oleh khayrurrijal
Dalam sebuah perlombaan lari 100 meter, masing-masing pelari telah berada pada garis start. Saat peluit ditiup, para pelari mulai melaju menuju garis finish. Para pelari tersebut, melaju secepat mungkin agar menjadi yang pertama kali menyentuh garis finish. Namun, di tengah perlombaan tersebut, ada seorang pelari yang ternyata, meskipun telah melewati garis finish, tidak juga berhenti. Ia terus berlari hingga membuat banyak orang bertanya-tanya. Pelari tersebut terus berlari hingga akhirnya kelelahan dan terpaksa berhenti. Kemudian, beberapa orang mendekatinya dan mulai bertanya, “Mengapa anda terus saja berlari meskipun telah melewati garis finish?” Pelari tersebut menjawab, “Saya terus berlari karena garis finish itu terasa terus bergerak seiring lari saya.” “Lho, mengapa begitu?”, tanya seseorang. “Bukankah garis finishnya dapat sangat jelas dilihat, bahkan oleh para penonton sekalipun?!” lanjutnya. “Ya, rasanya garis finish itu tidak memuaskan saya. Bahkan, kini saya menjadi tidak peduli apakah saya memiliki garis finish atau tidak. Maaf...”, jawab pelari itu. Lalu tiba-tiba pelari tersebut beranjak lari kembali dan meninggalkan orang-orang dengan penuh tanya.
Cerita di atas merupakan sebuah gambaran tentang usaha dan tujuan. Usaha dilakukan dengan tujuan tertentu. Tujuan membimbing setiap usaha yang dilakukan, sehingga usaha yang dilakukan dapat sungguh-sungguh dapat mencapainya. Saya ingin mengajak pembaca untuk melihat penuntut ilmu, dengan menggunakan perspektif ini.
Tujuan merupakan hal penting. Ia dapat dianalogikan dengan garis finish dalam cerita di atas. Saat seseorang memiliki tujuan yang jelas, ia dapat berjalan utnuk memenuhinya. Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki tujuan yang jelas, maka bagaimana ia dapat mencapainya? atau bagaimana dengan status usaha yang dilakukannya? Apakah usaha-usaha itu bermakna atau justru tidak bermakna? Karena apa arti usaha tanpa tujuan. Akhirnya, seseorang yang “berlari” mengejar ilmu tanpa “garis finish” yang jelas atau bahkan tidak ada “garis finish”, patut untuk dipertanyakan mengapa ia “berlari”. Ketidakjelasan tersebut juga akan membuat seseorang terus melampaui “garis finish” dan tidak juga merasa telah “finish” atau malah keluar dari jalur menuju “finish”.
Lalu apa garis finish yang sebenarnya anda tuju? Apakah harta, perempuan, status sosial, IQ tinggi, mengubah masyarakat atau apa? Sebab, saat ilmu sudah dimiliki seseorang, ia akan bertanya pada pemiliknya, “So what gitu lho? Apa gunanya itu semua?” Apakah harta, perempuan, status sosial, IQ tinggi, dan mengubah masyarakat akan membahagiakan meskipun pada kenyataannya kita tidak mengenal diri, tidak mengenal tujuan keberadaan kita di dunia, tidak memiliki keyakinan dalam kondisi dunia yang terus berubah?! Saya pikir tidak demikian. Identitas diri, tujuan keberadaan, dan keyakinan tentu menjadi tujuan yang lebih tinggi dari semua tujuan yang diungkapkan di atas. Hal ini karena dengan pencapaian tiga hal utama tersebut, kita sudah dapat bahagia secara mendasar meski dalam kondisi pahit sekalipun.
Tiga tujuan utama di atas sedemikian penting, karena meletakkan ilmu yang kita pelajari pada relevansi dengan tiga tujuan tersebut. Jika ilmu yang dipelajari tidak membuat mengenal diri, tujuan keberadaan, dan keyakinan maka ilmu tersebut menempati tempat yang lebih rendah daripada ilmu yang mencapai seseorang pada ketiganya. Hal ini juga dilakukan karena hidup ini singkat dan ilmu itu banyak. Maka, wajar dan logis jika ilmu-ilmu penting untuk mencapai ketiga hal tersebut harus terlebih dahulu dimiliki. “Garis finish” seperti inilah yang akan membuat “pelari” dapat sungguh-sungguh “finish” tanpa merasa tidak puas dengan “garis finish” yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar