SELAMAT DATANG, WAHAI INSAN YANG DIMULIAKAN TUHAN

Muliakan dirimu
Kar'na Tuhan t'lah memuliakanmu
Muliakan Tuhan
Kau 'kan temui kesejatian

usai itu usia tak sia-sia
layaknya sa'i, lalu bersua
lalu Ia titipkan pesan dalam jiwa:
"Kembalilah kau ke dunia..."

Sabtu, 26 Desember 2009

APAKAH PENGETAHUAN ITU MUNGKIN?

oleh khayrurrijal

Judul di atas mungkin terlihat sederhana, namun biasanya pada hal yang sederhana kita sering sulit untuk menjelaskan. Judul tersebut dibuat karena tergelitik oleh peradaban Barat yang telah mengglobal lewat globalisasi, khususnya pernyataan tentang pengetahuan. Berkenaan dengan pengetahuan, di peradaban awal yang merupakan kebanggaan Barat, yaitu Yunani, telah muncul kaum sofis yang meragukan bahwa kita dapat mengetahui atau dengan kata lain tentang kemungkinan pengetahuan. Kaum sofis berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak mungkin, yang ada hanyalah opini (doxa dalam istilah Plato). Bahkan, kalaupun pengetahuan itu ada, pengetahuan tersebut bersifat individual (selanjutnya berbentuk rasionalisme dan empirisme) dan tidak pernah dapat di-transfer kepada orang lain, sehingga pengetahuan itu tidak pernah dapat dibicarakan. Bagaimana menurut anda?
Tentunya terasa aneh, jika kita tidak pernah mengetahui. Dan seandainya kita mengetahui, namun kita tidak pernah dapat mengkomunikasikannya. Hal ini aneh karena dalam keseharian, kita yakin bahwa kita mengetahui dan kemudian mengkomunikasikannya kepada orang lain. Dapat dijelaskan dengan singkat bahwa pengetahuan yang bersifat individual itu memang benar adanya, jika secara epistemologis rasionalisme dan empirisme saja yang diakui (oleh Barat, dan diikuti oleh wilayah kekuasaaannya). Mengapa demikian? Itu karena rasionalisme dan empirisme pada dasarnya hanya berbicara tentang apa yang dialami oleh rasio (tidak termasuk akal secara luas) dan pengalaman inderawi masing-masing. Mereka hanya berbicara apa yang dialami rasio “saya” dan indera “saya”. Dan apa yang saya alami tentu sangat berbeda dengan apa yang dialami orang lain. Contohnya tentang aktifitas menunggu yang dapat terasa lama ataupun cepat, selera terhadap makanan, selera terhadap seni, penilaian tentang kecantikan, rasa panas atau dingin, rabun jauh atau dekat, dan lain sebagainya. Itulah mengapa peradaban Barat dapat dikatakan dibangun di atas bangunan epistemologis yang guncang (shaking) dan janggal. Sebab, ternyata manusia Barat dapat mengetahui dan mengkomunikasikannya. Bagaimana menurut anda?
Lalu bagaimana dengan komunikasi atas pengetahuan?
Pada saat berkomunikasi, pada dasarnya manusia sedang menyampaikan sesuatu tentang apa yang dialami dan dipikirkan yaitu, informasi (dilihat dalam hubungannya dengan yang belum mengenali benar atau salah akan informasi tersebut). Informasi, inilah titik penyelesaiannya (rekan-rekan di program studi ilmu Perpustakaan dan Informasi, mungkin lebih tahu tentang ini). Informasi, pada dasarnya, adalah suatu bentuk lain yang tidak terliputi dari pengalaman inderawi atau rasio yang invidualistis. Informasi adalah sesuatu (tertulis ataupun lisan) yang dapat dibagikan. Misalnya, jika kita hanya menggunakan indera kita dalam membaca buku, sebenarnya kita hanya melihat garis-garis hitam yang tidak bermakna. Lalu bagaimana makna tersebut kita dapatkan? Makna adalah dimensi yang bukan inderawi sifatnya. Makna adalah sesuatu yang dicerap oleh batin manusia. Makna inilah yang dikomunikasikan, yang dibentuk dalam tulisan atau lisan sehingga informasi dapat dibagikan. Meskipun, informasi ini belum dapat disebut pengetahuan.
Untuk menjadi pengetahuan, informasi harus dinilai terlebih dahulu. Penilaian ini dilakukan terhadap informan, isi informasi, dan perjalanan informasi. Barulah kemudian informasi dapat berubah menjadi pengetahuan dan bersifat sosial, serta bukan saja individual. Coba direnungkan!

Tidak ada komentar:

Comments system

Disqus Shortname