SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

TANGGAL VALENTINE’S DAY DIPINDAHKAN!?

oleh khayrurrijal

Hari Valentine, di bulan Februari ini, akan menjadi hari yang dinanti oleh banyak orang. “Penunggu”nya itu adalah pasangan pacaran atau yang berkasih sayang, industri makanan, industri hiburan, industri media massa, dan mungkin masih banyak pihak lainnya. Judul di atas memang bernuansa ambigu yang dapat berarti bahwa penulis tidak setuju dengan pemindahan hari tersebut atau justru setuju dengan pemindahannya. Namun, lebih baik para pembaca mengikuti saja terlebih dahulu narasi yang dibuat penulis, dengan sebuah pertanyaan pengantar: bagaimana kalau tanggal hari Valentine itu dipindahkan? Itulah alasan mengapa tulisan singkat ini muncul.
Kini mari kita melakukan investigasi terhadap semua kemungkinan rangkaian jawaban terhadap pertanyaan sederhana tersebut, meskipun secara umum hanya ada dua jawaban yakni, ya dan tidak.
Kemungkinan jawaban pertama adalah ya. Mungkin seseorang akan mengatakan demikian dengan alasan bahwa hal itu sah-sah saja. Pemindahan hari Valentine ke tanggal yang lain itu bisa saja dilakukan karena hari Valentine merupakan hari kasih sayang. Dan hari kasih sayang itu tidak terbatas hanya pada tanggal 14 Februari. Pemindahan hari Valentine juga merupakan hal yang sah karena tidak ada otoritas untuk menentukan kapan hal itu dilakukan. Jadi, silahkan saja memindahkan tanggal hari Valentine, menjadi bukan tanggal 14 Februari.
Terhadap kemungkinan jawaban pertama ini, ada beberapa hal yang mesti kita soroti. Pertama, pengidentikkan hari Valentine dengan hari kasih sayang. Pertanyaan yang perlu diajukan terhadap hal ini adalah apakah memang kedua hal tersebut identik? Jika identik, maka akan timbul persoalan lain yakni, tidak bisanya hari kasih sayang untuk dilekatkan kepada peringatan-peringatan lain. Misalnya, Natal tidak dapat dikatakan sebagai hari yang penuh dengan kasih sayang. Dan ini dapat diberlakukan pada semua peringatan lain. Kemudian, jika tidak identik maka alasan pada jawaban pertama gugur dengan sendirinya.
Lalu, bagaimana dengan alasan bahwa tidak ada otoritas untuk menentukan hari Valentine? Seseorang dapat mengatakan bahwa yang menetapkan hari Valentine adalah masyarakat sepanjang perjalanannya. Namun, ini jelas adalah sebuah pengakuan terhadap otoritas dalam menetapkan hari Valentine. Keberatan lain yang mungkin muncul adalah bahwa otoritas masyarakat itu sebenarnya bergantung pada diri-diri individu. Maka, individu berhak tidak setuju untuk tidak menyelenggarakan hari Valentine pada tanggal 14 Februari. Ketidaksetujuan dan perbedaan dalam melaksanakan hari Valentine itu semuanya diakui dalam keabsahan yang sama, atau dalam bahasa kerennya, “Trancendent unity of Valentine’s Day”. Jika hal demikian diakui oleh para penyelenggara hari Valentine, maka ini berarti bahwa setiap tanggal itu bisa menjadi hari Valentine. Sisi esoterik (baca: esensi) dari hari Valentine itu adalah kasih sayang dan sisi eksoterik (baca: tanggal) darinya tidak membatasi hari Valentine itu sendiri.
Pada poin ini memang jelas berbeda dari alasan pengidentikkan pada bagian di atas. Di bagian ini justru ada upaya untuk mementingkan sisi esoterik daripada sisi eksoterik. Namun, ada pertanyaan menggelitik yang muncul, jika semua tanggal adalah hari Valentine, maka apa istimewanya menyelenggarakan hari Valentine pada tanggal 14 Februari? Jika ada nilai istimewa pada tanggal 14 Februari, apakah itu? Apakah itu karena peristiwa yang terjadi pada tanggal 14 Februari? Apakah jika tidak ada peristiwa di tanggal 14 Februari tersebut maka hari Valentine tidak akan ada? Seseorang yang setuju dengan pemindahan hari Valentine dapat saja mengatakan bahwa tidak ada istimewanya menyelenggarakan hari Valentine pada tanggal 14 Februari. Dan meskipun hari Valentine awalnya dikarenakan peristiwa yang terjadi pada tanggal 14 Februari, lambat laun hari Valentine dapat menjalar ke semua tanggal, bahkan dapat memutus hubungan historis dengan tanggal 14 Februari tersebut.
Orang lain memang juga dapat mempertanyakan pernyataan di atas. Ia dapat saja mengatakan bahwa tanggal 14 Februari itu istimewa karena tanggal itu adalah saat peristiwa Valentine terjadi, yang tanpanya maka hari Valentine tidak akan pernah ada. Kalaupun dikatakan bahwa kemudian menjalar pada tanggal lainnya, maka apakah yang menjalar itu? Jika yang dimaksud adalah sisi esoteriknya, yakni kasih sayang, maka tanggal yang lain itu tetap tidak seistimewa tanggal 14 Februari. Tanggal yang lain itu hanya dapat dikatakan seperti hari Valentine, bukan hari Valentine. Persoalan tentang sisi esoterik dan eksoterik ini memang perlu mendapatkan perhatian. Hal ini karena akan muncul kebingungan pada seluruh “penunggu” hari Valentine yang akan malah selalu “sampai” pada hari Valentine pada semua tanggal.
Pendukung pemindahan hari Valentine mungkin akan bingung juga menghadapi ini. Di satu sisi untuk konsisten dengan pandangannya itu maka itu berarti menjadi inkonsisten dengan naluri alamiahnya untuk mengakui bahwa terdapat keistimewaan tanggal 14 Februari dalam persoalan hari Valentine. Jika kondisinya demikian, maka biarlah itu menjadi urusan si pendukung pemindahan hari Valentine.
Kini, menjadi mengerucut bahwa hari Valentine itu tidak dapat dipindahkan menjadi sesuatu yang lebih dapat diterima dan tidak mengandung pertentangan seperti yang terjadi di atas. Seseorang dapat mengatakan bahwa hari Valentine itu tidak dapat dipindahkan karena beberapa hal. Pertama, faktor yang sangat menentukan hari Valentine menjadi hari Valentine itu sendiri adalah tanggal 14 Februari, bukan kasih sayang. Sebab, jika hanya kasih sayang tetapi tidak merujuk pada tanggal 14 Februari, maka tidak dapat dikatakan sebagai hari Valentine. Kedua, the author always live. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa tanggal 14 Februari adalah “pengarang” yang akan selalu hidup dalam hubungannya dengan hari Valentine. Mematikan tanggal 14 Februari itu sama saja dengan mematikan hari Valentine itu sendiri. “pembaca” hari Valentine itu memang dapat saja memaknainya dengan sesuatu yang lain. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa yang dilakukan “pembaca” itu adalah sesuatu yang dapat mengabrogasi atau menghapus “pengarang” hari Valentine.
Menjadi jelas bagi para pembaca bahwa pemindahan hari Valentine itu merupakan sesuatu yang mustahil, dan jika pun dilakukan maka akan mengubah hari Valentine itu sendiri menjadi hilang.
Kini akan menjadi lengkap bagi kita jika dalam memperingati hari Valentine, maka kita sebaiknya memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi pada tanggal 14 Februari di masa lalu itu. Meskipun sebenarnya sudah banyak juga yang membahas tentang apa yang terjadi pada tanggal tersebut. Apakah itu sesuatu yang baik atau buruk? Dan saat kita berbicara tentang baik dan buruk maka itu sudah masuk pada konsep kita tentang baik dan buruk. Penelusuran semacam ini akan bernilai penting bagi orang-orang yang tidak hanya sekadar ikut-ikutan dalam pelbagai peringatan yang ada di dalam masyarakat. Maka, tentu orang yang mengaku dirinya kritis dan tidak mau dikekang oleh otoritas apapun, sebaiknya mulai memperhatikan hal ini.
Jika anda adalah orang yang tidak setuju dengan memindahkan hari Valentine, maka mulailah bertanya tentang apa yang sebenarnya anda peringati.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname