SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

ILMU, sebuah perenungan

oleh khayrurrijal

Ilmu adalah sebuah ranah dalam kebudayaan. Ilmu biasa dikenal – dalam ranah kebudayaan – sebagai sistem pengetahuan. Ilmu, dalam kebudayaan Islam, adalah satuan makna. Satuan-satuan yang diikat dengan kata atau persaksian (intuitif). Lalu, muncul pertanyaan: mengapa kita butuh ilmu? ilmu, pada modus awalnya, bukanlah sebuah kebutuhan, akan tetapi keniscayaan. Keniscayaan, oleh karena, mengetahui sama dengan mengada. Barulah pada tahap lebih lanjut, ilmu dibutuhkan terkait dengan Tuhan. Ilmu dibutuhkan agar manusia mengetahui apa tujuan untuk hidup di dunia. Dari Al-Qur-aan disebutkan bahwa manusia berada di dunia untuk menjadi hamba (Q.S. Adz-Dzaariyat: 30). Menjadi hamba tentu tidak sekedar hidup saja. Hamba, yang terkait dengan Tuannya (Allah), butuh mengetahui siapa Tuannya dan siapa dirinya (secara lebih lanjut), dan bagaimana seorang hamba melayani Tuan. Sehingga, seorang hamba hidup dengan tuntunan Tuannya yang Maha Mengetahui tentang hamba-Nya. Al-Qur-aan juga menyebutkan bahwa manusia berada di bumi untuk menjadi khalifah (Q.S. al-Baqoroh:30). Khalifah dalam artian menjadi pengelola bumi dan segala isinya. Khalifah yang telah dilengkapi dengan perangkat-perangkat, seperti perangkat pengetahuan, keberadaan, bahan olahan, dan lain sebagainya. Dengan itulah dan dengan statusnya sebagai hamba, manusia menjadi khalifah. Melangkah lebih lanjut, maka manusia berada di dunia untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Manusia adalah “buah” dari dunia yang membuat dunia menjadi dinamis-konstruktif – meskipun seringpula berlaku destruktif. Selain itu, manusia butuh akan ilmu agar ia mengetahui secara benar dan baik, yang akan mengantarkan kepada perbuatan yang adil dan keyakinan yang kokoh – sebagai pijakannya dalam menjalani kehidupan.
Lalu, muncul pertanyaan lain:Bagaimana mendapatkan ilmu? ilmu pada hakikatnya diberikan oleh Allah dan juga diwajibkan pada manusia untuk berikhtiar menuntut ilmu. Ilmu didekati lewat pengalaman, akal, dan berita yang benar/kesaksian. Ilmu didekati lewat seluruh sarana yang telah diberikan oleh Allah. Lalu, Siapa yang dituntut menuntut ilmu? di dalam Islam, yang diwajibkan menuntut ilmu hanya muslim, sehingga orang-orang yang bukan muslim, tidak terkena kewajiban ini – meskipun manusia secara fitrah akan mencari pengetahuan. Dan seorang muslim harus menguasai pengetahuan yang wajib dimiliki oleh dirinya (fardu’ain= ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul dalam Al-Qur-aan dan Al-Hadits) dan juga menguasai ilmu-ilmu yang berada di luar itu (fardu kifayah), demi dedikasi kepada Allah. Penguasaan ilmu yang fardu kifayah pun dituntut untuk multidisipliner. Kemudian:kapan dan dimana menuntut ilmu? berdasarkan al-Hadits, menuntut ilmu dilakukan sejak buaian hingga liang lahad. Dan tempat menuntut ilmu adalah dimana saja. Maka, menuntut ilmu bagi muslim bukan hanya di sekolah dalam artian institusi pendidikan. Karena tempat menuntut ilmu adalah alam semesta. Dan tidak ada masa berhenti menuntut ilmu, karena ilmu dituntut bahkan ketika kita di alam kubur.
Selanjutnya, ada baiknya kita melihat ke dalam benak kita, apakah ilmu sudah menjadi sesuatu yang penting bagi kita? Selama ini, untuk apa kita menuntut ilmu? dan sudahkah ilmu yang dipelajari mendekatkan diri kepada Allah?

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname