yang kemudian memiliki kemampuan untuk menyebarkan ke wilayah-wilayah lain, yang kemudian disebut sebagai “pinggiran”. Hal ini terasa sekali pada wilayah-wilayah yang telah terglobalisasi oleh media, karena bentuk dan isi budaya yang berubah di barat itu kemudian di“ekspor”, yang dilandasi berbagai motif. Sedangkan pada wilayah yang tidak terglobalisasi oleh media, dapat dikatakan kondisinya biasa-biasa saja. Jadi, kalau kita simpulkan dari penjelasan di atas, perubahan bentuk dan isi budaya disebabkan oleh dua sebab, yaitu sebab internal dan eksternal. Sebab internal berupa perubahan atau inovasi dan penemuan di “dalam” yang membuat perkembangan atau kemajuan, sedangkan sebab eksternal adalah persentuhan dengan budaya lain, yang dapat menjadi sintesis yang positif atau negatif. Sintesis yang positif adalah sintesis yang membangun kedua belah pihak budaya dan sintesis yang negatif adalah sintesis yang “memakan” budaya lain.

Dalam ke-kini-an, sebuah kebudayaan tidak lagi penting untuk dinilai orisinil atau tidak. Oleh karena, yang menjadi penting adalah sisi eksoterik dan esoterik suatu budaya dapat diterjemahkan secara utuh atau dengan kata lain tidak mengalami pendangkalan. Tentu saja, ketika orisinaltias tidak lagi penting, maka suatu masyarakat dapat saja kehilangan jati diri atau identitas budayanya. Jati diri ini hilang karena budayanya “tertelan” atau “ditenggelamkan” budaya lain yang dinilai lebih superior.
Ketika kita bicara budaya, maka pada dasarnya kita juga berbicara alam pikiran yang mendasari budaya tersebut. Alam pikiran ini berbicara menyangkut kehidupan, pandangan tentang alam, orang lain, binatang, tumbuhan, dan diri sendiri. Alam pikiran ini dapat saja disebut sebagai falsafah hidup, dalam pengertian barat. Alam pikiran ini, sama seperti sisi lainnya dalam budaya, mengalami persentuhan dengan budaya lain yang nampak superior, yaitu barat, dengan segala macam kemampuannya. Barat dengan medianya berusaha meng”ekspor” budayanya ke seluruh dunia. Sehingga dapat kita temui dewasa ini, “pengikut” barat dalam hal sistem politik, ekonomi, sosial, agama, mode, dan termasuk di dalamnya alam pikiran barat. Barat membuat batasan-batasan atau definisi-definisi yang seolah dipaksakan kepada alam pikiran budaya lain. Alam pikiran barat disebut sebagai filsafat, dan seolah-olah filsafat adalah khas milik barat. Jika demikian, dirasakan tidak perlu bagi kita untuk mengikuti definisi tersebut. Jadi, ketika muncul keinginan untuk menyebut adanya filsafat nusantara, saya berpikir itu tidak perlu. Jika barat menyebut alam pikiran budaya lain bukan sebagai filsafat, maka biarlah, karena tidaklah perlu untuk mengikutinya.
Alam pikiran budaya merupakan suatu hal yang penting untuk coba diekstraksikan dalam sebuah bentuk kajian. Sebab, aktivitas ini dapat dinilai sebagai sebuah bentuk penghargaan terhadap masa lalu yang “berjasa” untuk membangun masa kini. Alam pikiran ini pun, pada dasarnya dapat diperbandingkan dengan budaya lain khususnya barat –yang telah meluas- yang dinilai sebagai salah satu penyebab kerusakan alam dan dunia manusia. Mungkin saja alam pikiran yang telah diekstraksikan tersebut dapat menjadi sebuah solusi bagi masyarakat yang tampak bosan dengan “kebarat-baratan”4.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname