oleh khayrurrijal
Pengetahuan adalah hal yang dihasrati oleh manusia. Pengetahuan tentang alam, dirinya sendiri, dan Zat Tertinggi, menjadi sesuatu yang akan sangat mengganggu kehidupan jika tidak dimiliki oleh seseorang. Akan tetapi coba bayangkan, dalam pencarian pengetahuan tersebut, seseorang menghadapi pertentangan-pertentangan pendapat yang mendasar dan dengan kemampuan intelektual yang belum atau tidak matang. Sebagai hasilnya, sebuah “badai” pikiran akan menyelimuti dan keraguan nampaknya menjadi sulit terhindarkan. Kondisi demikian tidak hanya telah terjadi di masa lalu, namun tetap juga terjadi dan dapat pula terjadi di kemudian hari.
Telah dicatat dalam sejarah, beberapa bentuk keraguan yang muncul di dalam kondisi seperti di atas. Bentuk-bentuk tersebut dapat dilihat secara jelas dari pernyataan Giorgias, seorang sophis di Athena, sebagai berikut. Pertama, tidak ada yang ada, berarti bahwa tidak ada realitas. Kedua, jika segala sesuatu itu ada, hal itu tidak dapat diketahui. Ketiga, bahkan jika realitas dapat diketahui, pengetahuan tersebut tidak dapat dibagi dan dikomunikasikan kepada yang lain (Mayer, 1951: 84-85).
Poin pertama merupakan bentuk yang disebut sebagai ‘inadiyyah. Bentuk keraguan ini adalah bentuk yang menafikan realitas segala sesuatu dan menganggapnya sebagai fantasi dan khayalan. Poin kedua merupakan bentuk yang disebut sebagai la adriyyah atau agnostisisme. Bentuk ini menyatakan ketidakmampuan diri untuk memperoleh pengetahuan. Dalam posisi demikian, nampaknya kebodohan dinilai sebagai sebuah esensi manusia. Poin ketiga merujuk kepada bentuk yang disebut sebagai ‘indiyyah atau subjektivisme. Posisi ini merujuk kepada sebuah relativisme subjek atas pencerapan atau pemahaman terhadap sebuah objek. Seluruh bentuk tersebut dapat disebut sebagai sufastha’iyyah (Sofisme) (Wan Daud, 1998: 127-138).
Sesungguhnya ketiga bentuk ini adalah bentuk keraguan dasar yang muncul dalam sejarah kehidupan manusia. Bentuk-bentuk tersebut masih ada hingga hari ini, hanya saja menjadi lebih canggih dan sistematis. Mayer pun (1951: 87-88), seorang sejarawan Barat, memandang bahwa gerakan-gerakan yang muncul dalam sejarah Barat di masa modern memang mengambil semangat dan pandangan-pandangan para sofis Yunani Kuno. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan F.C.S Schiller, salah satu dari tiga pendiri pragmatisme, yang menyebut dirinya sendiri sebagai murid Protagoras – Protagoras adalah salah satu tokoh sofis Yunani Kuno terpenting (Russel, 2004: 105). Bertrand Russel memberikan penjelasan yang simpatik tentang para sofis, yang banyak dituduh mencari harta dalam kedekatan dengan bangsawan kaya Yunani. Russel (2004: 107) pun melihat bahwa para sofis adalah orang yang konsisten mengikuti sebuah argumen meskipun mengarah kepada skeptisisme. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahuinya dengan jelas. Sebab, jika tiga bentuk tersebut merasuki diri atau bahkan dilakukan dengan sengaja maka itu seseorang akan mengidap sebuah “penyakit” intelektual atau bahkan “bunuh diri” intelektual. Secara jelas mari ikuti penjelasan berikut.
Bentuk ‘inadiyyah memusatkan argumentasi bahwa realitas itu tidak ada. Premis pendukung kesimpulan ini adalah kontradiksi tentang realitas itu sendiri. Realitas tidak dapat dipikirkan sebagai sesuatu yang terbatas dan tidak terbatas; tunggal dan banyak, diciptakan dan tidak diciptakan. Hal ini merupakan sebuah kontradiksi. Kemudian, karena kontradiksi adalah sesuatu yang tidak dapat diterima pikiran manusia, maka lebih baik menerima bahwa realitas itu tidak ada (Mayer, 1951: 85). Dalam posisi demikian, realitas itu hanya dinilai sebagai fantasi atau sesuatu yang tidak nyata. Mari kita periksa. Kontradiksi yang diungkapkan tersebut sesungguhnya secara utama disebabkan oleh sisi tidak terbatas, tidak diciptakan, dan tunggal dari realitas. Manusia sangat sulit untuk memahami atau membayangkan sisi realitas tersebut. Sebab, kenyataan inderawi yang ditemukan manusia adalah sisi realitas yang terbatas, diciptakan, dan banyak. Arche (dasar dari alam semesta) yang ingin dicari ternyata tidak dapat ditemukan oleh pikiran manusia.
Kemudian, jika realitas ini hanya sebuah fantasi maka sesungguhnya fantasi tersebut bergantung kepada sesuatu yang bukan fantasi. Bagaikan sebuah fatamorgana yang kemunculannya disebabkan oleh keberadaan alam, derajat panas tertentu, dan sudut penglihatan tertentu. Fatamorgana memang bukan sesuatu yang riil ketika akhirnya didekati. Akan tetapi, yang patut diperhatikan adalah kemunculannya itu hanya mungkin disebabkan oleh sesuatu yang bukan fatamorgana. Dalam kasus realitas secara luas, fantasi tersebut hanya mungkin jika ada pihak yang mengalami fantasi. Dan pihak tersebut bukanlah fantasi, melainkan sunggguh ada dalam kesadaran. Realitas kesadaran pun terafirmasi (Descartes, 2000: 105).
Kemudian bentuk kedua (baca: la adriyyah) memfokuskan argumentasi kepada fakta bahwa indera manusia bukan sesuatu yang terpercaya dan merupakan sumber ilusi. Akal pikiran pun dikatakan sebagai tidak terpercaya. Ketika manusia berpikir dan menalar, hal itu dilakukan dari hasrat, gagasan, dan keinginan manusia itu sendiri yang diterapkan kepada fenomena objektif. Oleh karena itu, jika segala sesuatu itu ada, hal itu tidak dapat diketahui (Mayer, 1951: 85). Sebagaimana terlihat, gagasan la adriyyah memiliki titik tekan pada kegagalan sumber pengetahuan manusia – indera dan akal pikiran – dalam perolehan pengetahuan.
Ada beberapa keberatan yang dapat diajukan kepada pandangan di atas. Pertama, telah terjadi generalisasi beberapa kegagalan yang memang terkadang di alami indera manusia. Akan tetapi, generalisasi yang berbuah penolakan semacam ini akan membuat manusia tidak dapat mengetahui apa pun yang berhubungan dengan indera. Hanya saja, hal ini nampak absurd, karena pada saat bersamaan manusia selalu terusik untuk memberikan perhatian kepada hal-hal inderawi yang lepas dari kekuasaan pikirannya. Jika pikiran tidak mengendalikan kemunculan gagasan tentang hal-hal inderawi, maka dari manakah muncul gagasan-gagasan tentang hal itu? Apakah hal itu muncul begitu saja meskipun pikiran tidak pernah memiliki gagasan bawaan tentang hal itu? Dalam kondisi tertentu penilaian inderawi terkadang membawa kepada sebuah penilaian yang salah. Akan tetapi, juga terdapat penilaian bernilai benar yang dihasilkan dari pertimbangan inderawi. Jika terdapat dua fakta demikian yang sama kuatnya, maka generalisasi kegagalan indera yang berujung pada penolakan pengetahuan adalah sesuatu yang bermasalah.
Kegagalan pada pikiran pun kadang kala juga terjadi. Akan tetapi, itu juga dapat disebabkan oleh ketidakmampuan atau kebelummampuan pikiran seseorang secara khusus dalam pencapaian pengetahuan, dan bukan karena pikiran itu sendiri yang sejak awalnya sudah mengandung kegagalan. Hal serupa di atas – dua fakta indera dapat gagal dan juga dapat berhasil – dapat diterapkan dalam melihat pikiran. Generalisasi seperti di atas, jelas-jelas bermasalah.
Keberatan kedua adalah terdapat salah guna sumber pengetahuan. Maksudnya, ketika seseorang menggunakan inderanya secara utama untuk mengetahui yang non-inderawi, semisal gagasan pikiran, maka sesungguhnya telah terjadi salah guna sumber pengetahuan. Sebab, hal-hal non-inderawi memiliki perbedaan signifikan dengan hal-hal inderawi. Jika seseorang memaksa inderanya untuk sampai pada kebenaran arche pun akhirnya hanya akan berakhir pada kegagalan. Pikiran pun ternyata memang tidak berdaya mengetahui arche alam semesta ini secara pasti. Ini pun mengindikasikan hal yang sama sebagaimana terjadi pada indera yang digunakan kepada wilayah non-indera. Dalam hal ini, apa yang terjadi pada pikiran pun dapat pula disimpulkan demikian. Pikiran bukanlah sarana sesungguhnya untuk mengetahui arche. Ini berarti ada sesuatu yang lain dalam perolehan pengetahuan tentang arche. Dengan penempatan sumber pengetahuan seperti ini, maka penyimpulan la adriyyah adalah sesuatu yang juga bermasalah.
Lalu bentuk terakhir (baca:‘indiyyah) bersandar pada argumentasi bahwa terdapat jarak antara pengetahuan dengan pengomunikasian pengetahuan. Sebab, jika realitas dapat diketahui, pengetahuan tersebut tidak dapat dibagi dan dikomunikasikan kepada yang lain. Sesungguhnya jarak yang tidak terjembatani antara pengetahuan dan pengomunikasian pengetahuan akan menghasilkan sebuah absurditas. Sebab, hal tersebut akan menghasilkan sebuah reduksi yang malah mengarah kepada absurditas (reductio ad absurdum). Mari kita lihat buktinya. Ketika seseorang telah mengetahui sesuatu, misalnya perasaan sedih, lalu menyampaikannya kepada orang lain, maka pengetahuan itu sesungguhnya sudah terdistorsi atau tidak sesuai dengan apa yang diketahui oleh penyampainya. Memang nampaknya terdapat sisi benar dalam pernyataan ini. Namun, sesungguhnya orang lain tidak dituntut untuk memiliki tingkat pengetahuan yang sama dengan penyampai tersebut. Bahkan meski dalam kondisi demikian, seseorang yang mendengarkannya tetap dapat memperoleh pengetahuan tentang hal itu. Sebab, tidak ada cara lain untuk mengetahui tentang perasaan sedih seseorang kecuali lewat apa yang disampaikan oleh orang tersebut atau pengenalan yang utuh tentang kejujuran dan kondisi pribadi penyampai tersebut. Tanpa ini seseorang tidak akan pernah memiliki pengetahuan tentang orang lain.
Hal ini dapat lebih ditarik lebih jauh kepada diri sendiri. Ketika pada saat ke-1, seseorang mengetahui sesuatu, sesungguhnya saat dia menyampaikan tentang dirinya pada saat 2, maka apa yang disampaikannya itu telah berubah dan tidak lagi sesuai dengan kenyataan dirinya. Sebab, dirinya pada saat ke-1 telah berubah pada saat ke-2. Dan faktanya bahwa waktu terus berjalan dan akibatnya terus mengubah diri sendiri, tanpa dapat diketahui. Sehingga mungkin diam adalah salah satu kondisi umum orang-orang ‘indiyyah. Penalaran yang digunakan bentuk keraguan ini sesungguhnya bermasalah karena meskipun waktu terus berjalan namun diri kita tahu tentang diri kita sendiri secara pasti. Kita tahu tentang keberadaan kita – tanpa harus memaksa masuk kepada arche. Akhirnya, subjektivisme yang dibangun pun hancur karena dirinya sendiri mengalami absurditas, bukan hanya dalam hubungan dengan orang lain. Dengan kata lain telah terjadi subjektivisme di dalam subjektivisme, yang berlanjut secara tidak terbatas.
Kemudian, nampak wajar jika kata sofis terhubung erat dengan penipuan penalaran (Bagus, 1996: 1028). Nampaknya juga sudah jelas, bahwa jika bentuk-bentuk tersebut hinggap di dalam diri seseorang maka ia akan mengidap “penyakit” intelektual yang akan melumpuhkan “organ” pengetahuannya hingga akhirnya “mati”. Dan Jika hal bentuk-bentuk itu dilakukan dengan sengaja, maka seseorang sedang melakukan “bunuh diri” intelektual. Sesungguhnya hal tersebut merupakan kehidupan intelektual yang tragis.
Daftar Referensi
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Descartes, René. Meditations on First Philosophy, on Philosophical Essays and Correspondence, editor Roger Ariew. Indianapolis: Hackett Publishing Company, 2000.
Mayer, F. A History of Ancient and Medieval Philosophy. United States of America: American Book Company, 1951.
Russel, Bertrand. Sejarah Filsafat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko, dkk Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Wan Mohd Nor Wan Daud. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al- Attas. Bandung: Mizan, 1998. Terj. Educational Philosophy and Practice of Syed M. Naquib al-Attas, 2003.
1 komentar:
ini kritik logosentrisme pake bahasa lain :)
Posting Komentar