SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

kebenaran

oleh khayrurrijal

perdebatan tentang kebenaran subjektif dan objektif merupakan hal yang lumrah di peradaban Barat. mereka terus bergeser dari objektivisme di satu pihak, lalu kini bergeser ke arah subjektivisme. dan nampaknya akan bergeser lagi ke arah objektivisme, namun disertai kebingungan dan sulitnya lepas dari subjektivisme. mengapa terjadi demikian? karena mereka telah menolak wahyu sebagai sumber ilmu.

apakah subjektif itu bertentangan dengan objektif? apakah pengenalan secara objektif mengenai tubuh saya, bertentangan dengan pengenalan secara subjektif terhadap diri saya? subjektivitas jenis apa yang tidak bertentangan dengan objektivitas? apakah subjektivitas seperti nafsu hewaniyah atau subjektivitas jenis nafsu mutmainnah, yang tidak bertentangan dengan objektivitas? coba lihat tentang Subjektivitas Tuhan... apakah itu bertentangan dengan objektivitas? apakah SUbjektivitas Tuhan bertentangan dengan objektivitas?

terdapat sebuah kesulitan di Barat, dalam mengenali tentang subjek. subjek adalah sesuatu yang melulu lepas dari pengenalan, seperti sebuah lingkaran setan. jika cara pendekatan objek digunakan kepada jiwa, ternyata jiwa tidak dapat diketahui, kecuali hanya jejak yang bisa saja salah. lalu, bagaimana dengan pendekatan subjektif terhadap jiwa? jiwa punya caranya sendiri dalam mengenali dirinya sendiri. oleh sebab itu, di alam peradaban Islam dan Timur, dikenali konsep dzauq, dalam pengenalan terhadap jiwa. introspeksi pun digunakan untuk itu. psikologi yang hanya menekankan tentang jejak-jejak jiwa dalam perilaku manusia, hanya akan memperoleh porsi pengetahuan sedikit. sebab, modus jiwa itu berbeda dari modus non-jiwa.

kemudian, sejelas apa kondisi objek sehingga objek tersebut dapat dikatakan bukan khayali, atau hanya ada di dalam pikiran? lalu, bagaimana meletakkan objek tersebut dalam keseluruhan derajat di alam semesta ini? sebab, ada salah-paham tentang meletakkan fenomena homoseksual, meskipun secara faktual sungguh terjadi...

kebenaran relatif dan absolut pun menjadi perdebatan yang serupa. pertanyaan serupa pun dapat muncul, apakah relatif itu bertentangan dengan absolut? apakah seluruhnya itu relatif, bahkan yang absolut pun relatif? atau yang relatif pun menjadi absolut? relativitas seperti apa yang tidak bertentangan dengan absolutisitas? absolutisitas seperti apa yang tidak bertentangan dengan relativitas?

bukankah, bangunan rumah yang berdiri bertahun-tahun, juga dapat berdiri melewati waktu dan tetap berdiri, meskipun suatu saat akan hancur. tetapi, ia dapat berdiri dalam sebuah jangka waktu. di saat itu bangunan itu terlepas dari waktu. bentuknya masih dapat dilihat bahwa itu adalah bangunan. jika, pada tataran material saja, ada sesuatu yang absolut, dalam jangka waktunya, maka apalagi di dalam tataran immaterial.

tidak semuanya itu relatif, dan tidak semuanya itu absolut. tapi, tanpa yang absolut, relatif itu tidak akan pernah ada. namun, tanpa yang relatif, yang absolut akan tetap ada.

mereduksi kebenaran, bahwa kebenaran itu diciptakan oleh manusia adalah salah satu sebab munculnya problem-problem epistemologis. Barat, yang melulu menghubungkan kebenaran dengan kuasa, atau konvensi masyarakat, ternyatan tidak dapat menjelaskan alam ini secara baik dan memadai. mereka adalah korban sekularisasi. alam ini dangkal. bahkan, mereka akhirnya membangun sesuatu yang dangkal. tidak berangkat lebih jauh dari sekadar alam inderawi. tidak melampaui hawa nafsu manusia. bahkan, ketulusan pun tereduksi. yang ada hanya kepentingan kuasa, tidak lebih. semuanya terkontaminasi oleh peran manusia. dan peran manusia itu mendistorsi kebenaran. dan kata mereka, itu adalah kenyataannya!! sungguh tragis....!

dan kini, seluruh manusia diajak untuk menjadikan hidupnya sebagai tragedi! manusia diminta untuk merasakan bahwa Tuhan telah menciptakan alam dan manusia, namun tidak memberikan panduan apa-apa untuk menjalani hidup ini. pantas jika tema kecemasan menjadi tema utama dalam eksistensialisme Barat. pantas, jika bunuh diri pun dibenarkan di dalam peradaban Barat. bahkan, bunuh diri itu puan sudah terjadi di tataran pikiran manusia, ketika mereka menerima bahwa kontradiksi adalah sifat alam semesta. bahkan pikiran mereka pun hanya dapat menerima kebenaran relatif, tidak lebih!?

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname