SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

FAKTISITAS EKSISTENSIALISME DAN ORANG TUA?!

oleh khayrurrijal

Keberadaan makhluk, khususnya makhluk hidup, di dunia adalah suatu fenomena yang menarik banyak penjelasan. Mulai dari teis, ateis, yang beragama, yang tidak beragama, yang berfilsafat, dan yang tidak berfilsafat. Penjelasan itu sedemikian banyak menawarkan dari mana kehidupan ini berasal, untuk apa, dan akan kemana lagi kehidupan ini akan berjalan. Penjelasan tersebut adalah sebuah usaha untuk menjawab tiga pertanyaan besar makhluk hidup, khususnya manusia, berkaitan dengan identitas diri.
Namun, dari sekian macam penjelasan tentang keberadaan manusia, saya akan mengangkat penjelasan yang ditawarkan oleh eksistensialisme-fenomenologis. Eksistensialisme-fenomenologis adalah sebuah aliran filsafat yang memusatkan pembahasan mereka pada diri manusia secara partikular atau individual. Pembahasan tentang manusia bukan lagi tentang manusia yang berada dalam ranah abstrak, melainkan pada ranah konkret yaitu, tentang bagaimana manusia mengenali dirinya, dari mana dia, kebahagiaannya, kebebasannya, kecemasannya, ketakutannya, dan semua modus lain yang khas pada manusia. Lebih lanjut, ketika fenomenologis dilekatkan pada eksistensialisme, maka yang dimaksudkan adalah bahwa sebuah aliran eksistensialisme yang telah memasukkan fenomenologi dalam membangun dirinya. Dalam hal ini, fenomenologi merupakan metode yang menggunakan bracketing (pengurungan) terhadap asumsi-asumsi yang telah kita miliki, sehingga kita melihat dunia yang dihayati oleh kita (lebenswelt) pada dirinya sendiri (the things in itself). Penjelasan eksistensialisme-fenomenologis disoroti penulis sebab nampaknya terdapat kesenangan tertentu oleh banyak orang yang senang berfilsafat untuk menjelaskan keberadaan dirinya dengan menggunakan cara ini – selain juga dengan penjelasan materialisme-evolusionistik. Kesenangan, dengan semangat liberal, untuk memarginalisasikan penjelasan religius tentang keberadaan manusia.
Penjelasan yang ditawarkan oleh eksistensialisme memang memiliki daya tarik tertentu terhadap keinginan untuk menentukan diri sendiri (eksistensi mendahului esensi). Sebuah cita rasa memberontak terhadap apa yang selama ini diinformasikan oleh religi. Namun, mari kita lihat hal itu dalam pembahasan kita.
Eksistensialisme-fenomenologis menyatakan bahwa manusia ada di dunia seperti terlempar (faktis) tanpa tahu apa-apa dan mau ke mana. Seperti seseorang yang berada di tengah lautan tanpa tahu hendak ke mana. Keterlemparan inilah yang menurut eksistensialisme merupakan penjelasan yang lebih murni dari penjelasan yang lain. Kemudian, karena manusia tidak tahu dan tidak ada yang menentukan dirinya untuk apa di dunia dan hendak ke mana, maka dengan eksistensi dirinya dia sendirilah yang harus menentukan siapa dan hendak ke mana dia (esensinya). Dia adalah diri yang otonom untuk menentukan dirinya sendiri. Cukuplah dirinya sendiri untuk membuat keputusan terhadap dirinya sendiri.
Di sini lah penulis menemukan sosok yang sebenarnya perlu diperhatikan oleh siapapun yang menggunakan penjelasan eksistensialis tentang keberadaan dirinya yaitu, orang tua. Siapakah orang tua? Orang tua adalah sosok yang lewat mereka berdua seorang manusia kemudian dilahirkan.
Sudah menjadi modus umum bahwa manusia dilahirkan. Lalu bagaimana dengan pendapat para eksistensialis yang mengatakan bahwa mereka terlempar begitu saja di dunia? Jika disandingkan dengan kenyataan bahwa mereka juga dilahirkan tentu akan menjadi hal yang membingungkan. Mengapa demikian? Sebab tentu mereka ada di dunia karena mereka dilahirkan, bukan terlempar begitu saja. Meskipun mungkin ada yang berdalih bahwa ‘keterlemparan’ itu hanya sebuah metafora, tapi kenyataan bahwa mereka dilahirkan tidak kemudian diabaikan. Pengabaian yang dimaksud adalah bahwa kelahiran menjadi suatu hal yang tidak disertakan dalam menjelaskan keberadaan manusia. Sosok orang tua menjadi seolah-olah hilang dari kesadaran seorang anak dalam menjelaskan tentang keberadaan dirinya sendiri.
Nilai penting keberadaan orang tua dalam penjelasan keberadaan manusia adalah bahwa keberadaan mereka (anak) diinginkan oleh orang tua dan orang tua memiliki tujuan yang khusus dengan keberadaan anaknya tersebut. Sehingga si anak, yang katanya terlempar, seharusnya menelusuri tujuan yang ditetapkan oleh orang tuanya berkaitan dengan keberadaannya di dunia, bukan kemudian seolah-olah sok mandiri menjawab (ini jika kondisinya penjelasan religius sudah diabaikan). Si anak seharusnya bertanya kepada orang tuanya tentang alasan keberadaannya di dunia. Jika kemudian si anak menolak tujuan yang ditetapkan oleh orang tuanya maka itu berarti bahwa ia telah keluar dari tujuan yang telah ditetapkan tersebut. Namun, bukan berarti ia di dunia ini tidak memiliki tujuan, karena tujuan itu ada tapi diabaikan atau ditolak. Hal ini juga menunjukkan bahwa determinasi diri juga terintervensi oleh orang tua kita sendiri.
Jika seseorang yang sangat tulus ingin mengetahui tentang keberadaan dirinya –setelah menolak tujuan orang tuanya – , tentu akan menyadari bahwa orang tuanya pun juga dilahirkan oleh orang tuanya, dan demikian seterusnya. Pertanyaan tersebut pun perlahan-lahan akan menyelimuti juga kepada semua makhluk yang ada di dunia, hingga pada permulaannya. Bagi yang mengafirmasi bahwa materi itu sudah ada begitu saja sejak dahulu (qadim/azali), maka tentu seseorang itu akan menemukan bahwa kehidupan ini adalah sesuatu yang tidak bermakna dan nampaknya tidak layak untuk dijalani. Namun, mereka yang berpandangan demikian pun akan menemukan bahwa pandangannya tersebut banyak menemukan benturan dengan kenyataan yang mereka temui. Diri mereka yang terdalam mengatakan sulit untuk mengafirmasi (mengiyakan) bahwa kehidupan ini tidak bermakna dan tidak bertujuan, sebab dalam diri mereka sendiri, naluri untuk hidup adalah sesuatu yang sangat kuat tertanam dan bahkan bergerak tanpa sadar. Fenomena terikatnya atom yang membentuk batu, tumbuhan, diri kita, yang sebenarnya untuk apa, mereka pun tidak dapat menjawabnya. Dan mereka juga akan menemukan bahwa materialisme-evolusionistis dan prinsip-prinsipnya sebenarnya sedang menyarikan sebuah tujuan dalam kehidupan untuk berjuang demi kehidupan. Dan jika mereka menggunakan penjelasan ‘kebetulan’ terhadap segala sesuatu tentu kelahiran mereka bukan sesuatu yang kebetulan karena telah direncanakan oleh orang tua mereka. Itulah mengapa penulis katakan bahwa sangat sulit untuk mengiyakan ‘keterlemparan’ manusia di dunia. Kalaupun tetap dilakukan manusia akan menderita karena tujuannya juga tercerai berai dalam arus relatifisme-historis, sehingga tujuan harus selalu diperbaharui. Kemudian bagi yang tidak mengafirmasi doktrin materialisme-evolusionistis, maka tentu dia akan mencari penjelasan lain yang lebih dekat dengan yang alamiah/fitrah dalam dirinya.
Berbicara tentang orang tua, memang terdapat fenomena yang menunjukkan bahwa ada kondisi ketika orang tua tidak menetapkan tujuan apa-apa kepada anaknya atau bahkan tidak menginginkan anak dari hubungan seksnya. Untuk orang tua yang tidak menetapkan tujuan apapun pada anaknya, tentu prosesnya akan sama seperti yang telah diuraikan di atas. Sedangkan untuk orang tua yang tidak menginginkan anak dari hubungan seks tentu mereka harus mempertanyakan hubungan seks dan organ seks itu untuk apa berada dalam tubuh manusia, jika bukan untuk melahirkan, atau organ-organ tersebut tidak ada gunanya atau hanya merugikan manusia. Jika kemudian dirasakan bahwa organ-organ tersebut merugikan maka apakah kemudian perlu dibuang saja atau diambil yang dirasakan baik saja. Lalu jika hendak diwariskan secara biologis kepada generasi manusia selanjutnya, apakah manusia sebaiknya tidak memiliki organ seks atau hanya memiliki organ seks tertentu? Sehingga manusia selanjutnya adalah manusia yang tidak dapat melahirkan.
Seluruh argumentasi yang diutarakan di atas akhirnya terarah kepada kecenderungan bahwa manusia ada dunia bukan tanpa tujuan. Fitrah/yang alamiah dalam dirinya cenderung pada hal tersebut. Karena dirinya yang terdalam mengatakan bahwa jika suatu tujuan dekat dengan fitrah/yang alamiah itu maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sebagai lapisan-dasar kehidupannya, dan bukan kesengsaraan. Sehingga pembuktian tujuan hidup adalah apakah ia dapat membawa manusia pada kebahagiaan yang sejati.
Wallahua’alam bi ash-showab

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname