oleh khayrurrijal
Dalam diskusi tentang Tuhan, istilah ateisme dan panteisme, tentu akan termasuk di dalamnya. Ateisme (teoritis ataupun praktis) dan panteisme, jika dilihat, pada dasarnya memiliki argumentasi yang cenderung kabur daripada sebuah argumentasi yang jelas. Mari kita lihat secara lebih jernih!
Kita dapat melihat lebih jelas dari kisah pertemuan Adam dan Iblis. Ketika Allah menyuruh Iblis untuk sujud kepada Adam, Iblis menolak dengan alasan bahwa Iblis lebih baik dari Adam. Iblis lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Pada titik ini, Iblis sebenarnya telah berlaku sombong atas dirinya, sehingga ia telah memper-tuhan-kan dirinya sendiri. Dari contoh tersebut, yang hendak dikatakan adalah bahwa Tuhan (Ilaah) – dalam artian yang disembah – selalu ada, baik yang sungguh-sungguh Tuhan (Haqq) ataupun yang kemudian diciptakan manusia (Batil). Tuhan tidak akan pernah mampu dihilangkan dari kehidupan manusia, sehingga bahkan sekularisme pun menjadi hal yang naif. Tuhan ada dan berpengaruh kepada kehidupan manusia. Maka, ateisme, kalaupun hendak dipertahankan, adalah penolakan kepada suatu Tuhan dan penguatan terhadap Tuhan yang lain.
Penolakan terhadap Tuhan sebenarnya sudah dapat terlihat merupakan sebuah paradoks. Penolakan ini membuat manusia tercerabut dari fitrah. Tercerabut dari fitrah, karena seluruh sistem-hidupnya menjadi Bathil dan konsepsinya tentang kebahagiaan, agama, budaya, ilmu, manusia, makhluk, hidup dan mati, baik dan buruk, menjadi rusak dan akan berkontradiksi dengan sistem-hidup yang Haqq. Sekularisme sebagai ateisme praktis, sudah seharusnya tidak dihidupi atau diafirmasi. Sekularisme membuat diri manusia menjadi pecah, mulai dari konsep maupun perilaku. Seorang yang sekular akan menggunakan berbagai macam sistem-hidup dalam kehidupannya. Ia hanya religius ketika di tempat ibadah (menggunakan pandangan Barat), dalam berpolitik ia menggunakan sistem machiavelli, dalam berekonomi ia menggunakan sistem kapitalisme atau sosialisme, dalam berbudaya ia menggunakan sistem budaya apa saja. Seorang yang sekular adalah orang “mencampur” sistem-hidup tanpa membuat sistem-hidup utuh apapun. “Sistem-hidup” yang dibuatnya tidak memiliki kesatuan apapun. “Sistem-hidupnya” adalah “sistem-hidup” yang saling berkontradiksi unsur-unsurnya satu sama lain.
Kemudian, berkenaan dengan panteisme, kita juga dapat belajar dari kisah Adam dan Iblis. Iblis yang disuruh sujud oleh Allah pada dasarnya tidak menyuruh untuk menyekutukan Allah dengan Adam. Akan tetapi, merupakan sebuah sujud penghormatan. Penghormatan inilah kuncinya. Iblis diminta agar menghormati Adam bukan menyembahnya. Lebih lanjut, bahwa perlakuan manusia terhadap alam adalah juga demikian. Alam sekitar, seperti matahari, bulan, pohon, batu, akal, indera, gunung, danau, laut, hutan, api, patung, jin dan bahkan manusia (mengaku sebagai Tuhan atau dipertuhankan), harus diperlakukan secara hormat sebagai sesama makhluk, bukan sebagai Tuhan. Hal ini harus diingat, bahwa inilah yang Haqq, tidak kabur, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Sehingga ketika para panteis yang mengatakan bahwa Tuhan identik dengan alam, segala sesuatu adalah Tuhan dan kemudian menjadi sah untuk memperlakukan (baca: menyembah) segala sesuatu sebagai Tuhan adalah sebuah bentuk ketidaktahuan atau dikaburkan oleh imajinasi (dan kemudian mengada-adakannya): bagaimana cara menyembah Tuhan? Para panteis mencoba mencari dengan rasio (bukan akal) bagaimana makhluk menyembah Tuhan. Apakah mereka menemukannya? Bagaimana menurut anda? Tentu mereka tidak menemukannya! Karena tentang bagaimana menyembah Tuhan, maka harus ada keterangan yang disampaikan oleh manusia yang Siddhiq, Amanah, Tablig, dan Fathonah. Keterangan yang tidak mungkin dicapai oleh akal maupun pengalaman inderawi kita. Namun, keterangan ini tidak bertentangan dengan akal dan pengalaman inderawi.
Oleh karena itu, menjadi lebih jelas bahwa ateisme dan panteisme adalah sesuatu yang paradoks dan dihasilkan dari kebingungan. Paradoks, karena Tuhan tidak dapat dinegasikan, dan jika dinegasi, maka akan ada Tuhan yang lain. Tuhan yang mereka ciptakan dihasilkan dari ketidaktahuan dan peng-ada-ada-an, karena mereka mengabaikan keterangan yang benar sebagai sumber ilmu, dan hanya mengandalkan pengalaman inderawi dan rasio. Ketidaktahuan ini diperburuk karena usaha mengada-ada (bid’ah) tentang cara penyembahan terhadap Tuhan, yang malah menjerumuskan para panteis kepada sebuah kebingungan. Kebingungan tentang apakah apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang Haqq atau Bathil. Sembahlah Tuhan yang Haqq dengan cara yang Haqq, hiduplah dengan sistem-hidup yang Haqq, sehingga pertemuan kembali dengan Tuhan di hari akhir, mengantarkan pada kebahagiaan.
2 komentar:
paling tidak dengan pantheisme Tuhan tidak jauh di atas sana dan susah untuk dijangkau...dmana ia dibela sampai dengan kematian dan menghancurkan alam serta manusia lainnya...padahal hanya dengan menghargai alam serta sesama, sama artinya dengan menghargai atau membuat tuhan itu ada serta imanensi tuhan menjadi...hoho..makasi.
Tuhan tidak imanen dan tidak pula transenden
Posting Komentar