Kebenaran, sebuah hal yang dicari-cari mulai dari awal kehidupan manusia hingga saat ini. Kebenaran kadang menjadi sebuah momok akan absolutisme yang ditakuti Barat, hingga kemudian dilumpuhkan menjadi relatif.
Kebenaran, dalam dunia pemikiran, dapat dibagi menjadi empat, yaitu kebenaran koherensial, korespondensif, pragmatis, dan kebenaran ontologis. Kebenaran koherensial adalah kebenaran yang berada dalam tataran kesatuan dalam sebuah pernyataan (proposisi). Kebenaran ini ada jika antara unsur yang satu dan yang lain dalam sebuah kalimat membentuk sebuah pengertian. Pengertian yang disebabkan keterhubungan antar-unsur pernyataan. Sedangkan kesalahan terjadi jika terjadi ketidakhubungan antar-unsur dalam pernyataan. Kebenaran koherensial adalah tempat utama bekerjanya logika. Dengan memproses intra premis, antar-premis (premis mayor dan minor), dan premis dan kesimpulan.
Kemudian, kebenaran korespondensif adalah kebenaran yang berada dalam tataran hubungan penanda (kata atau simbol) dan petanda (konsep), seperti kata “batu” menunjuk kepada benda “batu”. Di ranah kebenaran korespondensif, kebenaran adalah kesesuaian antara penanda dengan petanda. Kata “meja” menunjuk kepada benda “meja”, dan sebagainya. Sedangkan kesalahan terjadi jika terjadi ketidaksesuaian antara penanda dan petanda, seperti kata “topi” menunjuk kepada benda “sepatu”, dan lain sebagainya.
Yang ketiga adalah kebenaran pragmatis yaitu, kebenaran yang berada dalam tataran kemanfaatan atau kegunaan. Misalnya ketika akupuntur digunakan sebagai metode penyembuhan dan nyata berhasil menyembuhkan, maka akupuntur (dengan segala perangkat teorinya) adalah benar. Contoh lain adalah zen budhisme menghasilkan penjelasan tentang alam yang selaras dengan penjelasan sains. Kemudian penjelasan tersebut membantu dalam menjalani hubungan dengan alam. Maka, zen budhisme (dengan segala perangkat teorinya) adalah benar. Sedangkan kesalahan, adalah sesuatu yang tidak memiliki kegunaan atau manfaat bagi manusia dalam menjalani kehidupannya.
Lalu yang terakhir adalah kebenaran ontologis, yaitu kebenaran yang berada dalam tataran entitas atau realitas. Ketika sesuatu disebut sebagai benar, maka itu berarti sesuatu itu riil atau sungguh-sungguh ada. Misalnya ketika disebut Tuhan sebagai benar, maka yang dimaksud adalah bahwa Tuhan sungguh-sungguh ada atau riil, dan bukan merupakan ilusi. Contoh lain, ketika malaikat disebut sebagai benar, maka itu berarti bahwa malaikat sungguh-sungguh ada.
Keempat jenis kebenaran yang diuraikan adalah jenis-jenis kebenaran yang telah dikemukakan oleh banyak pemikir. Dan dari empat jenis kebenaran, kebenaran ontologis adalah jenis kebenaran yang kurang dikenal di kalangan pemikir Barat. Barat, dalam diskursusnya, hanya membatasi kebenaran itu dalam tiga jenis, koherensial, korespondesif, dan pragmatis. Namun, di masa posmodern, kebenaran yang dipromosikan oleh Barat hanya kebenaran pragmatis. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh kepesimisan Barat perihal kebenaran, khususnya kebenaran korespondensif. Kebenaran korespondesif dalam hubungan ‘satu-satu’ antara kata dan realitas (isomorfi) merupakan sesuatu yang tidak rigid (ketat). Hubungan yang terjadi antara kata dan realitas dalam hubungan yang goyah. Ke-goyah-an ini disebabkan oleh perbedaan konteks, ketika sebuah kata disebutkan. Ke-goyah-an ini muncul karena memang tidak ada fondasi(?) untuk menopang hubungan tersebut. Dari sinilah – yang merupakan argumentasi Heidegger – kemudian perlahan-lahan kebenaran korenspondensif menjadi relatif. Kebenaran kemudian dianggap sulit diketahui sebagai sebuah entitas yang lepas dari diri manusia (objektif). Kebenaran, pada akhirnya, oleh Barat dipandang sebagai sesuatu yang tidak lepas dari manusia dan bahkan – secara ekstrim – diciptakan oleh manusia. Kemudian kebenaran menjadi sesuatu yang disepakati untuk sepakat (konsensus) atau disepakati untuk tidak sepakat (disensus). Kebenaran menjadi dilihat sebagai kemanfaatan – meskipun masih menggunakan kebenaran koherensial dalam membangun argumentasi.
Sekilas penjelasan di atas adalah permasalahan yang sedang dihadapi Barat – yang kemudian juga ditularkan kepada agama/kebudayaan lain yang mengadopsi kebudayaannya secara membabi-buta. Kebenaran yang diukur melulu dari segi pragmatis. Kepesimisan ini sebenarnya dapat diatasi dengan penyembuhan secara tauhidi. Pandangan bahwa kebenaran menjadi timpang, karena hanya dilihat dari segi pragmatis, merupakan sebuah penyakit. Karena, sebenarnya kebenaran (Al-Haqq) berada di semua level kehidupan. Kebenaran adalah mulai dari kesadaran hingga tindakan. Kebenaran adalah mulai dari ontologis hingga pragmatis. Dan hal ini bukanlah omong kosong atau utopia.
Usaha ideologisasi dengan sekularisme yang dilakukan Barat dapat dilihat sebagai salah satu penyebab utama yang membuat jenis-jenis kebenaran itu menjadi dimutlakkan dan mengeliminir jenis kebenaran yang lain. Padahal, Al-Haqq, mengatakan lewat Al-Qur-aan, bahwa kebenaran lewat akal (koherensial), kebenaran lewat akal-indera (korespondensif), kebenaran lewat amal (kebenaran pragmatis), dan kebenaran lewat intuisi (kebenaran ontologis(sifatnya denotatif atau menunjuk langsung)) dan kehadiran (knowledge by presence) memiliki tempatnya masing-masing (adab). Lalu bagaimana agar tiap jenis kebenaran tidak saling mengeliminir? Jawaban yang diberikan oleh Al-Qur-aan adalah agar Allah dan Rasul menjadi pedoman dalam melihat kebenaran yang ditempuh baik lewat akal, akal-indera, amal, intuisi, dan kehadiran. Oleh karena itu menjadi jelas bahwa Tauhid adalah obat bagi problema yang kini melanda kehidupan manusia mulai dari kesadaran (stress, gila, split-many-personality, kekacauan berpikir, maniak-hawa-nafsu, buta hati, keras kepala, dll) hingga tindakan (bete, tidak tahu malu, arogansi, sombong, dengki, hasud, pembunuhan, ketamakan, dll).
Ya Allah, tiada yang lebih baik shibgah-nya, daripada shibgah-Mu. Shibgah hamba ya Allah, agar menjadi obat di tengah virus-virus yang berkecamuk. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar