SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

UNTUKMU TAHUN BARUMU, UNTUKKU TAHUN BARUKU

oleh khayrurrijal

Tahun baru 2007, telah berlalu. Ia hadir dan disambut begitu meriah oleh banyak orang di seluruh penjuru bumi(semuanya atau tidak?). Ketika kehadirannya nampak membahagiakan banyak orang, bagiku, aku malah terdiam dalam perenungan tentang peristiwa tersebut, yang ada dihadapanku. Aku merasa ditarik-tarik. Aku pikir, sebenarnya aku hidup di dalam dua jenis kalender yaitu, Masehi dan Hijriyah. Sebagai seorang muslim dan seorang Masehi(?). hal ini memang tidak terlihat bermasalah, namun perlahan-lahan akan saya uraikan permasalahan yang hadir dalam pikiran saya tentang kondisi ini.
Konsekuensi yang ekstrim, kita dapat lihat pada tingkat keseharian. Kalender Masehi adalah kalender yang menggunakan perhitungan matahari, sedangkan kalender Hijriyah adalah kalender yang menggunakan perhitungan bulan. Aku sering membayangkan, aku hidup di pukul 19.00 dihari senin di kalender Masehi dan aku juga hidup di pukul 01.00 di hari selasa di kalender Hijriyah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam pergantian hari. Dalam kalender masehi, pergantian hari terjadi ketika pukul 00.00, sedangkan dalam kalender Hijriyah, pergantian hari terjadi ketika matahari tenggelam dan munculnya bulan. Lalu menurutmu apakah aku harus memilih atau tidak? Jika aku tidak harus memilih, rasanya aku dihinggapi keretakan psikologis yang akut dan membuatku pening. Maka, agar tidak dihinggapi penyakit tersebut, aku harus memilih, dan hendak memilih kalender yang sesuai dengan Diin yang aku anut. Dan menurut saya, seharusnya saya mengutamakan untuk menghidupi kalender Hijriyah, bukan masehi. Itu karena seluruh aktivitas peringatan, hari raya, khususnya ibadah, dan lain-lain, dihitung berdasarkan kalender Hijriyah. Sedangkan peringatan di kalender masehi atau di kalender lain, aku merasa itu bukan milikku, tetapi aku diajarkan untuk menghormati mereka. (untukmu agamamu, untukku agamaku/ untukmu tahun barumu, untukku tahun baruku)
Telah menjadi pikiranku, bahwa setiap kebudayaan memiliki kalendernya masing-masing. Dan kalender tersebut berkaitan dengan seluruh peringatan, ibadah, dan lain-lain dari kebudayaan tersebut. Misalnya, kalender Jawa, Cina, kalender Masehi, kalender Hijriyah, dan kalender lainnya. Menurutmu, mengapa kamu memilih salah satu dari kalender tersebut? Masehi misalnya. Bukankah itu karena kau memiliki banyak peringatan dan bahkan ibadah dalam kalender tersebut?. Orang Cina akan dan masih menggunakan kalendernya, agar dapat memperingati Tahun Baru Cina. Orang Jawa akan dan masih menggunakan kalendernya agar dapat memperingati Tahun Baru Jawa. Orang Islam akan dan masih menggunakan kalendernya agar dapat memperingati dan melaksanakan segala aktivitasnya. Dan orang Masehi (sebutan apa yang pantas?) akan dan masih menggunakan kalendernya untuk memperingati Tahun Baru Masehi.
Dalam kenyataan, kalender Masehi adalah kalender yang telah menjadi sedemikian luas digunakan. Namun, saya merasa bahwa ada yang bermasalah dengan hal ini. Menurut saya, sebaiknya sebuah kebudayaan hanya menghidupi satu jenis kalender. Adapun ketika bertemu dengan kebudayaan dan kalender lain, maka itu hanya untuk membuat janji untuk pertemuan atau kesepakatakan yang dapat terjadi. Dan janji tersebut harus jelas, dengan menyebutkan tanggal berapa janji tersebut dibuat di masing-masing kalender. Sehingga, masing-masing anggota kebudayaan dapat tetap menghidupi kebudayaan (baca: kalender) masing-masing.
Kegelisahan ini disampaikan, dengan harapan agar seseorang menyertakan masing-masing kalender dalam pembuatan janji atau kesepakatan antar-kebudayaan dan pengutamaan salah satu kalender dari kalender yang lain dengan pertimbangan keanggotaan individu terhadap suatu kebudayaan. Dan sungguh jika kita merayakan peringatan di kalender kebudayaan lain maka dapat dikatakan kita merupakan anggota kebudayaan tersebut, kecuali hanya sekedar menghormati dan bukan memiliki.
Namun, permasalahan kalender juga terkait dengan keberadaan sebuah negara-wilayah. Negara-wilayah adalah institusi politik yang di dalamnya terdapat banyak kebudayaan. Terkait dengan kehidupan kita, Indonesia adalah sebuah negara-wilayah. Dan sebaiknya Indonesia tidak hanya menyebutkan satu jenis kalender dalam peringatan-peringatannya. Misalnya, ketika 17 Agustus diperingati, harus jelas kapan itu diperingati pula pada kalender kebudayaan lain seperti, tanggal berapa Hijriyah, berapa Jawi, berapa Cina, dan lain-lain. Sehingga hari kemerdekaan bukan hanya pada tanggal 17 Agustus, yang malah hanya akan membuat anggota masing-masing kebudayaan tidak dapat menghidupi kebudayaannya (khususnya kalender). Hal ini tentu sebaiknya tidak terjadi. Agar tidak terjadi keretakan dalam diri anggota kebudayaan, dan membuahkan kegelisahan yang mendalam dan tidak dapat disembuhkan, kecuali dengan mengembalikan masing-masing anggota kebudayaannya kepada kebudayaan masing-masing.

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname